
Zain meninggalkan max dengan ribuan anak panah yang menancap di jantungnya. Zain terus mendekat ke arah Dewi yang memegang erat perut buncitnya, melihat senyum manis itu membawa energi tersendiri.
"Sayang kau melakukannya dengan baik" Dewi memeluk erat suaminya. "Apa ini sakit?" . Zain menggeleng lembut dan kembali membawa Dewi kedalam pelukannya.
"Zain jika aku tidak bisa memilikimu maka orang lain pun tidak bisa mendapatkanmu" Lirih gadis yang sejak tadi berada tidak jauh dari mereka. Dia menodongka Senjata nya membidik Zain.
Dewi yang melihat itu, seketika memutar badannya sebagai perisai untuk suaminya
Dorrr...
suara tembakan terdengar membuat zain membulatkan matanya, peluru itu memebus baju milik Dewi dan mengeluarkan darah hangat.
"Tidak... Tidak... Sayang kumohon jangan" ucapnya histeris
dunianya seakan runtuh, baru saja dia mendapatkan istrinya namun sesuatu yang lebih kejam menghantam nalurinya. Dewi terkulai lemah dalam pelukan Zain, Max dan Aiden sejak tadi berada didekatnya, berteriak begitu kecang .
bugg..
satu pukulan melayang lagi dipipi Zain agar dia tersadar.
"Kita kerumah sakit Zain istri dan anakmu harus diselamatkan" Ucap Max
__ADS_1
"Aiden Hubungi primus sekarang." Ucap Zain sembari melangkah.
"Sayang bertahan lah..! aku disini bersamamu." Ucapnya yang terus mengenggam tangan Istrinya "Kau bisa cepat max?" Bantaknya.
Max menambah kecepatannya untung malam ini sudah sangat sepi, jadi tidak ada adegan menyalip mobil. Hanya saja Max harus menerobos lampu lalu lintas.
.........
"Hubungi spesialis kandungan, kita harus menyelamatkan bayinya terlebih dahulu..!" Perintah Primus
"Bagaiman X-Ray nya apa ada yang fatal?" Tanya Primus pada salah satu rekan dokternya.
"Bagaiman Prim keadan istri dan anakku? Selamatkan mereka Prim! Apapun ku berikan padamu tolong selamatakan mereka" ucap Zain memohon.
Dokter Marta memeriksa keadaan janin, didampingi delapan ahli kandungan.
"Bayinya tidak apa-apa Dok. dia bisa lahir malam ini." ucap dokter Marta yang diangguki Primus.
"Terlebih dahulu selamatkan bayinya, lalu kita selamatkan ibunya.!"
Segera tim dokter mendorong Dewi menuju ruang operasi.
__ADS_1
"Tuan Muda anda tidak boleh ikut kedalam. biarkan para dokter yang bekerja" Ucap salah satu perawat, sejujurnya dia takut menahan seorang Zain D Abraham. .
ting...
lampu merah menyala oprasi berlangsung. Zain hanya bisa menunggu Dewi di luar ruang oprasi.
"Zain bagaiman ini bisa terjadi.? Apa yang terjadi? bagaiman keadaan istrimu sekarang nak? Siapa yang melakukannya?" Tanya Prima bertubi-tubi
"Sayang tenangkan dirimu? Kita tunggu sampai oprasinya selesai" Ucap Roger menarik tubuh prima agar duduk di kursi tunggu.
Tak lama kemudian suara tangis bayi menggema, seorang perawat membawa keluar bayi kecil yang masih merah. zain menitikkan air matanya lagi melihat bayinya yang harus lahir belum saatnya. semua yang ada menyambut bahagia bayi mungil membawa kebahagiaan itu. namun saat ini bayinya harus berada di ruang NICU, karena lahir prematur Dokter harus tetap mengawasi perkembangannya.
Setelah mendapat izin Zain menemui anaknya diikuti prima dan roger. Pria yang kini menjadi ayah membisikkan sepenggal doa menyebut keagunan yang maha kuasa, rasa haru dan kebahagiaan menyusup sukmanya hadirnya malaikat kecil itu mencairkan segala emosinya yang tadi meluap. Zain menyusupkan tangnnya ke jari mungil itu sebuah genggaman erat membuatnya semakin haru hingga dia tak sadar Air matanya menetes.
"Sayang lihat anakmu ternyata dia bisa juga menangis" bisik Roger. hingga dia mendapat cubitan mesrah dari istrinya "awwww.. sakit sayang" pekiknya hanya di senyumi prima
Bersambung....
***aku mau berterima kasih ke kalian yang sudah mampir di karya aku.. maaf kalau banyak kekurangan.. semoga saran kalian bisa membuat aku lebih baik kedepannya*
*PLEASE JANGAN LUPA VOTE AKU YA BERAPAPUN ITU AKU BERTERIMAKASIH🥰*
__ADS_1
satu lagi jejak 👍 ❤**