
zain melangkah menuju ruang rapat, aura kepemimpinan yang kental membuatnya semakin disegani, di ruangan itu dia disambut para eksekutif tinggi perusahaan bahkan roger ikut hadir dalam rapat ini.
sekitar setengah jam berlalu handphone miliknya berdering. dia berdiri sedikit menjauh mengangkat panggilan telephonenya.
seketika jantungnya berdetak kencang, darahnya berdesir hebat, suhu tubuhnya mulai memanas. roger melihat perubahan wajah putranya mendekat
"apa ada masalah zain?"
"dad, aku harus pulang, istriku sakit dirumah" ucapnya. roger takkala khwatir mendengarnya seketika ruangan dibuat riuh..
"kamu pulang biar daddy mengambil alih rapat ini..! " zain mengambil langkah panjangnya diikuti Aiden, para eksekutif saling menatap satu sama lain.
didalam perjalanan zaun benar-benar terlihat cemas, seingatnya istrinya tidak apa-apa tadi pagi,
"Aiden kau bisa cepat sedikit?" ucapnya sedikit berteriak. tampa mengikuti rambu lalu lintas Aiden Menerobos lampu merah yang seharusnya berhenti.***
tak lama zain sampai didepan puntu rumahnya. dia segera mengambil langkah panjang memasuki rumahnya, bahkan sekarang runah ini terasa sangat luas hingga memperlambat dia sampai di istrinya.
didepan kamar seluruh pelayan rumahnya dan beberapa pengawal terlihat tertunduk ketika melihat tuan mereka. tanpa bertanya zain masuk kekamar disana, hatinya seakan sesak melihat istrinya terbaring lemah di tengah kasur wajahnya sangat pucat. melihat kedatangan zain,a bibi emi devika dan dokter primus sedikit menjauh
zain duduk di tepi ranjang menatap sendu wajah istrinya.
"bagaimana keadaan istriku prim? kenapa seperti ini? tadi pagi dia baik-baik saja" ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya
"kaka ipar tidak apa zain hanya saja dia..."
"PRIM.." teriaknya membuat mereka yang semua kaget. " kau selalu mengatakan istriku tidak apa-apa, tapi lihat dia...."
"By..." zain seketika berbalik menggenggam tangan Istrinya
"iya sayang aku disini?" seketika suaranya lemah lembut.
"kenapa kau selalu berteriak, aku hanya ingin tidur by"
__ADS_1
"maafkan aku sayang.." ucapnya. zain membantu istrinya menyandarkan dirinya.
"jadi kenapa dengan istriku? dia sakit apa prim.."
"istrimu tidak sakit zain, saat ini dia sedang mengandung anak mu"
seketika wajah zain berubah cerah kekawatirannya sirna bagai terhempas ombak ditengah lautan. dia menatap wajah istrinya penuh haru, gadis itu terlihat tersenyum, lalu merentangkan tangannya agar pria itu memeluknya
zain menghamburkan dirinya kedalam dekapan gadis mungilnya kebahagiannya saat ini tidak bisa diakur dengan apapun, dia teramat bahagia hingga butiran kristal dari ujung matanya menetes. itu bukan dirinya tapi inilah dia sekarang pria yang sangat mudah menghawatirkan sesuatu jika menyangkut wanitanya., pria yang sangat mudah meneteskan air mata. sungguh karena cintanya amat sangat besar untuk istrinya.
"maafkan aku By.. tidak memberi tahumu, aku hanya ingin memberimu kejutan"
"jangan seperti itu sayang, kau membuatku khawatir" ucapnya
dewi hanya mengelus lembut punggung suaminya
"tunggu...! aku akan jadi ayah?" ucap zain. melepaskan pelukannya menatap lekat wajah istrinya. dewi hanya mengangguk dengan senyum diwajahnya.
"kau dengar prim aku akan jadi ayah.. istriku hamil" ucapnya terlihat bahagia.
"ada apa sayang? kamu baik-baik saja kan? ucap Zain dengan penuh kekawatiran dia memijit tekuk leher istrinya dengan lembut tak sedikitpun rasa jijik melihat muntahan istrinya.
uwekkk... uwekkk... uwekkkk... dewi terus memuntahkan isi perutnya yang sudah habis.
" sudah?" ucap zain. hanya diangguki dewi. pria itu dengan penuh kasih menuntun istrinya yang mulai melemah.
dewi sangat beruntung, zain benar-benar mencintai istrinya, dia terlihat sangat khawatir. ucap devika batinnya. dia melirik kearah primus yang memilih menunduk melihat kemesraan pasangan didepannya
"prim.. kenapa dengan istriku? bukannya kau bilang dia sedang hamil, tapi kenapa dia muntah seperti ini?"
"zain kau ini benar tidak tau apa-apa ya. ini biasa terjadi pada ibu hamil ..."
"oke mari kita mempermudah semuanya. kau tinggal pilih, membayar sewah tanah milikku atau aku meratakan rumah sakitmu?"
__ADS_1
"oke zain aku hanya bercanda. ini biasa terjadi pada trismester pertama kehamilan dia mual itu biasa, dia tidak akan suka dengan bau tettentu, untuk awal kehamilan jangan buat dia stres atau kecapean itu akan mempengaruhi janinnya. kau bisa bertemu dengan dokter marta untuk lebih jelasnya ini bukan bidangku."
"kau kan dokter memang apa bedanya..?"
"bicara dengannya percuma, tidak akan habis dalam sehari semalam" bisik Devika. primus hany mengangguk
"By..." dewi meraih pergelangan tagan suaminya "lebih baik kita bertemu dengan dokter marta."
"ayo kita pergi sekarang.!" zain kemudian berlari kearah lemari pakain niat mengambilkan pakaian untuk istrinya. dia menatap tajam Primus, devika dan Aiden yang masih berada dikamarnya.. "kenapa kalian tidak keluar?" ucapnya ketus.
*
zain sangat antusias ikut pemeriksaan awal istrinya, dewi dibaringkan diatas bangkar terlihat perawat itu memberikan jel di atas perut istrinya. dokter marta menggerakkan alat transducer diatas perut dewi.
"Tuan lihat, Ini calon anak kalian" dokter marta menujuk komputer didepannya sejak tadi wajahnya mengembangkan senyum
"kalau saya lihat, dan Hari terakhir nyonya dewi haid usia kandungannya menginjak 5 minggu"
"dok.. jenis kelamani anaknsaya cewek atau cowok dok?" ucao zain yang disenyumi dokter marta
"tuan untuk saat ini jenis kelamin bayii belum dikatahui, setelah 18 minggu kedepan baru kelihatan jenis kelaminnya"
dewi dibantu suster untuk bangun. lalu dia duduk didekat suaminya, Zain dengan penuh kasih mengenggam tangan istrinya. hanya rasa syukur dan bahagia dia lantungkan dalam Hati.
Bersambung....
***aku mau berterima kasih ke kalian yang sudah mampir di karya aku.. maaf kalau banyak kekurangan.. semoga saran kalian bisa membuat aku lebih baikbkedepannya*
*PLEASE JANGAN LUPA VOTE AKU YA BERAPAPUN ITU AKU BERTERIMAKASIH🥰*
satu lagi jejak 👍 ❤**
***NB,
__ADS_1
tindakan aiden jangan diikuti ya. kalian harus mengikuti rambu-rambu lalu lintas.