Kaisar Bisnis

Kaisar Bisnis
Teman Yang Baik


__ADS_3

Bastian langsung teringat dengan gadis pirang yang memiliki hubungan baik dengan wanita cantik tadi.


Senyuman bahagia muncul di wajah Bastian dan suasana hatinya langsung membaik.


"Lihat ini, dia benar benar teman yang baik."


***


Kota Feret, juga di kenal sebagai kota hutan Feret adalah kawasan hutan yang berada tepat di dalam provinsi Habe. Terletak di barat laut provinsi Habe. Ini adalah satu satunya distrik administratif di negara Kangaro yang di namai sesuai nama hutan yang berada di provinsi yang sama.


Feret, adalah destinasi wisata yang dinamai sesuai dengan nama nenek moyang penduduk asli di sini yang menurut sejarahnya, mengajari untuk mengumpulkan dan mencicipi semua jenis tanaman herbal, menyelamatkan nyawa orang dan mengajari penduduk untuk bertani.


Tentu saja ketenarannya lebih ke arah misterinya dan belum di ketahui publik. Rumor ini termasuk legenda dan masuk ke dalam daftar mitos lainnya.


Pukul sepuluh pagi, di Bandara Feret.


Jessica telah mengatur semua akomodasi dan perjalanan untuk Bastian.


Bastian keluar dari bandara dan sebuah mobil BMW yang di pesan sudah menunggu di sana.


"Apakah anda tuan Bastian Sharga?"


"Ya." jawab Bastian mengangguk.


"Nama saya Wade Barrett, dan saya bertanggung jawab atas perjalanan anda selama anda di sini. Silahkan naik ke mobil."


Wade Barrett, sopirnya, seorang pria paruh baya yang agak gemuk, membungkuk dengan hormat dan membukakan pintu untuk Bastian.


Karena masih pagi, Bastian berencana untuk langsung menuju lokasi tujuan misinya.


Untuk sampai ke lokasi 'Kabin di Hutan'. rute yang paling nyaman adalah melewati Feret Scenic Area. Mumpung sedang di sini, kenapa tidak sekalian berkunjung dan menjelajahi tempat ini. Begitu yang Bastian pikirkan.

__ADS_1


Mobil BMW itu menuju Feret Scenic Area dan Bastian duduk di kursi belakang mengeluarkan ponselnya dan menatap lama layar ponselnya.


"Apa aku harus menghubunginya?"


Bastian menggaruk kepalanya dan berkata dengan senyuman masam.


"Apa dia tidak marah padaku karena aku menatapnya seperti itu tadi?"


***


Tidak jauh dari Feret Scenic Area, Bastian turun dari mobil, mencari kedai kecil dan makan sesuatu dengan santai. Dia berjalan kaki untuk menuju lokasi target misi.


Di kejauhan dia samar samar mendengar suara.


"Apa yang sedang terjadi?"


Bastian mengerutkan kening, melihat di depannya sudah berkerumun banyak orang.


Sebuah mobil putih berhenti di tengah jalan. Di samping mobil itu, seorang lelaki tua berusia sekitar enam puluhan tampak pucat dan memegang kaki kirinya.


Sementara seorang pemuda berdiri di sana dengan marah menunjuk orang tua itu dan mulai mengumpat.


"Hei tua bangka, apa kau buta? Aku tahu dengan jelas kalau kau tidak melihat mobilku!"


Pemuda itu menunjuk bagian depan mobil putihnya yang rusak dan wajahnya suram sampai berkeringat.


"Tapi anda menabrak saya."


Orang itu sepertinya bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.


"Jaga bicaramu! Kenapa juga aku menabrakmu? Sudah jelas kau adalah orang tua yang pura pura tertabrak untuk memerasku! Sialan! Apa kau tahu berapa harga mobilku ini! Lebih dari 500 ribu dollar!"

__ADS_1


Pemuda itu dengan wajah marah kemudian melihat di sekeliling.


"Semua orang pasti juga tahu! Mobil yang baru saja aku beli dengan harga 500 ribu dollar di tabrak oleh sebuah sepeda butut!"


"Walau aku punya uang, aku pasti tidak akan memilih untuk memberimu uang tanpa ada hitam di atas putih karena aku takut masalah ini panjang. Aku juga tidak ingin orang orang marah karena tingkah lakumu ini."


Pemuda itu berbicara dengan percaya diri dan tampak sangat di benarkan.


Kerumunan orang melihat bahwa pemuda itu tampak berdiri tegak dan tidak merasa bersalah sama sekali. Mereka tidak bisa untuk tidak percaya kepada pemuda itu. Bagaimanapun tidak ada saksi mata lain membuat mereka mulai percaya dengan ucapan pemuda itu.


"Kenapa orang tua ini masih melakukan pemerasan seperti ini di usianya?"


"Dia melakukan kejahatan! Apa kalian tidak perduli?"


"Benar, dia melakukan pemerasan dengan pura pura menjadi korban orang kaya. Aku pikir dia harus di bawa ke polisi."


"Hah?"


Bastian tertawa terbahak bahak. Mobil itu berhenti di tengah jalan. Orang tua itu menabrak mobil itu dengan sepeda dengan sengaja? Konyol sekali!


Sekelompok orang mengikuti arus dan menuduh lelaki tua itu, semua orang tidak tahu cara menggunakan otak mereka dengan benar.


Pemuda itu memahami psikologi para kerumunan orang, jadi dia tidak memberi orang tua itu kesempatan untuk berbicara sama sekali. Dia sudah mendorong kerumunan orang untuk mengikuti persepsinya dan ingin membalikkan fakta masalah itu.


"Lihat semua orang setuju denganku! Kami akan melawan kelakuan mu ini sampai akhir---,,,"


"Omong kosong!"


Baru saja Bastian akan mendekat, tiba tiba terdengar suara teriakan yang membuatnya terkejut.


Suara ini terdengar familiar.

__ADS_1


__ADS_2