
Al merasa lega melihat kondisi sang ibu walaupun masih belum sadar, setidaknya ibunya operasi berjalan lancar dan sudah melewati masa kritisnya. Al merasa kantuknya sangat menyerang ia menyenderkan tubuh nya di sofa tempat sang ibu dirawat tak lama ia sudah berada di alam mimpi.
Matahari terbit dari ufuk timur menandakan pagi telah tiba, Alan membuka gorden di ruangan menyebabkan cahaya mampu masuk dan membuat Al tergantung dan akhirnya bangun .
"Oaaaahh sudah pagi, cepat sekali pagi nya perasaan baru saja tidur" ucap Al dalam hati sambil merenggangkan tubuhnya yg terasa pegal dan remuk akibat tidur duduk.
Al berdiri dan berjalan mendekat ke tempat tidur sang ibu. Ibunya sudah siuman. Al mulai berkaca kaca karena melihat ibunya bisa bangun.
"Syukur lah ibu sudah siuman" ucap Al
ibu membelai rambut sang anak.
"Maafkan ibu ya nak, karena ibu kamu harus terpontang panteng kesana kemari" ucap sang ibu
"Tidak Bu jangan berfikir seperti itu, aku ikhlas melakukan ini, ini tugas ku sebagai anak ibu, ibu jangan bicara seperti itu" ucap Al tulus.
__ADS_1
"Kamu dapat biaya segini banyak nya dari mana nak?" tanya sang ibu .
"Ee itu. . ." ucap Al terpotong karena merasa lidahnya keluh untuk menjawab pertanyaan sang ibu.
"itu apa nak?" tanya sang ibu
"Al pinjam dari atasan Al buk" ucap Al dg lesu.
"Alhamdulillah kalau atasan kamu baik nak, ibu harus bertemu dg nya dan bilang terimakasih" ucap Bu Ratna . Al hanya membalas anggukan dan senyuman perkataan sang ibu.
"Al kamu kenapa menangis?" tanya Ratna
"ini air mata bahagia Bu, karena ibu sudah sembuh, dan kita akan berkumpul kembali" ucap Al berbohong.
"Apa kau tahu dimana ayahmu berada?" tanya sang ibu
__ADS_1
"Ibu sekarang bukan waktunya memikirkan pria brengsek itu, ini waktunya kesembuhan ibu, agar segera sembuh dan kita bisa pulang" ucap Al merasa jengah dg sang ibu yg terus memikirkan suaminya .
"Al jangan menyebut nya dg sebutan itu, bagaimana pun ia tetap ayahmu , ia yg mengukir jiwa raga mu, sampai kpn pun tak ada namanya mantan Ayah" ucap sang ibu .
"Bu tetapi ayah tak pernah memikirkan kita Bu, ayah apa pernah memikirkan kita sudah makan belom tidur dimana ia tak akan memikirkan semua itu, yg ada difikiran ayah hanya dunia malam nya" ucap Al langsung berdiri dan meninggalkan ruangan sang ibu .
"Alan jaga ibu kakak mau pulang bersih bersih " ucap Al.
Al segera memesan taksi online , tak nunggu lama taksi datang.
"Ke jalan anggrek nomer 22 ya pak" ucap Al .
" baik MB " ucap sopir , taksi langsung melesat menjauh i rumah sakit menuju rumah Al , Al masih merasa kesal dg sang ibu , selalu tak hentinya memikirkan sang ayah, padahal ayah Al selalu menghabiskan uang untuk berjudi mabuk mabukan , bahkan ia juga pecandu narkoba bahkan sampai mengedarkan. Al merasa ayahnya sangat tak sayang kepada keluarga kecilnya , ia pernah menjual rumahnya yg dulu hanya untuk berjudi, Al ,ibu nya dan adiknya lontang Lantung bingung mencari tempat tinggal. Sampai ia menemukan rumah yg sekarang ia tempat i, walaupun rumah nya kecil tapi setidaknya keluarga kecilnya tidak kepanasan dan kehujanan dg itu Al merasa sangat bersyukur.
Bersambung. . .
__ADS_1