
Amy tampak berangsur angsur bereaksi dari keadaan memanjakan diri berbelanjannya. Melihat Bastian membawa tas tas besar dan kecil dengan ekspresi mali di wajahnya.
"Oh, maafkan aku, aku sangat lelah membiarkanmu membawa begitu banyak barang."
"Tidak masalah." Bastian menghela nafas dan mengangkat bahunya.
Sebenarnya itu memang bukan hal berat. Selain itu dengan kekuatannya saat ini, jangankan hanya beberapa boneka, jika Amy membeli seekor gajah pun, Bastian juga bisa mengangkatnya dengan mudah. Bastian hanya malu dengan barang belanjaan yang terlalu girly itu.
"Aku sudah membuatmu malu, maka aku akan memberimu kompensasi." Amy muncul dengan senyum menawan.
Secara alami dia meraih lengan Bastian dan menempelkan seluruh tubuhnya kepada Bastian, setelah itu bahkan menekan lengan Bastian dengan dada penuhnya entah secara sengaja atau tidak sengaja.
Tubuh Amy mengeluarkan aroma wangi. Sentuhan hangat dan lembut di lengan Bastian membuat pikirannya tidak stabil.
'Sialan! Dia menggodaku.' Bastian berseru dalam hatinya, alisnya berkerut dan hatinya juga berdesir.
"Apa ada yang salah?" Amy tersenyum dan menatap Bastian.
Tubuhnya semakin terangkat, bahkan Bastian bisa merasakan hembusan nafas dari Amy.
Amy berbisik di telinga Bastian. "Dasar pemalu."
"Pemalu?" Bastian langsung kesal karena tidak terima.
Ketika dia kuliah, dia juga adalah idola di sekolah. Dia adalah seorang pria yang di puja dan tidak pernah kekurangan gadis yang mengejarnya. Sekarang di mata Amy, dia tampak seperti seorang laki laki yang polos.
Dia tidak mau di anggap pria cupu.
Bastian langsung meraih lengan Amy, Amy berbalik ke samping dalam rasa terkejut.
Tangan kanan Bastian yang membawa beberapa tas di angkat seperti tidak ada beban, dia mendorong Amy di dinding dan menekannya sampai tersudut.
Bastian memepet tubuh Amy ke dinding.
"Kamu---,,, Apa yang akan kamu lakukan?" Amy yang baru saja sangat berani, tiba tiba menjadi panik dan pipinya merona merah.
"Menurutmu apa yang ingin aku lakukan? Kau berani mengejekku, bagaimana aku harus menghukummu?" sudut bibir Bastian sedikit terangkat, lalu tubuhnya lebih di tempelkan kepada Amy.
Amy sebenarnya tidak mempunyai banyak pengalaman, penampilannya tadi terlihat penuh gairah dan berpengalaman, itu hanya untuk menggoda Bastian saja. Sekarang posisinya di balik dan dia menunjukkan sifat aslinya.
Saat wajah Bastian semakin mendekat, Amy mau tidak mau menutup matanya, memegangi dadanya dengan gugup dan merasaskan jantungnya berdebar kencang.
'Dia, apakah dia ingin menciumku? Aku ingin, tapi aku tidak mau, ini terlalu mendadak, tidak dalam suasana seperti ini, ini akan menjadi ciuman pertamaku.' Pikiran Amy berada di angan angan.
Tapi, tidak ada sentuhan apa apa di bibirnya seperti yang di harapkan, tetapi tangannya tiba tiba terasa berat.
__ADS_1
"Hah?" Amy membuka matanya dengan ragu dan menemukan bahwa semua tas belanjaan tadi ada di tangannya.
Dan juga, tas yang memperlihatkan kepala boneka babi tadi. Wajah boneka babi itu tepat di depan wajahnya seakan tersenyum mengejek.
***
Bastian sekarang sudah berada beberapa meter jauhnya, dan berteriak kepada Amy yang menatapnya dengan serius. "Sebagai hukuman untukmu, bawalah barang barangmu sendiri."
"Apa?" Amy seperti orang bodoh. "Kamu---,,, apa yang kamu lakukan?"
"Hah? memangnya apa yang aku lakukan?" Bastian berkata dengan wajah berpura pura bingung dan sopan.
"Pergilah ke neraka!" Amy menatapnya dengan kesal, lalu dengan marah berteriak. "Kamu pergi saja, aku tidak ingin bersamamu lagi!"
"Baiklah, kalau begitu aku akan pergi. Daaa." Bastian berkata dan berbalik pergi ke sisi lain.
"Loh?! Kamu benar benar pergi meninggalkanku!" Tak lama kemudian, suara bingung Amy muncul dari belakang. Dia berlari dan mengikuti Bastian.
"Hei, katanya kau ingin pergi sendiri, kenapa mengikutiku?"
"Hmmm, aku berubah pikiran." Amy mendengus dan meraih lengan Bastian lagi. "Aku tidak bawa uang, lalu aku pulang naik apa coba."
Bastian mau tidak mau mengeluarkan senyum di bibirnya lagi. Dia berpikir Amy ini cukup manis.
Ketika kedua muda mudi itu berjalan keluar, suara terkejut tiba tiba terdengar di dekat mereka.
"Amy?"
Bastian menoleh ke samping. Itu adalah seorang pemuda berusia sekitar 28 tahunan, dengan rambut pendek dan kemeja putih. Sedikit kesombongan terlihat di antara tatapan matanya.
Amy juga melihat ke samping, tapi wajahnya terlihat jijik dan berkata. "Kenapa kamu di sini? Sial sekali aku."
Amy membuka mulut dan dia terus terang mengungkapkan rasa tidak senang, membuat Bastian sedikit terkejut melihat ucapannya yang lugas.
Pria itu tidak peduli dengan sikap Amy, tapi melihat lengan Bastian di dekap oleh Amy, ekspresinya menjadi agak jelek.
"Amy, siapa pria ini?" Dengan sedikit kesal di matanya, dia berkata. "Apakah dia pacarmu?"
Bastian tiba tiba tersadar, orang ini pasti suka dengan Amy.
"Ya, kamu benar." wajah Amy menunjukkan sedikit malu dan bersandar pada pundak Bastian. "Ijinkan aku memperkenalkanmu kepada pacarku, Bastian Sharga."
Wajah pria itu tersentak dan dia menyeringai enggan. "Oh ya?"
Pandangan mata Bastian langsung menjadi kesal.
__ADS_1
Amy lagi lagi menggunakan Bastian sebagai tameng. Bastian sendiri tidak tahu apa yang terjadi.
Bastian sangat ingin menjelaskan, tetapi setelah melihat rangan Amy melingkar di lengannya, dia langsung menyadari kesalahannya. Bahkan jika dia mengatakan dia bukan pacar Amy, siapa yang akan percaya.
Dia berbisik kepada Amy. "Siapa orang ini?"
"Namanya Camra Kidd dan dia dari keluarga Kidd. Aku sudah bilang tidak menyukainya, tapi dia masih menggangguku seperti lalat." kata Amy tidak puas.
"Keluarga Kidd?" ekspresi Bastian berubah mendengar nama itu, berdasarkan pengalaman, hanya ada satu keluarga Kidd.
Keluarga Kidd, sebuah keluarga terkenal di negara Kangaro, juga merupakan keluarga yang sama dengan Tyson Kidd yang dia temui saat di Vanguard Hotel.
Mengingat hal itu, dia menatap Camra dan ekspresi Bastian tiba tiba menjadi dingin.
Jika latar belakang keluarga Camra dan Tyson sama, jenis kesombongan di wajah mereka juga sangat mirip.
Dan bagi Bastian, mereka menjijikkan.
Karena masalahnya dengan Tyson dulu, kesan pertama Bastian kepada Camra langsung sangat buruk.
"Bantu aku menghadapinya, berpura puralah menjadi pacarku, orang ini sangat menyebalkan."
"Oke." Bastian tidak menolak kali ini.
Tentu saja, alasannya setuju adalah dia tidak menyukai Camra.
"Halo, aku pacar Amy." Bastian menatap Camra dan berkata dengan wajah berseri seri, berniat untuk langsung membuat orang itu jijik.
Camra memang terlihat agak murung. Dia milirik Bastian dan bahkan tidak membalas sapaanya. Seolah olah dia tidak melihatnya, penghinaan itu tidak di tutup tutupinya.
Dia bahkan tidak repot repot menanyakan latar belakang Bastian. Tidak ada yang dia takuti di ibukota Adel.
Berpikir tentang itu, dia agak bangga dengan raut lebih tenang.
"Amy, aku berencana mengundang teman teman untuk mengadakan pesta di pantai dua hari lagi. Apakah kau bisa datang ke sana?" Setelah menyesuaikan kembali ekspresi wajahnya, Camra mengundang Amy dengan senyum hangat di wajahnya.
Amy sedikit mengerutkan kening, hanya berpikir untuk menolak secara langsung, tetapi sepertinya dia memikirkan sesuatu.
'Tepi pantai? Itu tempat yang bagus untuk meningkatkan hubungan perasaan.'
Dia diam diam melirik Bastian di sebelahnya, memutar matanya dan tersenyum kepada Camra. "Ya, aku akan datang."
Tapi kalimat berikutnya langsung membuat rasa gembira Camra terhapus dengan cepat.
"Tapi, aku ingin bersama pacarku, kamu harus mengundang Bastian juga?"
__ADS_1