
"Rupanya guru sedang berada di sini aku dari tadi mencari mu guru"ucap Senopati Dewangga.
"Memangnya ada Dewangga,aku sedang bersama dengan teman baru ku ini"ucap Ki Lawu sambil menunjuk ke arah Jaka.
Dewangga sedikit heran dengan gurunya itu, karena tidak biasanya ia mau berteman dengan orang yang belum jelas kemampuannya apa lagi dengan pemuda di hadapannya yang terlihat sangat sederhana sekali.
"Orang tua aku dengar dia tadi memanggil mu guru, apakah dia benar murid mu"tanya Jaka.
"Benar anak muda dia murid ku Dewangga namanya seorang Senopati di kerajaan Sangguling ini"ucap Ki Lawu.
"Kelihatannya guru sudah akrab dengan pemuda ini, apakah guru sudah kenal sebelumnya,tapi dia tadi bilang teman baru kenapa hubungan mereka seperti sudah kenal sejak lama " batin Dewangga dengan heran dengan sikap gurunya yang tidak biasa itu.
"Oh...kalau begitu silahkan Senopati duduk dan makan bersama kami "ucap Jaka, mempersilahkan Senopati Dewangga.
"Duduklah Dewangga ,ada apa kau mencari ku"tanya Ki Lawu.
"Tidak apa-apa guru ,aku tadi cuma merasa khawatir kalau guru tersesat di Jatiwaringin ini"ucap Senopati Dewangga.
"Kau terlalu berlebihan Dewangga mana mungkin aku bisa tersesat di tempat ini,kau jangan buat aku malu di hadapan teman ku ini"ucap Ki Lawu kemudian menggelengkan kepalanya.
"Maaf guru bukan aku bermaksud seperti itu "ucap Dewangga.
"Pak tua sepertinya murid mu ini sangat perhatian pada mu,jadi wajarlah kalau dia mencari mu"ucap Jaka, sambil memandang ke arah Dewangga.
" siapa pemuda ini, kenapa dia berani memanggil guru dengan sebutan pak tua saja dan anehnya lagi guru tidak marah dengan pemuda ini"ucap Dewangga dalam hati masih di diliputi tanda tanya.
"Dewangga,kau harus bersikap sopan pada teman ku ini kamu jangan menatapnya begitu "tegur Ki Lawu, saat melihat dewangga menatap tajam ke arah Jaka.
"Baik guru"ucap Dewangga.
"Tuan Senopati jangan hiraukan apa kata guru mu itu, seharusnya aku yang harus bersikap sopan pada tuan Senopati Dewangga"ucap Jaka.
"Tidak tuan,jika guru memerintahkan kan begitu pasti tuan ini bukanlah orang sembarangan"ucap Dewangga.
Mendengar ucapan dewangga muridnya itu Ki Lawu mengangguk sambil tersenyum kemudian menoleh menatap pada muridnya itu.
"Kau benar Dewangga , ternyata kau cepat tanggap dengan maksud ku "ucap Ki Lawu.
"Sebaiknya kita lanjutkan makannya "ucap Jaka.
"Baiklah ayo Dewangga kau juga ikut makan bersama kami "ucap Ki Lawu.
"baiklah aku akan menemani guru dan teman guru untuk makan "ucap Dewangga.
kemudian akhirnya mereka bertiga pun makan bersama tidak lama mereka bertiga pun selesai menghabiskan makanan di meja itu.
Setelah selesai makan itu lalu Ki Lawu dan Dewangga pun segera pamit dari hadapan Jaka karena hari sudah mulai senja.
Malam itu di dalam istana Sangguling Dewangga langsung bertanya mengenai pemuda itu kepada gurunya, karena sudah sejak dari tadi siang ia menahan rasa ingin tahu itu.
"Guru siapakah pemuda tadi siang itu, kenapa ia bersikap lancang dan tidak sopan memanggil guru"tanya Senopati Dewangga.
"Dia mau bersikap sopan atau tidak pada ku itu bukan urusan mu Dewangga"ucap Ki Lawu.
"Memangnya kenapa sampai guru berkata seperti itu"tanya dewangga.
"Sebelum kau datang ,tadi aku sempat beradu kekuatan dengannya dan dia dapat mengalahkan aku dengan mudah "ucap Ki Lawu.
"Apa....!!!!, guru di kalahkan pemuda itu"ucap Dewangga dalam terkejut.
"Ya...aku dapat di kalahkan dengan mudah,jadi apakah kau masih mempermasalahkan sikap dia kepada ku setelah mengetahui hal itu, ingat Dewangga di dunia persilatan ini yang menjadi ukuran bukan umur tapi kekuatan, semakin kuat orang itu maka akan semakin banyak orang yang tunduk kepadanya "ucap Dewangga.
"Aku sungguh tidak mengira kalau pemuda itu memiliki kesaktian yang begitu tinggi guru"ucap Dewangga dengan rasa tidak percaya.
"Maka dari itu tadi siang aku mengatakan pada mu untuk bersikap sopan dan tidak menyinggungnya karena dia bukan orang sembarangan ,kau akan kesusahan jika sampai berurusan dengannya"ucap Ki Lawu.
"Apakah guru tahu siapakah dan dari manakah pemuda itu berasal "tanya Dewangga.
"Mengenai siapa pemuda itu,kita akan mengetahuinya malam ini"ucap Ki Lawu.
"Maksud guru "tanya dewangga tidak mengerti.
"Kau tidak usah banyak tanya ikut saja nanti dengan ku"ucap Ki Lawu.
"Baik guru "ucap Dewangga.
Kegelapan malam menyelimuti kota Jatiwaringin yang merupakan ibu kota kerajaan Sangguling di sela sela kegelapan itu terlihat dua orang wanita tampak memasuki penginapan dan kedua wanita itu langsung menuju ke sebuah kasir.
Antara kasir penginapan dan dua wanita itu lalu kemudian terlibat perbincangan sepertinya ada sesuatu yang ingin di tanyakan wanita itu.
Setelah lama berbincang-bincang kemudian kasir itu mengantarkan kedua wanita tadi menuju ke lantai atas.
"Inilah kamar orang yang nona maksud"ucap kasir penginapan itu.
"Baiklah silahkan kamu tinggalkan kami berdua "ucap salah satu wanita itu.
"Baik nona "ucap kasir itu lalu pergi.
tok...tok...tok...salah satu dari kedua wanita itu kemudian mengetuk pintu kamar yang tadi kasir penginapan tunjukkan.
Tak berapa lama kemudian terdengar suara dari kamar itu.
"Masuk kalian berdua"ucap orang dalam kamar itu yang tidak lain adalah Jaka.
Kemudian kedua wanita itu pun segera masuk ke dalam kamar mereka berdua adalah Melati dan Ratih.
"Hormat saya tetua"ucap Melati dan Ratih.
"Hmm... duduklah Kalian berdua"ucap Jaka.
__ADS_1
"Pasukan yang tetua minta sudah saya siapkan , mereka sudah menunggu perintah tetua di desa Sekaten "ucap Melati.
"Baiklah sebelum ada perintah dari ku sebaiknya jangan melakukan tindakan apa pun, karena aku sudah menemukan cara jitu untuk membebaskan para penduduk desa Sekaten tanpa ada peperangan mengenai pasukan yang kau bawa akan ku jadikan sebagai cadangan jika cara ku ini gagal "ucap Jaka.
"Baik tetua "ucap Melati.
Jaka kemudian memandang Ratih di samping melati yang dari tadi hanya diam tanpa memandang dirinya,ia tidak tahu kenapa dengan sikap Ratih itu.
"Ratih apakah kamu sedang sakit"tanya Jaka.
"Bukan sakit tapi aku sedang kecewa"ucap Ratih dengan ketus.
"Kecewa, siapa yang telah berani membuat mu kecewa katakan pada ku"ucap Jaka.
"Siapa lagi kalau bukan kamu bodoh "ucap Ratih dengan memalingkan mukanya.
"Kok aku, memangnya apa yang telah aku lakukan pada mu Ratih"tanya Jaka dengan heran.
"Kenapa waktu kamu pergi tidak bilang dulu pada ku"ucap Ratih dengan muka cemberut.
"Oh masalah itu,maaf Ratih soalnya urusannya begitu mendadak jadi aku tidak sempat untuk berpamitan dengan mu"ucap Jaka sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Ratih masih cemberut walau pun Jaka sudah minta maaf padanya, karena Ratih tetap menganggap Jaka adalah temannya sewaktu kecil bukan tetua sekte, sehingga ia sangat kecewa setelah Jaka pergi tanpa sepengetahuannya.
"Aku kan sudah minta maaf Ratih, kalau kau masih marah baiklah aku akan bersimpuh di hadapan mu"ucap Jaka.
"Tidak perlu bersimpuh, baiklah kali ini aku maafkan,tapi bila lain kali kau mengulanginya aku akan menjewer telinga mu sampai merah"ucap Ratih dengan penuh ancaman.
"Baiklah... baiklah...lain kali aku tidak akan berani lagi"ucap Jaka,merasa ngeri dia memang tidak bisa menang jika berurusan dengan Ratih.
Melati hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah mereka berdua orang itu.
Walau pun Jaka sering terlihat konyol di hadapan Ratih tapi melati tidak pernah mengubah pandangannya terhadap jaka ,bagi dia rasa hormat dan patuh kepada tetua sekte itu adalah harga mati yang harus di taati.
"Hai.. bodoh apa kah wanita di sini cantik cantik sehingga kau kelihatannya betah di sini "ucap Ratih.
"Heee......heee....biasah saja menurut ku"ucap Jaka.
"Maaf tetua apakah ada tugas untuk ku"tanya Melati kemudian.
"Begini melati aku ingin kau dan Ratih mengawasi istana Sangguling sepertinya aku merasakan ada pergerakan yang tidak beres di istana itu"ucap Jaka.
"Baiklah tetua "ucap Melati.
"Tapi kalian beristirahat dulu,aku tahu kalian lelah,biar aku pesan kan kamar untuk kalian berdua"ucap Jaka.
" tetua tidak usah merepotkan diri biar aku dan Ratih saja yang melakukan itu"ucap melati.
"Tidak apa-apa melati karena aku mau sekalian keluar, soalnya aku sedang di tunggu oleh seseorang"ucap Jaka.
"Jaka aku ikut dengan mu"pinta Ratih.
Jaka lalu menemui kasir penginapan dan memesankan kamar untuk melati dan Ratih, kasir penginapan itu pun melayani Jaka dengan sangat sopan dan ramah tidak seperti pertama kali waktu dia memesan kamar.
Setelah memesan kamar itu Jaka lalu keluar dari penginapan menuju ke belakang istana Sangguling dengan melesat cepat.
Di suasana malam yang remang remang cahaya bulan itu dua buah bayangan berkelebat cepat wes...wes...wes....Jaka yang melihat pergerakan dua orang itu segera mengejarnya.
"Tunggu....!!! teriak Jaka.
Kedua orang bertopeng hitam itu kemudian berhenti lalu membalikkan badannya menatap ke arah Jaka.
Tanpa basa-basi kedua orang itu langsung menyerang Jaka dengan berkelebat ke arahnya sambil melepaskan pukulan jarak jauh.
Hiiiiaaaat...... wuuuuus......dua buah pukulan di lepaskan kedua orang tadi ke arah Jaka.
Jaka segera menangkis serangan mereka wuuuuus.... duuuaaarrr... duuuaaarrr.... salah satu dari dua orang itu tercekat karena serangan dapat dengan mudah di patah.
Merasa serangan jarak jauhnya tidak berguna lalu dua orang tersebut segera mendekati Jaka untuk melakukan pertarungan jarak dekat.
Tidak mau menunggu mereka mendekat Jaka langsung melesat menyambut mereka berdua dan pertarungan jarak dekat pun langsung terjadi.
Sambaran tangan kedua orang itu langsung mencecar Jaka,wes...wes...jaka menghindari sekaligus menyerang kedua lawannya itu tap...tap... terdengar kedua tangan Jaka menangkis serangan mereka.
"Benar benar bukan orang sembarangan pemuda ini"ucap salah satu dari dua orang itu dengan kagum.
Kedua orang itu langsung menggunakan jurus andalannya untuk menekan Jaka, karena mereka ingin cepat cepat mengakhiri pertarungan itu.
Jaka tersenyum melihat kedua orang itu memperagakan jurus yang sama.
Serangan genjar dan mematikan segera mereka berdua tunjukkan kepada Jaka , tidak mau meremehkan lawannya Jaka kemudian menggunakan jurus pencakar langit untuk mengimbangi ke dua lawannya itu.
Udara panas pun tersaji dalam pertarungan itu,kedua orang itu menyerang Jaka dari samping kiri dan kanannya hingga memaksa Jaka menggunakan kedua tangan dan kakinya untuk menangkis serangan serangan mereka.
Kedua tangan orang bertopeng hitam itu bergetar ketika bersentuhan dengan tangan Jaka, membuat mereka berdua berdua tercekat dan sebisa mungkin menghindari bersentuhan dengannya.
Untuk menghindari bersentuhan dengan tangan jaka kedua lawannya itu kemudian mengeluarkan senjata andalannya masing masing.
Setelah menggenggam senjatanya masing-masing kedua orang itu pun kemudian menyerang Jaka kembali.
Tebasan pedang mengandung kekuatan besar langsung berkelebat menyerang Jaka dengan deras.
Jaka menggoyahkan tubuhnya menghindari sabetan sabetan pedang kedua lawannya itu, walau pun pedang itu tidak mengenai dirinya tapi angin tebasan pedang tadi sungai luar biasa karena menimbulkan rasa panas pada kulit, tapi hal itu tidak berpengaruh pada jaka karena jurus pencakar langit dapat menetralkan hawa panas itu.
Makin lama serangan pedang mereka semakin mengurung pergerakan Jaka, tapi hal itu tidak membuat ia gentar.
Untuk menghindari tekanan mereka berdua Jaka segera menerapkan jurus sepuluh langkah malaikat yang di gabungkan dengan jurus pencakar langit, jaka sengaja tidak menggunakan jurus Pembelah Langit karena merasa sudah cukup dengan jurus itu untuk menghadapi mereka berdua.
Setelah menggunakan jurus sepuluh langkah malaikat pergerakan Jaka menjadi sangat cepat sehingga membingungkan kedua lawannya itu.
__ADS_1
Dengan kecepatannya itu akhirnya jaka dapat memukul mereka berdua dengan kakinya des...des..tap.... kedua orang bertopeng pun berjatuhan braaak..... braaak salah satu dari dua orang itu menabrak pohon.
"Kecepatan sungguh mengerikan"ucap salah satu orang itu.
Lalu kedua orang itu segera bangun dan menyerang Jaka kembali.
Hiiiiaaaat.... kedua orang itu meningkatkan serangannya , Jaka pun tidak mau kalah dia juga meningkatkan serangannya.
setelah kedua belah pihak sama-sama meningkatkan serangan dan tenaga dalamnya, tempat mereka bertarung pun seketika menjadi sangat panas akibat pancaran tenaga dalamnya yang ketiga orang itu keluarkan.
"Baru kali ini aku menghadapi lawan yang begitu kuat"gumam salah satu orang itu dalam hatinya.
"Rasakan ini "ucap salah satu orang itu melesat cepat sambil mengayunkan pedangnya melihat jaka sedang sibuk melayani temannya.
"Hiiiiaaaat... orang itu langsung menebaskan pedangnya tepat di atas kepala jaka,namun slaaaap.... Jaka bergerak cepat menghindarinya .
"Apa...."ucap orang itu dengan terkejut melihat sasarannya hilang dari depan matanya begitu saja.
Lalu dess...... sebuah tendangan tiba-tiba menghantam orang itu tanpa ia sadari kedatangannya.
Tak ayal orang itu pun kembali terpental beberapa tombak ke depan,tapi kali ini lebih jauh dari yang tadi.
Melihat lawan terjatuh Jaka segera mengambil kesempatan untuk menghabisinya dengan jurus pencakar langit.
"Kita akhiri pertarungan ini"teriak Jaka dengan bersiap melepaskan pukulannya.
"Tunggu anak muda"teriak orang yang satunya.
"Kau jangan lakukan itu ,kami tidak berniat untuk bermusuhan dengan mu"ucap salah satu orang yang bertopeng hitam itu,ia lalu membuka penutup wajahnya dan mumcullah wajah orang tua yang di temui jaka tadi siang itu.
"Ini aku anak muda berbelas kasihlah pada Dewangga murid ku"ucap orang itu yang tidak lain adalah Ki Lawu.
Jaka segera menurunkan tangannya kemudian tersenyum kepada ki Lawu.
"Orang tua tenang saja dari pertama kita bertarung aku sudah tahu kalau itu adalah kalian berdua "ucap Jaka .
"Maaf kan kami tuan ,aku benar benar tidak tahu kalau tuan ini adalah tetua Sekte langit "ucap Dewangga yang saat itu sudah bangun kembali.
"Aku benar benar tidak menyangka setelah pukulan tahun di kaki gunung Lawu aku bisa merasakan kembali keampuhan jurus pencakar langit lagi ini suatu kehormatan bagi saya anak muda"ucap ki Lawu.
"Jaka orang tua nama ku"ucap Jaka.
"Ya...ya...tapi aku lebih suka memanggil mu anak muda atau tetua muda dan nama ku Ki Lawu, terserah anak muda mau panggil saya apa"ucap Ki Lawu tidak mempersalahkan nya.
"Jurus pencakar langit tetua memang tidak ada bandingnya saya benar benar beruntung mendapatkan pengalaman ini"ucap Dewangga dengan tulus.
"Ku harap tetua muda tidak tersinggung dengan sikap kami berdua, aku sengaja melakukan ini supaya murid ku tahu bahwa tetua muda ini bukanlah orang sembarangan "ucap Ki Lawu.
"Benar tetua Jaka jujur saja waktu guru menceritakan pada ku bahwa dia di kalahkan tetua aku sungguh tidak percaya tapi setelah menghadapi tetua sendiri keraguan ku pada cerita guru sekarang sirna "ucap dewangga.
"Sudahlah kalian berdua tidak perlu menyanjung ku seperti itu, aku yakin setinggi tingginya gunung masih ada yang lebih tinggi lagi "ucap Jaka.
Senopati Dewangga merasa kagum dengan sikap Jaka yang begitu rendah hati,ia menjadi malu pada dirinya yang berkemampuan tidak seberapa harus di kawal prajurit jika kemana mana,beda dengan jaka yang statusnya adalah tetua sekte langit yang terkenal tapi tidak ada pengawalan sedikitpun pada dirinya.
"Dewangga setelah mengetahui tetua muda ini adalah tetua sekte Langit kamu tahu apa yang harus kamu lakukan sekarang"ucap Ki Lawu.
"Baiklah guru"ucap Dewangga kemudian berlutut di hadapan Jaka.
"Apa yang kamu lakukan Senopati Dewangga"ucap Jaka.
"tetua Jaka saya mohon pada tetua untuk mengobati pangeran Bratadewa"ucap Senopati Dewangga.
"Bangunlah Senopati Dewangga, tidak pantas kau bersikap seperti itu, mengenai pangeran Bratadewa aku bersedia mengobatinya tapi dengan satu syarat"ucap Jaka.
"Apa pun syaratnya akan aku penuhi tetua"ucap Senopati Dewangga dengan penuh kelegaan.
"Syaratnya akan aku katakan besok di hadapan Gusti prabu Dewantara"ucap Jaka.
"Baiklah tetua"ucap Dewangga.
"Aku turut mengucapkan terima kasih atas kebaikan tetua muda"ucap ki Lawu merasa lega.
"orang tua aku punya satu permintaan pada mu apakah kau sanggup melakukannya "ucap Jaka kemudian.
"tetua muda langsung katakan saja pada ku tidak perlu sungkan sungkan"ucap Ki Lawu.
Kemudian jaka membisikkan sesuatu ke telinga Ki Lawu, mendengar perkataan Jaka itu ki Lawu terbelalak tidak percaya.
"Baiklah akan aku lakukan demi pertemanan kita"ucap ki Lawu bersungguh sungguh.
Dewangga heran melihat raut muka gurunya yang tampak terkejut itu.
"Sepertinya aku harus secepatnya pergi ke penginapan dan mengenai pangeran Bratadewa Senopati bisa tunggu aku besok di istana Sangguling "ucap Jaka.
"Baiklah tetua "ucap Dewangga.
"orang tua aku pergi dulu "ucap Jaka.
"Silahkan tetua muda "ucap ku Lawu.
Jaka lalu melesat pergi meninggalkan mereka berdua.
"Untung saja tetua jaka tidak tersinggung dan mau berbelas kasih pada kita guru kalau tidak pasti nyawa ku sudah melayang tadi"ucap Dewangga.
"Kau benar Dewangga,kau ingat kata kata ku, jangan pernah kau membuat tetua muda itu marah pada mu"ucap ki Lawu menyarankan.
"Guru tenang saja aku akan senantiasa menjalin hubungan baik dengan nya "ucap Dewangga.
"Kalau begitu cepat kita kembali ke istana besok kau beritahu pada raja Dewantara tentang kehadiran tetua muda yang akan mengobati pangeran Bratadewa "ucap Ki Lawu.
__ADS_1
"Baik guru "ucap dewangga,lalu mereka berdua segera melesat menuju ke istana.