
Di taman kantor Noel terlihat lesuh saat mengetahui jika wanita pujaannya telah menikah, dia kalah jauh dari sudut manapun. Rumi menepuk bahunya sebagai tanda semangat
"Noel.. Kau pasti pernah dengar pribahasa ini! ' cinta tak harus memiliki ' terkadang tuhan hanya mempertemukan tapi tidak menyatukan"
"Kau benar Rumi apalah dayaku, aku hanya kremesan tahu isi tidak ada apa-apantya dibanding tuan Zain"
"Tunggu jadi maksudmu Tuan Zain tahu isinya kamu kremesannya"
"Kau gila apa? Tuan Zain tidak bisa dibandingkan dengan apapun, kau ini"
" Hahahh Oke.. Oke.. ayo masuk lupakan cintamu untuk istri orang, kan masih ada aku"
"Maksudmu kau menyukaiku"
"Haha..." Rumi menghentikan tawanya lalu menatap datar Noel " Jangan mimpi kamu" Dia berlalu begitu saja
"Siapa juga mau sama kamu? Dasar cewek baperan!" Rumi terus berjalan tidk memperdulikan Noel.
Tidak jauh dari tempat Noel dan rumi duduk, disana seoarang pria tertunduk lesu, dia baru menyadari cintanya saat sudah jadi milik orang. Riko menatap lurus kedepan dia mengulang kembali memori yang dia lalui bersama Dewi. senyumnya, manjanya sedihnya semua terulang kembali. Dan pada akhirnya hanya sisa penyesalan yang membelunggu dalam hati ptia itu.
*
*
*
"Nyonya yakin akan belanja dipasar tradisional?" Tika meyakinkan kembali nyonya nya.
" nyonya Silahkan menunggu di mobil biar kami yang belanja" ucap bibi emi
"Apa sih kalian? Sebelum aku menikah dengan Zain aku sering belanja disini. Ayo nanti ikan segarnya habis "
"Tapi nyonya..!"
" Kalau bibi tidak mau biar aku dan tika masuk"
Dewi mulai memilih beberapa sayuran yang terlihat segar, ibu penjualnya terlihat kagum dengan kecantikan Dewi.
"Ibu ini semua berapa?" a memperlihatkan beberapa sayuran di depannya.
__ADS_1
"43 ribu mba..!"
"35 ribu aja bu boleh" Penjual itu berfikir sejenak melihat semua belanjaan nya. Sebenarnya Dewi hanya bercanda diluar dugaan ibunya iyakan.
"Heheh saya bercanda bu semua 43 ribu kan tadi?" Dewi menyodorkan pecahan 100
Berpindah ke bagian penjualan ikan dan daging, Dewi sepertinya sudah sangat terbiasa belanja seperti ini terlihat dia dengan lihainya memilih semua ikan dan daging segar, itu membuat bibi Emi dan Tika kagum melihat nyonya muda mereka.
"Mas tolong ya cuminya dua kilo, Udangnya 3 kilo, yang ukuran jumbo ! ikan kakap 5 kilo, jangan yang terlalu besar ya mas," Dewi berpindah ke penjual daging "Mas ayamnya 2 kilo ya bagian paha! daging sapinya 3 kilo , jangan ada lemaknya ya mas!"
Setelah semua pesanannya selesai dibungkus Dewi melangkah pergi niatnya ingin kepenjual jajanan, itu adalah hal paling hakiki jika kepasar tradisional
"Bibi jika masih ada kurang untuk perlengkapan dapur bibi silahkan beli ya! Aku beli jajanan Dulu !"
Bibi Emi mengangguk kemudian melangkah diikuti tika.
Dewi bahagia ketika melihat semua macam kue didepannya, ada 13 macam kue semua dia beli, terkahir dia membeli gado-gado kesukaannya. Baru saja dia melangkah seorang wanita kisaran 50 tahunan lebih menatapnya tidak suka. dia Tante Erni istri kedua ayah wanita itu mendekatiku dengan angkuhnya tangannya meneteng tas merek Her*mes tapi terlihat seperti tas KW. dia memerkannya padaku.
" halo tante apa kabar" sapa ku dengan sopan itu lebih baik menurutku kami tidak punya masalah apapun dia hanya ibu sambungku
" tidak usah tanya kabarku tentu aku sangat baik. bagaimana denganmu pasti kau sangat menderita kan? karena ayahmu tidak memberimu lagi uang saku" erni tidak tahu jika dewi sudah menikah terbih dengan milyader negeri ini.
" dasaar anak sial ..! apa kau tidak menanyakan kabar ayahmu ? dia sudah melupakan mu."
ada sakit aku rasakan, bagaimana bisa ayah setega itu? mengingatnya pun aku tidak ingin, sekuat tenaga aku menahan air mataku agar tidak tumpah aku tidak ingin terlihat lemah di hadapan tante erni.
"tidak apa, bahkan aku sudah lupa jika memiliki ayah tante...! beritahu ke suami tante. soal tanah ibuku itu masih atas namaku jangan pernah berharap bisa mengambilnya" ucap dewi sangat tenang
" siapa yang tahu jika di akte tanah itu nama mu? bahkan surat-suratnya pun tidak pernah kamu miliki "
" setidaknya surat tanah itu juga tidakdi tangan tante erni kan !"
"KAU....." erni mulai geram ingin rasanya dia menampar anak suami keduanya.
" mama, " teriak seorang gadis sepertinya dia masih pelajar sekolah menengah wajahnya sangat mirip ayah. mungkin itu anaknya. "mama bikin keributan lagi...?" gadis itu menatapku membukkukan badan meminta maaf " nona maafkan mama saya"
"kenapa minta maaf? dia tidak berhak mendapatkannya."
"mama... aku akan sangat marah jika mama bersikap seperti ini !'" erni terdiam mendengar ucapan putrinya
__ADS_1
Fredi menghampiri dewi. wajahnya dia buat segalak mungkin, sejak tadi fredi berada dibelakangnya dia sengaja tidak melerai, ini akan jadi laporan kepada taunnya.
"Nyonya mari !"
aku melangkah tanpa mengucapkan sepatah kata itu membuat tante erni geram ditambah fredi memanggilnya Nyonya. erni masih menatap punggu dewi dengan kesal
"Nyonya..? memang dia siapa? dia hanya anak sial tidak tahu diri"
"mama kenal sama dia?" tanya Lili
"tentu dia anak ayahmu?"
"serius? wahhh luar biasa ternyata kakak tiriku orang kaya ya?"
"maksudmu?"
"mama tidak lihat dari ujung rambut sampai ujung kakinya semua barang branded?"
"perjelas Lili mama tidak paham"
"hemm, mama lihat ! baju kaos yang dia pake itu seharga 4 jutaan.. celana keluaran merek Q itu kisaran 11 jutaan mah, terus mama lihat sendal itu biasa saja kan harganya 6 jutaan, yang paling membuktikan dia kaya hand bag Ditangannya ma itu 40 jutaan lebih, aku lihat kemarin disosial mediaku itu mirip tas yang dipake artis S yang terkenal kaya raya itu."
"serius kamu..?" lili mengangguk yakin selama ini dia mngikuti brand-brand terkenal.
apa dia benar sudah menjual tanah itu? kalau iya? aku dan mas rudi tidak dapat apa-apa dong bagaimana ini?
"mama ayo pulang aku lapar!" ucap lili membangunkan Erni dari lamuannya.
*
*
*
Bersambung....
***aku mau berterima kasih ke kalian yang sudah mampir di karya aku.. maaf kalau banyak kekurangan.. semoga saran kalian bisa membuat aku lebih baikbkedepannya*
*PLEASE JANGAN LUPA VOTE AKU YA BERAPAPUN ITU AKU BERTERIMAKASIH🥰*
__ADS_1
satu lagi jejak 👍 ❤**