
Dihalaman rumah milik Zain, Aiden menyandarkan dirinya ditaman sesekali dia menghembuskan nafasnya berat. dibawah ribuan bintang di langit dia mendongak keatas mencari bintang paling terang diatas sana
Jen aku sudah hidup dengan baik disini, kau bahagiakan disana? Kau tahu ada seorang gadis sangat mirip dengan mu dia selalu membuatku sakit kepala, setiap kali melihatnya aku merindukan mu. Dia adik bosku, dia juga telah menyelamatkan hari itu. Hari ini dia menikah aku senang dia terlihat bahagia, tapi ada sesak didadaku Jen. ? Aku tau kau mengerti yang ku maksud.
Zain yang sejak tadi melihat Aiden dengan tergesah-gesah mendekati pria jakun itu.
"Kau masih seperti ini Aiden?" Bentak Zain, sejak di pernikahan Alea pria itu terus meneteskan air mata.
"Alea tidak akan meninggalkan negeri ini, dia akan tinggal beberapa meter dari rumahku" Ucap Zain sedikit emosi
"Maaf tuan saya hanya bahagia melihat nona Alea akhirnya..." Aiden tidak bisa meneruskan lagi ucapannya dia mendongak keatas menahan agar air matanya tak lagi tumpah
Zain menghembuskan nafasnya kasarr, ingin rasanya dia mencekik leher sekertaris botaknya itu, bahkan pria dengan tinggi 189cm itu mencukur habis rambutnya apa dia sedang pata hati?
"Aiden katakan padaku! Apa kau menyukai Alea?" Aiden
yang mendengar pertanyaan Zain mengangkat wajahnya hingga wajah mereka sejajar.
"Kau benar Zain, aku menyukainya."
"Tuaaaaan... Bagaimana anda bisa berfikri sepeerti itu? Nona Alea sudah saya anggap adik sendiri" Tegas Aiden,
Zain diam seribu bahasa ada apa dengan pria botak ini? Sudah berani membentaknya dimana salah Zain ? Dia kan hanya bertanya.
"Aaaa... Aku hanya bertanya Aiden, hentikan tangisan mu itu! kau ini bertato tapi menangis. Untung saja hanya aku disini bagaimana jika bawahanmu lihat jatuh lah harga dirimu Aiden" Jelas Zain, namun itu tidak mengubah apa-apa, sekertarisnya itu kian memanas ini seperti luka ditaburi garam.
"Tuan Zain, pria bertato juga punya air mata." Ucap Aiden seraya meninggalkan Zain.
Zain menyeritkan alisanya dimana lagi letak kesalahannya ini? Apa jangan-jangan dia datang bulan? Istrinya jika datang bulan suka marah tidak jelas. Tapi kan Aiden laki-laki mana mungkin dia mengalaminya juga.
"By Apa kau mengganggu Aiden lagi? Tanya Dewi, dia sudah berkacak pinggang saat melihat Zain yang baru masuk.
"Aku tidak melakukan apa-apa. Kenapa dia melapor padamu?"
"Jadi kau benar menganggunya By? Kau tahu dia sangat menyayangi Alea seperti adiknya, seharusnya kau menghiburnya"
__ADS_1
Zain menutup matanya pasrah ada apa dengan hari ini ? semua yang dia lakukan dan ucapkan pasti salah. Diam dan mengakui kesalahan adalah jalan ninja Zain, melawan Nyonya nya tidak akan memmbuatnya mengibarkan bendera kemenangan.
*
*
*
Alea mengerjab kan matanya, batapa kagetnya saat dia bangun melihat seorang pria bertelanjang dada disampingnya sedang tertidur pulas, tidak berlangsung lama dia sadar saat ini dia sudah menikah. Bibirnya menapakkan senyum, ingatannya kembali mengingat kegiatan panas pennuh gairah tadi malam dia lakukan bersama suaminya.
Sangat hati-hati Alea turun dari tempat tidur perlahan dia melangkah ke kamar mandi entah kenapa bagian intimnya terasa perih . Cukup lama Alea berendam hingga ia tidak sadar Rapael sudah berdiri disinya.
"Aaaapa yang kamu lakukan disini Rapael?" Tanya Alea, tangan kecilnya menyilang tepat didepan dadanya
"Apa yang kamu tutupi tidak lihat tanda merah itu? aku sudah melihatnya bahkan merasakannya" Goda Rapael membuat Alea tertunduk malu. Entah sejak kapan pria jakung dengan kulit putih itu sudah berada di buthup
"Ihhh Rap..."
Cup... satu ciuman Mendarat di bibir mungil Alea, awalnya hanya kecupan lama kelamaan Rapael memperdalam ciumannya. Tidak jangan lagi, Alea segera melepaskan pagutann itu jika tidak pergulatan panas dipagi hari pasti tidak terhindar. Nafas Rapael memburu matanya perlhan dia buka, satu senyum mengambang diwajahnya, betapa dia mencintai istrinya.
"Panggil aku sayang, jangan Rapael aku tidak suka." Tegas Rapael
"Tidak ada nego, atau aku..." Rapael menggantung ucapnnya, dia semakin mengunci Alea "Aku akan melakukkannya disini!" Mendengar ucapan Rapael Alea membulatkan matanya, yang benar saja disini apa dia waras? Pikirnya.
"Baiklah... Sayang" Ucap Alea sedikit berbisik.
"Aku tidak mendengarnya..."
"Baik Sayang" ulang Alea, kini suaranya lebih lantang, Rapael tersenyum dia memutar tubuh istrinya agar membelakangi, tangan kekarnya memeluk pinggang Alea dibawah sana.
"Sayang... "
"Hemm"
"Hemm... Apa kau tidak keberatan jika kita langsung memiliki Baby?" Ucap Rapael.
__ADS_1
"Tentu, bahkan aku tidak menundanya" Ucap Alea yakin. Demi apapun Rapael sangat bahagia mendengar penuturan istrinya, rasanya dia sudah berada diatas angan.
"Terima kasih sayang" Ucap Rapael mengeratkan pelukannya. Saat ini kebahagiaannya tak bisa diukur dengan apapun lagi.
"Sebahagia itukah dirimu ? Aku Pikir kamu akan menyuruhku menundanya karena saat ini, bukannya karir mu di puncak-puncaknya" Ucap Alea membalikkan badannya.
"Sayang...! Aku tidak perduli dengan itu, toh kalau aku pupularitasku jatuh aku masih bisa membiayaimu dan anak-anak kita nanti" Ucap Rapael, Alea hanya menatpnya tidka mengerti
"Hey suami juga CEO apa kamu lupa?"
"Heheh... Aku ingatnya kamu hanya seorang model" Ucap Alea megelus lembut pipi suaminya.
Bersambung....
***aku mau berterima kasih ke kalian yang sudah mampir di karya aku.. maaf kalau banyak kekurangan.. semoga saran kalian bisa membuat aku lebih baikbkedepannya*
*PLEASE JANGAN LUPA VOTE AKU YA BERAPAPUN ITU AKU BERTERIMAKASIH🥰*
satu lagi jejak 👍 ❤**
Zain
Dewi
Aiden
Alea
__ADS_1
Rapael