
"Jadi kau masih berani untuk datang terlambat? Bukankah aku menyuruhmu bekerja lembur di akhir pekan? Apa pekerjaanmu sudah selesai?"
Zidane terlihat sangat marah.
"Apa maksudmu dengan kata kata yang kau kirimkan di obrolan grup? Kau juga tidak menyelesaikan pekerjaanmu, sampai sampai pekerjaanmu harus di kerjakan oleh orang lain."
Bastian melemparkan beberapa dokumen.
Melihat tumpukan dokumen yang di lemparkan Bastian ke atas meja, Zidane tanpa sadar bertanya.
"Apa ini?"
"Surat pengunduran diri dan bagian terakhir dari beberapa pekerjaan yang kau suruh merevisi. Aku tidak suka bekerja setengah setengah, walau dokumen itu tidak akan di perlukan.
Bastian berkata pelan. Kemudian, seolah olah mengingat sesuatu, sudut mulutnya tersenyum dan berkata untuk mengingatkan.
"O iya, tentang rencana yang kau bilang milikmu itu, karena kau mengatakan itu idemu sendiri, maka selesaikan saja sendiri. Dengan cara ini, kau tidak perlu khawatir tentang seseorang yang mengambil keuntungan darimu, bukan?"
"Surat pengunduran diri?"
Zidane terdiam beberapa saat lalu tertawa terbahak bahak.
"Apakah kau bercanda? Kau ingin mengundurkan diri? Kau mengacaukan proyek ini, kau ingin bersantai dan pergi?"
Kata kata Zidane sudah penuh dengan ancaman. Dia sebenarnya sedikit panik saat ini. Rencana proyek ini sama sekali bukan miliknya. Seperti yang kita tahu, dia mencuri perencanaan milik Bastian dan mengaku perencanaan itu miliknya agar mendapat pujian. Dia sama sekali tidak tahu detail isi dari perencanaan itu.
Jika Bastian berhenti, Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Bos sangat mementingkan proyek ini. Jika dia mengacau karena dirinya sendiri, para investor pasti akan marah. Tidak masalah jika dia hanya akan di potong gaji dan kehilangan bonus, masalah terbesarnya adalah dia akan kehilangan pekerjaannya.
Oleh karena itu, dia tidak akan membiarkan Bastian meninggalkan pekerjaannya. Setidaknya menahan sampai proyek selesai.
"Aku beri tahu padamu, jika kau tiba tiba meninggalkan pekerjaanmu dengan tanpa dosa seperti sekarang, kau harus membayar kompensasi kepada perusahaan atas kerugian tersebut. Aku juga akan membuat perusahaan game lain tidak menerimamu, aku akan memasukkanmu ke dalam daftar hitam!"
Zidane menggebrak meja dan berteriak, tapi kata katanya tiba tiba terhenti.
Dia menyadari ada yang slah dengan tatapan Bastian.
Di mata gelap itu, tidak ada rasa panik, juga tidak terlihat kemarahan yang di tahan secara paksa seperti yang biasa Bastian lakukan sebelumnya.
Wajah Bastian tenang dan santai, ada sedikit tatapan menghina dan ejekkan yang tidak terlihat.
Dia seperti menonton badut yang berusaha keras untuk tampil.
Dulu, Bastian juga sering berkhayal tentang mempermalukan Zidane jika suatu saat Bastian menjadi kuat. Tapi, setelah mendapat sistem dan merasakan kehidupan orang kaya, dia tidak tertarik dengan hal seperti itu.
Bahkan dia sendiri merasa sedikit bingung karena tidak tertarik dengan hal sepele.
Bagaimanapun visi dan misinya kini berbeda.
Sekarang ini, Zidane benar benar hanya seekor semut yang berlari lari di sekitar kakinya.
Zidane tiba tiba menyadari bahwa Bastian mempunyai level wibawa yang berbeda. Seseorang yang tidak mampu dia tatap. Zidane tidak tahu sejak kapan sikap orang di depannya ini menjadi bermartabat dan tinggi. Hal ini membuat dia sedikit gemetar.
Auranya berbeda, bahkan bos besar yang dia kenal, tidak lebih mengesankan.
__ADS_1
Tapi bagaimana mungkin ini terjadi.
Bastian hanyalah pekerja dengan gaji kecil dan tingkat terendah. Bagaimana Bastian bisa membuat Zidane merasa takut.
Yah, ini pasti ilusi.
Zidane menegakkan tubuh dan menunjukkan ekspresi mencoba tenang dari rasa terkejutnya.
Mendengar ancaman Zidane yang tidak percaya diri, Bastian merasa sedikit lucu, dia menatap Zidane dengan iba, berbalik dan melangkah pergi keluar dari pintu.
Bastian melihat jam tangannya. Sudah saatnya makan siang. Dia memikirkan apa yang ingin dia nikmati untuk makan siangnya.
Zidane membuang dirinya ke kursi dengan kondisi lesu. Ketika Bastian melihat jam tadi, Zidane menyadari Bastian memakai Rolex.
Dia memperhatikan baik baik, dan Zidane melihat semua yang dipakai Bastian adalah merek terkenal.
"Tidak, bagaimana mungkin? Dia tidak mungkin orang kaya. Dia pasti hanya pura pura kaya!"
Wajah Zidane menjadi mengerikan, ekspresinya benar benar marah. Dia tidak bisa melepaskan Bastian begitu saja. Masih ada proyek yang harus di jalankan.
Jika tidak, nasib Zidane akan tamat.
Walaupun harus berkorban, Bastian harus di tarik kembali.
Semua karyawan melihat Zidane bergegas keluar seperti orang gila, penuh kekhawatiran dan kebingungan.
Zidane mengejar Bastian ke lantai satu.
Saat dia akan berteriak memanggil Bastian, dia tiba tiba melihat Rolls-Royce Silver Shadow yang bersinar.
Dia juga pernah mendengar tentang mobil mewah ini, dan hanya orang kaya di negara ini yang dapat memilikinya.
"Tidak mungkin..."
Hatinya bergejolak hebat.
Pintu mobil mewah itu terbuka perlahan seperti elang yang melebarkan sayapnya. Bastian masuk ke dalamnya dan langsung duduk.
"Apa! Mobil itu benar benar miliknya!"
Wajah Zidane menjadi pucat, tubuhnya lemas, seperti tak bertulang.
Dia bahkan hampir ambruk ke lantai.
Orang yang bisa mengendarai mobil semacam itu pasti memiliki latar belakang yang kuat, hebat atau bahkan sangat kuat.
Bahkan jika bos perusahaan developer game itu melihatnya, dia pasti sopan dan melayaninya dengan baik.
Bagaimana seorang pegawai dari perusaahaan kecil itu mampu membelinya.
"Untung aku tidak sampai mengejarnya."
Awalnya, Zidane akan mengejar Bastian dan terus mengancam dan menghinanya. Sekarang dia berpikir bahwa hasilnya akan sama dengan minum racun arsenik. Langsung mati.
Tapi, mengingat apa yang dia katakan sebelumnya, dia merasakan ledakan keputusasaan, dan hatinya terus berharap agar Bastian tidak memasukkan kata katanya dalam hati dan melupakan masalah mereka dalam beberapa hari.
__ADS_1
Jika tidak, dia benar benar akan tamat.
Perusahaan developer game kecil itu berada di lantai tiga gedung perkantoran, begitu banyak orang yang melihat ke bawah dengan wajah terkejut saat ini.
"Rolls-Royce!?"
"Bastian tidak menyombongkan diri! Aku pikir barang barangnya imitasi! Orang ini benar benar kaya!"
"Mengendarai Rolls-Royce untuk mengundurkan diri dari pekerjaan? Benar benar keren."
"Tidak tidak! Aku harus menyimpan kontaknya, orang seperti ini harus di genggam erat."
Bastian tidak memperhatikan bahwa Zidane mengejarnya. Dia menyalakan mobilnya dan melaju dalam raungan yang menggelegar.
"Sekarang, aku resmi mengucapkan selamat tinggal pada kehidupan lama ku. Aku bebas! Selanjutnya aku akan memulai hidup baru!"
Merasakan hawa sejuk di tubuhnya, Bastian berteriak dengan berani dan gembira.
Dengan senyum di wajahnya, Bastian berkata.
"Silva!"
[Ada yang bisa saya bantu, tuan?]
Suara anak kecil terdengar di dalam mobil. Ini adalah kecerdasan buatan berjaringan yang ada di Rolls-Royce Silver Shadow.
Tapi, Silva, nama itu di berikan oleh Bastian sendiri untuk mobilnya.
"Bantu aku menghubungi Jessica Lee."
[Baik tuan.]
Telepon tersambung.
[Halo, tuan Sharga, ada yang bisa saya bantu?]
"Bisa minta tolong pesankan penerbangan ke Feret untuk besok pagi?"
[Baiklah, saya akan mengaturnya untuk anda.]
"Aku akan menikmati perjalanan ini seperti berlibur saja, yang penting misi selesai." kata Bastian dalam hati.
"Dan aku menantikan hadiah saat misi selesai." lanjut Bastian dalam hati.
Bastian menutup panggilan lalu merasakan kesejukan di wajahnya dan berkata dengan lantang.
"Feret!! Bastian Sharga akan datang!!"
***
Keesokan harinya, pukul 8 pagi.
Bastian tiba di bandara dan naik ke lorong kelas satu dengan membawa tas travel sederhana.
Bastian menghela nafas lega, setelah memasuki kabin kelas satu dan menemukan tempat duduknya.
__ADS_1
Berbeda dengan kelas ekonomi, dimana tiga orang duduk berdesakan. Setiap kursi kelas satu berukuran luas, dengan jok kulit dan dapat di sesuaikan ke belakang untuk menjadi tempat tidur.
Di depan kursi ada meja makan kecil yang halus, meja untuk minuman dan buku buku, dan televisi dengan layar LCD dan berdefinisi tinggi.