
"bu Anna apa yang ibu lakukan?" Dewi sadar perlakuan ibu anna kepadanya terlalu berlebihan dan mengundang tanya. ditamba Erika yang entah datang dari mana langsung membukukkan badannya.
"Erika kenapa ikut-ikutan sih?" pak Surya keluar menemui Dewi dia juga tampak heran ada apa dengan mereka berdua?
"Dewi kenapa tidak pakai seragammu ? Ini pertama saya lihat kamu terlmbat. " bu Anna memberikan kode pak Surya dengan mengedip-ngedipkan matanya
"Kenapa dengam matamu Anna? Kau sakit mata? Sana ke dokter jangan sampai kamu menulari kami semua"
Surya kau kenapa bodoh sekali? Begitu saja tidak paham, dia istri tuan Zain pemilik bangun ini
Baru saja pak surya ingin meninggalkan mereka tapi Dewi menghentikannya. "pak saya mau bicara"
#
"Sebenarnya sangat berat saya mengiyakan keinginan mu Dewi, melihat hampir semua pelanggang VIP hanya ingin dilayani olehmu, siapa yang akan menggantikanmu nanti?"
"Disini banyak anak-anak ko pak, ada bu Anna, Erika, Lia juga anak-anak lainnya pak"
"Ini gaji kamu bulan ini Dewi, disitu juga saya slipkan bonus karena kinerjamu sangat bagus"
"Pak ini terllau banyak lagi pula ini tidak sampai akhir bulan saya bekerja disini."
"Ambillah saya sengaja bayar full, itu ucapan terima kasih saya kamu karyawan terbaik saya"
"Terima kasih banyak pak."
Setelah itu Dewi pamit dia melangkah keluar semua pegawai sudah menunggunya. Mereka tahu jika saat ini temamnya itu mengundurkan diri, tentu info ini dari dua penguping handal entah sejak kapan Erika dan ibu Anna Sangat Kompak.
Dewi menitihkan air matanya melihat mereka semua teman seperjuangan dalam suka maupun duka menghadapi keanehan para orang kaya, tempatnya mengais rezeki selama tiga dekade ini.
Erika maju memeluk Dewi
"Aku akan sangat merindukannmu dewi!" Ucapnya sedikit melow tapi terdengar tulus.
"Apa yang kau katakan, kita masih bisa bertemu rik, lagi pula aku tetap di negeri ini kok."
__ADS_1
"Maafkan aku Nona Muda selama ini sangat membuatmu sibuk karena ulahku" ibu Anna kini maju memelukny
"Ibu paling handal dibidang itu" ibu Anna seketika cemberut bibirnya dimonyongkan
"Bercada Bu"
"Kak dewi bisakah tetap disini siapa yang akan membela kami jika kau tidak ada" Beberapa pegawai baru hambur dipelukan Dewi
Kini dewi di depan pak Surya "Terimakasih banyak pak sudah menerima saya bekerja disini," Mereka yang ditoko mengantarkan kepergian gadis kecil itu, gadis cerewet tidak ada takutnya.
Mereka sangat lucu, tulus, dan baik
Seketika terlintas kebersamaan merek selama tiga tahun, Erika yang selalu makan sedikit tapi selalu mengeluh jika berat badannya selallu bertambah, ibu Anna sangat mengitimidasinya selama ini melalui tatapannya, pak Surya paling sabar, dan anak-anak yang lain. Dewi tersenyum, pak supir yang melihatnya terhipnotis dengan senyuman istri tuannya.
*
*
*
Dewi memegang beberapa sayuran memilih paling segar, meski tidak sesegar sayuran dipasar tradisional
"Nona Dewi.." suara lembut memanggilnya dari arah belakang membuatnya berbalik, terlihat jelas wanita hamil sedang memegang perutnya melemparkan senyum padanya. dewi membuka lembar-demi lembar ingatannya siapa gerangan wanita hamil cantik itu. Ah satu nama terlintas
"Nona Monalisa!" jawabnya "Apa yang anda lakukan disini?" pertanyaan teraneh sepanjang sejarah sudah tahu jawabnnya masih bertanya
"Mandi...!Tentu belanja Nona Dewi!" Ucapnya diselingi tawa
"Kamu sudah berhenti dari toko itu, beberapa hari yang lalu aku kesana katanya kamu sudah berhenti..?"
"Iya Nona, saya mendapat pekerjaan baru untuk sementara ini" Jelas-jelas bukan karena itu.
"Bagaimana kabar adik bayi didalam sana"
"Dia baik! Belakangan ini dia banyak permintaan aneh-aneh"
__ADS_1
Dewi membukukkan badanya sedikit kemudian mengelusnya sangat lembut.
"Hay jagoan, jangan buat mami kamu kesusahan ya sayang"
"Mona kau kenapa?" Suara boriton agak serak dari belakang. Pria tinggi berwajah tegas memakai stelan jas kotak-kotak dengan baju kemeja sebagai lapisannya.
"Kau tidak apa kan? Apa perut mu sakit?"
Apa dia suminya? Hmmm dia suami idaman bahkan mengantar istrinya belanja. Besok-besok aku ajak Zain juga siapa tau mau. Gadis itu sedikit tersenyum
"Aku tidak apa max, kau menganggu saja" ucap mona sedikit jengkel.
"Max kenalkan ini temanku namanya Dewi, Dewi ini Max adikku dia baru tiba dinegara ini" Ucap Mona. Max hanya terdiam manatap gadis didepannya
Adik? Aku fikir suaminya tadi hehehe
"Senang bertemu dengan anda Tuan"
Dasar bodoh, beruang kutub, vamfir. Kenapa juga pasang wajah seperti itu ? Apa dia tidak bisa membuatkesan pertama yang baik. Batin Mona.
Tidak selang beberapa menit pelayanan rumah Dewi datang dengan semua belanjaannya
"Nona masih ada yang ingin anda beli?" Ucap Tika si-pelayanan yang seumuran dengannya
"Ini sudah cukup Tika" Dewi menatap Mona dengan senyumnya "Nona mona saya permisi dulu, lain waktu kita bertemu lagi" kemudian dewi sedikit membungkuk mengelus lembut perut Mona yang semakin membuncit "Halo jagoan mami Mona, sampai jumpa jangan aku harap dipertemjan berikutnya kau sudah ada digendongan mamimu.
" Iya aunty."
"Sampai jumpa nona Mona, tuan Max"
Setelah kepergian Dewi, Mona menatap tajam Max seakan suara pedang terdengar dari sorot mata abu-abu yang ingin menghujamnya, Mona melangkah meninggalkan Max tanpa sepata kata pun hanya rasa kesal yang sudah menjulang tinggi.
Kali ini apa salahku Mona,?
maximum elfadro
__ADS_1