
Sebuah bayangan berkelebat dengan cepat slaaaap..... slaaaap..... slaaaap....dan berhenti di sebuah bangunan paling besar, kepalanya menoleh ke kiri dan kanan seolah olah memastikan kalau keadaannya aman atau tidak.
Setelah di rasa aman bayangan berkelebat tadi kemudian berjalan pelan-pelan menghampiri sorot lampu yang paling terang di ruangan bangunan itu sepertinya dia sedang mencari sesuatu.
Kemudian ia membuka genteng bangunan itu secara pelan-pelan supaya tidak menimbulkan bunyi sekecil apa pun agar tidak ketahuan.
Dari celah-celah genteng itu akhirnya ia dapat menyaksikan seluruh kegiatan orang dalam ruangan itu .
"Rupanya dia sudah sampai di sini"ucap orang itu setelah melihat orang yang di kenalnya.
Dalam ruangan itu ternyata cukup ramai, karena sedang menyambut kedatangan tetua dari sekte es yang bernama Jalatunda.
Tetua sekte kumbang merah nampak gembira sekali atas kedatangan Jalatunda yang sudah lama di tunggu akhirnya tiba juga di sekte kumbang merah.
Untuk menyambut kedatangannya itu Banjar Samudra tidak tanggung tanggung dalam menyambutnya ,ia hidangkan makanan yang enak-enak serta tuak tuak bermutu selain itu Jalatunda juga menghadirkan penari penari kelas atas yang diiringi oleh alunan musik yang begitu merdu.
Wajah Jalatunda begitu gembira atas apa yang Banjar Samudra suguhkan padanya, berkali-kali tangan Jalatunda meneguk tuak di depannya.
"Banjar Samudra kamu ternyata tahu kesukaan ku ,arak ini memang enak serta makanannya juga istimewa"ucap Jalatunda dengan penuh kegembiraan.
"Aku melakukan ini khusus untuk menyambut kedatangan kakang yang sudah menempuh perjalanan cukup jauh dari sekte es ke sini"ucap Banjar Samudra.
"Apa yang di katakan tetua Banjar Samudra memang benar, sudah sepantasnya sekte kumbang merah memperlakukan sekte es dengan jamuan seperti ini "ucap Sindu.
"haaa.....haaaa.....haaa.....aku benar benar kagum pada kalian bisa menghadirkan penari penari terbaik seperti ini"ucap Jalatunda.
Tiba-tiba sebuah bayangan berkelebat dengan cepat masuk ke ruangan itu dan berdiri di tengah-tengah mereka.
Suasana menjadi tegang seketika dan muka orang orang di situ pun menjadi tegang setelah tahu siapa yang datang itu.
"Tuan Sanca Buana "ucap Banjar Samudra dengan tercekat.
Jalatunda pun buru buru memberi hormat pada orang yang bernama Sanca Buana itu, begitu pula dengan Sindu dan semua orang yang ada di situ.
"Kenapa tuan Sanca Buana datang tanpa memberi kabar kepada saya"ucap Banjar Samudra dengan muka pucat.
"Apa kau sudah bosan hidup dan tidak mengakui tetua Agung lagi sebagai pemimpin sehingga kamu bertindak tanpa perintahnya"ucap Sanca Buana sambil menekuk tangannya di belakang pinggang.
"Apa maksud perkataan tuan Sanca Buana"Aku sungguh tidak mengerti "ucap Banjar Samudra.
"Tindakan mu selama ini sudah menyinggung tetua Agung Banjar Samudra "ucap Sanca Buana.
"Aku tidak merasa menyinggung dan aku bisa untuk menjelaskannya tuan Sanca "ucap Banjar Samudra.
"Cukup Banjar Samudra,kau tidak perlu menjelaskan apa pun pada ku, karena aku sudah tahu semuanya dari Sindu "ucap Sanca Buana.
"Sindu apa yang kau katakan pada tuan Sanca, kenapa jadi begini "tanya Banjar Samudra.
"Maaf tetua Banjar Samudra, dari awal aku tidak ingin bertindak tanpa perintah dari tetua Agung tapi kau selalu memaksa ku,jadi aku terpaksa melaporkan ini pada tetua Agung bahwa kau sudah tidak mau lagi mengikuti perintahnya dan ingin berdiri sendiri, bukan begitu tetua Jalatunda"ucap Sindu
"Kau benar Sindu, mengikuti Banjar Samudra hanya akan membuat sengsara "ucap Jalatunda.
"Kurang ajar rupanya kedua orang itu sudah bersekongkol untuk menjatuhkan ku"ucap Banjar Samudra dalam hati.
"Aku tidak mengira kalian berdua bermain api di belakang ku "ucap Banjar Samudra.
"Dengar Banjar Samudra aku mendapat perintah dari tetua Agung secara langsung untuk menghukum mu atas tindakan mu menghancurkan tiga sekte tanpa persetujuannya,kau bertindak seolah olah kau lebih tinggi dari pada tetua Agung"ucap Sanca Buana.
"Tuan Sanca Buana dengar penjelasan ku dulu ...
"Tidak perlu penjelasan apa pun Banjar Samudra semuanya sudah jelas ,kau ingin melakukan pemberontakan pada tetua Agung"ucap Sanca Buana.
"Apa buktinya kalau aku melakukan pemberontakan tuan Sanca"tanya Banjar Samudra dengan tidak mengerti.
"Kau minta bukti... Jalatunda bacakan ini supaya dia tahu "ucap Sanca Buana.
"Baik tuan Sanca Buana "ucap Jalatunda kemudian mengambil gulungan dari tangan Sanca Buana kemudian membacanya.
Kakang Jalatunda sudah saatnya kita untuk berdiri sendiri, marilah kita gabungkan kekuatan kita untuk menghancurkan seluruh sekte sekte aliran putih di sekitar kita dengan begitu kita bisa mendapatkan banyak harta untuk membesarkan Sekte kita ,setelah sekte kita besar barulah kita hancurkan tetu Agung.
Bagaikan di sambar petir Banjar Samudra malam itu setelah mendengar isi surat yang bacakan Jalatunda, karena isinya tidak sesuai dengan yang ia tulis.
"Kau masih mau mengelak Banjar Samudra"ucap Sanca Buana.
"Aku merasa tidak melakukan itu tuan Sanca Buana percayalah"ucap Banjar Samudra.
"Tetua Banjar Samudra masih ingat kah tetua waktu tetua membuat sekte Elang Putih dan empat sekte lainnya menyerang Sekte kalajengking hitam,itu semua perbuatan tetua untuk ......
"Cukup Sindu tidak ku sangka kau bermuka dua"ucap Banjar Samudra dengan geram.
"Jalatunda cepat masuk dia ke penjara bawah tanah dan jangan di beri makan atau minum"ucap Sanca Buana.
"Baik tuan Sanca"ucap Jalatunda, kemudian memerintahkan para pengawalnya untuk membawa Banjar Samudra ke penjara.
"lalu selanjutnya bagaimana tuan Sanca, apakah rencana penyerangan akan di lanjutkan"tanya Jalatunda.
"Benar , semua sekte pendukung kerajaan Tataran harus di hapuskan demi kejayaan kerajaan Sangguling "ucap Sanca Buana.
"Baik tuan Sanca Buana "ucap Jalatunda.
"Perlu kalian ketahui jika ada sekte cabang yang coba coba untuk membangkang,tetua Agung tidak akan segan segan lagi untuk menghancurkannya, kalian camkan itu baik baik"ucap Sanca Buana.
"Kami mengerti tuan Sanca "ucap Jalatunda.
__ADS_1
"Sindu sekarang kau gantikan Banjar Samudra untuk memimpin sekte ini, lakukan tugas mu dengan baik untuk menjalankan semua yang tetua Agung perintahkan"ucap Sanca Buana lalu slaaaap.... hilang di dalam sekejap.
"Tuan Sanca Buana benar benar mengerikan , tubuh ku seakan akan hancur oleh sorotan matanya "ucap Jalatunda.
"Kau benar kekuatannya begitu mengerikan,maka pantaslah kalau dia jadi wakil tetua Agung "ucap Sindu.
"Sebaiknya mari kita lanjutkan senang senang kita"ucap Jalatunda setelah Sanca Buana berlalu.
"Kakang benar,mari kita minum lagi"ucap Sindu sambil meneguk tuaknya.
Melihat semua orang dalam ruangan itu kembali melanjutkan pestanya si pengintai yang berada di atas atap segera melesat meninggalkan tempat itu , kemudian ia menuju ke belakang sekte kumbang merah.
Dengan langkah hati hati orang itu terus melangkah sambil mengendap endap dengan waspada.
ia langsung merapat kan dirinya pada tembok dinding begitu mendengar langsung langkah seseorang.
"ternyata tetua Banjar Samudra mau melakukan pemberontakan pada tetua Agung aku tidak menyangka dia begitu berani"ucap penjaga pada temannya.
"Kau benar, untung tuan Sindu dan tetua Jalatunda segera melaporkan pada tuan Sanca Buana kalau tidak Sekte ini pasti hancur lebur seperti sekte kalajengking hitam "ucap teman yang satunya lagi.
"Sudahlah kita tidak perlu membahas masalah itu,mari kita melihat penari penari itu aku sungguh tertarik melihat kemolekan tubuhnya"ucap temannya.
"Dasar kau mata keranjang"ucap temannya yang satunya.
Kemudian mereka pun pergi menuju ke tempat penari penari itu.
Setelah dua penjaga pergi orang itu pun segera melanjutkan aksinya,ia segera mempercepat langkahnya menelusuri tempat itu tanpa kesulitan yang berarti seolah olah sudah hafal dengan ruangan itu.
Dan tak lama kemudian ia pun sudah sampai di tempat yang ia tuju yaitu penjara bawah tanah tempat di mana Banjar Samudra di tahan.
"Siapa kamu "ucap Banjar Samudra begitu melihat orang berpakaian serba hitam dengan wajah tertutup rapat ada di depannya.
orang berpakaian serba hitam itu tidak menjawab ,lalu ia mematahkan rantai pintu braaak...... pintu pun kemudian terbuka.
"Apakah kau mau membebaskan aku"ucap Banjar Samudra.
Namun orang itu tetap tidak menjawab dan tiba-tiba des... memukul leher Banjar Samudra hingga membuatnya pingsan.
Setelah Banjar Samudra dibuat pingsan kemudian orang itu segera memanggul nya di atas pundaknya dan membawa keluar.
Sementara di tempat Jalatunda dan Sindu berada alunan musik masih terus bergema sampai larut tengah malam, mereka tidak menyadari kalau orang yang baru di tawan telah raib di larikan orang.
Orang yang berpakaian serba hitam dapat keluar dengan mudah karena tidak ada penjaga di tempat itu karena semua sedang asik menikmati tuak dan melihat para penari.
Slaaap..... slaaaap.... orang itu mempercepat larinya hingga dalam waktu singkat saja sudah jauh meninggalkan sekte kumbang merah.
Pagi harinya Sindu dan Jalatunda langsung marah besar begitu mengetahui Banjar Samudra hilang dari tahanan,tak ayal penjaga penjara pun menemui ajalnya di tangan Sindu akibat dari kemarahannya itu.
"Aku benar benar kesal kakang dengan kejadian ini"ucap Sindu.
"Menurut mu siapa yang melakukan itu Sindu"tanya Jalatunda.
"Itulah yang menjadi pertanyaan ku ,kakang siapa yang telah berani berurusan dengan ku"ucap Sindu dengan kemarahan yang memuncak.
"Apa mungkin itu perbuatan orang orang dari sekte tombak terbang Sindu"ucap Jalatunda.
"Kenapa kakang bisa berpikir seperti itu"tanya Sindu.
"Selama ini Banjar Samudra sangat di segani dan di hormati oleh sekte itu siapa tahu pelakunya mereka"ucap Jalatunda.
Sindu segera mencerna perkataan Jalatunda itu,jika di lihat dari hubungan mereka yang terlalu dekat bisa saja tapi apakah mereka berani berbuat masalah dengan sekte kumbang merah yang kekuatannya jauh di atas mereka, Sindu merasa tidak yakin kalau itu ulah mereka.
"Tidak kakang ,aku yakin bukan mereka pelakunya"ucap Sindu.
"lantas siapa menurut mu "tanya Jalatunda.
"Itulah yang harus kita cari tahu"ucap Sindu.
Jalatunda kemudian berdiri sambil melipat tangannya ke belakang terlihat sedang berfikir.
"Sebaiknya kita fokuskan perhatian kita pada sekte Elang Putih Sindu mengenai Banjar Samudra kita lupakan untuk sementara lagian dia sudah tidak berguna bagi kita" ucap Jalatunda.
"Dua Algojo segera kalian persiapkan pasukan kita untuk di berangkat ke sekte Elang Putih"perintah Sindu.
"Baik tetua "ucap Dua Algojo.
"Pamulang , cepat kau juga siagakan pasukan kita "perintah Jalatunda.
"Baik tetua "ucap Pamulang, segera melaksanakan perintah Jalatunda.
"Kita harus berhasil menghancurkan sekte Elang Putih Kakang agar tetua Agung merasa senang"ucap Sindu.
"Haaa.....haaa....kau jangan khawatir Sindu ku pastikan mereka rata dengan tanah "ucap Jalatunda dengan penuh keyakinan.
"Aku percaya dengan kemampuan Kakang yang mampu untuk meratakan Sekte Elang putih"ucap Sindu.
"Lalu bagaimana dengan pasukan dari sekte tombak terbang Sindu apakah mereka sudah siap "tanya Jalatunda.
"Mengenai mereka Kakang tidak perlu khawatir karena mereka dalam perjalanan kemari"ucap Sindu.
"mmmm........ baiklah kita tunggu kedatangan mereka di sini "ucap Jalatunda, Kemudian duduk sambil meneguk segelas arak di depannya.
Sementara itu di tengah hutan terlihat seseorang dengan tangan dan kaki terikat dan di gantung pada sebuah pohon dengan kepala menghadap ke bawah dia adalah Banjar Samudra.
__ADS_1
"Bangun kau Banjar Samudra"ucap orang itu sambil memukul-mukul wajahnya.
"Siapa kamu...!!! lepaskan aku..."teriak Banjar Samudra.
"Tidak usah berteriak Banjar Samudra , tidak akan ada yang dengar , karena sekarang kita berada di tengah hutan dan jauh dari Sekte kumbang merah"ucap orang itu.
"Untuk apa kamu membawa ku kemari"tanya Banjar Samudra.
"Kau tidak berhak untuk bertanya Banjar Samudra, karena nyawa mu ada dalam genggaman ku"ucap orang itu.
"Kalau begitu cepat kau bunuh aku , dari pada aku tersiksa begini"ucap Banjar Samudra.
"Sebelum aku membunuh mu aku ingin kau bercerita pada ku"ucap orang itu.
"Bercerita apa maksud mu"tanya Banjar Samudra.
"Aku ingin kau ceritakan bagaimana Sekte kalajengking hitam bisa hancur di tangan lima sekte, kenapa Sekte kumbang merah dan sekte lainnya tidak membantu waktu itu "ucap orang itu.
"Kenapa kau ingin tahu tentang Sekte kalajengking hitam apa hubungannya dengan mu"tanya Banjar Samudra.
Kemudian orang itu melepaskan kain penutup wajahnya, Banjar Samudra langsung terkejut begitu mengenali orang yang ada di depannya itu.
"Kau Rawa Candra "ucap Banjar Samudra tercekat.
"Benar ,aku Rawa Candra cepat ceritakan kejadian yang sebenarnya tentang hancurnya sekte kalajengking hitam "ucap Rawa Candra.
"Baiklah turun kan aku , akan ku ceritakan yang sebenarnya "ucap Banjar Samudra.
"Kalau kau coba coba lari,aku tidak segan segan untuk membunuh mu dan kau perlu tahu Banjar Samudra nyawa mu juga sudah tidak berharga lagi di sekte kumbang merah "ucap Rawa Candra memperingatkan.
Mendengar perkataan dari Rawa Candra itu Banjar Samudra lalu teringat tentang kejadian tadi malam yang dirinya di fitnah oleh Sindu dan Jalatunda.
"Tenang saja aku tidak akan lari dari mu Rawa Candra"ucap Banjar Samudra.Kemudian Rawa Candra pun memotong tali yang menggantungnya dan melepaskan ikatan tali di kaki dan tangannya.
"Cepat ceritakan Banjar Samudra jangan tunda-tunda lagi"ucap Rawa Candra.
"Baiklah "ucap Banjar Samudra, seraya mengambil tempat duduk.
Waktu itu tetua sekte kalajengking hitam Barda ayah mu jatuh cinta dengan seorang gadis yang bernama Parwati adik dari Brawijaya dari sekte Elang Putih.
Mereka berdua tahu bahwa kedua sekte saling bertentangan namun mereka tidak memperdulikannya.
Hingga pada suatu hari mereka berdua akhirnya meningkah tanpa sepengetahuan Brawijaya.
Beberapa hari kemudian Barda dan Parwati mendatangi sekte Elang Putih untuk meminta restu pada Brawijaya kakaknya,namun ia tidak sudi dan mengusir mereka berdua.
Akhirnya mereka berdua pun kembali ke sekte kalajengking hitam dan beberapa tahun kemudian lahirlah engkau Rawa Candra"ucap Banjar Samudra.
Rawa Candra sangat terkejut setelah tahu bahwa ibunya adalah adik dari Brawijaya orang yang selama ini ingin di bunuh nya.
Kehidupan mereka berdua pun bisa dibilang cukup bahagia setelah kau lahir.
Ibu mu Parwati pun mengubah sifat ayah mu , yang dulunya kejam menjadi orang yang sangat penyayang , hingga sekte kalajengking pun sudah tidak mau lagi mengikuti perintah tetua Agung dan ingin menjadi sekte yang bebas dari kejahatan.
Sindu yang saat itu menjadi orang kepercayaan ayah mu tidak suka jika ayah mu menjadi orang baik .
Beberapa tahun kemudian sekte kalajengking hitam pun mulai di kenal sebagai sekte yang beraliran lurus .
Sindu makin tidak suka dengan sikap ayah mu yang mudah di pengaruhi oleh Parwati ibu mu, kemudian ia melaporkan pada tetua Agung bahwa ayah mu sudah mulai memberontak.
Mendengar laporan palsu dari Sindu itu kemudian tetua Agung memerintah untuk menghancurkan sekte kalajengking hitam karena sudah tidak di perlukan lagi.
Dan Sindu dengan akal liciknya segera mengadu domba sekte Elang Putih dan sekte kalajengking hitam.
Sindu menculik murid Sekte Elang Putih kemudian di bunuhnya dengan mengatas namakan sekte kalajengking hitam, begitu juga sebaliknya ia membunuh murid sekte kalajengking hitam dengan mengatasnamakan sekte Elang Putih.
Melihat kejadian itu kedua sekte tidak terima hingga akhirnya perang pun meletus tak terhindarkan", ucap Banjar Samudra mengakhiri ceritanya.
"Sindu.....!!!!!! teriak Rawa Candra.
"Orang yang sebenarnya membunuh ayah mu bukanlah Brawijaya Rawa Candra tapi Sindu pelakunya , sebelum ia bertarung dengan Brawijaya Sindu telah meracuni ayah mu hingga waktu pertarungan mereka berdua Barda langsung jatuh dalam sekali pukul oleh Brawijaya karena ayah mu sudah tidak berdaya akibat racun itu", ucap Banjar Samudra.
"Lalu kenapa sekte kumbang merah tidak membantu waktu itu "tanya Rawa Candra.
"tetua agung melarang seluruh sekte bawahannya untuk tidak ikut campur "ucap Banjar Samudra.
"Berarti sekarang kau juga kena jebakan mulut manis Sindu Banjar Samudra "ucap Rawa Candra.
"Benar aku sungguh tidak menyangka Sindu begitu tega melakukan ini pada ku"ucap Banjar Samudra.
"Berarti yang ku lihat malam itu di sekte es adalah Sindu"ucap Rawa Candra dalam hati.
"Lalu sekarang kau mau kemana Banjar Samudra"ucap Rawa Candra.
"Kamu sendiri mau kemana "tanya Banjar Samudra.
"Heh...aku akan buat perhitungan dengan Sindu dan tetua agung aku akan menuntut balas atas kematian seluruh keluarga ku"ucap Rawa Candra.
"Kalau begitu aku juga akan ikut dengan mu Rawa Candra "aku juga akan menuntut balas atas penghianatan mereka pada ku"ucap Banjar Samudra dengan mengepalkan tangannya.
"Baiklah mari kita awasi pergerakan mereka" ucap Rawa Candra.
Setelah mendengar cerita dari Banjar Samudra , Rawa Candra pun kini jadi mengerti bahwa dirinya masih keturunan dari sekte Elang Putih dan mulai sekarang ia bersumpah untuk memerangi seluruh sekte yang dipimpin tetua Agung.
__ADS_1