
Bastian berbalik dan menatap April yang berada di sampingnya, Bastian tersenyum.
"Halo, ketemu lagi." sapa Bastian.
Begitu kata kata di ucapkan, mereka langsung sedikit canggung. Sebelumnya mereka belum sempat untuk berbincang, apalagi bertukar pesan, mereka belum melakukannya.
"Loh, kamu?" Tanya April.
Wajah April juga sedikit terkejut, tapi dia berkata dengan cepat.
"Terima kasih sudah menolongku, kalau tidak, aku juga tidak tahu apa yang akan terjadi nanti." kata April tulus.
"Kamu terlalu ceroboh, jangan nekat seperti itu lain kali."
Bastian berbicara lagi.
"Tapi, aku tidak menyangka rasa keadilanmu cukup besar. Caramu melindungi orang yang tidak bersalah, sangat menarik." Lanjut Bastian.
April menghela nafas, wajahnya agak merah.
"Bukankah seharusnya memang seperti itu." jawab April.
"Hei! April!"
Gadis pirang temannya itu berlari mendekat dari kejauhan dan tersentak.
"Aku melihat kerumunan banyak orang di sini dari jauh. Apa yang ter---,,,"
Belum selesai dia bicara, dia melihat Bastian menatapnya dengan senyuman, berdiri di samping April, dan wanita pirang itu jadi salah tingkah dengan ekspresi tidak jelas.
"Eh,,Hmm, sepertinya aku datang di waktu yang tidak tepat...."
"Kau cari mati, Tamina!" seru April mengancam akan menendang wanita itu.
"Halo, salam kenal, namaku Tamina Saron dan aku adalah sahabat dari nona April Jeanette Mendez." kata Tamina memperkenalkan diri secara detail sengaja membuat April marah.
__ADS_1
"Hai, aku Bastian Sharga." jawab Bastian sambil tersenyum.
Seiring berjalan waktu, Tamina mengerti apa yang baru saja terjadi di sana.
Setelah mendengar bahwa Bastian juga akan pergi ke Feret Scenic Area, Tamina melambaikan tangannya yang mungil.
"Sepertinya tujuan kita sama, karena ini adalah takdir, mari kita pergi bersama sama!"
Mereka bertiga akhirnya berjalan bersama. Sebagai tempat wisata terkenal di negara Kangaro, Feret juga memiliki banyak tempat indah yang patut di kunjungi.
Feret, yang terkenal dengan sisi tradisionalnya dan misterius, memiliki pegunungan tinggi dan lembah yang dalam, hutan lebat, iklim yang tidak tentu yang berubah ubah, serta pemandangan yang menawan dalam empat musim. Kota Feret atau kawasan hutan Feret, di sebut juga 'Taman Feret' dan telah menarik banyak turis lokal dan turis asing dengan pesonanya yang kuat dan telah menjadi daya tarik wisata yang unik.
"Waaah, lihat ada monyet!!"
Tamina melihat seekor monyet yang bergerak dengan cepat melalui pepohonan dan mengambil banyak foto dengan ponselnya.
"Lucu sekali."
April juga sedikit bersemangat.
Bastian menatap Tamina yang melompat lompat kegirangan dan tidak bisa menahan tawanya.
"Hahaha, dia selalu seperti itu, seperti monyet itu!"
April tertawa pelan sambil menyamakan Tamina dengan monyet, bersamaan dengan itu, angin bertiup dan membelai rambut hitamnya dan membuat April terlihat sangat menawan.
Bastian tertegun, lagi lagi pikirannya konslet dan blank.
"Kamu? Kenapa menatapku seperti itu?" tanya April merasa sedikit malu dan wajah cantiknya berubah kemerahan.
"Eh!" Jawab Bastian ketika kesadarannya kembali, sudut bibirnya sedikit terangkat.
"Mungkin karena kamu terlihat terlalu cantik." lanjut Bastian pelan.
Karena masalah yang Bastian bantu sebelumnya dan percakapan di sepanjang jalan, hubungan antara kedua manusia itu menjadi akrab.
__ADS_1
April khususnya, merasa sangat nyaman berbincang dengan Bastian dan tidak memiliki banyak penolakan kepada Bastian seperti pria pria yang mendekatinya sebelumnya.
Mendengar pujian iseng dari Bastian, wajah April menjadi lebih merah, seperti buah delima yang menunggu untuk di petik setelah matang, memperlihatkan godaan dan rasa untuk mencicipi.
Itu yang di rasakan Bastian, dia ingin memeluk dan menciumi mahkluk cantik di sampingnya. Sekarang dia hanya mampu menahan diri.
"Jangan ngawur, jangan impulsif, perlahan lahan saja..." seru Bastian dalam hati.
Ketika waktu beranjak ke sore hari, tempat tempat indah di tempat ini sudah mereka kunjungi. April dan Tamina sudah berencana untuk pulang.
Walau merasa berat untuk melepaskan, Bastian akhirnya merelakan untuk berpisah sementara waktu.
"Eh? Apakah kamu tidak pulang bersama kami?" tanya Tamina terkejut.
"Yah, aku masih ada beberapa hal yang harus di lakukan." jawab Bastian sambil mengeluarkan lipatan kertas peta di sakunya.
"Sebenarnya, pamanku meninggal. Karena dia tidak punya anak, harta bendanya di wariskan kepadaku. Dan sepertinya ada sebuah rumah di Feret. Karena penasaran, aku datang kesini untuk melihatnya." lanjut Bastian.
"Rumah? Di tempat seperti ini? Aneh sekali." kata April mengerutkan kening.
"Aku juga tidak mengarapkan hal itu!!!" seru Bastian dalam hatinya menggila.
Siapa yang mengira dia akan mendapat sebuah kabin tidak jelas di tengah hutan. Dia merasa nasibnya tidak beruntung. Tapi mau bagaimana lagi? Ada misi selanjutnya, jika tidak menerima kabin itu, Bastian tidak akan bisa memulai langkah berikutnya dan tidak akan mendapatkan hadiah.
Bastian menantikan hadiah dari sistemnya. Apapun hadiahnya nanti, sudah sepantasnya untuk di coba.
Pada akhirnya, Bastian berpamitan kepada April dan Tamina.
Bastian bergegas ke tempat yang di tandai di peta.
Tiba tiba notifikasi ponselnya berbunyi. Bastian mengeluarkan ponsel dan melihatnya. Dia tidak bisa menahan senyuman di wajahnya.
April mengiriminya pesan duluan. Seingat Bastian, yang meminta nomornya tadi adalah Tamina. Rupanya April meminta nomor Bastian kepada Tamina. Apakah April tertarik dengan Bastian?
Bastian sedang dalam suasana hati yang sangat baik. Dia berjalan menuju ke target misinya sambil bersenandung senang.
__ADS_1