
Matahari terbenam perlahan di arah barat, menghiasi seluruh kota dengan sedikit rona merah dan akhirnya malam pun tiba.
Di jalan komersial yang ramai dengan kerumunan yang melonjak, tidak jauh dari Bright Moon Riverside. Di depan sebuah supermarket besar, mobil berwarna silver yang mewah dan menawan itu perlahan melambat dan berhenti.
Sopir dengan sigap membuka pintu mobil itu untuk Bastian.
Bastian akan membeli sesuatu di sini. Setelah turun dari mobil, dia berpikir sejenak dan berkata.
"Waktunya sudah dekat. Aku akan langsung kesana nanti."
Setelah membeli barang dari supermarket, Bastian berjalan kaki menuju Bright Moon Riverside, yang tidak jauh dari supermarket itu.
"Bastian!"
"Hm?"
Bastian menoleh untuk melihat, sebuah mercedes hitam datang perlahan di sampingnya, dan kemudian berhenti.
"Yo! Ini benar kamu?"
Jendela perlahan di turunkan dan memperlihatkan wajah seorang pemuda.
'Radzi Chin?' Mata Bastian sedikit menyipit, dia tidak menyangka akan bertemu dengannya di sini.
"Lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu tahun tahun ini?"
Radzi menyandarkan tangannya ke pintu mobil dan berkata dengan santai.
"Biasa." melihat sikap itu bahkan jenis mobil itu, Bastian hanya menjawab dengan singkat.
TInggal di vila senilai satu milyar dollar dan mengendarai mobil seharga 98 juta dollar, hidup ini sangat sederhana dan membosankan.
"Eh? Kau datang naik taksi atau bus?" Radzi melihat Bastian sedang berjalan kaki, jadi matanya menatap Bastian dari atas ke bawah menunjukkan ekspresi sarkastik.
Bastian memakai pakaian biasa hari ini. Baginya sebuah reuni tidak perlu berdandan terlalu mencolok.
Tapi jelas beberapa orang tidak berpikir seperti itu.
Radzi menepuk mobilnya dan sangat gembira.
"Mercedes S450 baru, harganya satu juta dollar, tidak mahal, tetapi jika kau ingin membelinya, kau mungkin harus menabung selama bertahun tahun."
Bastian ingin tertawa. Jika orang ini tahu bahwa dia datang dengan mobil senilai 98 juta dollar, Bastian tidak tahu bagaimana dia akan bereaksi.
"O iya." Radzi tiba tiba menunjukkan senyum aneh di wajahnya, lalu berkata ke dalam mobil.
"Ketika kau melihat teman lama, apa kau tidak ingin menyapanya?"
"Bastian, apakah kau masih mengenalnya?"
Jendela mobil itu terbuka sedikit lebih lebar, memperlihatkan sosok seorang wanita di kursi penumpang.
Pupil mata berwarna hazel, alis runcing melengkung, bulu mata panjang, kulit putih terbuka tanpa cela, dan bibir tipis sehalus kelopak mawar.
Memakai jeans sederhana dan kaos kuning menunjukkan sosok yang mempesona secara jelas dan tajam.
"Hai Bastian, lama tidak bertemu." kata gadis itu tapi dengan ekspresi yajah yang sangat dingin.
"Aksana Raudon?"
Mata Bastian menyipit dan alisnya mengerut.
Aksana dulunya adalah gadis yang sempat dia kejar dan menjadi pacar Bastian selama kuliah, tetapi kemudian mereka putus karena beberapa hal dan perselisihan pribadi.
Radzi tidak mungkin tidak mengetahui hal ini, dan semua orang di kelas tahu bahwa dia yang menyukai Aksana dan pernah sempat di tolak.
__ADS_1
'Kenapa dia ada di mobil Radzi?'
"Aksa, lama tidak bertemu." Bastian berkata dengan tenang, bagaimanapun juga, di antara keduanya pernah ada perasaan.
"Aah, aku lupa bilang bahwa Aksana sekarang adalah pacarku."
Radzi menatap Bastian seperti menantang.
'Eh? Terus memangnya kenapa? Lagi pula dia bukan wanitaku.'
Bastian bertanya dalam hati, Bastian memang yang paling tampan pada masa itu, tapi bagaimana dengan sekarang? Lebih, hanya berdiri diam saja dia tetap tampan.
Apalagi dalam masyarakat ini, semua bergantung pada uang. Ketampanan Bastian bukan bantuan dari sistem, dan sekarang dia punya uang, buat apa orang ini membanggakan dirinya kalau dia punya pacar.
Meskipun begitu, Bastian masih mengangguk dan sedikit tertawa.
"Oh begitu, selamat untuk kalian."
Bastian putus dengan Aksana sudah bertahun tahun yang lalu dan sekarang dia jelas tidak memiliki perasaan apapun, dan hanya teman biasa. Radzi ingin mempermalukan dan memancingnya dengan cara ini.
Dalam pandangan Bastian, itu adalah hal ke kanak kanakan dan bodoh.
Sekarang tentu saja hal seperti itu hanyalah masalah sepele yang tidak penting untuk di bahas.
Raut wajah Radzi sedikit berubah.
"Hmm?"
Ini tidak sama dengan naskah yang dia harapkan. Bukankah seharusnya Bastian marah karena Radzi membawa mantan pacarnya dengan mobil mewah lalu Bastian kan mempermalukan dirinya sendiri.
Hanya cara itu dia bisa merasa senang bisa menginjak Bastian sepenuhnya, yang telah menekan kepalanya di masa lalu.
Radzi berniat membuat Bastian tidak nyaman tetapi kenyataannya adalah Bastian bereaksi biasa saja.
'Dia pasti berpura pura tenang!'
Aksana mengambil inisiatif untuk memeluk lengan Radzi saat ini, terlihat seperti gadis lugu dengan sikap imut lalu menatap Bastian dan berkata dengan serius.
"Ya untungnya kau mengajak aku putus lebih awal, kalau tidak, bagaimana aku bisa punya kesempatan bersama Radzi? Aku harusnya berterima kasih padamu."
Kesombongan dan ejekan dalam nada itu melampaui kata kata dan di nyatakan dengan lugas.
Wajah Radzi sedikit tenang dan dengan nyaman merangkul Aksana lalu berkata menggoda.
"Bastian, apa kau mau naik mobil bersama kami?"
Sebelum Bastian bisa berbicara, Aksana berkata dengan suara yang menawan.
"Rad, apa kamu lupa? Kita masih harus menjemput beberapa teman sekelas di persimpangan depan. Bukankah mereka bilang ingin menumpang mobilmu?"
"Ah, iya, maaf Bastian." Radzi pura pura menyesal dan menatap Bastian.
"Sebaiknya kau berjalan saja."
"Eh?"
Bastian menghela nafas panjang, mendekatkan wajah ke telinga Radzi dan berkata dengan sangat pelan.
"Radzi Chin, jangan bermain main dengan kematian. Jika kau tidak mati nanti, sebaiknya kau bunuh diri."
Matanya berubah dingin, dan menatap Radzi dengan tajam seolah melihat semut.
Radzi berulang kali memprovokasinya, dia sedang di tepi jurang.
Mata Radzi bertemu dengan mata dingin itu, dia benar benar merasakan tubuhnya kaku, bahkan tidak bisa berkata kata.
__ADS_1
Dia seperti menghadapi iblis yang siap mencabut nyawanya.
Secara naluri tubuhnya bergetar.
"Aku harap kau akan mengingat kata kataku di kehidupan masa mendatang."
Kemudian, Bastian menatap Aksana secara mendalam.
"Kau juga, jaga dirimu baik baik."
Setelah berkata seperti itu, Bastian mengabaikan mereka berdua dan berjalan menjauh.
"Bunuh diri?" Radzi perlahan tersadar, dia malu dengan penampilan barusan, wajahnya hampir pucat hingga meneteskan keringat dingin.
'Sekarang bukan jaman kuliah! Mengapa harus takut padanya?! Sialan!'
Dia memukul kemudi.
"Sungguh brengsek! Apa menurutmu dia adalah Bastian yang sama?"
"Ya, jangan marah, dia tetap orang biasa." Aksana menatap kepergian Bastian dengan sedikit ngeri.
Beberapa tahun sudah cukup untuk mengubah seseorang. Di bandingkan dengan masa lalu, Aksana telah mengalami perubahan yang luar biasa. Sekarang dia sombong dan serakah, percaya bahwa uang adalah segalanya.
Bisakah cinta di makan? Tidak! Dia lebih memilih menangis di mobil mewah daripada tertawa di atas sepeda.
Tapi, mata Bastian barusan membuatnya merasa sedikit gelisah. Dia tampak berbeda dari yang dulu.
'Tidak, ini pasti ilusi, Bastian hanyalah pemuda malang dengan latar belakang keluarga biasa, bagaimana aku bisa merasa ketakutan? Hanya dengan mengikuti Radzi, aku bisa menjalani kehidupan yang lebih baik.'
Aksana mempertegas hatinya sendiri.
'Pilihanku tidak mungkin salah!'
***
'Kenapa mereka sangat merepotkan?'
Bastian menggelengkan kepalanya dan wajahnya menunjukkan penyesalan. Meski dia tidak perduli dengan semut, bukan berarti dia akan membiarkan semut menggigit kakinya.
Bastian mengeluarkan ponselnya dan memutar kontak Yoko.
[Hei Bastian! Aku sudah lama tidak melihatmu, aku merindukanmu, kawan!] Kata kata Yoko yang hangat terdengar dari ponselnya.
[Apa yang bisa aku lakukan untukmu kali ini?]
"Kali ini aku ingin meminta bantuanmu." Bastian berkata terus terang.
[Apapun itu, katakan saja!] Yoko di sana menepuk dada dan berkata.
[Kau itu saudaraku, aku akan melakukannya dengan baik untukmu dengan sepenuh hati.]
"Dawn Entertainment Company itu milik Yuna Group, kan? Ada seseorang bernama Radzi Chin di sana. Dia sepertinya seorang eksekutif. Pecat dia dan pastikan jangan sampai ada perusahaan di Sidni yang akan menerimanya bekerja."
"Aku berhutang budi padamu, oke?"
[Ini...] Yoko ragu ragu.
Dawn Entertainment Company merupakan industri yang sangat penting di bawah Zuna Group. Apalagi dia bukan ketua Zuna Group. Dia hanyalah anak haram ayahnya. Dan sangat merepotkan untuk menendang eksekutif senior tanpa alasan.
Tetapi dia tiba tiba teringat bahwa setelah pelelangan, dia mengingat perkataan ayahnya dan juga ayahnya memberikan banyak perusahaan kepadanya.
'Perasaan Bastian sepertinya tidak begitu baik. Jika aku ragu saat ini dan lagi berani membuat janji, mungkin aku akan meninggalkan kesan buruk kepada Bastian.'
Yoko mengeratkan giginya diam diam seolah giginya bisa patah.
__ADS_1
[Oke oke, tidak masalah. Serahkan padaku! Kami Zuna Group masih memiliki kuasa. Aku tidak akan mengecewakanmu. Aku pastikan tidak ada perusahaan di kota ini yang berani memperkerjakannya lagi.]