
"Aaah." Jeritan Xia sedikit tertahan, dengan keringat dingin muncul di keningnya, tapi setelah sekali lagi dia menggerakkan kakinya, tiba tiba sudah tidak terasa sakit lagi.
"Bagaimana dengan itu?" Bastian tersenyum.
"Sangat bagus." Xia mencoba menginjakkan kakinya beberapa kali, dengan wajah di penuhi keterkejutan.
"Anda terlalu baik, tuan."
Bastian hanya tersenyum lembut dan tidak banyak bicara.
"Jika sudah tidak apa apa, cepatlah kembali ke rumah." Bastian menambahkan.
"Tidak baik bagi seorang gadis berada di luar sendirian saat larut malam."
"Baiklah." Xia mengangguk kecil lalu mengumpulkan keberanian dan tampak agak malu malu untuk berkata.
"Bisakah anda memberikan informasi kontak anda? Saya ingin mengundang anda untuk makan malam dan berterima kasih suatu saat nanti."
"Tidak perlu repot repot, jangan sungkan."
Bastian berkata pelan tetapi tidak bisa menahan desakan Xia dan harus memberikan kontaknya untuk wanita itu.
'Jadi namanya Bastian ya...' gumam Xia dalam hatinya ketika dia sedang berjalan pulang, dan kemudian secara tidak sadar menunjukkan senyum indah di wajahnya.
***
Di sisi lain, Bastian juga tidak bisa menahan senyum.
Panen bos!
Bukan panen wanita, juga bukan tersenyum karena wanita. Bastian sangat bahagia di hatinya. Dia tidak menyangka bahwa menghadiri reuni malah memicu misi random dan mendapatkan banyak hadiah.
Tepat ketika Bastian tenggelam dalam kegembiraan, pria yang tadi di robohkannya mulai tersadar dari pingsannya, pada awalnya badannya sedikit bergetar dan kemudian tangan kanannya perlahan masuk ke dalam jasnya.
Dari balik jasnya, dia mengeluarkan pistol.
Tangan kanan yang gemetar mengangkat pistol itu secara perlahan. Wajah pria itu di penuhi dengan senyum ganas dan senang akan membalas dendam.
__ADS_1
Kemudian dia menarik pelatuknya ke arah Bastian.
DOR!
'Pergilah ke neraka!'
Pria itu yakin melihat Bastian ambruk dengan rasa tidak percaya di wajahnya karena sebuah peluru melubangi kepalanya.
Di iringi letusan tembakan, Bastian yang tampak tidak sadar, tiba tiba menghilang dari pandangan pria itu.
Rasa luar biasa panik langsung memenuhi wajah, tapi ekspresi itu muncul bukan di wajah Bastian seperti yang di harapkan, tetapi muncuk di wajahnya sendiri.
Bersamaan dengan itu rasa sakit yang parah muncul di tubuhnya.
"Aarrggh!" teriak pria itu, merasa seolah tangan kanannya telah hilang karena sebuah kaki menginjaknya.
Suara retakan tulang patah terus terdengar, bahkan bisa membuat orang yang mendengarnya berpikir bahwa tangan kanan itu akan berubah menjadi sebuah bongkahan daging tanpa tulang pada detik berikutnya.
Pria itu manatap Bastian yang berdiri di dekatnya.
Bastian melirik ke bawah dan mengeluarkan aura membunuh yang dingin dari tatapan matanya.
Jika tadi tembakan itu mengenai bagian yang vital, itu akan berakibat fatal, bahkan Bastian bisa mati.
Kalau saja bukan karena persepsi dan kecepatannya yang telah mencapai tingkat abnormal, Bastian sama sekali tidak bisa menghindari tembakan itu.
Untung saja Bastian tidak berubah menjadi mayat.
Tapi tentu saja itu juga karena Bastian terlalu ceroboh, jika saja dia fokus, pria itu bahkan tidak akan memiliki kesempatan untuk menarik pelatuk.
Tidak ada salahnya juga, Bastian sempat berpikir orang orang itu hanya seorang gangster yang merampok dan memalak orang di jalan. Siapa yang tahu pria itu memiliki pistol di tangannya.
"Siapa kalian berdua sebenarnya!?" Bastian berkata dengan dingin.
"Tidak, tolong, jangan bunuh aku." pria itu gemetar dan berteriak ngeri.
"Kami di bekerja di bawah tuan Brown."
__ADS_1
"Tuan Brown?"
Bastian mengerutkan kening, benda apa itu tuan Brown?
Pria itu sangat gembira saat melihat Bastian berpikir. Dia mengira Bastian terkejut ketika mendengar nama tuan Brown.
Padahal sebenarnya, Bastian sedang memikirkan bahwa dia belum pernah sekalipun mendengar tentang tuan Brown ini.
"Ya, bosku adalah Rampage Brown, dia adalah pemimpin keluarga Brown, kekuatan dan kekuasaannya sangat besar."
Bastian mendengarkan, tapi tetap bersikap dan berpikir secara bijaksana.
Bastian menyadari bahwa dirinya hanya kaya saja sekarang, dia tidak memliki kekuasaan dan kekuatannya hanya sebuah perusahaan game saja.
Masalah hari ini adalah menyadarkan Bastian dan memberikan sedikit peringatan, kekuatan pribadinya memang sangat kuat dan masih akan terus berkembang, tetapi jika ratusan atau ribuan senjata di arahkan kepadanya? Apa yang akan dia lakukan sendirian?
Dia akan di hancurkan dengan mudah tanpa pondasi apapun.
Meskipun hal semacam itu kemungkinan terjadinya sangat rendah, Bastian harus tetap mewaspadainya, karena dia memiliki kekayaan besar yang dapat memicu tindak kejahatan ataupun orang orang serakah yang gila, untung saja dia memiliki sistem yang tidak akan pernah di ungkap keberadaannya, itu akan menjadi rahasia terbesar dalam hidup Bastian.
Tapi, orang orang kaya dan tidak punya kekuasaan seringkali tidak memiliki nasib yang baik. Seperti sebuah kisah dari timur, seorang kaya raya yang di kalahkan dengan kekuatan kekaisaran.
Atau kisah orang barat dalam perang dunia ke dua, di mana orang orang yang pandai dalam bisnis dan sangat kaya raya, tetapi tidak bisa lolos dari pembantaian pasukan nazi yang berkuasa.
'Mungkin sudah waktunya bagiku untuk secara bertahap membangun kekuatanku sendiri.'
Bastian dengan serius menatap pria di kakinya dan menunjukkan senyuman yang membuatnya terlihat menyeramkan.
'Bukankah ini kesempatan bagus?'
Tuan Brown ini sepertinya memiliki banyak kekuatan. Bastian bisa mempertimbangkan untuk mengajak dan menundukkannya. Mungkin dia akan memanfaatkannya suatu saat nanti.
"Hei, kau mau tetap hidup tidak?"
"Mau! Mau!" pria itu mengangguk cepat seperti ayam mematuk makanannya.
"Oke."
__ADS_1
Bastian mengangguk sedikit dan berkata.
"Kalau begitu, antar aku menemui bos mu."