
Operasi masih berjalan kini mereka mengeluarkan peluru di tubuh dewi, untung saja tidak mengenai bagian fatal ditubuhnya. Sekitar beberapa jam berlalu Dewi di pindahkan oleh beberapa perawat ke kamar VVIP.
"Prim... Bagaimana keadaan istriku?" Tanya Zain dengan wajah penuh kekhawatiran
"Tidak ada yang fatal Zain, untung saja peluru itu tidak mengenai paru-parunya. Kita tunggu saja dia masih dalam pengaruh anestesi." Jelasnya. "Apa kau tidak ingin mengobati lukamu juga?"
Zain bahkan tidak sadar jika saat ini dia juga harus diobati.
***.
"Mami kapan bayi kecil itu bisa keluar dari sana?" Tanya Alea tampa sedikitpun mengalihkan perhatiannya pada bayi mungil yang sedang tertidur pulas didalam ingkubator.
"Kita tunggu saja Alea, mami juga sudah tidak sabar ingin menimangnya."
" Dimana kak Zain? dia sudah menyiapkan nama untuk bayinya?"
"Mami nggat Al."
***
"Selamat malam tuan muda.
__ADS_1
Saya sudah mengurus Nona Alexa, dia juga sudah dikirim ke kedutaan agar dikembalikan kenegaranya." Jelas aiden.
Zain tersenyum licik lalu menatap Aiden dengan penuh kemisteriusannya
"Kau tidak melakukannya dengan kasar kan Aiden?" Aiden yang tadinya menunduk langsung mengangkat kepalanya sejajar dengan Zain.
"Iya tuan. Anda pasti sudah tahu cara saya memperlakukan s....."
Ucapan Aiden harus terpotong saat knop pintu terputar, membuat kedua pria itu menatap gadis yang baru saja masuk
"Alea...?"
"Apa maksud kaka tadi? khmmm.... kau tidak melakukannya dengan kasar kan Aiden?" ucapnya menirukan gaya bicara Zain "Apa kau sedang pacaran Aiden? Apa melakukannya tanpa ada ikatan pernikahan? Itu tidak benar Aiden, Tuhan akan membencimu"
"Kau bocah tengil buang jauh imajinasi liarmu, kau ini masih kecil segala macam hal aneh sudah bersarang disini (telunjuk zain menyentuh kening Alea)" Alea tersenyum getir
"Ada perlu apa kau kesini?"
"Ahh.. Iya aku hampir lupa. Apa kaka sudah punya nama untuk bayi kecilmu?"
"Iya. Aku menunggu istriku sadar baru ku beritahu namanya." Ucap Zain .
__ADS_1
Pelan Alea melangkah kearah dimana gadis itu berbaring, wajahnya begitu pucat tapi masih terlihat sangat cantik.
"Maafkan aku Wi !!! Andai aku tidak mengajak mu keluar ini semua tidak akan terjadi. maafkan aku wii, hikkss... hikkss... Jika kau bangun nanti aku akan menjadi adik yang baik menuruti semua keinginanmu, apapun itu." Ucap Alea disela isak tangisnya.
"Alea, ini sudah terjadi jadi jangan salahkan dirimu! Kita hanya perlu berdoa agar kaka iparmu cepat sadar."
Alea menyeka air matanya. "Kakak.. Maafkan aku!" Lirihnya dalam pelukan Zain. "Ini semua salah ku kak."
"Hemmm... Jangan menangis lagi !"
***
Primus menghela nafasnya begitu panjang, menenangkan sejenak fikiran dan hatinya. Beranjak menuju meja kerjanya, lalu meraih sebuah Frame wanita yang telah membuatnya jatuh cinta.
Zain maafkan aku telah lancang menyukai milikmu,
aku sudah susah payah membuang perasan ini tapi aku gagal. Aku semakin mencintainya, aku menghawatirkannya, aku terus memikirkannya. Maafkan aku Zain.
Primus kembali menyimpan figura yang tadi ingin dia buang, mencintai dalam diam adalah obat luka dihatinya.
***aku mau berterima kasih ke kalian yang sudah mampir di karya aku.. maaf kalau banyak kekurangan.. semoga saran kalian bisa membuat aku lebih baikbkedepannya*
__ADS_1
*PLEASE JANGAN LUPA VOTE AKU YA BERAPAPUN ITU AKU BERTERIMAKASIH🥰*
satu lagi jejak 👍 ❤**