
sedangkan diluar sana bibi dan Aiden saling mamandang, tidak ada suara bentakan lagi. bibi emi merona menahan senyumnya mendengar pergulatan kedua tuannya. namun tidak dengan Aiden dia hanya menapakkan wajah datarnya
Pagi kembali menyambut dewi mengejabkan mata, tubuhnya masih polos dia lirik suaminya masih tidur dengan lelap. alis tebal, hidung macung bibir merah, bagian dagunya memiliki brewok tipis membuatnya semakin tampan. jari lentik menyentuh ujung hidung lalu turun ke bibir merahnya.
puas memandangi wajah suaminya dewi beranjak ingin kekamar mandi namun tangan kekar suaminya manrik tubuh kecil itu kedalam dekapannya
"zain apa yang kau lakukan, aku mau mandi!"
"sudah kubilang pangil aku sayang"
"Zain dan sayang sama saja, itu hanya pannggilan"
zain mengkukung tubuh istrinya, dewi merasan sesuatu yang mulai mengeras dibawa sana menggesek paha mulusnya
"panggil aku sayang ! atau adikku dibawah akan membantuku agar kau memanggilku sayang!" zain mulai jail bibirnya mengigit telinga istrinya dengan sensual.
" By.. Hubby panggilan sayangku untukmu.. bagaimana?
bisa remuk badanku jika harus mengulanginya... apa mungkin dia meminum Jamu itu? belakangan ini dia sangak agresif dan ... ah sudah lah!
"hemmm by? aku suka" zain kemabli berbaring lalu memeluk tubuh mungil istrinya
"By... kalau kita begini terus nanti kamu terlambat kekantor"
"aku mau dirumah saja begini sama kamu "
"mana boleh begitu?" dewi melepaskan pelukan zain kemudian menatap tajam suaminya yang sedang memasang wajah polosnya
"ya boleh lah.. aku bosnya, aku yang punya perusahaan suka-suka aku dong."
ck.. sombong amat sih kamu.. untung aku sayang
platak zain menyentil kening dewi "kamu sedang memikirkan apa ha?"
"apa sih... ? kalau kamu tidak kerja bagaimana caranya menafkahiku? bagaiman jika kamu bangkrut karena tidak masuk kerja? bagaiman caranya aku jajan? makanku banyak by"
rayuan maut mulai keluar, enak saja mau dirumah seharian aku tau kau akan mengurungku dikamar.
"Kalau aku bangkrut aku akan bergantung padamu sayang?
" padaku?"
"iya! kau sekrang jadi orang kaya, uang bulanan yang kukasi padamu tidak pernah kau gunakan, lalu black card itu kau hanya gunakan untuk kegiatan amal, jadi aku akan bergantung padamu saja kalau aku bangkrut
"bagaimana aku bisa menghabiskan uang itu kau memenjaraku dikamar?
cara tetkahir membujuk suami bucin agar kekantor " ah.. sudah kalau kau tidak kerja aku tidak akan kasi jatah !"
__ADS_1
sontak zain bangun menuju kamar mandi tanpa bicara lagi
"wahh aku tidak tau jika ancaman itu ampuh seratus tidak seribu persen... uh dasar om-om mesum giliran soal jatah langsung menurut"
"aku mendengarnya sayang" teriak Zain
"upsss.. pendengarannya tajam juga ya"
rutinitas tiap pagi Dewi mengantar suaminya kekantor meski hanya sampai didepan pintu, seperti biasa Aku menilai penampilannya sebelum dia berangkat. hari ini dia memakai Baju kaos hitam didalamnya dipadukan dengan Jas hitam senada Dengan Bawahnnya jam tangan sehargan 23M melingkar dipergelangan tangannya.
"suami siapa sih ini ganteng banget?"
zain tersenyum mendengar suara istrinya dibuat sangat lucu.
"aku kekantor ya! kalau mau keluar kabari aku ! suruh fredi mengantarmu ! "
dewi memutar bola matanya jengah belakangan ini suaminya sangat posesif menurutnya, tapi bagi zain itu bukti cintanya dia termaat mencintai gadisnya andai istrinya bisa dia kunci dikamar maka itu akan dia lakukan.
"hati-hati By" teriaknya. senyum dibibirnya masih terukir kala mobil Sport melaju meninggalkan Halaman rumah mewah miliknya.
"dia melupakan handphonenya, apa aku antar saja sekalian jalan-jalan juga kekantor pasti ada noel dan rumi" dengan semangat 45 dewi menuju kamar mandi membersihkan Badannya, bibirnya tak henti melantungkan lagu-lagu kenangan meski suaranya sumbang ditelinga.
*
Alea harus berjalan kaki 300 meter dari rumah kakanya, mobilnya mogok demi apapun dia akan memarahi petugas bagian kendaraan dirumahnya, sepanjang jalan dia menggerutu tidak jelas
mata alea membulat ketika melihat bola basket melayang kearahnya untug dia Tangkas menghindari bola basket hampir mengenainya
huft hampir saja... utang saja aku tangkas!
"tante.. boleh monta bolanya?"
alea bingung kepalanya mencari seorang tante yang dimaksud pemuda itu. tidak ada siap-siapa hanya aku disini, alea menunjuk dirinya sendiri
"aku..?"
"iya tante.. lempar bolanya kemari"
alea menahan nafasnya baru kali ini dia dikatai tante oleh seorang pria yang terlihat lebih muda 4 tahun darinya. postur tubuh tinggi, ototnya pun waow idaman para wanita, aku sempat terkesima melihatnya, tapi tunggu dia baru saja menyebutki tante, TANTE? jiwa barbarku meronta ingin ku letuskan otot-otot itu.
alea mengambil bola lalu memperlihatkan kepada pria itu, dia terlihat senang menganggukkan kepalanya, tuhan senyumnya meluluhkanku. diluar dugaan alea melempar bola itu menjauh.
alea meninggalkan pria itu dengan kekesalannya...
awas saja kalau di muncul dihapanku jangan kan ototnya seluruh tubuhnya pun akan kuletuskan.
" Nona Aleaaa... " langakah alea terhenti, dia membalikkan tubuhnya ternyata pria yang tadi mengikutinya
tunggu dia tahu namaku, siapa dia? teman SMP, SMA, atau teman Kuliah?
__ADS_1
"kau marah..? maaf aku hanya bercanda"
lagi-lagi dia tersenyum ahh... aku luluh siaap sih dia?. diam adalah jalan ninjaku rumah kaka masih beberapa langkah lagi bagaimana jika dia menculikku, memperkosaku ,atau memutilasiku lalu mengambil organ tubuhku...
"AHHHHHHHH.... TIDAK" teriak alea
"hey kau kenapa? aku tidak akan melakukan apa-apa padamu.. lihat kau membuat bibi itu menoleh" pria itu menunjuk salah satu penghuni kompleks elit itu
"kau tahu siapa aku?"
"tentu.. kau nona Alea anak tuan Roger! kenalkan aku Rapael" dia tersenyum mengulurkan tangannya, alea tidak mambalasnya
"oke.. kau kan sudah tau siapa aku jadi tidak perlu kanalan lagi kan!"
"hemm... oke, kau baru tinggal disini ya? rumahku nomor 280 hanya beberapa rumah saja dari sini" alea tidak memjawab dia memilih pergi hanya beberap langkah lagi dia memasuki pekarangan rumah kakanya.
"jadi dia pemilik rumah paling besar itu," ucap rapael dengan senyumnya
alea sampai ngos-ngosan gara-gara pria aneh yang mengenalnya.
"Al kau kenapa?" dewi yang baru saja keluar keheranan melihat sikap alea
"kak tolong Air! "
dewi berlari melangkah kedapur mengambilkan segelas air. satu tegukan air itu melewati kerongkongan alea,
"kau kenapa?"
"ada.. pria aneh diluar sana mengejarku" dewi mengerutkan alisnya " kau mau kemana?"
"aku mau kekantor Zain, kau mu ikut?"
"tunggu ! biar aku beristrahat sebentar"
"hem.." dewi melangkah kekamarnya mengambil tas dan handphone milik zain
"bagaimana kau sudah baikan?" alea masih terkulai lemas di sofa ruang keluarga, "pakai Lip ini wajahmu terluhat pucat!"
"terimakasih kaka ipar"
aku benar-benar geli jika alea memanggilku kaka ipar bahkan dipernikahan ku sudah menginjak 8 bulan aku masih aneh jika kata itu keluar dari mulutnya.
Bersambung....
***aku mau berterima kasih ke kalian yang sudah mampir di karya aku.. maaf kalau banyak kekurangan.. semoga saran kalian bisa membuat aku lebih baikbkedepannya*
*PLEASE JANGAN LUPA VOTE AKU YA BERAPAPUN ITU AKU BERTERIMAKASIH🥰*
satu lagi jejak 👍 ❤**
__ADS_1