
"Ayah, apa yang ayah bicarakan?" Amy tiba tiba tersipu dan meraih lengan Marcel dan mengguncangnya, tapi sepertinya tidak ada rasa tidak suka dan dia masih sedikit senang.
Bahkan sepasang mata besar yang cerah itu menatap langsung ke Bastian dengan tatapan yang menggoda.
Terlihat sikap murah hati dari budaya timur dan keterbukaan dari budaya barat.
'Wanita ini, apa yang ingin dia lakukan padaku?' Bastian terkejut di dalam hatinya dan akhirnya berkata. "Tentang itu, maaf, aku sudah punya pacar."
".........."
Bastian merasa dejavu, dia sudah mengatakan hal itu baru baru ini. Dan ini bukan dejavu. Nyatanya dalam tiga hari, dua wanita menginginkannya.
"Oh, hal semacam itu sama sekali tidak penting bagiku." Marcel tertawa terbahak bahak. "Bahkan aku punya beberapa anak bukan dari istriku, salah satunya Amy, bukan istriku yang melahirkannya."
Amy juga mengangguk dalam dalam.
"Apa?!"
'Apa apaan keluarga ini?!' Bastian terkejut dan menuangkan segelas wine untuk dirinya sendiri lalu meminumnya untuk menghilangkan perasaan kaget itu.
Melihat reaksi Bastian, Marcel berkata sedikit bercanda tapi juga serius. "Tuan Sharga, meskipun jaman sekarang sedikit orang yang memiliki banyak istri, tapi itu hanya di luarnya saja. Banyak yang memiliki satu istri tapi di luar sana pacarnya banyak, bukan begitu?"
Sikapnya sepertinya tidak di buat buatm dia terlihat serius.
"Aku hanya mencoba untuk berbeda." Bastian menggelengkan kepalanya.
"Sudah, tidak usah di bahas lagi, mari kita lanjutkan minumnya." Marcel sangat jeli dan segera membalikkan topik agar suasana kembali santai dan rileks.
Pada akhirnya, jamuan makan berlalu dengan tenang.
Amy akhirnya mengundang Bastian untuk menikmati waktu di ibukota Adel selama beberapa hari. Dia berencana untuk menemani Bastian berjalan jalan.
Marcel tentu saja setuju hal itu dan berharap kedua muda mudi itu bisa lebih banyak menghabiskan waktu bersama.
Melihat mata Amy yang memohon dan berkaca kaca, Bastian hanya bisa menjanjikan dengan terpaksa, dia sebenarnya masih ingin menolaknya.
"Baguslah." Amy bersorak lalu berkata. "Besok jam delapan pagi, aku kan pergi ke hotelmu untuk menjemput, tunggu saja aku di sana."
Setelah perjamuan, Bastian berpamitan kepada Marcel dan Amy, dia menetap di hotel bintang lima milik Feel Group di ibukota Adel, dia di antar oleh mobil khusus yang di persiapkan oleh Marcel.
Sambil berbaring di tempat tidur, Bastian tidak tahan untuk mengambil cermin di meja dekat tempat tidur dan melihat wajahnya dengan teliti.
__ADS_1
"Apakah aku memang terlalu tampan. Aku tidak bisa menipu diri, ini memang sudah resikonya."
***
Di paviliun Must, Marcel dan Amy tidak terburu buru untuk pergi.
"Ayah, kamu baru saja menjual putrimu!" Amy berkata dengan tidak puas.
"Apa yang kau katakan?" Marcel tersenyum dan berkata. "Apa perlu aku ambilkan cermin untuk menunjukkan ekspresi tergila gila di wajahmu saat kita makan dengan tuan Sharga tadi?"
"Apa? Tidak, itu tidak mungkin, aku---,,," Amy merasa malu dan kesal.
"Baiklah, kalau begitu, aku akan memberitahu tuan Sharga bahwa kamu tidak berminat. Aku akan bilang bahwa aku tadi hanya bercanda dan minta untuk di lupakan saja, oke?" Marcel berkata dengan enteng.
"Jangan!" Amy panik dan tanpa sadar mengatakannya.
Kemudian dia menyadari bahwa Marcel sedang memandangnya dengan wajah mengejek dan langsung mengerti bahwa dia hanya menguji Amy.
"Ayah!"
"Hehehe, oke, dengarkan ayah dan berhentilah membuat masalah." ekspresi Marcel perlahan menjadi serius dan tegas. "Selama bertahun tahun, aku tidak berani mengatakan apakan aku memiliki kemampuan, tetapi ayah sangat yakin dengan kemampuan ayah dalam menilai seseorang. Tapi pemuda itu, ayah tidak bisa menilai dirinya."
Tiba tiba seruan yang dalam muncul di wajahnya. "Tapi satu satunya hal yang pasti adalah bahwa tuan Sharga tidak akan menjadi orang biasa saja di masa depan. Suatu hari nanti ayah yakin dia akan mengejutkan seluruh dunia. Kau tidak akan pernah bertemu orang lain seperti dirinya sepanjang hidupmu, kau mengerti?"
Dia memandang putrinya dengan sungguh sungguh dan melanjutkan. "Ini bukan hanya kesempatan untuk Feel Group, tetapi juga kesempatanmu. Apakah kau bisa memanfaatkan kesempatan yang ada ini, semua tergantung pada usahamu sendiri."
Tapi kemudian wajah Marcel sedikit sedih. "Amy, untuk orang seperti tuan Sharga, walaupun itu bukan keinginannya sendiri. Orang seperti dia pasti akan menarik dan mengumpulkan banyak wanita yang ada di sekitarnya. Terlalu sulit dan mustahil untuk memilikinya sendiri. Jadi, jika kau tidak bisa menjadi orang yang mendampinginya, setidaknya kau bisa mencoba menjadi orang yang dia cintai dan berkesan untuknya, apa kau mengerti?"
Amy menarik nafas dalam dalam, tampak agak lesu tetapi akhirnya mengangguk dengan mantap dan berkata. "Aku mengerti, ayah. Tapi aku akan berusaha keras untuk kebahagiaanku sendiri, dan aku akan menjadikan diriku orang yang paling dia cintai."
***
Jam delapan pagi di hari berikutnya.
Bastian dan Amy sudah siap berangkat, dan pemberhentian pertama mereka adalah Hang Lunge Square.
Di sini, sejumlah toko andalan merek fashion terkenal dunia seperti Hermes, Louis Vuitton, Cartier, Chanel, Dior dan lain lain. Tempat ini di anggap sebagai tempat tujuan belanja mewah terbesar di ibukota Adel.
Kebanyakan orang yang sanggup datang kesini untuk berbelanja adalah orang orang sukse dengan kekuatan ekonomi yang besar.
'Benar juga, para gadis suka berbelanja dan pria yang harus bekerja keras sepanjang hari.' Bastian menggaruk kepalanya dan berkata dalam hatinya.
__ADS_1
Tapi, bagaimanapun, gadis itulah yang mengundangnya untuk jalan jalan, dan Bastian hanya bisa pasrah untuk menemaninya.
Untuk wanita besar seperti Amy yang di lahirkan langsung kaya dan tidak kekurangan barang mewah, jadi dia membeli lebih banyak sesuai dengan yang di inginkannya daripada memandang harga barang.
"Lihat tuan Sharga, boneka ini sangat lucu." Amy berkata dengan penuh semangat.
"Panggil aku Bastian saja, kita seumuran. Dan, ya boneka itu bagus." Bastian melihat sebuah boneka babi di tangan Amy dan mengangguk dengan wajah bingung.
"Wow! Ini juga tidak buruk." Amy mengambil liontin doraemon kecil dengan wajah bahagia.
"Hm? Ya." Bastian mengangguk dengan kaku dan menyatakan setuju.
"Kalau ini?"
"Ya, tapi... mmm, tidak masalah, bagus." Bastian tidak menyangka penampilan Amy yang seksi dan menggoda itu menyembunyikan sisi kekanak kanakannya.
'Tingkah dan penampilannya terlalu kontras.'
Menemani seorang gadis berbelanja, Bastian tentu saja tidak membiarkan Amy mengeluarkan uang dari sakunya sendiri.
Dan apa yang dia beli tidak ada yang mahal, jadi Bastian membayarnya secara langsung.
Amy sangat senang selama itu.
Tapi, walau murah, jumlah barang yang di belinya terlalu banyak, sampai beberapa tas.
Bastian mau tidak mau, sebagai pria sejati, dia bertindak sebagai pembawa tas. Seorang pria membawa enam tas besar yang semuanya berisi barang barang imut seperti boneka. Ada juga bantal besar bergambar anime yang merupakan fetish orang dewasa yang aneh. Dan Bastian sedikit kerepotan.
Dan karena ukurannya yang terlalu besar, tas kemasan yang di berikan oleh tokonya tidak cukup besar, Barang barang itu masih terlihat separuhnya.
Oleh karena itu, Bastian telah menarik perhatian para pengunjung lain di sepanjang jalan dan kebetulan menjadi pria tercantik di sana. Karena membawa barang barang wanita semua. Ketampanannya berubah menjadi kecantikan.
Banyak orang menunjukkan tatapan penuh makna dan beberapa anak muda dengan wajah heran menunjukkan senyum mengejek dan berpikiran yang tidak tidak.
'Sialan! Aku tidak seperti itu! Barang barang ini bukan milikku!' Bastian berseru datar dalam hatinya.
Rasa malu itu membuatnya ingin menggali lubang dalam di tanah dan masuk kedalamnya. Perasaan ini cukup untuk membunuhnya sekarang.
Hatinya tidak bisa menahan jeritan penuh amarah.
'Aku yang tampan ini, tiba tiba di hancurkan oleh barang barang brengsek ini.'
__ADS_1