
Cahaya mentari pagi ini agak menyilaukan, Dewi berusaha mengumpulkan kesadarannya ini pertama kalinya dia tidak mendapati wajah Zain didekatnya.
Dewi menyipitkan matanya melirik jam di atas nakas, masih pukul enam tidak seperti biasanya dia sudah bangun jam segini. Dia melangkah ke arah kamar mandi, sepertinya dia tidak disana, lalu kemana dia?
Sedikit berirama Dewi menuju lantai bawah setelah membasuh wajahnya, tidak lupa mencepok surai hitamnya yang mulai panjang.
"Kenapa gelap sekali? Apa listrik belum dibayar?" gumannya, menurungi setiap anak tangga
"BY..." teriaknya.
"SELAMAT ULANG TAHUN..."
Seketika lampu menyala disana sudah berkumpul keluarga besar Abraham. Dewi mengabsen satu persatu wajah didepanya, ada mami, daddy, Alea, Kak Daniel, kak Celine, Aurelia, Aiden, Fredi dan semua pelayan yang bekerja dirumah ini. Tapi, diman Zain? Pikirnya
"Happy birthday To you... Happy birthday to you... Happy birthday... Happy birthday .... Happy birthday to you..." Pemilik suara itu sangat d
Dewi kenal, dia memutar badannya mendapati Zain membawa sebuah kue ulang tahun yang dipenuhi lilin kecil diatasnya.
"Tiup lilinya sanyang... Jangan lupa ucapkan keinginanmu." Bisik Zain
Dewi menurut, dia menautkan kedua tangannya mwmanjatian segala doa untuk usianya saat ini.
"Selamat ulang tahun sayang semoga kebaikan selalu menyertaimu" Ucap Zain membawa Dewi kedalam dekapannya dan sebuah kecupan manis mendarat dikeningnya membuat yang hadir merasa iri. Dewi pikir semuanya sudah berakhir tapi, sepertinya tidak saat Zain memasangkan sebuah cincin bertahta berlian.
" By, ini?" Tatapanya penuh tanya
"Sayang... Ini hanya hadia kecil dariku, aku masih punya sesuatu untukmu"
Dewi mengerutkan keningnya dia menatap manik abu milik suminya. "Hari ini aku akan membanjirimu dengan hadia, apapun yang kamu inginkan akan aku kabulkan." Bisik Zain
"Ini sudah cukup aku sangta bahagia dari siapapun didunia ini." Ucap Dewi mengelus pipi Zain dengan lembut.
"Khemmm... kak Zain kami masih disini"
Dewi terisipu, bagaimana bisa dia lupa jika saat ini bukan hanya dia dan Zain berda diruangan ini.
"Selamat ulang tahun kaka ipar, semoga aku dapat keponakan tahun ini" Ucap Alea
"Selamat bertambah usia nak, mami dan daddy menyayangi mu" Ucap Prima, lalu memeluknya penuh kasih
__ADS_1
"Terima kasih mami aku juaga menyayangi kalian"
"Tante Dewi celamat ulan tahun, Aulelia sayang tante." gadis kecil ini mengecup lembut pipinya. "ini untuk tante" aurelia memberinua paper bag putih dengan Logo Cha**l
"Terima kasih anak cantik tante..." Aurelia kembali kepelukan celine dia malu, terlihat jelas pipinya sudah semerah tomat matang.
Hari ini terlalu banyak kebahagiaan yang gadia itu terima, seperti mimpi yang tak mingkin terwujud. Dia hanyalah orang asing di keluarga ini namun mereka menyayanginya begitu sangat dalam.
Mata Dewi lagi-lagi sukses membulat saat masuk kedalam kamar, entah siapa dan sejak kapan hadiah-hadiah ini ada disini?
"Sayang... Kamu bahagia?" Tanya Zaun yang tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Hemm... Terima kasih By..."
"Yank... Boleh aku mendapatkannya?" ucap zain menggoda ucapnya dengan suara memohon.
"TIDAK.. Semalam kau sudah mendapatkannya, aku mau mandi terus kembali kebawah, disini masih ada mam, daddy dan yang lainnya."
"Yank.." rengeknya manja
"Aku mandiin mau?" teriak Zain saat langkah Dewi baru masuk kekamar mandi. Dia berbalik mengaktifkan tatapan macan betinanya.
"Ada apa dengannya? Setiap malam dia mendapatkannya, apa tidak bosan?
tunggu...! Setiap malam aku melakukannya dan rajin minum vitamin penyubur kandungan itu, apa aku sudah hamil?" Dewi menatap dirinya dari pantulan cermin, "Tapi sepertinya perutku masih rata, kenapa sangat susah bisa hamil sih? Sedangkan di TV mereka baru sekali melakukannya langsung hamil. ahh memikirkannya aku frustasi."
*
*
*
Di ruangannya Zain terlihat serius menatap layar Leptop didepannya Aiden yang berada diruangan itu juga tenggelam dalam tumpukan berkas, tak lama sekertaris Ririn masuk dengan beberapa map ditangannya.
"tuan ini berkas yang anda minta.! Anda tidak melupakannya kan hari ini ada pertemuan dengan tuan Maher Azim dari malaysia"
"Rin.. apa tidak bisa diundur aku ingin makan malam dengan istriku, hari ini
ulang tahunnya"
__ADS_1
"Tidak tuan... Anda tau sendiri tuan Maher, dia tipe orang yang sangat disiplin,"
"Ahh.." Wajah Zain terlihat kesal "Jadi jam berapa aku menemuinya?".
" Pukul 5 tuan, anda dan Nyonya makan malam Pukul delapan."
"Kau yang terbaik ririn" ucap Zain mengacungkan jempolnya, sekertaris Ririn hanya tersenyum lalu dia undur diri.
"Aiden.. Bagaiman dengan Maximun Efaldro kau sudah menyelidikinya?" Ucap Zain melangkah kearah Aiden
"Iya tuan... Orang kepercayaan saya sudah masuk di sana.."
"Aku serahkan semuanya padamu Aiden" Aiden hanya mengangguk mengerti.
Zain melangkah kembali kemejanya dengan serius melanjutkan pekerjaannya. Hari ini dia ingin menyelesaikan pekerjaan ini lebih awal, wajah istrinya sering kali terngiang dibenaknya,
"SEMANGAT ZAIN" teriaknya membuat Aiden kaget, hingga map ditangannya melayang ke udara. Aiden menatap tuannya yang sedang senyum sendiri.
Wah.. Adapa dengan mu tuan muda.? Sepertinya nyonya Dewi membawa dampak yang besar dalam kehidupan anda. aTerima kasih Tuhan kau menciptakan makhluk bernama Dewi menjadi pawang untuk tuan muda.
"Aiden kau kenapa?" Tanya Zain yang heran melihat sikap Aiden senyum-senyum sendiri.
"Tidak tuan..."
"Sepertinya otakmu sudah tidak beres Aiden, sana kau pergi temui Primus agar dia mengobatimu.!"
"Baik tuan..."
*Yang disi*ni tidak beres adalah anda tuan.
Bersambung....
***aku mau berterima kasih ke kalian yang sudah mampir di karya aku.. maaf kalau banyak kekurangan.. semoga saran kalian bisa membuat aku lebih baik kedepannya*
*PLEASE JANGAN LUPA VOTE AKU YA BERAPAPUN ITU AKU BERTERIMAKASIH🥰*
satu lagi jejak 👍 ❤***
With Aurelia
__ADS_1