
Ken menghempaskan tubuhnya di atas sofa salah satu bar, tatapanya menatap lurus begitu frustasi. Untuk ketiga kalinya dia menuang teqiula di gelas mungil lalu meminumnya hanya sekali teguk.
Ken tersandar memijat kepalanya yang mulai sakit, tanpa dia melihat seorang gadis hanya mengenakan pakaian bagitu tipin dan minim dengan tidak tau malunya langsung duduk dipangkuan Kendrick.
"Ken, kenapa tidak menungguku sayang." Rajuk Hera kekasih Ken
"Hera, aku sedang tidak mood jangan ganggu aku!" Sekali hentakan Ken memindahkan tubuh Hera di sampingnya.
"Kenapa? Apa kau ada masalah?" Tanyanya kembali merengkuh Ken kedalam pelukannya.
"Aku dipecat."
"Apa?" Wajah shok itu hanya bertahan beberapa detik diwajah Hera. "Udah ya Ken, Nggak usah bercanda berlebihan kayak gitu! Siapa yang berani memecat pemilik perusahann itu sendiri?"
"Aku nggak bercanda, aku emang udah dipecat."
Hera tersenyum. "Sayang dengerin aku! Bagaimana pun keadaan kamu aku tetap cinta kamu Ken."
Ken tersenyum penuh kelegaan, tidak ada lagi kekhawatiran dihatinya jika Hera meninggalkannya karena dia bukan lagi CEO Grup Corps.Co
Perasaan baru saja Ken tertidur diapartemennya setelah semalaman berpesta dengan Hera dan teman-temannya. Namun, goyangan dibahu dan suara feminin seorang perempuan terdengar ditelinya berhasil menguskik tidurnya.
"Hera? Ada apa?" Ken masih berusaha membuka matanya yanh masih enggan terbuka.
"Apa kau tidak melihat Tv atau membuka ponselmu?" Tanyanya begitu frustasi
Ken meraih ponselnya diatas nakas, lalu melihat artikel. yang menyebutkan jika saat ini Arabella Abraham ditunjuk menjadi CEO grup Corps.co menggantikan posisi Kendrick Rai Abraham.
__ADS_1
Setelah membacanya Ken melempar ponsel itu ke atas kasur.
"Kua datang hanya menyuruhku membacanya?"
"Berita itu bohong kan Ken? Kamu masih CEO perusahaan milikmu kan?" Tanya Hera begitu cemas.
"Semalam aku sudah mengatakannya Hera, kurang jelas apa lagi?"
"Semalam?" Hera mengingat setiap kata-kata Ken. "Nggak, kamu pasti bercanda kan?"
"Nggak sayang, itu semua benar. Awalnya aku sangat khawatir ketika papi memecatku, aku takut kau akan meninggalkanku." Ucap Ken sambil medekati Hera penuh kelembutan.
cukup lama Hera tertegun lalu begitu pelan melepas pelukan Ken "Aku harus pergi!"
Hari berganti minggu tak ada kabar apapun dari Hera, semua usaha menghubungi kekasihnya itu sia-sia. Hera menghilang bak ditelan bumi, begitupun dengan Luis sahabat Ken satu-satunya paling setia ikut menghilang tanpa kabar apapun.
GPSnya menuju apartemen Luis yang hanya berjarak beberapa kilo dari apartemennya.
Entah beberapa kali Ken menekan tombol bel, Luis tak juga keluar. Begitu Ken ingin pergi, pintu apartemen itu terbuka menampakkan pria bertelanjang dada hanya berbalut sehelai handuk dibalik pintu.
"Ken?" Ucapnya begitu kaget.
"Siapa sayang?" Teriak seorang wanita dari dalam.
Suara begitu feminim sangat familiar ditelinga Ken, suara yang sering kali membuat jantungnya berdetak. Tak lama setelah itu wanita itu ikut muncul dengan wadroop putih membungkus tubuhnya.
"Ken?" Gumamnya takkala kaget.
__ADS_1
Mata Ken memerah, kedua tangannya terkepal disisi tubuh, rahangnya mengeras, sedikit lagi dia akan meledak.
"Apa yang sudah kalian lakukan?" Teriak Ken menatap Luis lalu kembali menatap Hera.
"Tidak usah teriak seperti itu Ken! Apa kau tidak melihatnya?" Katanya menatap rendah ke arah Ken.
"Apa yang kau lakukan pada wanitaku Luis?"
Luis tersenyum smirik. "Wanitamu? Sadar Ken kau sekarang bukan siapa-siapa sekarang! Saat ini Hera adalah kekasihku, mana ada wanita yang ingin dengan pria pengangguran dan pengecut sepertimu." Tepat diujung kalimatnya sebuah bogem mengenai rahang Luis. Membuat laki-laki itu mundur beberapa langkah kebelakang.
"Ken, apa yang kamu lakukan?" Teriaknya menyadarkan Ken yang sudah terselubungi emosi.
Ken mencekal tangan Hera, memaksnya keluar dari apartemen itu.
"Ayo keluar dari sini!" Bentak Ken.
"Nggak!" Sekuat tenaga Hera melepaskan cengkraman Ken. "Luis benar, dia kekasiku sekarang."
Ken menutup matanya, meenyangkal apa yang baru saja Hera katakan.
"Berfikirlah lebih realistis Ken, aku wanita memiliki banyak kebutuhan sedangkan kamu tidak memiliki pekerjaan bagaimana kau bisa memenuhi kebutuhanku? Hanya dengan cintamu tidak bisa membelikan apapun yang aku inginkan."
"Jadi, selama ini kau hanya menyukai uangku saja? Kau tidak tulus mencintaiku Hera?"
"Anggap saja begitu bung!" Potong Luis. "Dan pergi dari sini, atau aku akan memanggil keamanan menyeretmu keluar."
Seperti ada sebilu belati yang menyerang dada Ken, sesak sekali. Ken berjalan di lorong sepi, langkahnya semakin menjauh meninggalkan pecahan hati yang berserakan disana.
__ADS_1