Kau Dewiku

Kau Dewiku
5


__ADS_3

***


"Tuan Zain, nyonya Dewi?" Seru pria yang sudah sangat tua dengan pakaian lusuh baru saja keluar dari rumah begitu sederhana.


Senyum Zain dan Dewi mengambang di wajah mereka, tanpa ragu Zain memeluk tubuh rentah itu.


Aroma khas teh hijau yang selama ini Zain rindukan menebar disetiap sudut rumah kayu sederhana itu. Meski sangat sederhna namun rumah ini begitu nyaman dengan udara sejuk khas pedesaan, ditambah pemandangan ladang jagung dan jejeran pohon jeruk memanjakan mata.


"Kau menyukainya sayang?" Tanya Zain merangkul pundak istrinya tepat didepan jendela.


"Hemm..." Angguknya.


"Tuan, nyonya silahkan." Zain dan Dewi langsung berbalik secara bersamaan.


"Pak Nam, bagaimana kabar mu?" Tanya Zain seraya meletakkan cangkir teh hijau yang baru saja dia minum


"Baik tuan sangat baik, aku seperti sedang berlibur di desa ini."


"Pantas pak Nam menolak pemberian mami, disini jauh lebih nyaman dan indah." Tukas Dewi, disenyumi pak Nam.


"Nyonya dan Tuan Abrham begitu banyak memberiku, itu sudah cukup untukku dan Yura."


Dewi melirik suaminya seakan memberi isyarat.


"Hemm.. Pak Nam, kedatangan saya dan Dewi kesini karena kami ingin membicarakan tentang Yura."

__ADS_1


Kedua alis pak Nam mengkerut, kacamata bundar yang sejak tadi bertengger di kedua sisi hidung kembali pak Nam naikkan berharap wajah kedua tuannya terlihat jelas, ia lalu menatap Zain dan Dewi silih berganti penuh tanya.


Dewi hanya menjadi pendengar diantara kedua pria beda genarasi itu, pembicaran yang begitu serius. Sesekali Zain meminta pendapat Dewi yang hanya di jawab dengan anggukan.


Sedangkan diluar sana seorang gadis bermata indah dengan surai begitu panjang berjalan sedikit pincang, sebuah tatapan penuh tanya diwajah Yura begitu melihat sebuah mobil mewah berwarna hitam sedang parkir dipekarangan ruamahnya. Tidak hanya itu, pria berwajah datar bak dementor yang berdiri didepan mobil itu membuatnya sediikit takut, apa mereka rentenir gila yang sedang menagih utang pada kakeknya.


"Pak Coy." Teriak Yura sedikit berbisik pada pria tiga puluan yang kakeknya angkat sebagai anak saat Yura masih kecil.


"Pak Coy."


Pria bertubuh kekar itu memejamkan matanya kesal. "Namaku Galih, Yura, Galih."


"Itu mobil siapa?" Tanya Yura mengabaikan protes Galih.


"Ouh, ngapain mereka kesini? bukannya kakek udah lama pensiun?"


Galih akhirnya berbalik, rahang tegas ditumbuhi bulu halus membuat terlihat semakin dewasa. "Mereka datang ngelamar kamu."


"Ohh..." Angguk Yura.


Teng...


"Apa?" Tanyanya begitu sadar.


"Hem, Tuan Zain melamar mu untuk putranya."

__ADS_1


Yura sedikit berfikir, sepertinya dia pernah mendengar cerita ini.


"Kendrick Rey Abraham."


"Tepat sekalali."


Deg...


Yura terdiam sesaat dirinya tercekat mendengar nama itu, akhirnya hari ini datang, hari yang begitu menyakitkan. Dimana Yura tidak akan bisa menolak lamaran ini. Jauh sebelum Yura lahir perjodohan ini sudah terjadi.


Yura berjalan gontai menuju halaman belakang rumah, seruan Galih hanya menjadi angin lalu ditelinganya. Gadis itu terus berjalan sampai kakinya berhenti di depan rumah pohon, tempat ternyaman Yura selama ini.


***


Ken berdiri dibawah guyuran shower memperlihatkan seluruh otot-otot tubuhnya, kilasan penghiatanan Hera dan Luis terbesit dibenak sehingga kaca didepannya menjadi sasaran tinju pria itu.


Tatapan tajam penuh amarah Ken terlihat dari pantulan cahaya yang retak, air guyuran shower masih mengalir menyetuh kulit kecoklatan miliknya.


"Awas saja kau Luis! Aku akan membalasmu."


***Aku Mau Berterima Kasih Ke Kalian Yang Sudah Mampir Di Karya Aku.. Maaf Kalau Banyak Kekurangan..


*PLEASE JANGAN LUPA VOTE AKU YA BERAPAPUN ITU AKU BERTERIMAKASIH🥰*


satu lagi jejak 👍 ❤**

__ADS_1


__ADS_2