Kaisar Bisnis

Kaisar Bisnis
Kenyataan Hidup


__ADS_3

Langit menjadi gelap dan Bastian berjalan perlahan lalu tiba di tempat makan yang telah di sepakati, Bright Moon Riverside.


Sebagai tempat kelas atas yang terkenal di kota Sidni, Bright Moon Riverside otomatis tidak pernah kekurangan pelanggan.


Meski tidak bisa di bandingkan dengan kemewahan Vanguard Hotel saat itu, para elit ber jas serta berbagai mobil mewah yang mahal bisa di lihat di mana mana.


Bastian datang sedikit terlambat. Ketika dia tiba di sebuah ruang pribadi di lantai dua, teman teman sekelasnya sudah lebih dari setengah yang datang.


Wahoo McDaniel dan beberapa teman lainnya, sama seperti Bastian. Mereka tiba hampir bersamaan.


"Hei! Hanya untuk menunggu kalian saja lama sekali! Nanti kalian harus di hukum berat, minum wine yang banyak!" seorang pemuda berkacamata hitam menyambut dengan senyuman.


Nama pemuda itu adalah Adrian Adonis. Dia cukup aktif selama masa kuliahnya. Setelah lulus, kabarnya dia langsung menikah, dan keluarga istrinya sepertinya memiliki kondisi yang bagus, jadi dia menjalani hidup dengan sangat baik dengan bantuan istrinya itu.


Tapi, tidak ada yang mengejeknya sebagai pria tanpa modal sama sekali. Sebaliknya, malah banyak yang iri.


Asetnya saat ini, juga termasuk yang terbaik di levelnya, yang bisa di bilang sebagai nomor dua setelah Radzi Chin.


"Hahaha, bukankah memang seharusnya, lagi pula aku tidak takut hukumanmu!" melihat teman lamanya, Bastian tertawa terbahak bahak ketika bertemu.


Walaupun Adrian sudah cukup kaya, dia tidak memiliki kesombongan kepada orang lain. Dia sangat santai dan akrab. Dengan sambutannya, beberapa orang sudah menghilangkan rasa canggung karena sudah lama tidak bertemu.


"Apakah Bastian sudah sampai sini?" suara sumbang terdengar dari samping. Radzi berjalan mendekat dan berkata.


"Soalnya dia tadi berjalan kaki di sini."


"Hahaha, benarkah kai berjalan kaki ke sini? Apa kau tidak ingin membeli mobil?" Gable Stevenson berkata mengejek.

__ADS_1


Damon Kemp yang juga teman sekamar Radzi berkata.


"Bagaimana mungkin? Bastian adalah tokoh terkenal di kampus saat itu. Bagaimana dia bisa begitu sengsara? Mungkin dia tinggal di dekat sini, benar kan, Bastian?"


Bastian tidak mengatakan apa apa, Wahoo melangkah maju dengan marah, nada bicaranya tidak bagus.


"Reuni hari ini, sebenarnya jadi tidak?"


Suasana sedikit tenang dalam sekejap. Semua orang tahu bahwa Eadzi telah bertemu Bastian sebelumnya, jadi mereka tidak heran.


Tapi mendengarkan hinaan rombongan Radzi, tampaknya kondisi Bastian tidak di untungkan. Ini benar benar sedikit di luar harapan mereka.


Awalnya, beberapa orang ingin mendekat dan mengobrol dengan Bastian saat dia muncul, tapi akhirnya mengurungkan niatnya itu.


Bagaimanapun, orang pintar bisa melihat ketidakpuasan Radzi kepada Bastian. Tidak perduli apa yang terjadi di kampus, itu hanyalah masa lalu. Dan sekarang, jarak antara mereka berdua sangat jelas.


Banyak orang telah menentukan kubu mereka dan sikap mereka diam diam berubah.


Sadar akan suasana yang canggung ini, beberapa orang menggeleng dan menghela nafas dengan berat. Pemuda paling populer di kampus, saat ini sangat redup dan segera menjadi debu, hal yang sangat di sesalkan.


"Baiklah baiklah! Semua orang sudah lapar bukan? Ayo kita mulai makan!"


Adrian menyadari bahwa suasananya akan berubah, jadi dia dengan cepat merubah situasi dengan mengangkat gelasnya kepada semua orang.


"Jangan khawatir tentang dia, kita minum sendiri, bukankah kita berteman dengan baik, lihat cara pamernya sangat mencolok!"


Wahoo mendengus dingin dan berkata dengan tidak puas, menyapa Bastian dan beberapa pemuda yang memiliki hubungan baik di kampus untuk duduk bersama.

__ADS_1


Tetapi beberapa dari mereka dengan mata berbinar dan berkata dengan canggung.


"Ayo kita kesana dan duduk bersama mereka."


Hasilnya, satu sama lain dengan isyarat mata bergerak untuk bergabung bersama Radzi.


"Kalian!" Wahoo marah tapi Bastian tidak perduli. Bastian menepuk pundaknya dan tersenyum.


"Jangan khawatir tentang mereka, mari kita bicara sedikit."


Memasuki kehidupan bermasyarakat, orang pasti akan berpikir realistis. Bastian tidak akan menyalahkan mereka, tapi di dalam hatinya diam diam sudah membersihkan mereka dari jajaran teman temannya.


Dia memandang Radzi yang sekarang bersemangat tinggi dan sombong, cukup menarik.


'Sepertinya dia belum mendapat kabar itu, semakin sombong dia sekarang, semakin sakit jatuhnya nanti.'


Setelah tiga putaran minum, suasana pesta perlahan menjadi hidup.


Semua orang berbicara tentang kenangan lucu di kampus dan kondisi mereka di masa sekarang.


Beberapa orang tampaknya menjalani hidup dengan baik, bersenang senang dan terus menerus menceritakan pencapaian mereka. Tapi banyak orang berkumpul di sekitar Radzi secara sengaja.


Sedangkan Bastian, walau pernah menjadi pria terbaik di kampus, jarang di ajak bicara dan bersulang, tampaknya dia agak di abaikan dan seperti terisolasi.


Lagi pula, di mata semua orang, banyak orang tidak seperti dulu lagi. Bastian adalah salah satu dari masa lalu dan tidak layak untuk di sebutkan di masa kini.


Dalam beberapa tahun terakhir, setelah di hajar habis habisan oleh kenyataan hidup, kebanyakan orang menjadi sombong.

__ADS_1


__ADS_2