
Setelah menunggu sepuluh menit lagi, Bastian masih tidak menemukan kemunculan Amari.
"Cih." Bastian mencibir. "Dia pikir dia siapa? Hanya sedikit cantik bisa membuat membuatnya merasa hebat? Kau pikir aku penjilat?"
"Ya, karena dia tidak mau menemuiku, aku senang tidak perlu repot repot berbasa basi."
Bastian meneguk kopinya, langsung membayar tagihannya dan pergi. Lalu mengirim pesan kepada wanita itu.
[Ada yang harus aku kerjakan, karena kau sangat sibuk, maka aku pergi dulu.] @ Bastian_Sharga
***
Beberapa puluh meter dari Mooney, seorang gadis cantik berjalan perlahan. Dia adalah teman kencan Bastian hari ini, Amari Miller.
"Hahaha, hanya seorang pemuda miskin dari pedesaan yang ingin melakukan kencan denganku. Benar benar tidak tahu diri! Biarkan dia menunggu lebih lama lagi, lalu baru aku pergi menemuinya, tapi dia cukup tampan. Aku bisa mempertimbangkannya sebagai cadangan dan menunggu jika memang di perlukan." Amari berjalan sambil bergumam dan mencibir.
Keluarganya memiliki aset puluhan juta dollar. Dia juga lulusan dari universitas elit ternama. Apa lagi yang bisa di banggakan dari Bastian selain wajahnya.
Dia mendengar bahwa Bastian adalah karyawan rendahan di sebuah perusahaan game dan tinggal di rumah sewa. Orang seperti ini tidak cocok untuknya.
Tapi, bagaimanapun, Bastian adalah anak dari teman sekolah ibunya dan dia di harapkan untuk bertemu dengan Bastian. Jika tidak, dia akan di anggap tidak menghormati teman ibunya itu.
"Hm? Ada pesan masuk." Dia tersenyum dan melihat ponselnya dan seluruh wajahnya berubah menjadi jelek.
Dia membaca bahwa Bastian mengatakan harus melakukan sesuatu dan pergi. Dia seperti mendengar lelucon yang luar biasa.
"Beraninya orang ini pergi tanpa menungguku? Dia hanya bajingan miskin. Apa kau berpura pura tidak membutuhkan aku!"
Amari tiba tiba menjadi sangat marah dan menghentakkan kakinya. Dia dengan cepat membalas pesan Bastian.
[Hei! Bagaimana bisa kamu meninggalkan janji dan pergi begitu saja? Kamu itu laki laki, bukankah seharusnya kamu lebih sopan dan berhati hati bicara dengan wanita! Aku telah melihat banyak pria sepertimu yang ingin menarik perhatian wanita dengan sok keren dan berpura pura tidak peduli. Apakah kamu menyerah? Apakah kamu pikir kamu menarik?]
Amari tidak sadar diri bahwa dia telah membuat Bastian menunggu lebih dari satu jam dengan sia sia dan nada bicaranya ini dengan seenaknya menuduh dan merasa yang paling benar.
__ADS_1
Saat ini, Bastian baru saja duduk di dalam mobilnya dan tidak bisa berkata kata ketika melihat balasan pesan dari Amari. Dia heran ada wanita super egois yang berpikir bumi tidak akan berputar tanpa dirinya.
Bastian bukan pria penjilat yang rela harga dirinya di injak injak. "Hahaha, tidak masalah. Dia ingin aku menunggu untuk selamanya? Lalu memohon kepadanya? Walaupun kau seperti dewi sekalipun, tidak akan ada pria yang akan menyukaimu. Dasar konyol! Bahkan April jutaan kali lebih baik darinya."
Kesan Bastian tentang Amari yang bahkan belum pernah dia temui sudah sangat buruk dan Bastian terlalu malas untuk berbicara lebih banyak satu sama lain.
Dia menekan informasi profil Amari, membuka setting dan memasukkan nomor ponsel Amari ke blacklist untuk memblokirnya.
Dalam satu sentuhan, kecepatan tangan itu menghilangkan nomor ponsel Amari.
"Pergi dan selamat tinggal!"
Kemudian dia menginjak pedal gasnya. Dia langsung mengendarai mobilnya dan pergi secepat kilat.
Di sisi lain Amari yang masih terus mengirimkan pesan yang menyalahkan Bastian tiba tiba menyadari bahwa pesannya tidak terkirim ke Bastian.
Dia langsung mengerti bahwa dia di blok oleh Bastian.
Amari benar benar marah. Entah di kampus atau di masyarakat, dia selalu menjadi pusat perhatian orang.
Banyak lelaki yang ingin mengejarnya bahkan beberapa bekerja di perusahaan bagus, tetapi hanya sedikit dari mereka yang layak untuk di perhatikan, menurut Amari.
Dia sangat percaya diri dengan latar belakang keluarga dan penampilannya, jadi dia bertekad untuk jual mahal dan sombong kepada pria yang menurutnya tidak layak.
Dalam pemikiran Amari, dia harus menikah dengan keluarga kaya dan berkuasa lalu menjadi bagian dari masyarakat kelas atas di masa depan. Dia akan memandang rendah pria miskin seperti Bastian.
Tapi, dia tidak menyangka bahwa pria yang menurutnya miskin ini bahkan berani memblokir nomor ponselnya. Amari terlalu bangga pada dirinya sendiri dan tidak pernah berkaca.
Saat dia menahan amarahnya, dia mendengar suara mesin yang menderu. Saat menoleh ke samping, dia melihat sebuah mobil klasik sporty berwarna silver lewat tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Rolls-Royce!"
Amari berseru, matanya bersinar dengan rasa kagum dan gembira.
__ADS_1
"Sial, kalau saja aku pergi lebih awal, aku bisa berkenalan dengan orang kaya. Ah, aku melewatkan kesempatan bagus!"
Hatinya diam diam kecewa tanpa henti, tapi kemudian matanya penuh dengan kepercayaan diri dan mantap.
"Aku baru saja melewatkan kesempata. Aku di takdirkan untuk bersama orang kaya seperti itu di masa depan dan pergi jalan jalan dengannya menggunakan Rolls-Royce. Bastian tidak layak untukku. Ini sudah menjadi realita. Aku dan dia sama sekalai tidak berada di level yang sama."
Dia ternyata tidak tahu bahwa Bastian lah pemilik mobil mewah yang lewat tadi.
***
Dengan penuh amarah, Amari kembali ke rumahnya. Sebuah vila kecil di kawasan Dingo.
Ketika dia membuka pintu dengan marah, seorang wanita yang anggun muncul. Dia adalah ibu Amari, Francesca Miller, teman sekolah ibu Bastian di tahun tahun awal mereka.
Francesca agak terkejut. "Apakah kamu tidak jadi pergi kencan? Mengapa kamu kembali begitu cepat?"
"Huh, jangan menyebut orang itu, dia benar benar membuatku kesal." Amari mengeluh tidak puas dan menambahkan bumbu bumbu sinetron pada ceritanya lalu menempatkan semua kesalahan kepada Bastian.
"Ibu, siapa orang yang akan ibu kenalkan padaku, dia tidak sopan!"
"Aah, anak itu memang tidak tahu cara menghargai waktu." Francesca mengeritkan kening. Sebenarnya dia juga tidak setuju dengan perkenalan ini, dia menganggap putrinya sangat berharga.
Meskipun dia juga lahir di pedesaan, dia tidak seperti dulu lagi dan kriteria untuk calon menantunya secara alami sangat tinggi.
Dia setuju putrinya akan di perkenalkan kepada Bastian hanya karena ingin menghormati teman lamanya, tidak mudah untuk menolak dan hatinya juga di penuhi rencana untuk memamerkan situasi keluarganya yang sebenarnya dalam perkenalan ini.
"Tenanglah, anak manis, jangan marah, ibu akan menelpon teman ibu sebentar lagi dan bertanya kepadanya, punya hak apa anaknya tidak menghargai putriku."
Francesca bergegas menghibur Amari, lalu berkata. "Xia tadi kemari, sekarang dia menunggu di kamarmu, kalian berdua sudah lama tidak bertemu kan? Pergilah, temui dia."
"Xia ada di sini?"
Wajah Amari terkejut dengan senang dan dia bergegas ke lantai atas.
__ADS_1