
Ares merasa kesal mengingat beberapa kolega memuji kencatikan Al . Entah kenapa ia merasa tak suka.
"Kenapa aku merasa tidak suka jika Al banyak yg memuji, perasaan apa ini? Ah mungkin itu yg harus aku lakukan karena emang aku suaminya wajar kalau merasa kesal" ucap nya dalam hati .
" Kaaak aresss" teriak Ara dan langsung menghambur ke pelukan Ares .
"Ara jangan seperti itu" ucap Ares seraya melepaskan pelukan tetapi sangatlah sulit Ara memeluk nya dg erat.
"Kak aku kangen Kaka, tadi aku udah nyari kemana mana tapi gak ketemu, eh ternyata kakak disini" ucap Ara dg wajah di imut imut kan, membuat Ares merasa risih.
"Halo kak kita bertemu lagi" imbuh Ara .
"Ah iya, gimana kabarmu"
"Kabarku baik kak, kakak cantik sekali"
"Kamu juga sangat cantik" ucap Al menambah ke pedean Ara .
"Emang gue cantik dan tak ada yg boleh miliki kak Ares selain aku" ucap Ara dalam hati.
__ADS_1
"Kak Ares apa kakak menerima perjodohan kita?"
Perkataan Ara membuat nya tercengang, karena papa nya tidak membicarakan ini kepada nya. Al pun ikut terkejut, bagaimana pun ia sekarang adalah istri Ares jika Ares bertunangan Al akan ditinggal kan entah kenapa Al merasa gelisah.
"Sejak kpn ada perjodohan? Aku tidak ingin dijodohkan dg siapapun"
"Tadi malam papa juga bilang sama aku kak kalau kita akan dijodohkan "
"Sampai kapanpun aku tidak akan menerima perjodohan itu"
"Kenapa kak?" tanya Ara dg raut wajah sedih campur kesal.
"Karena aku sudah menganggap mu sebagai adikku sejak dulu" jawaban Ares membuat Ara mengepalkan tangannya, pemandangan itupun tak luput dari penglihatan Al .
"Tidak ada sama sekali, jangan memaksaku, atau ku hancurkan bisnis keluarga mu" ucap Ares seraya menarik tangan Al dan menjauh dari Ara.
Hal tersebut membuat Ara naik pitam.
"Heh! Lihat saja Kak Ares , apa yg akan aku lakukan kepadamu, sampai kpnpun aku akan tetap merebut mu dari j*l*ng sialan itu" gumam Ara .
__ADS_1
Ares memilih tempat agak sepi, ia duduk berdua dg Al .
"Ini lah kenapa aku gak suka jika harus ke mansion" ucap Ares dan Al langsung menoleh menghadap Ares .
"Kenapa?"
"Semua apapun keputusan papa harus aku penuhi tanpa memikirkan perasaanku, aku sangat benci situasi ini, dan di samping papa itu bukan ibu kandung ku, aku juga sangat membencinya" ucap nya Al melihat guratan kesel , emosi dan sedih menjadi satu, itulah yg di rasakan Ares selama ini dan memendamnya sendiri.
"Dari kecil aku dituntut sempurna harus sempurna, dari segi akademik nilaiku harus paling tinggi, setiap hariku hanya ku habiskan untuk belajar belajar dan belajar, padahal aku juga ingin seperti anak lain seumuran ku, yg bisa bermain dg teman teman nya"
"Tanpa mereka tau aku sempet depresi dan harus bolak balik ke psikolog, aku tidak bisa cerita karena takut ini akan membuat papa semakin menuntut ku, aku diam dan mengonsumsi obatku sendiri ketika merasa gelisah"
"Sekarang aku sudah bisa bangun kantor sendiri dari nol , berharap papa tidak mencampuri urusanku, tetapi tetap sama saja, selalu ikut campur"
Al meras iba yg ia lihat Ares sangat lah tegas dan berwibawa tanpa ia tahu ternyata hatinya sangatlah rapuh, bergelimang harta tidak menjamin bahagia ya ges ya, itu yg di ambil dari cerita Ares barusan.
"Maaf aku malah curhat begini, lupakan saja, jangan kasihan i aku, anggap saja aku hanya berbicara agar plong saja"
"Heem" jawab Al sembari mengangguk.
__ADS_1
"Sudah malam ayo kita pulang" ucap Ares dan langsung menggandeng tangan Al .
Bersambung