Kau Dewiku

Kau Dewiku
BAB 41


__ADS_3

Dewi mengelus pelan pipi Zain yang masih terlelap, menyentuh hidung lalu turun kebibirnya.. Dewi tersenyum kegelian suaminya seperti baby jika tidur begini.


Dia ingin beranjak dari tempat tidur tangan Zain menariknya hingga dia kembali terbaring, matanya sukses membulat karena Zain sudah mengkukungnya dibawah.


"Aaaa... Apa yang kau lakukan?"


"Kau menggodaku lebih dulu Nyonya Abraham"


"Aku tidak.."


Cup.. Zain mengecup lembut bibir ranumnya "Andai tamunya sudah pergi aku akan mengurungmu seharian dikamar" Sontak membuat Dewi mendorong tubuh Zain..


"Ihhhh dasar mesum"


#


Zain sudah rapi dengan stelan jas biru, tidak lupa dia memakai jam tangan Produsen Jaeger-LeCoultre seri Hybris Mechanica Grande Sonnerie yang menggunakan gerakan manual dan otomatis seharga Rp33,25 milyar. Dewi membantu merapikan dasinya tidak lupa dia memberika hiasan penjepit dasi silfer.


"Maaf kita tidak semobil ke kantor, aku harus kepabrik kau tidak apa kan ?"


"Tentu.. Kan aada kak Fredi yang mengantarku"


"Kauu... ! Awas saja jika kau ngobrol dengannya"


"Kau ini kenapa? Jangankan mengobrol, aku bertanya padanya dia hanya diam seperti mayat hidup. Apa semua bawahan mu seperti itu? Aiden lalu Fredi"


"Kau ini kenapa cerewet sekali ha?" Ucap Zain lalu mencium kedua pipinya dan kecupan terakhir di bibirnya "Ayo turun sarapan!" Tutur Zain,


Dewi langsung memeluk mesra pinggang Zain.


"Kau kenapa pendek sekali?"


"Itu agar kau lebih gampang merangkulku seperti ini"


"Kau pintar juga ya." Ucap Zain.


*


*

__ADS_1


*


"Kak Ririn... Aku jalan-jalan dulu ya kalau Zain datang telepon aku ! "


"Baik Nona Dewi" Dewi hanya senyum kemudian berlalu didepan Ririn. gadis itu menggunakan lift VVIP yang hanya digunakan oleh Zain


"Dewi... " teriak seorang gadis berambut pendek, dia Rumi. Belum Dewi sampai dimeja temannya itu.seorang gadis dengan sengaja menumpahkan sisa makanan dibaju Dewi.


"Upss... Maaf aku tidak sengaja" Ucap Jeje si centil dari devisi keuangan.


Bibir merah, rambut berombak, Dewi masih mengabsen setiap inci tubuhnya semua tampak berisi termaksud bagian DDnya.


Aku sudah sering menghadapi orang seperti ini. Wajahnya seakan merendahkan ku, bukan Dewi kalau tidak membalas.


Dewi merampas minuman pria yang lewat disampingnya kemudian menumpahkan di baju gadis itu.


"Upss.. Maaf aku tidak sengaja Nona !"


Wajah Jeje merah padam, dia tidak habis fikir jika gadis didepannya seberani itu. Semua yang ada dikantin melongo tidak percaya baru kali ini ada yang seperti itu kepada Jeje.


"APA YANG KAU LAKUKAN?" Bentak Jeje


"Berani sekali kau !" Jeje ingin melayangkan tamparannya. tapi Dewi menunduk dia mengambil kancing bajunya yang terlepas. Jeje seperti dipermainkan Anak kecil, seontak mengundang tawa karyawan yang ada disana.


"Lihat ini. Kau bahkan merusak bajuku" Dewi berlalu meninggalkan Jeje yang sudah sangat kesal. Jeje yang ingin mencegatnya lagi-lagi harus menangung malu saat dia terpelesat dan terjatuh.


***


"Ini kenapa?" Tanya Zain


"Ya kotor Zain"


Zain frustasi kenapa bisa istrinya sepolos ini. Ririn sudah sangat ketakutan melihat wajah atasannya bagaiman bisa dia sangat cerboh melepaskan nyonya tadi


"Masuk bershkan dirimu !"


Dewi keluar mengenakan baju kaos Zain yang kebesaran, gadis itu benar-benar tenggelam dia baju itu.


"Zain berikan aku kartu ! Dikantin tidak memakai uang jika ingin makan"

__ADS_1


"Kamu lapar..? Aku akan suruh orang membuatkannya untukmu"


"Bukan itu Zain... ! Aku mau makan dikantin bersama temanku"


"Teman..? Tidak, tidak boleh mulai besok tinggal dirumah tunggu aku pulang ! Tidak perlu kekantor lagi"


"Tapi Zain ! "


"Ayo kita pulang sekarang hem..." Zain meraih tas milik istrinya kemudian mengenggam tangannya.


Membiarkannya dikantor itu tidak baik.


"Zain lepas karyawanmu akan melihat kita nanti !" Zain tidak perduli toh dia istrinya memang ada yang marah jika suami menggandeng tangan istri?


Sepanjang koridor semua yang berapapasan dengan sang presedir menatap heran ? Mereka saling berbisik satu sama lain, seperti biasa Zain tidak memperdulikan dan terus berjalan. beda dengan Dewi dia tertunduk berusaha menyembunyikan wajahnya.


"Awww..." Pekik Dewi kakinya keseleo


"Kau kenapa?"


"Kakiku terkilir Zain, ini karena aku mengkkuti langkah panjangmu ditambah heels Ini"


"Maafkan aku ! Besok aku akan menutup toko yang menjual sendal ini !" Sekali hentakan Zain menggendong Dewi menuju mobil sport Merah miliknya.


*


*


*


Dikediaman Abraham, Alea sedang memegang Jus Jeruk dia mengotak atik handphonenya terdengar nada sambung diseberang sana


Halo!


Alea membulatkan matanya jus dalam mulutnya Muncrat...


Bersambung....


**Jangan lupa kasi saran kalian karena itu sangat penting buat Aku🥰

__ADS_1


etsss.... jangan lupa tinggalin jejak hati kalian juga ya ❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤**


__ADS_2