
"Menarik? Apa yang akan kamu lakukan memangnya?" Amy cukup penasaran dan mengedipkan mata besarnya. "Oke, oke, aku mau."
"Jangan menangis karena takut." Bastian tertawa.
"Menangis? Takut? Menurutmu aku ini apa? Surfing, bungee jumping, panjat tebing, tidak ada yang tidak berani aku lakukan. Aku adalah anggota klub adventure di kampusku dan aku adalah atlet senior di sana."
"Oh ya? Jadi kau hebat juga ternyata." Bastian sedikit terkejut tapi kemudian dia tersenyum perlahan. "Kalau begitu, ini akan mudah bagimu."
Bastian memandang pilotnya itu. "Harry, berhenti 100 meter di atas permukaan."
"Oke bos!"
Harry Smith, pilot Elang Baja adalah seorang warga negara asing paruh baya dengan jenggot lebat. Dia pernah bertugas dia angkatan udara negaranya dan merupakan pilot andalan. Dia mahir dalam mengendarai pesawat dan helikopter. Keterampilan profesionalnya bisa di katakan level tertinggi.
Setelah pensiun dari militer, karena idealisnya, dia tidak pernah menemukan pekerjaan yang cocok dan hidupnya mulai kesulitan sampai dia di pekerjakan sebagai sopir pribadi oleh Bastian dengan bayaran yang tinggi.
Dia sekarang bertanggung jawab untuk menerbangkan Elang Baja dan pesawat pribadi Bastian yang baru di belinya, Jetbus 7000.
Meski bertanya tanya apa yang akan di lakukan Bastian, sebagai mantan militer, Harry sudah terbiasa mematuhi perintah.
Dia juga tidak menanyakan alasannya. Dia langsung menurunkan helikopter di ketinggian 100 meter di atas pantai berpasir putih di Blossom island itu dan kemudian menstabilkan posisinya.
Bastian membuka pintu samping helikopter dan melihat ke bawah.
Deru helikopter melolong di telinganya dan angin bertiup dari palka yang terbuka.
Terlihat di bawah sana, pantai yang luas itu terlihat hanya seukuran semangka. Orang biasa yang melihat pada posisi itu pasti akan ketakutan di dalam hati mereka.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" Amy sangat penasaran, dan datang ke samping Bastian lalu melihat ke bawah.
Bastian berkata sambil tersenyum. "Tentu saja aku ingin melompat ke sana."
"Apakah kamu akan terjun payung? Tapi ketinggian ini tidak cukup bukan?" Amy sedikit mengerutkan kening dan bertanya tanya. "Bukankah terjun payung setidaknya harus sekitar 300 meter? Pada ketinggian ini bahkan kamu tidak akan sempat membuka parasut ketika sampai tanah."
"Siapa yang bilang pakai parasut?" Bastian berkata sambil melirik Amy.
"Hm? Tidak pakai parasut? Apa kau ingin memberitahuku bahwa kau bisa melompat dari sini tanpa parasut?" Amy berkata sambil bercanda.
"Pintar sekali. Tebakanmu benar."
Saat ini, Bastian tiba tiba meraih lengan Amy dan melompat keluar dari Elang Baja.
"Apa! Bos!!!" Harry di kursi pilot benar benar tercengang.
Dia baru saja melihat bosnya melompat dari helikopter bersama seorang gadis tanpa parasut.
__ADS_1
"Sial! Tingginya 100 meter. Bahkan walau ada air di bawah sana, dengan benturan seperti itu, dia akan mati. Aku belum lama bekerja, masa iya aku harus menganggur lagi?"
***
"Aaaaaaaaaahhhhhhh!!!!" Amy langsung berteriak, suaranya benar benar panjang.
Angin kencang menderu di telinganya, udara bertiup di wajahnya seperti sayatan pisau dan tekanan yang di sebabkan oleh kejadian ini merangsang otaknya dengan menggila dan memberi peringatan pada tubuhnya.
"Kamu gila ya! Kita akan mati!"
Keberanian Amy memang lebih besar daripada gadis gadis biasa. Orang biasa pasti bahkan sudah pingsan dalam keadaan yang tidak terduga ini, tapi Amy masih mampu berbicara.
"Hahaha! Bukankah kau bilang kau tidak akan takut?" Bastian tidak khawatir sama sekali dan tertawa keras.
Saat ini, kecepatan pendaratan mereka semakin cepat, wajah Amy menjadi pucat dan jantungnya berdebar debar.
Di saat kematian yang semakin dekat, waktu tampaknya sedikit di perpanjang dan otaknya hampir sepenuhnya berhenti.
'Apakah ini akhir hidupku?' Otak Amy kosong dan dia tanpa sadar memeluk Bastian dan merasakan detak jantung Bastian serta dadanya yang lebar dan kuat.
Entah kenapa, dia tiba tiba merasa tenang, hanya karena seorang pria di sisinya, bahkan saat menghadapi kematian, dia tampaknya tidak terlalu takut.
'Kematian ini cukup romantis dan dengan orang yang aku sukai.'
Tapi apa yang di pikirkan Bastian sekarang adalah sebuah rumus gravitasi.
'Yah, kemungkinan dalam waktu kurang lebih 4 detik kami mendarat, Aku benar benar... Apaan sih? Ngapain juga aku menghitungnya?'
Jarak 100 meter cepat berlalu. Jika di lihat secara langsung, bahkan kejadian itu hanya berlangsung beberapa detik saja tanpa jeda.
Mata Amy tertutup rapat, menunggu benturan dan kematian yang akan datang.
Bastian juga telah menyerap semua energi tenaga dalamnya dari seluruh tubuh dan kemudian di pusatkan ke dalam kakinya.
Mereka jatuh ke tanah.
Harry melihat ke bawah saat ini dengan wajah bingung dan terkejut, lalu kemudian dia melihat pemandangan yang tidak akan pernah dia lupakan dalam hidupnya.
Telapak kaki Bastian bersentuhan dengan tanah dan kekuatan yang tak terlihat menyebar dari telapak kakinya, energi itu menyebar seperti air yang mengalir.
BOOM!
Terdengar seperti suara ledakan, berpusat di telapak kaki Bastian dan butiran pasir dalam radius puluhan meter tiba tiba menyeruak ke udara, memicu gelombang di hamparan pasir itu.
Pada akhirnya, kaki Bastian tenggelam ke dalam pasir sampai sebatas lutut dan dampak benturan gravitasi itu telah sepenuhnya di serap oleh energinya.
__ADS_1
Pasir pantai di sekelilingnya menjadi berantakan, seolah terkena meteor kecil.
"Astaga!" Mata Harry melebar. "Mereka benar benar melompat dari ketinggian 100 meter tanpa perlindungan dan tidak terluka. Apakah bos superman? Malaikat? Atau iblis?"
Satu yang ada di pikirannya sekarang.
'Bos macam apa dia itu?' Harry berseru dalam hati dengan pikiran yang tidak bisa di terimanya sendiri.
***
"Eh?" Amy hanya merasakan sedikit guncangan di tubuhnya dan kemudian tekanannya juga menghilang.
Dia tiba tiba membuka matanya dan melihat Bastian tersenyum di sudut bibirnya.
"Bagaimana rasanya tadi? Apakah itu cukup menarik?"
"Apakah ini di surga?" Amy melihat sekeliling dengan ragu dan wajah bingung.
Jatuh dari ketinggian 100 meter pasti sudah mati. Lingkungan di sekitarnya juga cukup indah, dia pikir dia di surga.
"Surga kepalamu itu. Kita masih hidup." Bastian sedikit tertegun lalu tersenyum tak berdaya dan menepuk kepala Amy.
"Ini---,,, Apakah benar kita masih hidup?" Amy melihat sekeliling.
Akhirnya dia tersadar dan kemudian melihat sekeliling mereka. Seolah olah area itu telah di bombardir oleh meteor dengan cekungan besar.
"Bastian, apakah kamu superman atau apa?" Setelah beberapa saat, Amy akhirnya menyadari bahwa Bastian adalah seorang ahli bela diri. Setelah terkejut sebentar, dia mulai terlalu bersemangat untuk menanyakan segala macam pertanyaan di sekitarnya.
"Wow, Bastian, apakah kamu pernah belajar bela diri dan mengasingkan diri di gunung sebelumnya?"
"Ya, kata guruku, jika aku tidak berhasil aku tidak akan di ijinkan untuk turun gunung. Tapi kau lihat kan, sekarang aku di sini."
"Wow! Apakah kamu punya kakak atau adik seperguruan?"
"Ya. Ada beberapa."
"Waaah! Kamu sangat kuat. Bisakan kamu mengajariku?"
"Tidak. Kau tidak akan bisa." Bastian mengangkat bahu. "Hanya pria yang bisa mempelajari ilmu ini."
Meski sedikit kecewa, Amy tetap bersemangat. Dia tidak menyangka bahwa ahli bela diri legendaris benar benar ada.
"Ingat, jangan memberi tahu orang lain tentang hal ini begitu saja. Perguruan kami memiliki aturan yang ketat. Jika berita ini bocor, aku akan di bunuh begitu pula yang menyebarkannya." Bastian asal bicara tidak masuk akal dan memperingatkan Amy.
"Jangan khawatir, aku tidak akan pernah menceritakannya." Amy berjanji untuk menyimpan rahasia itu.
__ADS_1
Melihat penampilan Amy yang sangat polos itu, Bastian menghela nafas dan berkata di dalam hati. 'Dasar gadis bodoh, mudah sekali di tipu tanpa curiga.'