Kaisar Bisnis

Kaisar Bisnis
Hardcore Holly


__ADS_3

Tiga hari kemudian di Tomorrow Teahouse.


Tomorrow Teahouse tingginya lebih dari sepuluh lantai. Bahkan ada danau buatan kecil, bebatuan dan sungai di area luarnya. Ada juga sudut area yang terbuka. Ruang ruang paviliun cantik yang di pisahkan dengan dinding batu dan penuh pohon palem lebat dengan bunga bunga yang hijau.


Lingkungan di sini tenang dan terpencil. Ini adalah tempat yang bagus untuk membicarakan bisnis, minum teh dan bermain catur.


Tempat pertemuan antara kelompok Rampage dan Hardcore di atur di sini yang bukan wilayah milik kedua belah pihak, jadi mereka setuju untuk bertemu di sini.


Rampage yang telah duduk di paviliun dengan cemas mengetuk meja batu dengan tangannya dan menatap jam tangannya dari waktu ke waktu. Dua puluh menit berlalu sejak waktu yang di tentukan tetapi Hardcore belum juga datang.


"Bos, Hardcore ini sangat sombong."


Salah satu anak buah Rampage di dekatnya tidak dapat menahan diri untuk berkata. "Dia tidak menganggap kita serius. Saya tidak berpikir kita yang harus menunggu. Kita harus memberi pelajaran dan menghancurkan mereka."


"Bajingan itu benar benar."


Wajah Rampage muram dan giginya terkatup kencang.


Di sebelahnya, Bastian sedang duduk di kursi batu dengan tenang, biasa saja dan terlihat tidak terburu buru.


"Mereka datang."


Setelah sepuluh menit atau lebih, Bastian tiba tiba membuka matanya dan berkata pelan.


Di luar memang seperti yang di katakan, terdengar suara langkah kaki yang tidak teratur. Seorang pria paruh baya yang tampak gemuk datang dengan cepat dan beberapa orang mengikuti di belakangnya.


"Hahaha, maaf, ada yang harus di selesaikan tadi, tidak masalah kan?"


Pria gemuk itu, Hardcore Holly, berkata dengan senyum lebar.


"Tidak masalah, aku baru saja tiba." Rampage berkata dengan senyuman di wajahnya. Bahkan jika orang orang seperti dia sangat marah di hatinya, mereka bisa saling menyapa dengan wajah tersenyum di permukaan.


Tapi, ketika orang seperti itu menusukkan pisau secara diam diam, sudah di pastikan targetnya akan mati dan tidak akan memberi kesempatan pada korbannya untuk bergerak.

__ADS_1


Mata Bastian hanya menatap Hardcore sekilas dan melewatkannya. Yang benar benar menarik perhatiannya adalah seseorang di samping Hardcore.


Orang itu tidak tinggi, usianya sekitar 40 tahun, tapi dia terlihat sangat cerdas dan matanya penuh cahaya yang membuat Bastian tidak bisa menahan diri untuk menatapnya.


'Sepertinya dia adalah petarung misterius yang melukai Aiden, dan sepertinya tidak sederhana.' Bastian mengangguk sedikit tapi sekarang orang itu tidak bergerak dan hanya bisa di nilai secara umum.


Hardcore duduk dengan sombong lalu menyilangkan kakinya dan berkata tanpa sadar. "Tuan Brown mengajakku bertemu kali ini. Aku tidak tahu apa yang akan di bicarakan."


Meskipun status Rampage lebih tinggi, tidak ada rasa hormat dalam nada ataupun tindakan Hardcore.


Akibatnya, Rampage merasa di rendahkan dan wajahnya benar benar suram.


"Tidak kah ada yang ingin kau katakan tentang masalah yang kau timbulkan padaku dengan mengirim orang orangmu untuk menghancurkan tempatku dan melukai orangku?"


Rampage sedikit bergemuruh.


"Oh masalah itu."


Hardcore perlahan duduk tegak dan menatap Rampage di depannya. Mulutnya terbuka. "Aku tidak menyangka anak buahmu sangat tidak berguna. Jika ada sesuatu yang menyinggung, lupakan saja."


"Bajingan!"


Anak buah Rampage langsung geram, terutama Aiden. Dia bahkan langsung mengeluarkan pistol dan mengarahkannya ke Hardcore.


"Tuan Brown, apa maksudmu ini? Itu hanya makna biasa. Kau harus memberiku penjelasan tentang apa yang terjadi pada anak buahmu ini!"


Rampage berkata dengan dingin. "Kau harus tahu, di wilayah Sidni, siapa yang memiliki keputusan akhir."


"Hehehe."


Senyuman di wajah Hardcore berangsur angsur terlipat dan secercah cahay dingin melintas di matanya.


"Tuan Brown, tampaknya menjadi orang nomor satu selama bertahun tahun telah melemahkanmu. Apakah kau benar benar berpikir bahwa tidak ada yang bisa mengalahkanmu? Dan kau Aiden, apa ingatanmu sependek itu?"

__ADS_1


Berdiri di samping Hardcore sepanjang waktu, pria yang seperti patung itu tiba tiba bergerak. Ada suara menggelegar ketika dia bergerak.


Orang orang yang hadir bahkan tidak melihat apa yang terjadi, pistol di tangan Aiden langsung jatuh ke lantai. Aiden sendiri hanya berteriak dan di terbangkan.


Pria kurus itu melangkahkan kakinya dan pistol yang jatuh itu di injak sampai hancur.


"Kau!"


Rampage kaget. Dia tidak menyangka pihak lain benar benar berani menyerang secara langsung dan dia tidak menyangka kekuatan anak buah Hardcore benar benar mengerikan.


Kemudian, di mata pria kurus yang kuat itu aura dingin melintas dan sebuah kepalan tangan di lesatkan di atas meja batu di tengah paviliun.


BRAAAK!


Dengan suara teredam yang berat, meja batu yang terbuat dari bebatuan keras langsung pecah dan seluruh paviliun tampak sedikit berguncang.


"Ini!"


Wajah Rampage tiba tiba berubah, anak buahnya pun gugup.


Tidak hanya dari pihak Rampage, bahkan anak buah Hardcore pun pucat setelah melihat pukulan mengerikan dari pria kurus itu.


Sebuah pukulan untuk menghancurkan sepotong besar batuan keras.


Sudah terbayangkan seberapa kuat pukulan itu.


Semua orang yang berdiri di sana tanpa sadar melangkah mundur dan ada ekspresi panik juga tidak percaya di mata mereka.


"Bagus, Xyon."


Tapi, Hardcore tetap tersenyum. Setelah memuji pria kurus yang cerdas itu, dia menatap Rampage yang pucat dan berkata.


"Rampage, tahukah kau kekuatanku sekarang? Waktumu akan segera berakhir. Selanjutnya, aku akan menjadi pembuat keputusan akhir di kota Sidni dan semua orang akan mengikuti perintahku!"

__ADS_1


Dia melambaikan tangannya dengan cara yang berlebihan, sok heroik tapi garing, seolah olah dia telah menyatukan semua kekuatan yang sangat kuat di kota Sidni, mencoba menutupi langit dengan cengkeraman tangannya.


__ADS_2