
Ini sudah tiga puluh menit Zain di dalam kamar mandi, yang pria itu lakukan hanya modar mandir didepan cermin.
"Aiden, apa yang membuatmu kembali?
"Ah tidak jangan itu, bagaimana jika dia kembali ke sana lagi?"
"Ekhmmm... Aiden bagaimana kabarmu? Lama tak bertemu?
"Ahh itu tidak dia hanya pergi selama tiga bulan apanya yang lama?" Ucap Zain, kegiatan konyolnya itu berakhir saat Aiden mengetuk pintu.
"Tuan Zain baik-baik sajakan didalam?" Ucap Aiden dari luar
"Ya..."
#
Zain duduk menyilangkan kakinya menatap Aiden yang masih berdiri.
"Aku pikir kau tidak akan kembali Aiden. Mengingat kekayaan ayahmu sangat fantastik, tentu kau tidak akan mau lagi menjadi sekertarisku."
"Itu semua tidak ada artinya jika tuan tidak mennyelamatkan saya waktu itu. Sampai kapan pun saya akan tetap mengabdi pada anda." Ucap Aiden dengan penuh keyakinan.
"Lalu siapa yang melanjutkan posisi tuan Remus?"
"Adik saya tuan, Azzura. Dia sangat ahli dibidang itu."
"Baiklah, jika itu ada pilihanmu. Kau boleh kembali keruangan mu!" Setelah mendengar itu Aiden segera undur diri.
"Yeah" Sorak Zain bahagia. Saking senangnya pria dewasa itu joget-joget menggoyangkan pantatnya.
"Uwaaaaa..." Teriak Zain kaget saat melihat Aiden. Entah sejak kapan pria botak itu kembalo berdiri di belakangnya.
"Bbbu.... Bukannya kau sudah pergi?"
"Maaf tuan mengganggu kesenangan anda. Saya melupakan ini" Ucap Aiden seraya mengambil tumpukan berkas diatas meja.
"Apa kau melihat ku tadi?" Ucap Zain menatap tajam Aiden, dia berharap pria itu berkata 'tidak'
"Sa..." Ucapan Aiden terhenti mana kala melihat perubahan wajah tuannya seakan ingin melahap hidup-hidup dirinya.
"Tidak... saya tidak melihat apa-apa tuan"
__ADS_1
Itukan yang anda inginkan tuan? Jelas-jelas saya melihat pantat anda begitu lentur bergoyang.
"Baguslah... Kau boleh keluar"
Tanpa menjawab lagi Aiden buru-buru keluar adalah jalan paling aman agar tuannya itu tidak menggila.
Sore yang cerah setelah seharian hujan menyapa bumi, mentari sore seakan memecah awan hitam yang tadinya menyelimuti langit kota J. Dewi menabur bunga diatas makam sang ibu. Ken yang tanpa disuruh ikut menaburkan bunga dan memberikan sepenggal doa buat sang nenek.
"Mami, ini uga nenek Ken ya mi?" Ucap Ken
"Iya sayang, nenek Ken udah meninggal jadi Ken harus kirim doa agar nenek bahagia bersama Tuhan"
"Mi, nenek Ken didalam sana cepelti apa mi?"
"Hem... Cepelti mami dong"
"Cantik dong mi? "
"Mana cantikan mami atau Qinan?" Ucap Dewi, Ken terlihat berfikir.
"Mami, teyus Qinan" Ucapnya. Qinan adalah teman sekolah Ken, gadis yang belakangan ini Ken sebut jika sedang makan, main, bahkan tidur pun.
"By, apa Aiden menetap lagi disini?" Tanya Dewi
"Hem... Sepertinya iya sayang"
Sedangkan diseberang jalan sana Aiden bersama Fredi mengawasi tuannya dari kejahuan.
"Ketua, saya pikir anda akan menetap di negara X. Ternyataa anda kembali" Ucap Fredi menatap datar wajah bosnya itu
"Aku sudah berjanji Fredi, akan melayani tuan Zain seumur hidupku. Andai malam itu dia tidak menyelamatkan ku, aku tidak tahu apa saat ini aku masih bernafas." Ucap Aiden menerawang kembali masa lalunya.
"Hemm..." Angguk Fredi mengerti
"Lalu bagaimana dengan mu? Bukannya kau di panggil menjadi pengawal presiden? kenapa kau menolaknya?"
"Sama dengan mu ketua. Siapa yang mau menerima seorang tentara yang dipecat tidak hormat didunia ini? Kami dianggap pengianat. Saat itu hanya tuan Zain yang menerima dan mempercayaiku."
"Hemm... Kita memiliki alasan yang sama"
Melihat kedua tuannya mendekat kedua pria tidak asik itu menunduk hormat.
__ADS_1
"Apa yang kalian bahas sepetinya serius?" Tanya Dewi menyelidik.
"Tidak nyonya. Silahkan masuk" Ucap Aiden seraya menggendong Ken.
"Ya ya pembahasan kalian pasti selalu membosankan, pantas saja sampai saat ini kalian berdua jomblo."
"Apa kau ingin aku mencarikaan mereka jodoh sayang?" Tanya Zain
"Tidak perlu tuan" Ucap kedua jomblo itu bersamaan. Hingga Dewi yang tadinya ingin mengiyakan pertanyaan Zain harua terpotong.
#
Fredi melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata, malam mulai merambat menenggelamkan surya sore.
Waktu terus berjalan tak terasa kini usia Ken menginjak 25 tahun. Pria yang beranjak dewasa itu kini mengambil alih perusahaan ayahnya.
Ken adalah duplikat dari Zain, wajahnya sifatnya tak satupun dimiliki oleh Dewi. Untung saja sifat Bella lebih mirip ke ibunya meski wajahnya juga dominan ke ayahnya setidaknya Bella lebih hangat dan penyayang.
Semenjak anak-anak mereka sudah dewasa Zain dan Dewi memilih menghabiskan banyak waktu berduaan di rumah mereka yang jauh dari ibu kota.
Fredi dan Aiden masih sama seperti dulu, pengabdi setia pada keluarga D Abraham anenhnya kedua pria dewasa itu tak ingin menikah. Dewi sudah berusaha mencarikan calon istri tapi tak satupun meluluhkan hati kedua pria aneh itu.
TAMAT...
......................
Ken
Bella
Dewi
Zain
__ADS_1