
"Apa yang kalian takutkan?"
Rampage mengejek dan tertawa.
"Kau masih belum tahu kekuatan Aiden? Apakah kau ingin mengatakan bahwa bocah itu mengalahkan Aiden dan yang lainnya dalam beberapa menit? Sudah, buka pintunya."
Meski dia berkata demikian, Rampage sangat puas dengan kewaspadaan bawahannya. Hanya dengan perlindungan dari orang orang setia ini dia bisa menikmati kehidupannya yang sekarang.
Pengawal itu mengingat kekuatan mengerikan Aiden dan merasa tenang. Dia mengangguk dan berencana akan membuka pintu.
Tapi begitu dia sampai di depan pintu dan memegang gagang pintunya.
BRAK!
Pintu keras yang terbuat dari kayu halus pilihan dan diperkuat dengan paduan besi, tiba tiba bergetar dan bahkan muncul beberapa retakan di bagian atasnya.
Kekuatan benturan yang sangat besar dari luar pintu. Pengawal itu merasa seluruh tangannya mati rasa dan mulutnya samar samar menahan sakit.
Wajahnya menunjukkan rasa ngeri dan berteriak.
"Semuanya! Hati ha---,,,"
Tapi sebelum dia sempat menyelesaikan teriakannya, sebuah lubang tiba tiba ada di tengah pintu kayu dan sebuah tangan dengan pakaian kasual keluar dari lubang, seolah terjadi tabrakan energi dan juga seperti sebuah meriam yang keluar dari lubang itu tepat mengenai dada pria itu dengan kecepatan dan kekuatan yang luar biasa.
BUAGH!
Tubuh pria itu terpental dan tiba tiba terbang ke belakang, menghantam meja dengan keras.
Buah buahan yang tak terhitung jumlahnya berguling dan berserakan ke lantai disertai dengan banyaknya botol wine yang hancur berkeping keping.
BRAK!
Suara keras terdengar lagi dan seluruh pintu akhirnya ambruk dan runtuh.
Lebih dari sepuluh pengawal di dalam ruangan dengan hati hati menjaga Rampage yang berada di tengah tengah mereka.
Walaupun kualitas profesional mereka sangat besar dan mereka tetap mengemban tugas mereka, tapi pemandangan dengan dampak visual yang besar ini telah membuat hati mereka bergetar hebat.
Bahkan mereka tidak bisa menahan gumaman ketakutan.
"Ya Tuhan, ada apa ini?"
"Apa yang terjadi di sini? Apakah dia itu iblis?"
Ketenangan dan senyuman sudah benar benar hilang dari wajah Rampage. Dia menatap lekat ke arah pintu itu.
Suara langkah kaki seiring dengan kemunculan pemuda yang menginjak sisa sisa pintu.
__ADS_1
Bastian masuk perlahan tanpa rasa gugup. Dia melihat sekeliling ruangan.
"Loh ternyata banyak orang? Tidak ada yang menjawabku ketika aku mengetuk pintu. Aku kira tidak ada orang di dalam."
Pembawa petaka itu melihat sekeliling beberapa kali dan kemudian dengan santai duduk di sofa yang berada di depan Rampage.
"Ah, ternyata lelah juga, bagaimana bisa ada begitu banyak orang yang menyambutku?" Bastian mengambil apel di piring buah potong dan mengeluh.
Setelah makan beberapa buah buahan, Bastian dengan tajam mengamati Rampage yang marah di hadapannya dan bertanya.
"Jadi kau yang namanya Rampage? Namamu saja yang mengerikan, nyatanya tidak."
Rampage menekan paksa amarah dan ketakutannya lalu bertanya.
"Siapa kau? Apa yang kau inginkan?"
Dia tidak bertanya kepada Bastian bagaimana caranya menerobos masuk, karena faktanya jelas, Aiden dan semua orang di luar, sudah di tumbangkan.
"Namaku Bastian Sharga, dan untuk identitasku, kau tidak perlu tahu."
Bastian berkata dengan perlahan.
"Awalnya aku ingin berbicara denganmu tentang kerja sama, tetapi kau tampaknya tidak menganggapku serius, dan kau bahkan tidak menghargaiku."
"Kerja sama?"
'Kau mengalahkan semua bawahanku dan membiarkanmu berbicara tentang kerja sama denganku. Apa yang membuatmu berpikir aku akan mendengarkanmu?!'
Ingin rasanya mengatakan itu, tetapi melihat Bastian yang mengerikan, Rampage masih ketakutan dan berkata.
"Bagaimana bentuk kerja sama yang kau inginkan? Dan sebelumnya, apakah kau bisa menjelaskan apa yang terjadi hari ini?"
"Ah, kau salah paham. Karena kau tidak pergi menemuiku secara langsung, maka kerja sama itu aku coret karena kau tidak memanfaatkan kesempatan itu."
Bastian tertawa mengerikan.
"Kau hanya punya satu pilihan sekarang, yaitu tunduk padaku."
"Tunduk kepadamu?"
Rampage seperti mendengar lelucon besar. Dia menghabiskan lebih dari sepuluh tahun, melakukan segala jenis metode, dan mengalami banyak bahaya hingga akhirnya bisa membuka bisnis kecil saat itu yang telah menjadi bisnis bernilai milyaran dollar dan memiliki banyak anak buah.
Di kota Sidni, dia juga terkenal sebagai bos besar.
Sekarang, pemuda di depannya ini benar benar membuka mulutnya dengan ringan dan memintanya tunduk padanya. Apa dia juga akan memintanya menyerahkan bisnis yang sudah di bangun dan mengganti kepemilikan?
"Kalau aku tidak mau?" Rampage memandang Bastian dengan dingin.
__ADS_1
"Karena kau tidak punya hak untuk memilih, jika kau tidak mau, kau akan mati." Bastian berkata dengan tenang.
"Oh, jadi aku akan mati jika aku menolaknya?" Rampage mencibir.
"Ya. Kau tidak hanya akan kehilangan semua yang kau miliki tapi juga nyawamu."
Bastian tidak perduli dan berkata dengan santai.
"Baiklah, aku memilh... Kau yang akan mati!" Niat membunuh meledak di hati Rampage, dia tiba tiba mengeluarkan pistol dari pinggangnya, dan menodongkan ke arah Bastian.
Seolah sudah berlatih bersama ribuan kali, lebih dari selusin pengawal kekar juga mengeluarkan pistol mereka masing masing dalam sekejap, dan kemudian mengarahkan kepada Bastian, menghalangi semua kemungkinan Bastian untuk mundur ataupun pergi.
"Lalu sekarang?"
Rampage berdiri dengan perlahan, mengarahkan senjatanya kepada Bastian dan tampak murung.
"Aku tahu kau sangat kuat, atau bisa di bilang keahlianmu seperti monster! Tetapi meskipun kau kuat, kau tetaplah sebongkah daging dan darah. Apakah kau masih bisa menahan peluru di tubuhmu?"
"Aaah, kau ini belum menyadari kenyataan ternyata." Bastian berkata dengan tenang, dia meregangkan lehernya. Lalu tiba tiba suara keras terdengar.
Sebuah korek api di atas meja di lemparkan kepada salah satu pengawal dan menjatuhkan pistol di tangannya.
Pada saat bersamaan, sosok Bastian menjadi seperti hantu dan bergegas mendekati para pengawal.
Rampage bahkan tidak bereaksi. Dia hanya bisa mendengar dua atau tiga tembakan acak dan dalam sekejap ruangan itu kembali sunyi.
Bastian sudah kembali ke posisinya semula, dan secara mengejutkan lebih dari sepuluh pistol bertumpuk di meja depannya.
Dia mengambil salah satu pistol dengan tangan kanannya sesuka hati. Memutar mutarnya dengan tangannya dan menggenggamnya kuat kuat hingga pistol itu hancur berkeping keping menjadi bagian kecil yang berserakan di atas meja.
Rampage merasa sulit menelan air liurnya sendiri, sebagai bonus dia seperti di terjang angin kencang dan ombak juga tidak bisa menahan gemetar di tubuhnya.
Tangannya yang memegang pistol yang di arahkan kepada bastian, tidak di turunkan ataupun di naikkan. Tubuhnya benar benar kaku.
Pikirannya seperti berhenti bekerja karena segala sesuatu yang terjadi di depan matanya telah melampaui batas imajinasinya.
"Sekarang, apa kau sudah memikirkan tawaranku?" Bastian duduk lagi dan menatap Rampage yang terpaku.
"Tu-tuan Sharga, semua properti saya akan menjadi milik anda dan semua anak buah saya akan mematuhi perintah anda di masa mendatang."
Rampage yang kesemutan buru buru membuang pistol di tangannya dan membungkuk. Wajahnya menunjukkan hormat yang tak tertandingi, berbalik menjadi orang patuh lebih cepat daripada membalikkan telapak tangan.
Dia benar benar ketakutan dan tidak mampu melawan.
Dengan lebih dari sepuluh pengawal terlatih yang menodongkan pistol, tetapi Bastian bisa merebut semua pistolnya dalam sekejap tanpa cedera, ini sama sekali bukan sesuatu yang bisa di lakukan oleh manusia normal.
Pemuda di depannya ini pasti jelmaan iblis atau seekor monster yang menyamar menjadi manusia.
__ADS_1
Dalam hal ini, jika saja dia berani melawan, Bastian kan membunuhnya semudah membunuh seekor semut.