Jurus Pembelah Langit

Jurus Pembelah Langit
Keputusan Arini dan Sinta


__ADS_3

Sinar matahari pagi mulai memancar keluar dari ufuk timur, menandakan malam sudah berakhir dan berganti dengan pagi.


Suasana di Sekte langit pagi itu masih terasa sepi lengang belum ada satu pun para murid yang keluar untuk melakukan aktivitas.


Di sekitar tempat itu hanya terdengar suara burung burung bersahutan yang sedang asik bernyanyi , mereka tampak riang gembira dengan suasana pagi yang tenang dan sangat cerah itu.


Baru setelah matahari mulai naik tinggi terdengar berderit pintu terbuka para murid murid pun mulai keluar dari kamarnya menuju ke halaman depan guna merenggangkan otot ototnya.


Dari beberapa murid yang sudah keluar dari kamarnya terlihat seorang gadis berpakaian Putih dengan rambut terurai ,gadis itu menatap ke arah timur sambil merentangkan kedua tangannya dan menggerak gerakan tubuhnya yang terasa kaku ,gadis itu tidak lain adalah putri Candra Kirana.


Putri Candra Kirana sudah hampir dua bulan berada di sekte langit semenjak terjadi peperangan merebut kembali kerajaan Sangguling dari tangan tetua Agung .


Dalam diri gadis itu sekarang banyak perubahan, pakaian yang dulu harus serba mewah, kulitnya yang halus kini penampilan itu tidak ia perlihatkan lagi ,walau pun statusnya dirinya adalah seorang putri.


Dia sekarang merasa lebih nyaman dan lebih bebas dengan dunianya saat ini yang penuh dengan kesederhanaan itu.


Hari itu adalah hari kebebasan bagi putri Candra Kirana setelah sekian lamanya ia menempa dirinya dalam ruang latihan.


Tujuan putri Candra Kirana berlatih keras selama ini tidak lain adalah supaya kemampuan dirinya bisa sejajar dengan ratih, Arini sinta dan yang lainnya.


"Sudah dua bulan lebih aku tinggal di sini, bagaimana kabar Ayah dan kakak Bratadewa saat ini"gumam Putri Candra sambil berdiri menatap matahari yang mulai naik sepenggalah.


"Kalau di pikir pikir tempat ini jauh lebih menyenangkan dibandingkan dengan suasana istana yang teramat membosankan dan penuh aturan itu"ucap putri Candra Kirana.


Cicit...cuuuiit....cicit...cuuiit terdengar suara burung berkejar kejaran di atas dahan pohon .


Mendengar suara burung itu Putri Candra Kirana merasa tertarik kemudian mengalihkan pandangannya pada dua burung yang sedang berkejar-kejaran di pohon itu,


Pandangan matanya terus mengikuti setiap kali burung itu pindah dari satu dahan ke dahan yang lain.


Ia merasa sangat senang dengan dua burung itu karena menurutnya kehidupan burung itu sangat bebas tidak mempunyai beban pikiran apa pun.


Namun tiba-tiba plaaak... sebuah batu kerikil meluncur ke arah pohon di mana burung itu berada sehingga dua burung itu langsung terbang meninggalkan pohon itu dengan ketakutan.


"Ah sialan tidak kena"ucap orang yang melemparkan burung itu.


"Kamu sih kurang tepat membidiknya"sahut temannya.


"Bukannya kurang tepat tapi burungnya yang terlalu kecil"ucap orang yang membidik burung itu.


Putri Candra segera membalikkan badannya dan mendapati dua murid laki laki yang sedang berdebat di belakangnya.


"Kurang ajar kalian berani menganggu kesenangan ku"ucap putri Candra Kirana sambil menyipitkan kedua matanya.


"Mengganggu kesenangan mu, apa maksud mu nona"tanya orang itu.


"Hai....apa kalian tidak tahu aku sedang memperhatikan burung tadi,gara gara kalian burung itu kabur "ucap putri Candra Kirana dengan nada tinggi.


"Cuma seekor burung kenapa kamu jadi marah begitu"ucap orang itu tanpa merasa bersalah.


"Tidak bisa di maafkan"ucap putri Candra Kirana.


Tanpa basa-basi lagi ia langsung menerjang kedua orang itu hiiiiaaaat dess.....dess.... mereka berdua langsung terlempar gedebuuuk.....!!!


Putri Candra Kirana langsung bergegas menghampiri dua orang itu dengan muka penuh kemarahan.


"Ampun nona... ampun.... maafkan kami"ucap dua orang itu dengan ketakutan.


"Kalian beruntung tidak sampai membunuh burung itu, kalau kalian tadi sampai membuat burung itu terbunuh saya tidak segan segan untuk mencabut nyawa kalian"ucap putri Candra Kirana , kemudian meninggalkan mereka berdua.


"Sialan pagi ku yang indah rusak gara gara dua orang brengsek itu"umpat putri Candra Kirana mencurahkan rasa kekesalannya.


Putri Candra Kirana meneruskan langkahnya menuju ke dalam sekte,ia bermaksud untuk menemui Jaka karena sudah lama sekali dirinya tidak pernah berjumpa dengannya.


Perasaan ingin sekali bertemu dengan Jaka membuat langkahnya semakin cepat tanpa ia sadari, tidak berapa lama akhirnya putri Candra Kirana pun sampai di depan pintu ruangan pribadinya Jaka.


Ketika ia akan mengetuk pintu sayup-sayup ia mendengar langkah kaki seseorang yang juga menuju ke arah dirinya..


Putri Candra membalikkan badannya, rupanya Arini dan Sinta yang sedang menuju ke arahnya itu.


Kedua gadis itu tersenyum begitu melihat keberadaan putri Candra Kirana di tempat itu .

__ADS_1


"Apakah mereka juga ingin bertemu dengan tetua "gumam putri Candra Kirana.


"Putri Candra Kirana juga mau bertemu dengan tetua"tanya Arini.


"Benar Arini , karena sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan beliau jadi harus ini aku menyempatkan untuk datang ke sini "ucap Putri Candra Kirana.


"Kalau begitu kita bisa bersama sama menghadap tetua putri"ucap Sinta.


"Baiklah "ucap putri Candra Kirana.


Putri Candra Kirana lalu mengetuk pintu ruangan Jaka itu dan tanpa menunggu lama pintu pun kemudian terbuka dan muncullah Jaka dari balik daun pintu itu.


"Hormat kami tetua"sapa ketiga gadis itu.


"Masuklah "ucap Jaka.


Setelah Jaka memerintahkan masuk maka ketiga gadis itu pun segera melangkah masuk ke dalam, kemudian duduk di sebuah kursi yang sudah disiapkan khusus untuk tamu.


"Ada keperluan apa kalian bertiga menemui ku sepagi ini"ucap Jaka sambil merapihkan gulungan gulungan di mejanya.


Ketiga gadis itu tampak gugup mendengar pertanyaan dari Jaka itu, lebih lebih Putri Candra Kirana ia bingung harus berkata apa, karena maksud dirinya datang ke tempat itu tidak lain hanyalah untuk melihat Jaka saja dan tidak ada maksud lain.


"Kenapa diam,aku lihat sepertinya kalian berdua kurang tidur "ucap Jaka kepada Arini dan Sinta.


Arini dan Sinta pun langsung salah tingkah dengan perkataan Jaka itu, mereka tidak mengira kalau Jaka memperhatikan mereka.


"Benar tetua , karena semalaman saya memikirkan tentang perkataan tetua yang kemarin itu dan sekarang saya memutuskan untuk.... untuk....


"Untuk apa Sinta kenapa ragu ragu seperti itu"tanya Jaka.


"Saya memutuskan untuk mengabdikan diri ku pada tetua dan sekte ini, karena berkat tetua penyakit saya sembuh hingga bisa berada di sini, saya juga rela menjadi pelayan tetua sebagai balas budi ku "ucap Sinta sambil menundukkan kepalanya.


Jaka terperanjat mendengar kata-kata dari mulut Sinta yang blak blakan seperti itu, Arini dan putri Candra Kirana pun juga tidak kalah terkejutnya mendengar itu.


Arini tidak mengira kalau Sinta akan seberani itu mencurahkan perasaannya.


Jaka menggelengkan kepalanya,atas keputusan Sinta itu,ia tidak tahu kejadian akan begini.


"Tidak bisa seperti itu tetua, jasa ku pada sekte ini masih belum cukup di banding kan dengan kebaikan tetua selama ini,aku sudah bulatkan tekad ku untuk mengabdi pada tetua dan pada sekte langit ini seluruh jiwa dan raga ku"ucap Sinta dengan penuh ketulusan dan kemantapan hati.


Jaka merasa tersentuh mendengar ucapan Sinta yang penuh dengan ketulusan itu hingga tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Baiklah jika itu sudah menjadi keputusan mu Sinta kau boleh tinggal selamanya di sekte ini tapi bagaimana dengan sekte angin berhembus dan paman Sanjaya Sinta"tanya Jaka.


"Mengenai hal itu saya sudah memikirkannya tetua, biarlah lestari nanti yang akan menggantikan ayah "ucap Sinta, rela melepaskan kedudukannya sebagai tetua untuk menggantikan ayahnya .


"Lalu bagaimana dengan keputusan mu Arini "tanya Jaka.


"Saya juga tidak akan kemana mana tetua,saya ingin di sini menemani Sinta lebih lama lagi karena saya merasa nyaman tinggal di sini"ucap Arini.


Sinta sangat terkejut dengan keputusan Arini itu dia tidak mengira kalau Arini akan membuat keputusan yang sama seperti dirinya,ia berfikir kalau Arini juga suka sama Jaka.


"Sepertinya aku sudah tidak punya tempat lagi di hati tetua apa lagi aku orang baru yang belum pernah berjasa pada sekte ini"ucap putri Candra Kirana merasa rendah diri.


"Jika itu keputusan mu baiklah ,kau bisa menemani Sinta di sini"ucap Jaka.


"Terima kasih tetua"ucap Arini.


"Dan putri Candra Kirana, ada keperluan apa datang kesini"tanya Jaka kemudian.


"Tidak ada apa apa tetua cuma sekedar ingin bertemu dengan tetua saja "ucap putri Candra Kirana.


"Oh ya , bagaimana dengan latihan putri selama ini apakah sudah banyak kemajuan"tanya Jaka.


"Benar tetua berkat petunjuk dari sesepuh Paksi Darma sekarang sudah ada banyak kemajuan "ucap putri Candra Kirana.


"Baguslah Kalau begitu,ini untuk kalian bertiga ambilah "ucap Jaka sambil menyerahkan tiga gulungan kepada mereka.


"Apa ini tetua"tanya Arini.


"Sebuah jurus baru untuk kalian yang aku dapatkan dari benua Utara dan perlu kalian ketahui sebentar lagi saya akan pergi ke benua Utara menyusul Melati dan yang lainnya, jika kalian mengalami kesulitan dalam mempelajari jurus itu tanya kan saja pada sesepuh nanti dia yang akan menjelaskannya pada kalian "ucap Jaka memberi tahu.

__ADS_1


"Terima kasih tetua "ucap mereka bertiga serempak.


Setelah menerima gulungan itu dari Jaka lalu mereka bertiga pun pergi meninggalkan ruangan itu ,karena Jaka akan bersiap siap untuk berangkat ke benua Utara.


Setelah paksi Darma menjalankan tugas dari Jaka untuk mengabarkan bahwa peta harta Karun itu sekarang berada di benua Utara, seketika itu kegemparan pun terjadi di sana.


Orang orang yang semula bernyali ciut langsung bersemangat kembali setelah tahu peta itu tidak berada di sekte langit lagi.


Keberadaan peta harta Karun menjadi berita yang paling di incar oleh semua orang saat itu baik golongan hitam maupun golongan putih sangat berambisi untuk mendapatkannya.


Bagi golongan putih jika mereka berhasil mendapatkan harta yang ada dalam peta itu, mereka berniat akan memperbesar sekte mereka dan membagi bagikan harta itu kepada setiap orang yang membutuhkan ,


itu tujuan utama mereka entah itu benar atau tidak hanya mereka yang tahu, sedangkan bagi golongan hitam sudah tentu akan mereka gunakan untuk bersenang-senang atau pun untuk keperluan yang mereka mau.


Tapi kebenaran tentang harta dalam peta itu belum ada yang tahu pasti, sepertinya mereka semua hanya berangan angan dengan khayalannya masing masing.


Di sekte Api angin Kalapati terlihat mondar mandir di ruangannya dengan tidak karuan , begitu mendengar berita tentang kemunculan peta yang di buruknya itu.


Dalam perburuan kali ini ia tidak mau menemui kegagalan lagi seperti waktu di sekte langit.


Bagi Kalapati kekalahan di sekte langit waktu itu sangat menghancurkan harga dirinya dan kehormatannya, bagaimana bisa seorang toko ternama di benua Utara hampir di kalahkan oleh seorang gadis yang masih begitu muda .


Rasa geram dan marah campur aduk di dalam dadanya, jika nanti berjumpa kembali dengan orang orang sekte langit ia bersumpah akan ******* habis orang orang itu untuk menebus rasa kecewa dan rasa malunya.


Kalapati kemudian menyandarkan tubuhnya pada sebuah kursi di ruangan itu dengan perasaan tidak menentu.


"Kurang ajar kenapa lama sekali kedua orang itu sudah dari kemarin kenapa tidak kembali juga apa yang sebenarnya mereka kerjakan"ucap Kalapati dengan penuh kemarahan.


"Awas saja kalau mereka kembali tidak memberikan kabar yang membuat aku senang akan aku hukum mereka berdua"sambung Kalapati.


Sesaat kemudian terdengar derap suara langkah dua ekor kuda memasuki halaman sekte Angin Api.


"Itu pasti mereka ,awas kalian jika sampai membuat aku marah "ucap Kalapati seraya melangkah ke halaman depan.


Kedua orang yang berkuda tadi langsung memberikan hormat begitu melihat kemunculan Kalapati di halaman.


"Hormat kami tetua"ucap kedua orang yang datang itu.


"Sapta Darma dan Nawang Sari kalian kalian berdua dari mana saja kenapa sekarang baru kembali"tanya Kalapati penuh selidik.


"Maafkan atas keterlambatan kami berdua tetua"ucap Sapta Darma.


"Cepat katakan berita apa yang kalian dapat, dalam waktu tiga hari ini"Desak Kalapati dengan rasa sudah tidak sabar lagi.


"Mengenai peta itu kami berdua belum tahu keberadaannya tetua ."ucap Sapta Darma.


"Kurang ajar apa kerja kalian selama ini hah"ucap Kalapati dengan muka memerah.


"Tetua jangan marah dulu karena kami membawa berita yang penting untuk tetua ketahui "ucap Nawang Sari.


"Cepat katakan berita apa itu "tanya Kalapati dengan rasa penasaran.


"Sewaktu kami kembali ke sini kami secara kebetulan melewati sekte bintang Utara dan kami melihat di sana ada begitu banyak orang yang sedang memperbaiki bangunan di sekte itu tetua"ucap Nawang Sari.


"Siapa mereka , bukan kah seluruh murid sekte bintang Utara itu sudah tewas semua "tanya Kalapati.


"Kami tidak tahu tetua tapi aku yakin mereka masih punya hubungan dengan Terpasura"ucap Nawang Sari.


"Kamu tahu dari mana kalau orang orang itu punya hubungan dengan Terpasura Nawang Sari"tanya Kalapati.


"Maaf tetua kalau mereka tidak punya hubungan dengan Terpasura sura tidak mungkin mereka akan memperbaiki bangunan yang ada di sekte itu"ucap Nawang Sari.


"Benar juga kata mu, apakah kalian berdua benar tidak tahu siapa mereka, bukan kah kalian sudah tinggal begitu lama di sekte bintang Utara ,jadi kalian pasti tahu siapa saja orang yang punya hubungan dengan Terpasura itu"ucap Kalapati.


"Kami sungguh tidak tahu siapa mereka tetua"ucap Nawang Sari.


"apa mungkin mereka itu teman temannya Dewi Pandan Arum dan jaka"ucap Sapta Darma sambil berfikir.


"Aku ingin kalian ke sana dan selidiki mereka,jika Dewi Pandan Arum dan Jaka ada di antara mereka sudah pasti peta itu juga ada di sana "perintah Kalapati.


"Baik tetua "ucap mereka berdua.

__ADS_1


Nawang Sari dan Sapta Darma pun segera berlalu dari hadapan Kalapati.


__ADS_2