
Begitu fajar menyingsing, Bastian langsung bangun.
Hal pertama yang di lakukannya adalah mengeluarkan Serum Fisik Utama Instan dari ruang penyimpanan.
[Serum Fisik Utama Instan berfungsi untuk meningkatkan kekuatan, kecepatan, dan daya tahan anda, poin konstitusi akan bertambah 10 poin.]
"Di kedalaman Feret, bukan tidak mungkin akan bertemu bahaya yang besar, atau bahkan lebih."
Bastian menenggak dan mengeratkan giginya untuk menelan Serum Fisik Utama Instan itu.
"Aargggh!"
Meskipun tidak sesakit serum yang pernah dia minum, efek serum ini tetap saja keras dan juga membuatnya ingin mati saja.
Sejauh ini, konstitusi Bastian telah mencapai 47 poin.
Hampir lima kali lipat konstitusi orang normal.
Di penuhi dengan ledakan kekuatan di tubuhnya, Bastian sedang memikirkan sesuatu, kemudian mencoba bergerak dengan jarak beberapa meter seperti angin yang bertiup kencang.
Dia coba menghantamkan sebuah kepalan tinju ke depan, kecepatan pukulannya membuat sebuah hembusan angin bertiup di sekitarnya mengeluarkan suara seperti sebuah lolongan tajam.
"Waaah! Aku selalu merasa tubuhku segara menjadi seperti mutan."
Bastian sangat senang. Lagi pula, pria mana yang tidak senang dengan berfantasi tentang memiliki kekuatan super seperti superhero dari marvel?
"Dengan bantuan sistem, sepertinya----,,,, ah sudahlah jangan di pikirkan dari pada tidak sesuai ekspetasi seperti rumahku ini."
Setelah makan sedikit, Bastian berangkat membawa tas ranselnya.
Beberapa barang di masukkan ke dalam ruang pemyimpanan dan ban beberapa di bawanya sendiri.
Membawa berbagai macam benda berat, mondar mandir, loncat sana sini di antara pepohonan di dalam hutan, Bastian tidak merasa lelah, tetapi malah merasa senang.
Bahkan pasukan khusus yang telah menerima latihan berat sambil membawa beban berat pasti tidak akan bisa sesantai Bastian sekarang.
Bastian melewati pepohonan di dalam hutan seperti hantu, sesekali berhenti untuk memeriksa peta.
Secara perlahan tapi pasti, masuk lebih dalam ke dalam hutan Feret. Bastian juga akan mulai bertemu dengan beberapa hewan liar, tetapi di bawah peringatan dan panduan dari sistem, di tambah dengan persepsi tajam dan keberuntungan Bastian yang sudah meningkat, pada akhirnya dia bisa menghindari dengan aman.
Beberapa waktu berlalu, Bastian akhirnya mencapai area lokasi harta karun tersebut sesuai peta.
Di semak belukar di samping pohon yang menjulang tinggi dengan cabang cabang yang saling bersentuhan, Bastian memegang teropong kecil dan mengamati lereng tanah kecil di kawasan dataran rendah di bawah tempatnya berdiri.
Di lereng itu, ada patahan besar menuju gua yang dalam di bawahnya.
Menurut peta, di sanalah harta karun itu berada.
"Waaah! Tidak ada hewan liar yang buas di sekitar sana."
Setelah mengamati untuk waktu yang lama dan memastikan bahwa tidak ada bahaya di sekitarnya, Bastian bergegas ke sana dengan langkah cepat dan ringan.
Bastian tiba di sisi gua, dia menggerakkan hidungnya dan mengendus, mencoba mendeteksi dengan penciumannya dan tidak ada bau sarang beruang ataupun hewan lain.
__ADS_1
Dia menghela nafas lega, tidak lagi merasa ragu, dan berjalan langsung ke dalam gua.
Gua ini memiliki lantai menurun, sebenarnya diameternya sangat kecil tapi panjangnya luar biasa. Setelah berjalan lama, masih belum terlihat ada ujungnya.
Gua itu sangat sunyi, hanya ada suara langkah kakinya yang pelan dan berputar putar karena bergema. Tiba tiba suara keras dengan cepat menuju ke arahnya.
"Apaan tuh!" seru Bastian terkejut dan langsung bereaksi.
Ternyata itu adalah kawanan kelelawar dari dalam gua.
Sekawanan kelelawar itu mungkin terganggu dengan suara langkah kaki Bastian, mereka mengepakkan sayap mereka dan terbang bergerombol membuat suara yang keras.
"Sialan! Mengagetkanku saja!" gumam Bastian, tapi jantungnya masih sedikit berdebar. Kini dia lebih waspada, jadi dia mengeluarkan thermal detector yang sempat dia beli dan berjalan ke dalam gua sambil mendeteksi sekelilingnya.
Beberapa menit kemudian, Bastian yang sedang menjelajahi gua dengan senter, samar samar melihat cahaya kecil di depannya.
Senter di arahkan ke arah titik cahaya, melalui ruang gelap, terlihat bahwa itu adalah sebuah kotak yang bercahaya.
"Waah, itu terlihat seperti sebuah kotak. Apakah itu harta karunnya?"
Bastian mempercepat langkahnya karena merasa senang di hatinya, dia menuju kotak bercahaya itu dengan cepat.
Tepat di depan kotak itu tiba tiba sistem memberikan peringatan.
[Bahaya terdeteksi]
[Bahaya terdeteksi]
"Apa apaan? Bahaya apa? Tetapi thermal detector menunjukkan tidak ada apa apa di sini."
Tapi sekarang, batu yang seperti bukit kecil itu bergerak!
Batu batu besar yang berbentuk melingkar itu bergerak ke atas terlihat seperti leher yang terangkat dengan tinggi.
Itu bukan batu! Itu terlihat jelas adalah ular phyton raksasa!
"Sistem anjing ini akan membunuhku lagi! Peringatannya telat, brengsek!"
Phytin itu memiliki kepala berbentuk segitiga dan sisik sisik besar seperti batu itu membuatnya tidak terlihat di kegelapan, kamuflase yang sangat sempurna.
Karena ular adalah hewan berdarah dingin, mereka dapat menyesuaikan suhu tubuhnya sesuai dengan lingkungan di sekitarnya, hal itu membuat thermal detector tidak bisa mendeteksinya.
Bastian sama sekali tidak memikirkan akan menjumpai hal seperti ini.
"Sialan!"
Bastian sedikit takut ketika ular phyton raksasa itu sudah membuka mulutnya yang besar dan melesat ke arahnya.
Tubuh Bastian merespon sesuai insting, memutar badannya dan melompat ke samping, tetapi senter dan thermal detectornya jatuh ke tanah.
Bastian berdiri dengan kondisi berantakan, sementara ular phyton raksasa itu menerkam lagi dari samping, seperti marah, dan tubuhnya sekarang terentang dengan perkiraan panjang lebih dari sepuluh meter.
Bisa disebut ukurannya ini menakutkan!
__ADS_1
Anggap saja ini bukan ular phyton, anggaplah ini ular titanoboa yang telah punah!
Bergerak dengan cepat, Bastian melesat ke sudut pandang yang lain dan langsung meninju ke arah tubuh raksasa yang licin milik ular itu.
BUAGH!
Bersamaan dengan suara hantaman keras itu, suara teriakan kesakitan Bastian juga terdengar.
Memukul tubuh besar ular itu dengan telapak tangan, tubuh yang terlhat licin dan halus itu ternyata keras. Bastian merasa seperti menabrak pelat baja dan terhuyung huyung kembali dengan tangan yang bergetar karena sakit.
Bastian bahkan merasa ragu, sebuah peluru bisa menembus sisik yang kerasnya luar biasa itu.
"Brengsek!"
Sekali lagi Bastian menghindari serangan ular phyton itu, jantung Bastian mulai membara.
"Aku harus menemukan kelemahannya."
"Itu bukan serangan yang asal asalan, walau pertahanan ular ini luar biasa, tapi di lihat dari dua serangan ular ini, sepertinya tidak bisa di kalahkan dalam hal kecepatan dan kekuatan!"
Apalagi saat ini ular phyton raksasa itu sudah memblokir jalan dan Bastian tidak akan bisa mendapatkan kotak harta karun itu tanpa menjatuhkan ular ini.
Hal yang penting juga untuk tetap waspada agar tidak terjerat lilitannya. Kekuatan lilitan ular phyton setara dengan benturan dengan truk besar, apalagi ukurannya raksasa.
Tatapan Bastian menjadi dingin dan semangatnya berkobar. Dia menyadari sesuatu, suatu hal yang keras di permukaan, melindungi bagian bawah yang rentan. Dia perlahan mengeluarkan pisau bayonet yang di letakkan di pinggangnya, yang di siapkan untuk membabat tumbuhan liar saat perjalanan di hutan.
"Hanya mencoba peruntungan, harus berhasil menumbangkannya dengan satu gerakan!"
Setelah banyak serangan yang gagal, ular phyton itu seperti menyadari bahwa mangsa di depannya tidak mudah di tangani, dia terdiam sejenak dengan tatapan mata yang dingin.
Mata Bastian berangsur angsur mulai beradaptasi dengan kegelapan di sekelilingnya. Bastian bergerak perlahan lalu tiba tiba melompat dengan cepat.
Ular itu merasakan bahaya dan membuka mulutnya yang besar sekali lagi, sementara sosok Bastian tiba tiba merubah arah dan mengitari sisi ular phyton.
BUAGH!
Ekor ular phyton itu tiba tiba terangkat dan memukulnya dengan keras. Bastian tidak sempat menghindar dan terpaksa menyilangkan lengan untuk melindungi dadanya.
Walaupun fisiknya jauh lebih kuat, Bastian masih merasa seperti di bombardir dengan puluhan palu, semangatnya sedikit turun, tubuhnya terlempar kebawah dan berguling guling di tanah.
Ketika tubuhnya terjatuh, Bastian seperti menemukan sesuatu. Itu adalah thermal detectornya. Seketika di kepalanya muncul ide cemerlang.
Dia melemparkan benda itu dengan kekuatan penuh ke atas ular phyton itu. Bagi seekor ular, instingnya menyerang sebuah benda bergerak ke arahnya. Ular phyton itu tanpa sadar mendongak, membuka mulutnya dan menelan benda yang melesat di atasnya.
"Sekarang!"
Tepat ketika mulut ular tertutup, Bastian melihat titik lunak di bawah rahang ular phyton itu. Sekali kedipan mata, langkah kaki Bastian melesat dan melompat dengan kuat dan cepat.
SRAKKK!
Bayonet Bastian menusuk kepala ular phyton raksasa dari bawah rahang, dalam sekali hentakan, Bastian menarik tanpa mencabut bayonet yang tertancap menuju leher ular.
SREEET!
__ADS_1
Isi leher ular itu keluar, ular phyton raksasa itu mengelepar, tubuhnya bergelinjang dengan hebat menyebabkan debu berterbangan di sekitarnya, tidak lama kemudian gua yang gelap itu kembali menjadi sunyi senyap.