
Malam ini ditemani semilir angin, namun tanpa bintang dilangit. Dewi bersandar di kursi taman hatinya gunda, sejak tadi Zain belum menghubunginya. Deru angin semakin kencang menerbangkan Rambutnya kesegala arah.
"Nyonya silahkan masuk.. sebentar lagi akan turun hujan" teriak bibi Emi.
"Bi, Alea mana?"
"Nona Alea mungkin dikamar tamu nyonya. Apa ada yang anda inginkan"
"Tidak Bi... Aku akan bilang jika membutuhkan sesuatu." ucapnya.
"Sayang, papi lagi apa ya? sejak tadi tidak menghubungi kita" ucapnya mengelus lembut perutnya yang masih rata.
Tidak terasa Dewi tertidur didepan TV, menunggu Zain menghubunginya.
"Wii.. Kamu tidur dikamar gih" ucap alea pelan. sukses membuat Dewi mengerjapkan matanya
"Mau aku temani di kamar?"
"Tidak perlu Al, aku naik dulu ya" ucapnya. Sejujurnya dia sudah ingin menangis karena Zain tidak menelponnya. Bahkan nomornya pun tidak aktif sedang apa sih dia?
Tidak terasa buliran bening dari kelopak matanya mulai menetes
Fajar menyinsing dari ufuk timur, mentari menyinari bumi setelah hujan menyapa lewat gemericiknya, Dewi sangat nyaman dengan gulingnya di semakin memperarat pelukannya, bahkan aromanya menenangkan hatinya yang gunda aroma yang sangat dia rindukakan,
Dia mulai mengumpulkan kesadarnya, saat ini dia melihat suaminya bertelanjang dada disisinya. Dewi menusuk otot dadanya dengan telunjuk membuat Zain terbangun
"Sayang... kau membangunkanku"
"Wah saking aku merindukannya bahkan suaranya sangat jelas terdengar di mimipiku" lagi-lagi
Dewi menusuk-nusuk pipi Zain, namun zain menahan tangannya
"Sayang kau yang memulainya.." lirih zain dengan suaranya yang serak. sekali hentakan Zain sudah berada di atas tubuh Dewi, tangannya jadi tumpuan agar tidak menindih tubuh mungil yang berada dibawahnya.
__ADS_1
"By... Ini benar kamu? aku tidak mimpi kan?" ucap dewi.
"iya ini aku sayang, memang siapa lagi?" zain membelai pipi istri yang dia sangat rindukan
Mereka saling menyapa melalui tatapan penuh kerindun, Dewi mulai bermain didagu suaminya yang ditumbuhi bulu-bulu halus membuatnya semaki tampan. Bibirnya dia manyunkan sebenarnya kesal tapi itu sirna takkala suaminya sudah berada bersamanya.
"Apa kau sedang menggodaku Nyonya Abraham" ucapnya.
Perlahan tapi pasti dia mendaratkan ciuman pada bibir ranum istrinya, zain kian menakan tekuk leher istrinya memperdalam ciuman, seakan tidak puas Zain tidak hanya bermain disana tangannya mulai menggerai , keseluruh area sensitif istrinya.
Leguh kenikmatan lolos begitu saja dari pemilik bibir mungil yang sudah menjadi candu akan pria itu, setiap sentuhannya seakan bukti kerinduan yang sudah tak terbendung lagi. deru nafas mereka saling memburu Zain sangat ahli dia melakukannya sangat lembut namun penuh penekanan mancapai titik dalam milik istrinya. Lagi-lagi suara kenikmatan lolos dari bibirnya, membuat pria yang berkuasa akan tubuhnya semakin bergelorah. dia sangat hati-hati mengingat istrinya sedang hamil.
"Sayang apa aku menyakitimu?" bisiknya penuh gairah, gadis itu hanya menggeleng menikmati setiap perlakuan lembut suaminya yang sangat dia rindukan. Hingga sesuatu yang hangat menyembur di dinding rahim miliknya. peluh kesahnya mengalir takkala pergulatan panas dipagi hari... Zain menariknya dalam dekapan yang masih sama-sama polos, hening taka ada satupun yang memulai percakapan mereka masih melepas kerinduan.
"Sayang aku mencintaimu" ucap zain memejamkan matanya, lalu dalam satu hentakan dewi mendorong tubuh suaminya agar menjauh...
"Kenapa sayang?" tanya zain keheranan.
"kamu jahat by!"
"Itu mau mu By. bukan itu maksudku" niat ingin marah dia malah kegelian melihat tingkah mesum suaminya.
"Lalu kejahatan apa yang sudah ku lakukan sayang?"
"Kau membuatku merindukanmu, dan kemarin kenapa tidak menghubungiku? Kau tahu aku sangat khawatri, bahkan aku menangis menunggumu telponmu. Itu kejahatan mu" ucapnya,
"Jadi gadis ini sangat merindukan ku hemmm?"
"ih pake nanya lagi, sudah ah aku mau mandi" ucapnya beranjak dari tempat tidur. Zain tersenyum melihat tingkah lucu istrinya dia kembali menrik selimut lalu menutupi kepalanya dengan bantal,
tiga puluh menit zain turun sudah berpakaian lengkap ingin kekantor dengan gagahnya di menuruni setiap anak tangga, tangan kanannya sibuk memakai jam ditangan kirinya.
__ADS_1
"Sayang apa yang kau lakukan? ucap zain saat melihat dewi sedang berada didapur
"masak untuk mu By"
"tidak perlu, kemana bibi Emi? kenapa membiarkan mu masak?" ucapnya mendudukkan dewi di kursi meja makan
"By.. bibi mencarikan ku..." ucapnnya terhenti ketika zain mulai berteriak
"Bibi... Bibi emi " dari luar bibi dan tika berlari ditangannya sudah ada dua buah mangga muda.
"iya tuan.." ucapanya menunduk
"kalian dari mana? membiarkan istriku memasak...?"
"Maaf tuan saya dari tetangga sebelah meminta mangga muda, nyonya menginginkannya" ucap bibi emi
"Sayang.. Kenapa tidak menyuruhku hemm? ucap zain mengelus lembut rambut istrinya
" bagaiman menyuruh mu by kau tadi tidur"
"lain kali jika ada yang kau inginkan beritahu aku" ucap zain yang hanya diangguki dewi.
lalu dia menuju arah dapur membuatkan istrinya segela susu coklat. lalu meletakkan di depan istrinya
" terima kasih" ucapnya, Zain membalasnya dengan kecupan manis di pucuk kepalanya. dia pun ikut duduk dikursi kepala keluarga menikmati sarapannya
Bersambung....
***aku mau berterima kasih ke kalian yang sudah mampir di karya aku.. maaf kalau banyak kekurangan.. semoga saran kalian bisa membuat aku lebih baikbkedepannya*
*PLEASE JANGAN LUPA VOTE AKU YA BERAPAPUN ITU AKU BERTERIMAKASIH🥰*
satu lagi jejak 👍 ❤**
__ADS_1