
***
Berulang kali Ken menghembuskan nafas sebelum memulai langkah memasuki rumahnya. Belum sempat Ken meraih gagang pintu, pintu itu sudah lebuh dulu terbuka. Menapakkan wajah seorang gadis beberapa hari yang lalu dia tabrak.
"Kau." Tunjuk Yura tepat dedepan wajah Ken. "Pria sombong, arogan dan tidak bertanggung jawab. Baguslah kita bertemu disini jadi aku tidak perlu memasukkan nama dan wajahmu di DPO."
"Oooh... Apa kau mengenalku?" Tanya Ken sedikit menjauh dari jangkaun Yura.
"Ya, aku sangat mengenalmu. Kau laki-laki pengecut yang sudah merusak sepedaku, dan membuat ku gagal wawancara hari itu." Ucap Yura dengan tatapan tajam
"Ha?" Ken berkacak pinggang "Oke! Aku, akui aku salah sudah menabrak dan merusak sepedamu. Tapi, kenapa kau menyalahkanku soal wawancaramu? Kau gagal karena tidak kompeten bukan karena salahku."
"Kauu..." Tunjuk Yura.
"Ken?" Panggilan Dewi memotong ucapan Yura. "Kalian sudah saling kenal?" Tanya
"Iya"
"nggak" Sahut mereka bersamaan
"Mami jadi pusing"
"Mi, bagaimana bisa mamai membawa gadis aneh dan bar-bar ini kerumah kita?" Tunjuk Ken tepat dedeoan wajah Yura.
"Ken kamu ini ya. Yura maafin Ken ya dia memang sedikit nyebelin." Ucap Dewi.
"Nggak papa tante, aku tau kok. Selain menyebalkan dia juga bukan pria yang bertanggung jawab" Suara Yura seperti meledak Ken .
"Hey!" Protesnya.
__ADS_1
"Kenapa? Apa aku salah? Bukti pas kamu nabrak aku, kamu langsung lari tu. Sampai-sampi aku gagal wawancara karena ulahmu."
"Kalian ngomong apa sih? Mami nggak ngerti."Lerai Dewi
"Pria ini yang menabrakku tempo hari tante, dia nabrak aku terus langsung pergi aja."
Dewi menatap Ken tidak percaya, dia ingat betul saat berkunjung kerumah Yura. Gadis itu terluka dan sepedanya juga rusak.
"Ken."
"Nggak gitu mi, aku hanya buru-buru, lagian gadis rese ini nggak liat-liat kalau mobilku ada dibelakang kan keserempet mi." Elaknya
"Kau masih mengelak dengan alasan tidak masuk akal, apapun alasannya kalau kamu melakukan kesalahan kau harus bertanggung jawab Ken. Bagaimana jika waktu itu Yura kenapa-napa dan nggak bisa pulang kerumah, bagaimana perasaan keluarganya jika itu terjadi Ken? Itu sama perasaan mama kalau kamu dan Bella kenapa-napa." Ucap Dewi penuh kepiluan.
"Mami kecewa sama kamu Ken, percuma kamu sekolah tinggi-tinggi kalau rasa kemanusiaanmu nggak ada."
Belum sempat Ken bersua, Dewi sudah lebih dulu meninggalkan merka berdua.
"Karena aku? Memang salah ku apa?" Gumamnya.
***
Tok... Tok...
"Mi, maafin aku!" Ucap Ken didepan kamar Dewi. "Aku janji nggak ngulangin lagi!"
"Buka ya pintunya, aku juga udah minta maaf sama Yura."
Tok... Tok...
__ADS_1
"Mi..."
"Tante Dewi masih marah?" Tanya Yura, entah sejak kapan gadis itu berada belakangnya.
Ken menoleh mencati asal suara itu. "Menurutmu? Kau tau nyawaku sekarang terancam karena ulahmu"
"Kenapa menyalahkanku? Kau yang berbuat salah."
"Auhh bicah tengil, rese, gila." Geram Ken. "Pokoknya aku nggak mau tau, bantuin aku bujuk mami! Kalau sampai mami masih marah atau nagis saat papi pulang, bukan hanya aku atau kamu yang terancam seluruh isi rumah ini, orang kantor bahjan negara ini terancam keselamatannya."
"Ha??? Memang kenapa? Om Zain baik kok, dia bahkan nawarin aku sepeda baru."
Ken menggeleng pasti. "Iya, papi memang baik bahkan lebih baik dari malaikat. Tapi, jika wanitanya bersedih dia akan berubah 180 drajat dari sifat aslinya." Suara Ken begitu dramatis membuat Yura berdegik sendiri.
"Jadi, bantu aku bujuk mami! Ini semua bukan sepenuhnya kesalahnku."
Merasa tidak ada Respon Ken kembali menoleh ke arah Yura.
"Hey!" Teriak Ken, meleburkan lamuannya.
"Ahh?"
"Ngapain bengong?"
"Nggak, aku hanya berfikir kalau om Zain pria terkeren sepanjang peredaban manusia. Dia sudah seperti Obito (Serial Anime Naruto) yang ngajak perang satu dunia demi seorang cewek."
"Obito? Siapa itu? Presiden? Mentri?"
"Anggota dari Konohagakure 's klan Uchiha."
__ADS_1
Ken cengoh tidak mengerti. "Ahh, sudah lah! Meski aku jelasin kamu nggak akan tau." Ucap Yura Kesal.