
Zain mengenggam tangan istrinya menuju halaman belakang, disana sudah ada Ares, Primus dan Devika sedang asik memanggang daging barbekyu. menyadari kedatangan zain ketiga orang itu menatap mereka.
tunggu..! bukan kah itu gadis tempo hari?
lagi-lagi ada yang menjanggal hati devika, dimana aku melihat gadis ini dia sangat familiar. dia mencoba membuka kembali memorinya. Ah aku ingat sekarang, dia foto gadis diruangan primus, ada apa ini?
devika melirik primus yang sedang berdiri menatap Zain dan istrinya. apa primus juga mencintai**nya.?
"apa yang kalian lihat?" Ucap zain menatap tajam kedua pria didepannya. dia tidak suka jika ada orang lain menatap istrinya. memang mereka siapa bisa menatap seenaknya milikku.
"bukan kah kamu nona dewi" ucap Devika dengan senyumnya. membuat ketiga pria itu menatap penuh tanya. sedangkan dewi seketika fokus ke arah devika
"dev... iya tentu aku ingat, aku fikir tadi salah orang dev. ?" ucap dewi.
"kamu kenal sama devika sayang?" dewi hanya mengangguk "kok bisa? kenapa aku tidak tau?" ucap zain menuntun istrinya.
"kami tidak sengaja bertemu By di mall kemarin" hanya anggukan yang diterima dewi.
ada sesuatu mengganjal hatiku, aku ingat jelas waktu itu devika mengatakan jika dasi itu ingin dia berikan kepada temannya, apa mungkin zain dan dev? apa mereka pernah pernah menjalin hubungan lebih dari pertemanan? bahkan devika tahu semua warna dasi yang dimiliki zain.
"sayang kamu baik-baik saja kan?" ucap zain memecah lamuannya. dewi hanya mengangguk dengan senyum,
"Zain bagaimana kamu bertemu gadis secantik istrimu? perasaanku selama aku tinggal di kota ini belum menemukan gadis secantik dia" itulah ares si raja gombal. dia tampan, kaya dan sering membuat pata hati wanita karena rayuannya.
__ADS_1
"ares kau sudah bosan hidup?" bentak Zain.
"hay.. aku hanya bercanda. lihat suami mu dewi dia cemburuan, dan susah diajak bercanda."
"mungkin karena dia sangat mencintaiku..." ucap dewi, dia menatap suaminya dengan senyum terukir diwajahnha. zain mengelus pipinya andai ini dirumah mereka mungkin gadis ini sudah dia ...? ah sudah lah
"wahh... mereka berdua pasangan yang kompak. " ucap ares.
cukup lama mereka berbincang-bincang, aku dan zain pamit lebih dulu, mungkin karena zain melihatku menguap beberapa kali. entah aku tidak bisa masuk ke dunia mereka. untung saja ares sesekali membuatku tertawa jadi aku tetap bertahan, jujur hatiku gelisah memikirkan hubungan zain dan devika.
di dalam mobil aku lebih memilih diam menatap jejeran gedung diluaran sana agar hatiku sedikit terhibur, tapi sepertinya sia-sia tidak merubah apapun hatiku masih gelisah.
"yank, kamu kenapa? sejak tadi kamu hanya diam? bahkan disana sepertinya kamu tidak bersemangat." ucap zain, sesekali dia menatap istrinya lalu fokus ke jalan.
"Kamu dan dev hubungan seperti apa yang pernah terjalin diantara kalian?" akhirnya kata-kata itu keluar juuga yang sejak tadi menyesakkan dadaku. aku menatap tajam padanya aku ingin sekali menangis tapi masih bisa aku tahan, dia terlihat bungung. zain menepikan mobil, dia akan menyelesaikan permasalahan yang dia tidak tahu apa.
"maksudmu apa sayang? aku dan dia hanya berteman sama dengan primus dan ares. yank"
"berteman? apakah teman sampai tahu hal seinci itu? dia bahkan tahu warna dasimu yang dilemari, apakah itu dibilang teman?"
"aku tidak mengerti"
"waktu di mall aku bertemu dengannya. kebetulan dasi yang kuberikan padamu waktu itu tinggal satu ditoko, dia mengatakan jika ingin memberikan untuk temannya karena miliknya dominan warna gelap. awalnya aku fikir bukan kamu mungkin saja hanya kebetulan. tapi melihat tatapannya padamu, aku tau jika dia mencintaimu sejak lama"
__ADS_1
"sayang.. aku tidak tau. jika memang seperti itu itu tidak mengubah apapun aku tetap zain yang mencintaimu". ucapnya dia memelukku dengan erat.
"maafkan aku tidak menyadari jika tadi kau tidak nyaman berada disana, sejak tadi kamu pasti tersiksa? maafkan aku sayang, bagaimanapun dia padaku, aku hanya milikmu, "
aku sudah tidak bisa menahan air mataku kutumpahkan dalam dekapannya. mungkin aku terlalu berlebihan, tapi hatiku tidak bisa aku bohongi aku sangat mencintainya, aku takut kehilangan dia.
perlahan Zain menundukkan kepala mendaratkan ciumannya, aku sadar dia mulai memberikan ciuman yang menuntut jika tidak dihentikan sesuatu yang panas akan terjaadi, tentu karena aku masih waras ini di pinggir jalan.
"By..." aku melepaskan ciumannya lalu mendorong tubuhnya agar keadaan aman terkendali. kening kami saling menyatu, aku bisa merasakan hembusan nafasnya masih memburu. "jangan ragukan aku sayang, aku hanya mencintaimu. aku tidak perduli mereka menyukaiku ataupun tidak, aku tetap milikmu tidak akan ada yang merubah itu."
"maafkan aku By. meragukan mu"
"itu tidak masalah sayang. tapi yang tadi aku tidak meloloskan mu malam ini." ucap zain kembali melajukan mobilnya membela kesunyian malam.
di balik jendela cahaya rembulan menyusup masuk dikamar minimalis dominan warna putih, devika mengenggam bingkai foto terlihat senyum lepas keempat remaja yang saling merangkul. Ares, Zain, Devika dan Primus saat itu mereka sedang jalan-jalan di pusat kota karena cuaca yang cerah mereka berempat berfoto di depan salah satu bangunan bersejarah di Kota J.
"bahkan sampai detik ini aku tidak bisa mengambil hatimu, aku sudah berusaha menganggapmu sebagai teman biasa karena aku tidak ingin patah dan kecewa, aku sudah berusaha sepenuhnya menyerah dan berbalik arah, tapi aku tidak bisa ku akui aku kalah aku tetap menyukaimu meski sekarang hatimu ada pada wanita lain."
Bersambung....
***aku mau berterima kasih ke kalian yang sudah mampir di karya aku.. maaf kalau banyak kekurangan.. semoga saran kalian bisa membuat aku lebih baikbkedepannya*
*PLEASE JANGAN LUPA VOTE AKU YA BERAPAPUN ITU AKU BERTERIMAKASIH🥰*
__ADS_1
satu lagi jejak 👍 ❤**