Jurus Pembelah Langit

Jurus Pembelah Langit
Malam yang panjang


__ADS_3

Lalu dengan gerakan cepat bayangan itu langsung memukul Ratih dess.. .dan Ratih pun pingsan seketika itu juga tanpa ada perlawanan sedikit pun, setelah berhasil membuatnya pingsan itu kemudian bayangan tersebut berkelebat pergi dengan membawa Ratih ikut serta bersamanya.


Melihat dari gerakan orang itu pastilah dia berilmu sangat tinggi karena dapat membuat Ratih sampai tidak berkutik sama sekali.


Suasana di tempat itu pun makin lama makin gelap , tidak lama kemudian suara binatang malam pun mulai terdengar mengalun di sekitar sungai itu.


Sementara itu di dalam sekte bintang Utara melati dan Dewi pandan Arum sedang terlibat pembicaraan mengenai kelanjutan sekte bintang Utara nantinya, karena tetua sekte itu telah meninggal begitu juga para murid murid pun juga telah tewas semua tanpa sisa.


Hal itu membuat muka Dewi Pandan Arum tampak muram karena teringat akan Terpasura gurunya nya itu.


"Mengenai masa depan sekte ini tergantung pada Jaka melati"ucap Dewi Pandan Arum dengan nada parau.


"Kenapa bisa begitu Dewi, memangnya ada hubungan apa tetua dengan sekte ini "tanya melati ingin tahu.


Dewi pandan Arum menghela nafas berat ia kemudian berdiri dan berjalan sekitar lima langkah lalu berhenti di depan jendela dengan pandangan menatap suasana gelapnya malam.


"Jaka adalah salah satu murid sekte ini melati, sebelum guru meninggal dia telah meminta Jaka untuk menjadi tetua sekte ini, namun Jaka tidak mau memikul beban berat itu yah , karena mungkin status dia saat tetua sekte langit mungkin itulah yang menjadi bahan pertimbangannya. Tapi untuk sekarang ini saya harap dia mau berubah pikiran melihat keadaan di sini seperti ini "ucap Dewi Pandan Arum, kemudian membalikkan badannya ke arah melati.


"Apa jadi tetua adalah murid di sekte ini"ucap melati dengan terkejut karena dia baru tahu hal itu.


"Begitulah kenyataannya melati, murid yang tersisa dari sekte ini tinggal aku dan Jaka saja, aku takut jika aku tidak bisa membuat sekte ini berdiri lagi aku merasa sangat berdosa pada guru "ucap Dewi Pandan Arum dengan rasa sedih.


"Kamu tidak perlu khawatir seperti itu Dewi aku yakin pasti tetua akan mencari jalan yang terbaik untuk sekte ini, karena sekarang dia juga telah menjadi bagian dari sekte ini"ucap Melati.


Melati tersenyum masam mendengar ucapan dari Melati itu sambil menganggukkan kepalanya.


"Aku percaya dengan kata-kata mu itu Melati kalau Jaka pasti akan membuat sekte ini bersinar kembali "ucap Dewi Pandan Arum.


"Mulai sekarang kamu jangan pernah berfikir Kamu merasa sendiri Dewi, karena masih ada aku dan Ratih di sini yang akan selalu membantu mu"ucap Melati.


"Saya merasa sangat beruntung melati dapat bertemu dengan kamu dan Ratih "ucap Dewi Pandan Arum seraya tersenyum.


"Ngomong ngomong kemana Ratih kenapa dia belum kembali ,apa dia masih betah berdiam diri di tepi sungai itu "ucap Melati yang tiba-tiba teringat pada Ratih.


"Aku perhatikan Ratih akhir akhir ini kelihatan tampak murung ,apa dia sekarang sedang ada masalah Melati "ucap Dewi Pandan Arum.


"Benar juga ,dia tidak seperti biasanya yang selalu ceria , sepertinya dia memang sedang ada masalah nanti kita tanyakan saja padanya"ucap Melati.


"Malam sudah semakin larut melati apa tidak sebaiknya kita susul saja ke sungai "usul Dewi Pandan Arum.


"Baiklah aku takut kalau dia kenapa kenapa "ucap Melati seraya mengambil obor yang tertancap pada ruangan itu.


Mereka berdua bergegas menuju ke sungai tempat mereka mengobrol sore tadi karena mereka khawatir dengan Ratih.


Suasana malam malam itu benar benar gelap gulita, tidak ada sinar bulan maupun kelip bintang di langit saat itu, hanya awan hitam yang terlihat bergulung gulung berjalan beriringan, tak lama setelah itu terlihat kilatan cahaya di langit menyala, sepertinya malam itu akan segera turun hujan.


Sesaat kemudian melati dan Dewi pandan Arum pun sudah tiba di tempat Ratih berada sore tadi,namun di sana mereka tidak menjumpai adanya Ratih,hal itu langsung saja membuat mereka berdua menjadi heran dan bertanya tanya.


"Kemana dia kenapa tidak ada di sini"ucap melati.


"Ratih....!!!"teriak melati


Ratih.... Ratih...di mana kamu..!!!"teriak Dewi Pandan Arum.


"Ratih....Ratih.....!!!"teriak melati berulang ulang.


"Kemana dia kira kira melati "tanya Dewi Pandan Arum sambil mengedarkan pandangannya menyapu tempat itu.


"Entahlah tidak biasanya Ratih pergi tanpa pamit seperti ini "ucap Melati.


"Ratih..."teriak Dewi Pandan Arum.


"Apa jangan jangan Ratih menyusul tetua Dewi "ucap melati teringat dengan kata kata Ratih sore tadi yang mengkhawatirkan Jaka.


"Maksud kamu dia ke sekte langit begitu melati"tanya Dewi Pandan Arum.


"Iya karena ia takut terjadi apa apa pada tetua"ucap melati.


"Tapi aku tidak yakin kalau dia pergi begitu saja tanpa memberi tahu kita, bukankah tadi kamu bilang kalau Ratih mau pergi selalu bilang mau kemana "ucap Dewi Pandan Arum.


"Benar juga Dewi atau jangan jangan telah terjadi sesuatu pada Ratih sekarang ini "ucap Melati.


"Sebaiknya kita minta bantuan pada murid murid yang lain untuk ikut membantu kita mencari Ratih , melati"ucap Dewi Pandan Arum memberikan saran.


"Kau benar kalau begitu aku akan segera mengerahkan mereka untuk segera bergerak mencari Ratih ,kau pegang obor ini Dewi "ucap melati kemudian menyerahkan obor kepada Dewi Pandan Arum.


"Baiklah aku akan tetap di sini melati sambil terus mencarinya "ucap Dewi Pandan Arum.


Melati kemudian berkelebat pergi meninggalkan Dewi Pandan Arum sendiri di tempat itu.


Selepas kepergian melati, Dewi Pandan Arum segera menancapkan obornya ke tanah di sampingnya.


Dewi pandan Arum kemudian duduk bersila sambil memejamkan matanya seraya memusatkan pikirannya dan instingnya untuk merasakan getaran getaran tenaga dalam Ratih di sekitar tempat itu, tapi usahanya itu hanya sia sia belaka karena ia tetap tidak merasakan apa-apa tentang Ratih di tempat itu.


Dewi pandan Arum kemudian membuka matanya setelah usahanya itu tidak membuahkan hasil apa-apa itu.

__ADS_1


"Sepertinya Ratih memang telah pergi dari sini ,tapi kemana dia apa tadi ada seseorang yang telah datang ke sini"gumam Dewi Pandan Arum .


Tidak lama kemudian datanglah melati bersama dengan para murid lainnya dengan membawa sebuah obor di tangan mereka masing-masing.


"Bagaimana Dewi apakah sudah ada tanda-tanda keberadaan Ratih"tanya melati.


"Belum melati , sepertinya Ratih tidak di sini"ucap Dewi Pandan Arum.


"Sebaiknya kita jelajahi dulu tempat ini siapa tahu dia ketiduran di sekitar sini"ucap Melati.


"Baiklah mari kita periksa seluruh daerah sini"ucap Dewi Pandan Arum.


"Kalian semua cepat menyebar cari Ratih di sekitar tempat ini"perintah melati kepada semua para murid yang di bawanya tadi.


"Baik nona"jawab salah satu dari mereka.


Para murid murid pun segera menyebar menyusuri sungai itu, suasana di tepi sungai malam itu menjadi ramai dan sedikit agak terang karena ada begitu banyak obor yang di bawa oleh mereka.


Terlihat beberapa orang murid berlompatan dari satu batu ke batu yang lain dengan obor di tangannya, rupanya mereka sudah jauh menyusuri sungai itu.


Selain mencari di sungai para murid juga ada yang memasuki hutan di sekitar sungai itu karena mereka berharap dapat cepat menemukan adanya Ratih.


kraaaak.... duuuaaarrr... blaaaar... tiba tiba terdengar suara guruh menggelegar dari angkasa hingga mengagetkan semua orang yang ada di situ.


"sebaiknya kita lebih menyebar lagi , supaya dapat dengan cepat menjelajahi tempat ini"teriak salah satu murid itu setelah mendengar bunyi guntur tadi.


mendengar itu para murid pun segera menuju ke tempat lainnya.


Tanpa terasa pencarian yang mereka lakukan sudah begitu lama tanpa mereka sadari dan malam pun sudah mulai semakin larut.


"Melati sepertinya hujan sebentar lagi akan turun, apakah kita akan tetap melanjutkan pencarian ini"tanya Dewi Pandan Arum.


"Kita tunggu kabar dari mereka, Jika tidak menemukan hasil kita sudahi saja pencarian ini dan lanjutkan besok"ucap Melati dengan suara terdengar parau.


"Baiklah"ucap Dewi Pandan Arum.


"Bagaimana hasil pencarian kalian"tanya melati begitu melihat tiga orang murid mendatanginya.


"Lapor nano melati kami sudah sampai jauh hampir ke ujung sungai tapi tidak menemukan apa-apa"ucap seorang murid yang datang melapor itu.


"Kami juga tidak menemukan adanya nona Ratih , meskipun sudah menyisir ke seluruh hutan nona "ucap murid yang lain.


"Benar nona sepertinya nona Ratih tidak ada di sini "imbuh yang lainnya.


duaaarr .... duuuaaarrr..... tiba tiba terdengar suara guntur bergemuruh di sertai dengan gerimis.


"Baik nona "ucap ketiga orang itu.


tiga orang itu segera memberi tahu kepada teman temannya untuk menghentikan pencarian dan kembali ke sekte.


Makin lama gerimis pun makin besar,disertai suara guntur bergemuruh di langit hingga suasana menjadi mencekam.


"Melati ayo cepat kita kembali hujan sudah mulai deras"ucap Dewi Pandan Arum sambil menatap ke arah langit.


"Baiklah Dewi mari kita kembali"ucap melati seakan enggan beranjak dari situ karena belum menemukan Ratih.


Tidak berapa lama kemudian hujan pun turun dengan derasnya seperti di tumpahkan dari langit.


suara guntur pun kembali terdengar menggelegar menandakan hujan turun dengan derasnya.


Melati dan Dewi pandan Arum pun harus di paksa mandi hujan malam itu, karena sebelum mereka sampai sekte hujan sudah keburu turun deras.


"Hujannya deras sekali Dewi "ucap Melati sambil mengusap wajahnya yang terkena siraman air hujan.


"Iya padahal tadi siang suasananya begitu cerah tidak menyangka kalau malamnya akan terjadi hujan deras begini"sahut melati sambil terus mempercepat langkahnya.


Mereka berdua tidak banyak bicara lagi dan terus berlari menuju ke sekte bintang Utara.


Malam itu melati duduk termenung memikirkan hilangnya Ratih yang tiba-tiba itu,ia tidak tahu harus menjawab apa jika Jaka bertanya nanti.


Melati hanya bisa pasrah jika nanti Jaka marah padanya ,biar pun nanti di hukum dia tidak akan merasa keberatan karena merasa tidak bisa menjaga Ratih.


Seandainya tadi ia tidak meninggalkan Ratih sendirian mungkin kejadian seperti ini tidak akan terjadi .


Hal yang sama pun juga di rasakan oleh Dewi pandan Arum,ia juga merasa sangat bersalah dengan hilangnya Ratih itu.


Malam dingin yang disertai hujan lebat terasa sangat menjadi malam yang sangat panjang bagi mereka berdua.


...----------------...


Keesokan harinya pagi pagi sekali Dewi Pandan Arum segera pergi menuju ke tempat hilangnya Ratih kemarin malam itu.


Namun tanpa ia ketahui rupanya Melati sudah tiba di tempat itu lebih dulu.


"Aku kira kau masih di kamar mu melati"sapa Dewi Pandan Arum.

__ADS_1


"Bagaimana aku bisa tidur Dewi, sementara Ratih hilang entah kemana"ucap melati dengan nada dingin.


"Ya , hilangnya Ratih memang membuat tanda tanya besar"ucap Dewi Pandan Arum.


Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki seseorang berlari dari arah belakang mereka, Melati dan Dewi pandan Arum pun segera membalikkan badannya begitu tahu ada seseorang menghampirinya.


"Lapor nona melati tet..tua sudah ti...ba"ucap orang itu dengan nafas naik turun.


Suasana tegang langsung dirasakan oleh mereka berdua dada melati dan Dewi pandan Arum langsung berdebar hebat mendengar itu.


Mereka berdua saling beradu pandang tanpa ada kata kata seolah olah mereka menjadi bisu saat itu juga.


"Baiklah aku akan segera menemuinya ,kau segera kumpulan semua teman teman mu untuk menyambut kedatangan tetua"ucap melati setelah terdiam cukup lama.


"Baik nona kalau begitu saya pergi dulu untuk "ucap orang itu.


"Melati aku tahu perasaan mu kau jangan terlalu merasa bersalah ,ini bukan sepenuhnya kesalahan mu"ucap Dewi Pandan Arum.


"Sudahlah Dewi, sebaiknya kita cepat menghadap tetua "ucap melati langsung melesat pergi.


Dewi pandan Arum menghela nafas panjang seraya menggelengkan kepalanya, kemudian melesat pergi menyusul melati.


Di dalam sekte terlihat para murid murid sudah menyambut Jaka dengan berlutut dan tidak bangun bangun padahal Jaka sudah memerintahkan mereka untuk bangun, Jaka merasa heran dengan sikap mereka itu.


Tak lama kemudian melati dan Dewi pandan Arum pun tiba di tempat itu dan langsung berlutut di hadapan Jaka.


"Selamat datang tetua "ucap melati.


"Bangunlah melati "ucap Jaka.


Namun melati pun juga sama seperti murid yang lainnya tak kunjung berdiri.


"Ada apa dengan kalian semua hari ini kenapa aneh sekali"ucap Jaka tidak mengerti.


Jaka lalu menyapukan pandangannya keseluruh murid murid itu dari depan sampai belakang, Jaka kemudian merasa janggal ketika tidak mendapati adanya Ratih di antara mereka.


"Oh ya melati apakah Ratih masih tidur, kenapa tidak kelihatan"tanya Jaka.


"Maafkan saya tetua karena ketidakbecusan saya Ratih telah hilang "ucap melati dengan wajah tertunduk.


"Apa...!!! Ratih hilang "ucap Jaka dengan terkejut.


"Hilang bagaimana maksud mu melati coba kau jelaskan "lanjut Jaka.


Melati kemudian menjelaskan kejadian kemarin sore itu saat dirinya dan Ratih berada di tepi sungai dari awal sampai akhir.


"Saya bersedia di hukum berat tetua karena kelalaian saya Ratih jadi hilang "ucap melati.


"Aku minta maaf Jaka karena tidak bisa menjaga Ratih "sahut Dewi Pandan Arum juga dengan wajah tertunduk.


Jaka menarik nafas dalam-dalam sambil menahan rasa marah marah di dadanya.


"Kalian semua bangunlah ini semua bukan salah kalian"ucap Jaka.


para murid murid saling berpandangan satu sama lain kemudian semuanya pun berdiri.


"Kalian lanjutkan pekerjaan kalian mengenai Ratih biar aku selesaikan dengan Melati dan Dewi pandan Arum"ucap Jaka.


"Baik tetua"ucap para murid itu kemudian membubarkan diri.


" Menurut kalian berdua apa penyebab hilangnya Ratih itu"tanya Jaka.


"menurut saya mungkin ini ada hubungannya dengan peta itu Jaka "ucap Dewi Pandan Arum.


"Maksud mu Ratih di culik seseorang begitu "tanya Jaka.


"Bisa jadi begitu Jaka karena kita tahu bahwa banyak orang yang sedang mengincar peta itu "ucap Dewi Pandan Arum


"Lalu siapa yang patut untuk di curigai dalam kejadian ini "tanya Jaka.


"Tentu saja orang orang yang kemarin datang ke sekte langit "ucap Dewi Pandan Arum.


"Jadi maksud mu Guruh Sujiwo dan Kalapati "tanya Jaka .


"Siapa lagi kalau bukan mereka jaka"ucap Dewi Pandan Arum.


Jaka terdiam dan berfikir mendengar pendapat dari Dewi Pandan Arum itu memang masuk akal juga kalau Dewi Pandan Arum mencurigai orang orang itu


"Kalau benar mereka yang menculik Ratih, maka tidak ada ampun dari ku , kemana pun mereka lari akan aku kejar walaupun sampai ke ujung dunia sekali pun "ucap Jaka sambil mengepalkan tangannya.


Dada melati langsung bergetar melihat kemarahan Jaka itu, karena selama menjabat sebagai tetua sekte langit ini baru pertama kalinya ia melihat Jaka sampai marah seperti itu.


"Kalau begitu kita harus secepatnya mendatangi mereka tetua "ucap Melati.


"Dalam urusan ini sebaiknya aku sendiri saja yang akan menyelesaikannya ,kalian berdua tetaplah di sini untuk menjaga keamanan di sini "ucap Jaka.

__ADS_1


"Baik tetua"ucap melati tidak berani menyela perintah Jaka seperti biasanya, karena ia tahu perasaan Jaka kali ini.


Jaka pun kemudian langsung melesat pergi menuju ke sekte Api angin.


__ADS_2