
"Yank... Bangun yank" Zain dengan jailnya menusuk-nusuk pipi istrinya. Dewi berusaha mengumpulkan kesadarannya dan melirik jam diatas nakas.
"Kenapa By?" ucapnya dengan suara khas bangu tidur, matanya masih belum terbuka sempurna.
"Yank aku lapar" Rengek Zain
"Hemm.. Mau makan apa biar aku buatkan?"
"Aku mau gado-gado yank, kaya waktu itu kamu belikan di pasar tradisional"
"By... ini masih jam setengah lima mungkin penjualnya belum ada disana, kita tunggu sampai jam enam ya!" Dengan segala rayuan akhirnya zain menurut. Lagi pula dia aneh aku yang hamil dia yang banyak maunya.
"Yank... ini sudah jam enam, bangun yuk katanya mau kepasar beli gado-gado" Zain mengguncang tubuh istrinya agar bangun.
"Hemmm.. Sebentar aku cuci muka dulu By"
Dengan penuh semangat a zain menunggu istrinya yang baru saja turun, wajahnya terlihat segar tanpa make Up.
"Tunggu by, aku lupa dompet" Dewi memutar badannya ingin kembali kekamar tapi Zain dengan cepat meraih tangannya.
"Ini, aku sudah membawanya turun tadi."
...***...
"Bu Utis gado-gado dua! Satu pedes, satunya nggak?" Pemilik itu mengangguk sembari membuka gerai dagangannya
"Neg dewi. sebentar Ibu baru buka!" ucapnya sibuk menggerai dagangannya.
"Tadi mau berapa neng?"
"Dua bu..."
"Tiga yank..." Potong Zain "pakai cabe ya 10" ucapnya lagi
"By... Bukannya kamu tidak suka pedas?" Dewi keheranan melihat suaminya.
__ADS_1
"Aku mau sepuluh Yank turuti aja ya"
dewi hanya menggelengelihat tingakn aneh dan manja pria besar ini.
"Neng dewi ini suaminya toh? Ganteng pisan neng." Dewi hanya tersenyum "Suami neng ngidam ya?" ucap Bu utis sedang asik mengulek
"Kayaknya Bu.. aku yang hamil dia yang banyak maunya" Dewi melirik kearah Zain yang sedang asik melihat sekeliling pasar itu.
"Berapa Bu..?
" Walah neng kan udah sering beli disini.. Hargnya tidak berubah kok" ucapnya. Dewi langsung mengeluarkan pecahan seratus.
"Uang pas ada neng? Uang ibu tidak cukup untuk kembalian. Kalau ngga punya lain kali aja lah neng kan sering beli disini juga"
"Itu buat ibu saja"
"tapi neng..."
"Anggap saja rezeki bu" ucap dewi melangkah pergi.
"Terima kasih Neng, semoga sehat terus ya sama adeknya." Ucap bu Utis tulus.
"By.. kita kesana yuk. banyak kue enak kita beliin buat orang rumah" Ucap Dewi.
Dia memilih beberapa kue yang paling laris dirumahnya.
"By ayo pulang aku sudah selesai" ucapnya.
Langkah Zain terhenti ketika melihat mangga manalagi masak yang segar sepertinya baru dipetik dari pohonnya
"Ini berapa pak?" Tanya Zain.
Dewi yang sadar genggaman suaminya lepas melirik kebelakang dia pun kembali menyusul suaminya
"Saya mau semua ..!" ucapanya membuat pedagang itu terbelak kaget
__ADS_1
Pedagang itu menatapnya tidak percaya.
"Jadi semuanya berapa pak?"
"Sebentar pak saya timbang dulu. Semuanya 479.000 " ucapnya
Segera Zain memberikan sepuluh lembar uang ratusan pada pedagang itu.
"Pak ini kebanyakan" Dia memisahkan tiga uang ratusan lalu menyerahkan kembali sisanya.
"Ini rezeki bapak, saya harap bapak tidak tersinggung."ucap dewi sopan.
Bapak itu seketika meneteskan Air mata haru lalu mengucap beribu terima kasih, katanya uang itu bisa dia gunakan untuk menebus istrinya dipuskesmas yang baru saja melahirkan. Karena terkendala biaya, istri dan anaknya masih belum juga pulang kerumah.
"Bapak simpan uang itu! Biar urusan biaya rumah sakit saya yang urus. " ucap Zain.
Dewi menatapnya penuh haru inilah suamiku dengan segala ketulusan yang dia miliki.
"Terima kasih By.."
"Tunggu...!" (melepaskan pelukannya) "By bagaimana kita membawa ini ke mobil? ini jauh lho". Zain juga tampak bingung, hingga senyum licik terukir diwajahnya niat ingin mengerji Aiden namun gagal ketika bapaknya menawarkan diri.
"Biar saya yang angkat Neng" ucap bapak itu, dengan sekali hentakan dia memikul buah mangga itu. diiukuti dewi dan zain
"By.. kamu mau jailin Aiden atau Fredi kan? Ayo jujur..." ucap dewi. sukses membuat zain melotot kearahnya.
"Ttttttidakk" ucapnya. memalingkan wajahnya
"Huu jangan bohong by, saat sekolah dulu guruku bilang kalau seseorang berbohong dia tidak akan berani melihat mata lawan bicarany." ucapnya. membuat zain tersenyum lebar
Sepertinya istriku punya indra keenam selama hamil belakangan ini dia tau isi kepala dan hatiku ... aku harus berhati-hati mana tau dia dengar kalau aku mengeluh atau mengejeknya. batin Zain
Bersambung....
aku mau berterima kasih ke kalian yang sudah mampir di karya aku.. maaf kalau banyak kekurangan.. semoga saran kalian bisa membuat aku lebih baik kedepannya*
__ADS_1
*PLEASE JANGAN LUPA VOTE AKU YA BERAPAPUN ITU AKU BERTERIMAKASIH🥰*
satu lagi jejak 👍 ❤**