Jurus Pembelah Langit

Jurus Pembelah Langit
Pertemuan pertama dan terakhir


__ADS_3

"Celaka...anak anak itu....!!!


Narantaka bergerak cepat menghalau serangan gelap itu.


Hiiiiaaaat....... wuuuuus..... blaaaar..... duuuaaarrr......bola api yang mengancam Arini dan dan teman temannya akhirnya dapat di hancurkan oleh Narantaka.


Arini dan yang lainnya terpental oleh getaran ledakan itu.Narantaka pun bergegas menghampiri mereka.


"Apakah kalian tidak apa-apa"tanya Narantaka.


"Kami baik baik saja paman"ucap Arini.


"Syukurlah sepertinya kita kedatangan musuh satu lagi "ucap Narantaka sambil menatap ke arah serangan tadi.


Tidak lama kemudian terdengar suara tawa dari hadapan mereka , Narantaka menoleh ke arah orang itu.


"Haaa.....haaa.... rupanya aku belum terlambat datang ke sini "ucap orang itu yang tidak lain adalah Jaran Lejong.


"Itu pasti teman dari kedua orang itu "ucap Narantaka.


"Benar paman dialah jaran Lejong teman mereka "sahut Dewi Racun yang tiba-tiba sudah ada di dekat Narantaka.


"Dua saja sudah merepotkan ,di tambah satu orang lagi sungguh menyebalkan"Keluh lestari.


"Kalau kau takut kau boleh mundur lestari "ucap Sinta merasa tidak suka dengan keluh kesah adiknya.


"Aku tidak bermaksud begitu kakak,aku cuma...


"Sudah... sudah.. kalian jangan berdebat, sebaiknya kita fokus pada pertarungan ini "ucap Arini.


"Aku punya hadiah untuk kalian semua "ucap Jaran Lejong.


"Hadiah apa maksud mu"ucap Narantaka dengan tatapan tajam.


"Kalian akan tahu sebentar lagi, pasukan ku keluarlah kalian"teriak Jaran Lejong,memanggil para pasukannya.Tidak lama kemudian muncul para pasukan iblis pun muncul di samping kirinya.


Narantaka dan yang lainnya langsung tercekat melihat kemunculan pasukan itu, mereka tidak menyangka kalau Jaran Lejong juga membawa pasukan seperti yang di bawa oleh Karadurga dan Kumbara.


Kini jumlah pasukan iblis menjadi semakin bertambah banyak setelah mendapatkan tambahan dari pasukan jaran Lejong .


"Hancurkan mereka anak anak"teriak Jaran Lejong kepada pasukannya.


Mendengar perintah Jaran Lejong,para pasukan iblis langsung bergerak maju melakukan penyerangan.


Arini dan yang lain segera menggenggam erat pedangnya bersiap siap menghadapi para pasukan iblis yang mulai maju mendekat.


"Mari kita hancurkan mereka...!!!"teriak Arini dengan lantang.


Pertarungan pun kembali terjadi , walaupun jumlah pasukan iblis bertambah banyak,tak membuat para pasukan sekte langit gentar sedikipun mereka terus maju dengan gigihnya.


Kumbara dan Karadurga terlihat senang melihat kedatangan Jaran Lejong, karena kekuatan mereka menjadi bertambah.


Setelah memerintahkan pasukannya kemudian Jaran Lejong berkelebat menyusul Karadurga dan Kumbara yang sedang berhadapan dengan paksa Darma.


"Sesuai dengan perkataan ku waktu itu aku tidak akan terlambat untuk datang kemari"ucap Jaran Lejong.


"Kedatangan mu ternyata lebih cepat dari yang ku perkirakan Jaran Lejong, apakah kau sudah menghabisi Pranaraja"tanya Kumbara.


"Tentu saja Kakang, sekte bintang timur pun sekarang sudah rata dengan tanah "sahut Jaran Lejong dengan berbohong mengatakan telah membunuh Pranaraja, untuk menutupi kegagalannya.


Paksi Darma terkejut mendengar ucapan Jaran Lejong itu ,ia tidak menyangka kalau sekte bintang timur dapat semuda itu di hancurkannya.Melihat situasi semakin gawat tidak ada cara lain bagi Paksi Darma kecuali harus bertarung habis-habisan.


"Bersiaplah Paksi Darma untuk menyusul Pranaraja ke alam baka"ucap Karadurga.


Paksi Darma tersenyum kecut mendengar perkataan Karadurga itu, baginya tidak mengapa jika harus mati saat ini juga,tapi yang menjadi beban pikirannya adalah para murid murid yang masih muda itu.


"Majulah kalian bertiga ,sudah lama aku tidak menggerakkan otot otot ku"ucap Paksi Darma dengan penuh ketenangan.


"Sombong sekali orang tua ini"ucap Jaran Lejong.


Setelah berkata demikian Jaran Lejong langsung bergerak maju menyerangnya , Karadurga dan Kumbara pun tidak mau ketinggalan mereka berdua langsung menerjang Paksi Darma.


Ketiga orang itu menyerang dengan gencar, pedang di tangan Karadurga menusuk dan menyambar mencari sasaran tapi belum juga menemukannya, sodokan tangan Kumbara dan tendangan Jaran Lejong terasa kompak membuat Paksi Darma tidak mampu untuk menyerang balik.


Paksi Darma bergerak mundur sambil menghindari serangan ketiga orang itu, walau pun serangan mereka begitu gencar dan cepat tapi belum menyentuh secuil pun baju paksi Darma apa lagi kulitnya.


"pukulan tapak iblis hiiiiaaaat..... wuuuuus...."


Paksi Darma melejit setinggi dua tombak menghindari pukulan tapak iblis Karadurga itu, duuuaaarrr ......!!!.


"Kurang ajar dia bisa lolos dari pukulan tapak iblis ku"ucap Karadurga dengan rasa geram .


Sebelum Paksi Darma mendarat Kumbara dan Jaran Lejong pun tidak mau ketinggalan mereka berdua pun langsung melepaskan pukulannya kearah Paksi Darma yang masih di udara itu wuuuuus...... wuuuuus......!! Paksi menangkis serangan dengan kedua tangannya itu hiiaaaat ... blaaaar... blaaaar....!!!.


Melihat Paksi Darma selalu luput dari serangan yang bertubi-tubi itu, ketiga orang itu semakin penasaran dengan ilmu yang di miliki olehnya.


Mereka bertiga langsung kembali menyerangnya dan tidak membiarkan Paksi Darma untuk menghirup nafas barang sejenak.Serangan ke-tiga orang itu semakin lama semakin ganas hingga membuat Paksi Darma membuatnya harus berjalan mundur untuk menghindarinya.


Jaran Lejong dan Kumbara semakin meningkatkan serangannya, dalam hati mereka berdua merasa senang karena dapat terus mendesak Paksi Darma.


Merasa berhasil mendesak Paksi Darma kedua orang itu semakin mempercepat serangannya,tapi apa benar Paksi Darma dapat di desak semuda itu, rupanya Paksi Darma sengaja terlihat terdesak dengan tujuan untuk mengukur seberapa tinggi tenaga dalam dan jurus jurus mereka itu.

__ADS_1


"Hiiiiaaaat... mampus kau Paksi Darma "teriak Jaran Lejong ketika tendangannya merasa tepat mengenai kepala Paksi Darma, namun tiba-tiba Paksi Darma lenyap seketika dari hadapannya.


"Kurang ajar kemana dia "ucap Karadurga dengan sikap penuh kewaspadaan.


"Kurang ternyata gerakan orang tua itu cepat sekali"ucap Jaran Lejong dengan kesal.


"Terima ini hiiiiaaaat.....duuuug....des.... Jaran Lejong langsung terpental setelah terkena tendangan Paksi Darma yang tiba-tiba itu.


"Braaaak...."


Jarak Lejong terjatuh cukup keras hingga membuatnya tidak segera bangun.


"Kurang ajar "maki Kumbara.


Melihat kemunculan Paksi Darma itu, Karadurga dan Kumbara segera melesat dan langsung menerjangnya. Karadurga meluncur deras bagaikan kan anak panah mendahului Kumbara dengan menghunus pedangnya wuusss.... ,Paksi Darma melejit ke atas menghindari tusukan pedang Karadurga,kemudian dengan cepat melepaskan pukulannya wuuuuus.... duuuaaarrr Karadurga pun langsung terjatuh gedebuuuk....dan tidak bisa bangun lagi


Huuuup.... terdengar suara kaki Paksi Darma mendarat.


Belum sempat ia berdiri tegak Kumbara langsung datang dengan mengirimkan tendangan weees....., Paksi Darma bergerak cepat menundukkan kepalanya, lalu ia mengirimkan tinjaunya kearah perut Kumbara dess... Kumbara terhuyung huyung ke belakang dengan menahan rasa sakit.


Ternyata serangan Paksi Darma itu tidak cukup sampai disitu ,lalu ia melompat ke atas dan memberikan tendangan beruntun kepadanya dess.... deessss.... deeess.. aaaaaaaakhh... braaaak... Kumbara terlempar dan terjatuh cukup keras.Mengingat mereka sudah membunuh Pranaraja paksi Darma langsung mengirimkan pukulannya kepada Kumbara duuuaaarrr.......!!!!


Paksi Darma kemudian mengedarkan pandangannya .Tapi dia tidak mendapati adanya Jaran Lejong di tempat tadi ia terjatuh.Ia cuma mendapati Karadurga yang sudah tergeletak pingsan.


"Kemana Jaran Lejong"gumam Paksi Darma sambil meningkatkan kewaspadaannya.


Tiba-tiba jaran Lejong muncul dari atas dengan bersiap menghabisi Paksi Darma.


"Matilah...kau orang tua "teriak Jaran Lejong .


Hiiiiaaaat..... weees.....craab


....craab.... bekum sempat melepaskan pukulannya,Jaran Lejong tiba-tiba terjatuh gedebuuuk...!!ia pun langsung tewas dengan wajah menghitam.


Paksi Darma menoleh ke arah kirinya dan melihat ada Dewi Racun di sana, rupanya dialah yang menyerang Jaran Lejong tadi dengan jarum beracun nya.


Paksi Darma tersenyum sambil menganggukkan kepalanya,ia merasa sangat berterimakasih atas bantuan dari Dewi Racun itu.


Paksi Darma menatap Dewi Racun dalam dalam hatinya sepertinya ada sesuatu yang ingin diucapkan kepada gadis itu.


Sementara itu pertarungan Arini dan teman temannya dalam menghadapi para pasukan iblis terus berlangsung.


Blaaaar.... blaaaar..... blaaaar... pukulan besar besaran menghujani para pasukan iblis yang terus merengsek maju.


Akkhh..... terdengar jeritan kematian dari para murid sekte Langit setelah kuku tajam para pasukan iblis merobek laher dan perut mereka.


Kegusaran mulai tampak di wajah para pasukan sekte langit melihat kebangkitan pasukan iblis yang sangat cepat itu.


"Majulah kalian semua jangan harap aku akan kalah dari kalian..!!!"teriak Arini .


"Kita tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi jika terus begini Arini."teriak Sinta , sambil memainkan pedangnya.


"Aku tidak perduli bagaimana pun caranya kita harus mengalahkan mereka "sahut Arini dengan nafas tersengal sengal.


"Baiklah mari kita berjuang sampai akhir"Tidak mau kalah dengan Arini Sinta langsung meningkatkan tempo serangannya sreet..... sreet .. tebasan pedang Sinta langsung menumbangkan puluhan pasukan iblis .


Paksi Darma kemudian melesat ke arah Arini dan teman temannya, karena merasa khawatir melihat keadaan mereka yang semakin lama semakin melemah itu.


Blaaaar... blaaaar..... blaaaar... Paksi Darma melepaskan pukulannya berkali-kali hingga membuat pasukan iblis itu hancur lebur.


"Arini cepat bawa mundur seluruh pasukan percuma saja kalian tidak akan bisa membunuh mereka"perintah Paksi Darma.


Arini mengangguk dan segera menarik mundur seluruh pasukannya.


Paksi Darma merasa geram melihat banyaknya para pasukan sekte langit yang telah menjadi korban.


Dengan tatapan nanar ia memandang tajam kearah pasukan iblis yang terus merangkak maju itu.


Hiiiiaaaat...... hiiiiaaaat..... tubuh Paksi Darma bersinar kekuningan dari kedua telapak tangannya muncul sinar putih yang memancar terang setelah ia mengerahkan seluruh kekuatannya.


Narantaka terkejut melihat jurus yang di peragakan oleh sesepuh Paksi Darma itu,rasa kecemasan langsung muncul dalam hatinya.


"Sesepuh jangan..... lakukan itu"teriak Narantaka.


Namun Paksi tidak memperdulikan teriakkan dari Narantaka itu.


Arini yang berada di dekatnya merasa heran dengan sikap Narantaka itu.


"Memangnya apa yang di lakukan oleh sesepuh paman "tanya Arini.


Narantaka terdiam sejenak dengan wajah memancarkan kekhawatiran yang mendalam.


Semua para murid yang ada di situ menatap kearah Narantaka ,mereka tidak sabar untuk mengetahuinya apa yang akan terjadi.


"Sesepuh akan menggunakan jurus pembakar jiwa Arini"ucap Narantaka.


"Jurus pembakar jiwa apa maksud paman"tanya Sinta.


Jurus pembakar jiwa adalah pengerahan seluruh tenaga dalam sampai kepuncak batas dan biasanya orang yang menggunakan jurus itu akan segera menemui ajalnya "ucap Narantaka.


Arini, Sinta, putri Candra Kirana , lestari dan yang lainnya terkejut bukan main, mereka langsung menjatuhkan dirinya dengan berlutut.

__ADS_1


Hiiiiaaaat... blaaaaaaaar.......!!!! ledakan dahsyat seketika mengguncang di sekitar arena pertempuran itu, getaran ledakan yang begitu kuat sampai merobohkan beberapa bangunan.


Dalam sekejap saja para pasukan iblis itu pun lenyap tanpa sisa hanya puing puing reruntuhan saja yang tertinggal, Paksi Darma pun juga ikut lenyap bersamaan dengan ledakan tadi.


Begitu ledakan telah reda,Dewi Racun langsung berlari menuju ke arah ledakan tadi, entah mengapa ia merasa tidak rela jika orang tua itu pergi meninggalkannya.


"Sesepuh.."bisik Dewi Racun.


"Sesepuh......!!! Jeritan para murid terdengar bersahutan ketika tidak melihat lagi adanya Paksi Darma di tempat itu.


"Sesepuh... sesepuh....."teriak Sinta dan Arini.


Arini dan Sinta bersimpuh di tempat itu mereka merasa terpukul dengan kematian sesepuh Paksi Darma itu.Bagi mereka Paksi Darma sudah dianggap sebagai ayah mereka sendiri, jadi tidak heran jika mereka merasa kehilangan atas kepergiannya.


"Tabahkan hati kalian ,aku tahu kalian merasa kehilangan "ucap Narantaka.


Walau pun dirinya juga merasakan kesedihan yang mendalam tapi ia mencoba untuk tidak menunjukkan perasaannya itu pada Arini dan teman temannya.


Narantaka dan seluruh murid kemudian meninggalkan tempat itu lalu masuk ke dalam rumah, karena hari sudah mulai gelap.


Malam itu suasana duka menyelimuti hati para murid sekte langit atas meninggalnya Paksi Darma.Walau pun mereka belum cukup lama di sekte itu tapi kepedulian Paksi Darma terhadap mereka , membuat mereka begitu merasakan kehilangan.


Di sudut kamarnya Dewi Racun berdiri menghadap ke keluar jendela yang terbuka, Seperti para murid sekte langit kesedihan juga terpancar dalam wajahnya.


Walau pun dia bukan murid dari sekte langit tapi entah mengapa dirinya juga merasa kehilangan atas meninggalnya Paksi Darma itu.


Dewi Racun merasakan seperti ada ikatan batin yang kuat dalam dirinya pada sosok Paksi Darma.


tok...tok.....tok... terdengar pintu kamar Dewi racun di ketuk tiga kali, Dewi Racun kemudian bergegas membuka pintu itu.


Di balik pintu ia melihat kehadiran Narantaka dan Arini ia berfikir bahwa kedua orang itu pasti akan menyuruh dirinya untuk segera meninggalkan sekte langit.


"Paman Narantaka dan Arini silahkan masuk"ucap Dewi Racun.


Narantaka dan Arini lalu masuk kedalam ruangan kamar yang cukup lebar dan besar itu.


"Kalau paman menginginkan saya pergi dari sini baiklah"ucap Dewi Racun.


"Tidak Kemala Sari, kedatangan ku tidak untuk mengusir mu dari sini ,kau bahkan boleh tinggal di tempat ini selamanya "ucap Narantaka.


Dewi Racun terkejut mendengar Narantaka memanggil dirinya Kemala Sari,ia tidak menyangka kalau Narantaka tahu nama aslinya.


"Paman tahu dari mana nama itu"tanya Dewi Racun.


Arini yang mendampingi Narantaka merasa heran dengan sikap Narantaka itu, sepertinya ada sebuah rahasia yang di simpanannya.


"Kedatangan ku ke sini tidak lain adalah untuk memberikan ini pada mu Kemala sesuai dengan amanat dari sesepuh Paksi Darma"ucap Narantaka .


Ia sambil memberikan sebuah kotak kecil dan sebuah pakaian yang masih terlipat rapi pada Dewi Racun.


Dewi Racun menerima kotak dan pakaian itu dari tangan Narantaka ia tidak mengerti dengan maksud Narantaka itu.


"Apa artinya semua ini paman"tanya Dewi Racun.


"Cepat kau buka kotak itu , nanti kau akan mengerti dengan sendirinya"saran Narantaka.


Karena merasa penasaran dengan isi kotak itu Dewi Racun pun bergegas membukanya,ia terperanjat setelah melihat isi dalam kotak kecil itu yang ternyata adalah sebuah potongan bandul kalung yang berbentuk separuh bintang.


Dewi Racun memandang ke arah Narantaka, kemudian ia menggabungkan potongan bandul itu pada bandul kalung miliknya dan ternyata kedua potongan bandul itu menyatu dengan sempurna.


"Dengar Kemala ,Paksi Darma sebenarnya adalah ayah kandung mu"ucap Narantaka.


Arini terkejut bukan main mendengar itu, lebih lebih Dewi Racun sendiri juga merasa sangat terkejut tahu hal itu.


"Ini bukan mimpi kan paman"tanya Dewi Racun dengan rasa tidak percaya pada kenyataan itu.


Narantaka menganggukkan kepalanya lalu berjalan menghadap ke arah jendela ,ia dapat merasakan bagaimana perasaan Dewi Racun saat ini.


"Sudah lama sesepuh mencari mu dan ibu mu kemana mana tapi tak kunjung juga menemukannya, akhirnya tanpa di sangka sangka kau datang sendiri kemari "ucap Narantaka.


"Tapi mengapa waktu saya datang pertama kali bersama paman Sinjung Wanara dan bibi Ratu Racun,ay..ah tidak memanggilku "tanya Dewi Racun dengan suara berat.


Narantaka menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Dewi Racun.


"Ia tidak melihat kalung mu waktu kamu pertama kali datang ke sini, karena waktu itu kamu dan dia saling berjauhan, barulah kedatangan mu yang sekarang sesepuh dapat melihat jelas kalung mu itu sehingga ia merasa yakin kalau kamu adalah putrinya yang selama ini ia cari."ucap Narantaka.


"Lalu kenapa kemarin ayah tidak memberi tahu aku secara langsung kalau aku ini adalah anaknya"tanya Dewi Racun dengan suara serak.


"Sebenarnya tadinya sesepuh mau bermaksud seperti itu, tapi karena ia takut kau akan marah dan membencinya akhirnya ia memerintahkan aku untuk menjelaskan semua ini pada mu, Jika kau ingin tahu kenapa sesepuh berpisah dari mu kau bisa datang ke Lembah manah untuk mencari jawabannya"ucap Narantaka.


""Lembah manah"ucap Dewi Racun.


Tanpa terasa kedua mata Dewi Racun berkaca kaca, sebuah air bening keluar dari kedua kelopak matanya, Arini yang dari tadi hanya menyimak juga ikut larut dalam suasana haru itu, hal itu terlihat beberapa kali Arini mengusap kedua matanya yang terasa basah.


Suasana hening menyelimuti ruangan itu, mereka bertiga sepertinya kehabisan kata-kata dan larut dalam pikirannya masing-masing.


Kemudian Arini melangkah ke arah Dewi Racun yang saat itu sedang tertunduk sedih.


"Kemala ku harap kau tidak membenci sesepuh, karena aku tahu dia sangat sayang pada mu"ucap Arini memecah kesunyian.


"Benar yang dikatakan oleh Arini Kemala ku mohon kau jangan membenci sesepuh "sahut Narantaka.

__ADS_1


"Bagaimana aku bisa membenci ayah ku sendiri Arini"ucap Dewi Racun dengan suara parau.


Narantaka dan Arini merasa lega bahwa Dewi Racun alias Kemala Sari tidak menaruh perasaan benci pada sesepuh Paksi Darma.Setelah menceritakan dan memberikan titipan dari Paksi Darma kemudian Arini dan Narantaka pun meninggalkan Kemala Sari sendirian di kamarnya.


__ADS_2