
Remus sangat shok mendapati anaknya berlumur darah, pria itu segera menghampirinya dengan wajah penuh kecemasan. Remus yang ingin menyentuh Azzura dia lanhsung mundur menjauh, sorot matanya menajam ke arah sang ayah.
"Apa yang terjadi Azzura?" Tanya Remus, masih dengan wajah cemas
"Kau, kau pembunuh," Teriak Azzura histeris. Lagi-lagi Remus ingin menyentuh Azzura niat ingin menenangkan, namun gadis itu menepis tangan ayahnya kasar.
"Jangan sentuh aku! Aku Pikir pekerjaan hanya membunuh tikus liar diluar sanah, ternyata tidak! Kau juga membunuh anakmu, darah dagingmu sendiri." Ucap Azzura dengan tangis dan emosi yang sudah meledak.
Remus terbelak kaget mendengar anaknya, bagaimana bisa anaknya tahu? Dirinya pun baru mengetahui keberadaan Jaiden baru-baru ini. Jadi, selama ini Azzura sering bertemu dengan Jaiden.
"Kenapa, kenapa ayah membunuh kak Jaiden dan kak Jen? bahkan didalam perut kak Jen ada keponakanku ayah, cucu ayah" Ucap Azzura yang sudah berlinang air mata. "Apa salah mereka? Apa karena kak Jaiden jatuh cinta? Apa salah jika dia jatuh cinta? Monster sekalipun bisa merasakan cinta ayah" Air mata Azzura kian menderas keluar.
"Kau... (Tunjuk Azzura ) Kau akan di laknat Tuhan, kau akan hidup dalam penyesalaan dan kesensaraan. Dan malam ini kau tidak hanya kehilangan putramu tapi, malam ini kau juga akan kehilangan putrimu tuan Remus Alastair. Aku bukan lagi putrimu." Ucap Azzura, gadis itu meninggalkan Rumus yang masih terdiam ditempatnya.
__ADS_1
"Dengarkan aku! Perketat semua penjagaan dirumah ini, jangan biar kan Azzura meninggalkan mansion, walau selangkah!" Perintah Remus, yang diangguki semua bawahannya.
Semenjak itu , Azzura bagaikan rapunsel yang terkurung, seribu upaya dia lakukan untuk kabur namun sia-sia jalan satu-satunya dia hanya bisa bertahan. Diam-diam gadis itu berlajar bela diri dalam kamarnya.
Keceriannya yang dulu ada kini redup, Remus tak lagi mendengar suara ceria dan kemanjaan putrinya. Benar saja malam itu Remus tidak hanya kehilangan seorang putra saja, dia juga kehilangan putrinya.
...*...
"Kenapa kau diam Seth? Aku tahu malam itu kau yang menembakkan peluru didada kakakku. Perlu kau tahu ! saat ini aku hanya menahan diriku agar tidak membunuhmu. Tanpa melakukannya pu lm aku yakin, kau sudah mati didalam sini (Azzura menekan kuat jantung Seth) Sahabat yang sudah menganggapmu saudra kau bunuh, hanya karena aturan aneh yang pria gila itu buat." Ucapan Azzura, membuat jantung Seth berdegup kencang pria itu hanya diam, tidak bisa dipungkir selama ini Seth tterus dihantui rasa bersalah dan penyesalan.
"AZZURA" Bentak Remus, gadis itu mengalihkan perhatiannya pada Remus, tatapan tajamnya seakan menantang ayahnya sendiri. "Jaga sopan santunmu!"
"Jangan sekali pun menggurui atau memerintahku Tuan Remus! Aku bukan seoarang bocah lagi yang terus ingin kabur dari mansiaonmu. Tanpa kau sadari kau mmelihara monster namun, monster itu tidak terlahir dari tanganmu kan, aku yakin kau sudah tahu siapa yang membunuh puluhan anak buahmu di Budapets" Ucap Azzura masih dengan tatapan tajam, Remus menatap tajam Azzura dengan nafas yang memburu.
__ADS_1
"Hans, persiapkan segalanya kita temui Jaiden!" Ucap Azzura meninggalkan Remus
Remus menyesal, anak gadisnya yang dulunya ceria dan manjah padanya kini menjadi pembunuh bayaran profesional yang ditakuti di wilah barat. Wajahnya yang polos mampu menipu lawannya. Ini semua karena ulahnya sendiri.
"Seth, selama ini kita mencari Aiden keseluruh penjuru dunia bagaimana bisa dia berada di negara sana?" Ucap Remus.
"Selama ini tuan Jaiden dilindungi oleh Zain Abraham tuan" Ucap Seth. memancing reaksi Remus.
"Apakah dia tuan Abraham yang ada di pikiranku Seth?"
"Benar Tuan, dia adalah pemimpin mad eye yang sering dibicarakan di kalangan mafia maupun pembunuh bayaran, semua senjatanya yang didapatkan darinya tak diragukan lagi. Selama ini Mr. Zain memalsukan data diri tuan Jaiden "
"Aku mengerti Seth, kau boleh keluar!" Ucap Remus, Seth menundukk hormat lalu meninggalkan Remus sendiri
__ADS_1
......................