
Alea sesekali menahan kebosanannya sejak tadi. Harap menjodohkan Dewi dengan Zain agar mereka leluasa bertemu dan jalan bersma. Namun itu tidak sesuai harapannya, Dewi lebih fokus dengan Zain dan kini dia disibukkan dengan jadwal-jadwal aneh daddy nya.
"Nona Ini pesanan Anda" ucap pelayan membawa segelas penuh ice cream kesukaannya
"Terima kasih"
"Nona tumben sendiri, biasanya berdua dengan nona cantik yang satu."
"Hemm... Dia sedang sibuk mengurus suaminya."
"Sepertinya Nona juga harus segera menikah" Alea hanya membalas dengan senyuman..
*
*
*
sedangkan gadis yang sekarang menyandang nama keluarga D Abraham tersandar lelah di sofa. Tubuhnya sangat remuk ini semua karena Zain mengerjainya habis-habisan dikantor
"Nona anda kenapa?" Tanya Tika.
"Saya capek Tik... Bisa ambilkan segelas air hangat ! "
"Tunggu sebentar Nona!"
"Maksih tik..."
*
Dewi merenggangkan tubuhnya mengumpulakan semua kesadarannya. dia melihat jam digital diatas nakas sudah pukul 09 lewat jadi dia sudah tertidur selama 4 jam
"Uahmmm..."
Suara percikan air dari dalam kamar mandi membuatnya sadar jika Zain sudah datang.
Sejak kapan dia datang?
"Zain kau didalam ya?" Teriaknya.
"Hemmm..." .
Dewi langsung menyiapkan pakaian santai untuk Zain, dia kembali teringat dengan kotak berisi kenangan Zain dan kekasihya.
Dia akan melamarnya setelah bercerai denganku. Batinnya
Gadis itu menarik dalam nafasnya kemudian menghembuskannya pelan, menetralisi hatinya yang mulai sesak. Mencintai dalam diam sungguh menyiksa.
Zain keluar dari kamar mandi wajahnya terlihat pucat. Dewi mendekatinya pelan
__ADS_1
"Kamu sakit Zain?" Dewi menuntunnya duduk ditepi ranjang.
"Kau demam.. Tunggu sebentar aku ambil obat"
Belum sempat Dewi melangkah, Zain menariknya.
"Jangan tinggalkan Aku... Alexa" ucap zain dengan suarana agak lemah.
Sakit bagaikan diiris ribuan pecahan beling. dengan cepat dewi menghempaskan tangnnya dia mundur selangkah.
Jangan egois dia saat ini sedang sakit.
"Tunggu aku... ! Aku akan membawakan mu obat." Dewi, berlari menurungi setiap tangga. Tika yang sedang minum kaget melihat nyonya nya tergesa-gesa mengambil kotak obat.
"Nona kenapa?" Tanya Tika khawatir
"Tuan muda demam, kamu tolong ambilkan air untuk kompres ya!" Dewi, kembali berlari menapaki setiap anak tangga disusul Tika membawa sebuah mangkok berisi air kompres.
"Nona ada lagi yang anda butuhkan ?"
"Tidak ada Tika kamu bisa istirahat"
"Kalau ada apa-apa nona telpon saja dokter Primus"
"Iya Tika. Tunggu beberapa menit aku sudah memberinya obat penurun panas"
Tangan kecilnya men-scroll nama kontak mencari nama dr. primus
My love❤ itu bukan nomornya melaingkan nomor alexa. kenapa sih hanya mencari kontak Dokter Primus harus sesakit ini?
Andai aku zain mungkin aku adalah orang paling bahagia didunia ini memilikimu dalam hidupku. Primus
***
"Kenapa dengannya Kak Prim?" Tanya Dewi ketika Primus menaruh kembali peralatan medisnya didalam tas
"Dia alergi dengan makanan mentah mungkin tadi dia tidak sengaja memakannya, kamu tidak usah khawatir sebetar lagi demamnya akan turun"
"Sukurlah kak."
"Bagaiman dengan Asam lambung mu apa masih sering kambu?
" Tidak kak, Zain selalu mengatur pola makan ku kebalakangn ini "
"Syukur lah teryata Zain menjagamu dengan baik" ucapnya
"Kak hati-hati.. Maaf Dewi mengganggu tengah malam bagini" Primus hanya tersenyum kemudian dia melajukan mobil sport kuning miliknya.
Diatas sana dibalik jendela kaca seorang pria menahan amarahnya, dia cemburu ketika melihat wanitanya dekat dengan pria lain. Dia sudah tidak tahan ingin menghancurkan kaca didepannya. Sejujurnya tadi Zain hanya ingin reaksi Dewi.
__ADS_1
"Zain kau sudah bangun?" Tanyaya saat mulai masuk ke dalam kamar.
"Hemm.. Kenapa? Kau ingin aku selalu terbaring lemah dikasur itu, dan kamu lebih bebas bersama Primus?"
" Apa yang kau katakan?, kau merancau lagi , seperti menyebut nama Ale..." Dewi menghentikan ucapannya dia berlalu didepan Zain begitu saja, namun tubuhnya ditarik kuat oleh Zain hingga memaksanya jatuh di dada bidang nan kokoh pria itu.
"Katakan padaku apa kau menyukainya?"
"Apa sih, kau ini kenapa? Zain ini sakit !" Dewi, meringis cengkraman tangan Zain sangat kuat
"Kenapa tidak menjawab? Kau menyukai Primus ? "
"Kau gila Zain dia datang mengobatimu dan aku hanya mengantarnya keluar kau ini kenapa sih?"
"Mengantarnya, kau juga tersenyum padanya. Kalian begitu terlihat akrab."
Dewi mengehempaskan tangan Zain begitu kasar, menatap tajam pria itu.
"Lalu apa masalah mu? Kenapa kalau aku tersenyum padanya? Apa tidak boleh?"
Zain kemudian menarik Dewi kedalam pelukannya, memeluk erat gadis itu.
"Kau milikku, senyum itu hanya untukku semua adalah milikku." Tagasnya.
Ck... Lal**U tadi apa kau menyebut nama Alexa dalam tidurmu
"Hmm..." Gumamnya
"Apa tamunya belum juga pergi?" Lirih Zain dalam pelukannya.
"Belum.. Ini baru hari pertama masih ada 3 hari lagi"
"Apatidak bisa dipercepat dia pergi?"
"Mana boleh? Dia akan pergi jika sudah waktunya. Jangan sembarangan deh kamu"
"Baiklah. Kau mau besok kita kerumah mami setelah pulang kantor hemm" Dewi mengangguk setuju terlihat jelas dia sangat bahagia
"Apa kau sebahagia itu mau kerumah mami? Kau tidak suka kalau kita berduaan dirumah?"
"Bukan begitu aku sudah sangat merindukan Alea, mami dan daddy."
*bersambung...
**JANGAN LUPA VOTE DAN BERI SARAN KARENA ITU SANGAT PENTING....🤗
JANGAN LUPA tekan tombol like dibawah agar Ku lebih semangat lagi
terimakasih sudah membaca ❤🤗**
__ADS_1