
"Kalau begitu saya dan Kusumawati akan bergabung dengan sekte ini tetua,kami juga akan menuntut balas atas hancurnya sekte Petir Api dan terbunuhnya dua anak ku Kalapati dan Kalawuni"ucap Jaya Kusuma.
"Aku menyambut baik niat sesepuh dan nona Kusumawati, sekarang mari kita masuk kedalam untuk membahas masalah ini lebih lanjut lagi "ucap Jaka.
Setelah kesalahan paham diantara mereka terselesaikan,Jaka segera mengajak semua orang untuk masuk kedalam rumah.
Sebelum membahas masalah mengenai pasukan tengkorak iblis Jaka memutuskan untuk beristirahat dan melanjutkannya nanti malam.
Di dalam kamar tamu Ki Balung Waja dan Ranapati saling duduk berhadapan ,kedua kakak beradik itu tampak berbincang-bincang untuk melepaskan rasa rindu ,karena sudah begitu lama mereka tidak bertemu.
Disaat mereka sedang berbincang-bincang itu Guruh Sujiwo dan Arya Lembayung pun datang setelah mereka menyelesaikan tugas yang Ki Balung Waja perintahkan.
Guruh Sujiwo segera mengetuk pintu kamar itu untuk bertemu dengan ayahnya.
"masuk saja tidak perlu sungkan"ucap ki Balung Waja.
Terdengar gerit pintu terbuka,mengetahui siapa yang datang itu Ki Balung Waja berdiri sambil tersenyum .
ki Balung waja mengangkat kedua tangannya kemudian memeluk guruh Sujiwo dan Arya Lembayung, walaupun tadi ia bersikap sangat keras padanya tapi kasih sayang pada anak dan cucunya itu jauh lebih besar dari pada kemarahannya.
"Guruh Sujiwo apa kau marah pada ayah mu ini dengan kejadian tadi"tanya Ki Balung Waja seraya mengambil tempat duduk.
"Mana mungkin aku marah,aku memang pantas mendapatkan hukuman ayah,karena kalau tadi itu sempat terjadi pertarungan, hukuman mati pun rasanya belum sepadan dengan kesalahan ku"ucap guruh Sujiwo mengakui kesalahannya.
"Bagus ...bagus ayah senang mendengarnya "ucap Ki Balung Waja sambil menepuk nepuk bahu Guruh Sujiwo.
"Kamu lembayung, apakah kau marah sama kakek mu ini"tanya Ki Balung Waja kepada cucunya itu.
"Mana mungkin aku berani marah sama kakek,aku senang ternyata kakek masih hidup ,saya kira kakek menjadi korban penyerangan pasukan tengkorak iblis kemarin itu ternyata kakek baik baik saja"ucap Arya Lembayung sambil memeluk kakeknya kembali.
"Dengarkan kalian bertiga, setelah aku di selamatkan oleh tetua Jaka ,aku memutuskan untuk mengabdikan diri pada tetua Jaka dan sekte ini sebagai penebus kesalahan ku dan rasa malu ku karena pernah menyerang sekte ini, jadi ku harap kalian mengerti "ucap Ki Balung Waja.
Ranapati, Guruh Sujiwo dan Arya Lembayung terperanjat mendengar keputusan Ki Balung Waja itu, namun mereka bertiga tidak berani untuk mencegahnya, karena mereka tahu jika orang tua itu sudah membuat keputusan siapa pun tidak bisa merubahnya.
"Lalu bagaimana dengan nasib sekte Petir api Kakang, apakah sekte itu akan menjadi sejarah begitu saja"tanya Ranapati.
Ki Balung waja menarik nafas dalam-dalam seraya menatap ke arah Guruh Sujiwo yang sedang duduk dengan menundukkan kepalanya itu.
"Sujiwo bagaimana menurut mu apakah kau akan mempertahankan sekte Petir Api"tanya ayahnya.
Guruh Sujiwo mendongakkan kepalanya lalu menatap ke arah ayahnya dengan tatapan penuh kesedihan.
"Tidak ayah,apa gunanya sebuah sekte jika tidak ada kehadiran ayah di sana,aku akan mengikuti kemana pun ayah pergi,karena aku tidak mau kehilangan ayah lagi "ucap Guruh Sujiwo dengan suara terdengar parau.
Ki Balung tersenyum mendengar kata-kata Guruh Sujiwo itu,ia merasa senang jika Guruh Sujiwo mau bergabung ke sekte langit bersama dengan dirinya.
"Jadi apakah kau mau bergabung dengan sekte langit ,Sujiwo"tanya ki Balung waja.
"Iya ayah, karena aku yakin keputusan ayah tidak pernah salah"Guruh Sujiwo dengan mantap.
"Baiklah,,, lalu bagaimana dengan mu Arya Lembayung"tanya Ki Balung Waja.
"Aku akan mengikuti kakek dan ayah untuk bergabung pada sekte ini, lagi pula di sini juga ada Kusumawati jadi aku bisa lebih dekat dengannya "ucap Arya Lembayung.
Guruh Sujiwo menggelengkan kepalanya mendengar perkataan anaknya itu,ia tahu bahwa Arya Lembayung sudah lama tergila gila pada Kusumawati.
"Kusumawati ,?siapa dia lembayung"tanya Ki Balung Waja.
"Dia adalah cucunya sesepuh Jaya Kusuma ayah, sudah lama Lembayung mencintainya, namun ..
"Cukup ayah jangan di teruskan "ucap Arya Lembayung memotong pembicaraan ayahnya karena malu.
"Haaa.....haaa....haaa.....kau payah lembayung ,seperti ayah mu dulu dia juga....
"Ayah,ku mohon janganlah kau mempermalukan aku di hadapan lembayung dengan kejadian waktu dulu itu "ucap Guruh Sujiwo dengan muka merah karena malu.
"Maaf Sujiwo ayah tadi kelepasan "ucap Ki Balung Waja.
__ADS_1
Guruh Sujiwo merasa lega karena ayahnya tidak jadi melanjutkan perkataannya .
"lembayung untuk mendapatkan hati seorang wanita caranya cukup mudah dan sederhana, nanti akan kakek ajarkan pada mu"ucap Ki Balung Waja.
"Kakek memang selalu dapat di andalkan tidak seperti...
"Seperti aku maksud mu "sahut Guruh Sujiwo langsung merasa tersinggung sambil menatap ke arah Arya Lembayung.
"Tidak... tidak..., seperti paman maksud ku Ayah"ucap Arya Lembayung asal bicara saja.
"Hai, Lembayung Kenapa aku kau bawa bawa ,aku kan tidak tahu apa apa urusan kalian"ucap Ranapati dengan melotot padanya.
"Maaf Paman , aku terpaksa karena keadaan gawat darurat"ucap Arya Lembayung dengan cengar-cengir.
"Haaa...haaaa.... sudah... sudah"Ki Balung Waja merasa geli dengan sikap Arya Lembayung itu.
"Ranapati, lalu bagaimana dengan mu apakah akan ikut bergabung dengan kami bertiga "tanya Ki Balung Waja mengalihkan pembicaraannya.
"Yah .. sepertinya aku tidak punya pilihan lain, selain mengikuti kalian semua"jawab Ranapati.
"Baiklah , nanti aku akan menyampaikan hal ini pada tetua pada saat pertemuan nanti "ucap Ki Balung Waja dengan tersenyum lega
Walaupun sekte petir api sudah musnah tapi Ki Balung Waja merasa sangat beruntung karena masih ada mereka bertiga.
Di dalam ruangan pribadinya Jaka duduk dengan rasa gelisah karena masih kepikiran tentang keadaan Ratih dan Melati saat ini,ia juga tidak tahu harus jawab apa jika Ratih dan Narantaka tanya nanti. Hilangnya Ratih dan Melati membuat ia merasa sangat gelisah dan cemas dengan keselamatan mereka berdua.
Padahal sudah hampir tujuh hari ia mencari tahu kabar tentang keberadaan Ratih dan Melati, namun selama itu juga ia tidak kunjung juga menemukannya.
Huuuuff.... terdengar jaka menghembuskan nafasnya, Jaka mengeluarkan pedang milik Melati yang temukan di sekte bintang timur beberapa waktu lalu.
Jaka memperhatikan bilah pedang itu dari atas sampai bawah, semakin lama Jaka memperhatikan pedang itu dirinya semakin merasa bersalah pada Melati.
"Apakah benar seperti yang di katakan oleh Dewi pandan Arum, bahwa melati sudah terbunuh "gumam Jaka.
"Jika terbunuh harusnya mayatnya berada di situ tapi kalau masih hidup laku sekarang dia ada di mana"
Jaka kadang pusing sendiri jika mengingat hal itu, tapi dia yakin bahwa Melati pasti masih hidup saat ini.
Sementara itu di kerajaan Kerajaan tengkorak iblis , raja Gandaroma terlihat sedang marah di atas singgasananya, saat mengetahui kegagalan Karadurga, Kumbara dan Jaran Lejong dalam upayanya menghancurkan sekte langit.
Suasana di ruangan itu begitu sangat angker dan mencekam karena Kemarahan Gandaroma.
Melihat kemarahan Gandaroma semua orang yang ada di situ terdiam, tidak ada yang berani mengeluarkan satu kata pun, karena mereka semua sudah tahu jika pemimpin mereka sedang marah, cara terbaik untuk keselamatan mereka adalah dengan diam.
"Aku ingin kalian semua meningkatkan ilmu kalian setinggi mungkin, karena aku tidak mau istana ini penuh dengan orang orang lemah yang tidak berguna,"ucap Gandaroma, setelah mengetahui kematian Jaran Lejong dan Kumbara.
"Jalardana dan Lamting kalian berdua ku jadikan Senopati untuk menggantikan kedudukan Kumbara dan Jaran Lejong yang telah tewas itu, kalian berdua ku beri kebebasan untuk menggunakan pasukan sebanyak yang kalian mau" lanjut Gandaroma.
"Baik Gusti"ucap jalardana dan Lamting.
"Lintar untuk sementara kau gantikan posisi Karadurga, sampai dia sembuh "ucap Gandaroma.
"Baik Gusti prabu"ucap Lintar.
"Saya mau melapor tentang keadaan Karadurga Gusti prabu"ucap si mata iblis.
"Katakan bagaimana perkembangan Karadurga mata iblis "pinta Gandaroma.
"Lukanya sangat parah Gusti prabu,untuk menyembuhkannya di butuhkan tumbuh api ungu"ucap simata iblis.
"Tumbuhan Api ungu ?,dimana kita bisa menemukan tumbuhan itu "tanya Gandaroma.
"Di hutan kesunyian tuan dan hutan itu berada di benua timur "ucap si mata iblis.
"Mawar kencana kau bersama dengan Lasmi dan Damar wungu pergilah segera ke benua timur untuk mencari tumbuhan Api ungu "perintah Gandaroma.
"Siap Gusti prabu"ucap Mawar Kencana.
__ADS_1
"Kau harus secepatnya menemukan tumbuhan itu mawar jangan sampai terlambat"ucap simata iblis mengingatkan.
"Kau tenang saja mata iblis aku sudah paham daerah itu"jawab Mawar Kencana.
"Kalau begitu segeralah berangkat "ucap simata iblis.
Mawar kencana, Lasmi dan Damar wungu langsung berangkat menuju ke benua timur.
"Mata iblis sebisa mungkin kau harus bisa menyelamatkan Karadurga"pinta Gandaroma.
"Gusti prabu jangan khawatir dengan adanya tumbuhan itu tentu nyawa Karadurga pasti akan tertolong"ucap si mata iblis dengan yakin.
"Baiklah aku pegang kata kata mu"ucap Gandaroma
Si mata iblis lalu pergi dari hadapan Gandaroma lalu menuju ke kamar Karadurga.
Melihat keadaan Karadurga yang begitu mengenaskan simata iblis merasa sangat kasihan padanya, untung waktu itu ia dan Barakasura sempat menyambar tubuhnya,kalau tidak mungkin Karadurga sudah menyusul Jaran Lejong dan Kumbara ke alam baka.
"Seandainya kemarin aku tidak datang terlambat pasti kejadian seperti tidak akan terjadi, sekte langit tunggu pembalasanku"ucap si mata iblis penuh penyesalan.
"Aku tahu bagaimana perasaan mu mata iblis , melihat Karadurga seperti itu,kau tenang saja dalam waktu singkat kita akan membuat perhitungan dengan orang orang sekte langit itu "ucap Barakasura yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
"Kau benar Baraka secepatnya kita akan membuat perhitungan dengan mereka "sahut si mata iblis sambil menatap wajah Karadurga adiknya yang sedang tertidur.
"Seandainya aku Senopati utama, saat ini juga akan aku serang sekte langit, sayang aku cuma Senopati keempat "ucap Barakasura.
"Saya tadi dengar Gusti prabu Gandaroma mengangkat Jalardana dan Lamting menjadi Senopati kelima dan keenam untuk menggantikan Kumbara dan Jaran Lejong, menurut ku mereka berdua kurang pantas untuk mengemban tugas itu"ucap si mata iblis, sangat tidak suka dengan keputusan raja Gandaroma.
"Kenapa tuan Gandaroma begitu murah hati, memberikan jabatan setinggi itu kepada mereka berdua "tanya Barakasura dengan rasa heran.
"Aku juga tidak mengerti, apakah ini ada hubungannya dengan orang tua kemarin itu "ucap si mata iblis.
"Maksud mu Darsiman "ucap Barakasura.
"Benar , semenjak Darsiman dan mawar kencana tiba di kerajaan tengkorak iblis ini, tuan Gandaroma begitu mempercayai setiap perkataan orang tua itu "jawab si mata iblis.
"Aku merasa penasaran sekali dengan kedua orang itu,mengapa tuan Gandaroma begitu mengistimewakan orang tua itu "ucap Barakasura.
"Sudahlah Baraka kau jangan terlalu memikirkan hal itu, sebaiknya kau tingkatkan tenaga dalam mu , karena tidak lama lagi aku yakin tuan Gandaroma akan melakukan penyerangan ke sekte langit"ucap Si mata iblis.
Tanpa berkata-kata lagi Barakasura kemudian pergi meninggalkan si mata iblis sendirian di kamar Karadurga.
Tidak jauh dari istana tengkorak iblis terdapat sebuah rumah berukuran besar,di sekitar rumah itu terdapat beberapa penjaga yang berdiri tegak dengan memegang sebilah pedang di tangannya.Melihat banyaknya penjaga di sekitar rumah itu sudah pasti pemilik rumah itu bukan orang sembarangan.
Dan benar saja, rupanya pemilik rumah itu adalah seorang yang berilmu tinggi yang bernama Liang Pamungkas salah satu Pendekar andalan kerajaan tengkorak iblis.Liang Pamungkas mempunyai kedudukan yang cukup tinggi yaitu sebagai penasehat sekaligus sebagai wakil dari Gandaroma.
Di dalam rumahnya siang itu Liang Pamungkas rupanya kedatangan seorang tamu dari jauh ,dia adalah Nyai Saroja dan Datuk perlis dari negeri seberang.
Kedatangan kedua orang itu tidak lain adalah karena untuk memenuhi undangan dari Liang Pamungkas yang di kirim kan kepada mereka berdua.
"Selamat datang di bukit tengkorak iblis Nyai Saroja dan Datuk Perlis"ucap Liang Pamungkas menyambut kedatangan tamunya itu.
Datuk Perlis dan Nyai Saroja menganggukkan kepalanya sambil tersenyum menanggapi perkataan Liang Pamungkas.
"Kalian pasti merasa lelah setelah begitu lama menempuh perjalanan dari Sabah,aku sudah siapkan tempat untuk kalian istirahat, silahkan"ucap Liang Pamungkas.
"Kami memang merasa lelah tadi tapi setelah melihat tempat ini yang begitu ramai rasa lelahku sepertinya hilang seketika"ucap Datuk Perlis.
"Yang Datuk katakan memang benar ternyata keindahan tempat ini tidak kalah dengan negeri kami, sepertinya kami berdua akan betah untuk tinggal di tempat ini "sahut Nyai Saroja.
"Itu yang saya harapkan dari kalian berdua, karena tujuan saya mengundang kalian berdua datang kemari adalah untuk menjadi kalian sebagai orang kepercayaan ku"ucap Liang Pamungkas.
"Kalau tuan bisa memenuhi semua permintaan kami kenapa tidak , bukan begitu datuk"ucap Nyai Saroja.
Datuk Perlis terlihat manggut-manggut mendengar perkataan Nyai Saroja itu.
"Haaa....haaa.... kalian berdua tidak perlu khawatir aku bisa berikan apa pun yang kalian minta "ucap Liang Pamungkas tertawa senang.
__ADS_1
Datuk Perlis dan Nyai Saroja pun terlihat sangat senang mendengar itu.
Setelah berbicara panjang lebar dengan kedua tamunya itu kemudian Liang Pamungkas menjamu mereka makan makan.