Kau Dewiku

Kau Dewiku
Ekstra #9


__ADS_3

Semenjak kejadian malam itu Aiden menjadi pendiam. Untuk sementara Zain menyuruhnya cuti untuk menenangkan dirinya.


Sinar rembulan malam ini terlihat angat indah menyusup di balik jendela kamar pria botak itu. Aiden tersandar lamah, air matanya baru saja berhenti mengalir. Luka yang selama ini berusaha dia sembuhkan kembali terkoyak Aiden kembali menatap foto ditangannya. Senyum lepas Jen bersama dirinya lagi-lagi menyayat hatinya.


"Jen..." Teriak Aiden bersama air mata yang masih mengalir.


#


"By, Bagaimana keadaan Aiden?" Tanya Dewi seraya menarik tangan suaminya untuk duduk. Zain hanya menggeleng pasrah.


Dewi mengerti maksud suaminya, dia ikut melemas "Lalu apa yang harus kita lakukan by?"


"Tidak ada sayang... Jika


bukan dia yang keluar dari lingkaran hitam itu, apapun kita lakukan semua akan sia-sia. Untuk sementara biarkan dia mengobati luka itu." Ucap Zain, sembari membawa istrinya kedalam pelukannya.


"Jangan pernah menyerah pada Aiden by! Dia keluarga kita"


"Hemm..."


......................


Seminggu berlalu Aiden masih terkurung di paviliun belakang rumah milik Zain. Setiap malam pria itu terjaga, dunianya seakan runtuh.


Zain dengan emosi yang sudh dia tahan selama seminggu ini menghampiri Aiden yang masih menggenggam foto Jen.


Buk... Satu pukulan melayang di pipi Aiden hingga pria jakung itu tumbang. Zian menarik kera baju Aiden memaksanya berdiri.


"Cukup Aiden ! Apa kau mau seperti ini terus ha?" Bentak Zain


"Kau bodoh menjebak dirimu dalam masa lalu yang tak mungkin kembali. Jen dan calon bayimu sudah tiada Aiden, kesedihan mu tak akan menghidupakan mereka." Tutur Zqin penu emosi. Dia melempar subuah tiket sukses mengalihkan perhatian Aiden hingga dia menatap tajam tuannya

__ADS_1


"Pergilah! Temui ayahmu untuk terakhir kalinya." Aiden masih menatap Zain menuntut penjelasan.


"Malam tadi Azzura menelpon, jika tuan Remus telah tiada. Pilihan ada ditanganmu Aiden, pergi atau terkurung selamanya disini." Ucap Zain seraya meninggalkan Aiden. "Oh iya hanya sekedar sebagi kepedulian, tiket itu pukul 09.00 pagi" Zain kembali melanjutkan langkahnya.


Melihat suaminya kembali dari paviliun tempat Aiden berada Dewi sangat antusias menyambutnya.


"Bagaimana by, Aiden akan pergi?" Tanya Dewi. Zain hanya mengangguk pasti.


Benar selang beberapa menit suara mobil dari luar baru saja meninggalkan pekarangan rumah. Itu Aiden diantar Fredi menuju bandara.


"By, kau melakukan hal yang luar biasa" Ucap Dewi seraya memeluk suaminya


"Tentu, karena kau banyak mengajarkan ku tentang keiklasan sayang. Terima kasih sudah menjadi bagian dari hidupku, kau Dewiku yang diturunkan Tuhan selamanya berada disisiku."


......................


Dibelahan dunia sana yang bermil-mil jauhnya dari kota J Aiden baru saja turun dari helikopter yang membawanya ke kediaman dulunya dia tempati bermain hingga berlatih menjadi pembunuh berdarah dingin. Tidak ada yang berubah dari rumah itu semua sama seperti belasan tahun yang lalu. Aiden disambut jejeran pria berjas hitam. Azzura, yang melihat kedatangan Aiden segera berlari memeluk tubuh jakung kakaknya.


Pemakaman berlangsung sangat hikmat silih berganti pelayat memanjatkan doa seraya meletakkan bunga ester di atas nisan Remus. Kini hanya tersisa Aiden, Azzura dan Seth masih berada di pusara Remus.


"Maafkan aku Zura ! Memberimu beban seberat ini." Ucap Aiden, entah apa lagi yang harus diaucapkan. Hari ini hatinya yang mengeras akan kebencian pada ayahnya mencair bagai es. Masa lalu adalah masa lalu, tidak akan ada yang mengubah apapun kebencian, amarah hanya membuat hatinya lelah. Iklas adalah jalan satu-satu agar hatimu damai. Itu yang sering nyonya mudanya ucapkan ketika memberi ceramah pagi pada tuan Zain.


"Tuan, Nona sebentar lagi turun hujan." Ucap Seth.


Aiden merangkul Azzura menuju mansion megah itu diikuti Seth di belakangnya. Dendam, amarah antara ayah dan anak itu pada akhirnya redam karena kematian. Selama sisa hidup Remus dipenuhi penyesalan dan luka itu hal yang setimpal dia terima


......................


"By, kau masih seperti ini? Siapa yang menyuruh Aiden pergi? Kamu kan?" Ucap Dewi, yang sudah kehabisan kesabaran karena tingkah kekanak-kanakan suminya.


"Sayang, aku hanya menyuruhnya pergi beberapa minggu saja, tapi ini sudah hampir tiga bulan di tidak kembali." Ucap Zain, kembali lemas di kursi kebesarannya.

__ADS_1


"Kenapa kau jadi seperti orang ditinggal kekasihnya sih? Dia sudah kembali kerumahnya, dia sudah menemukan keluarganya by. Cukup kau seperti ini! Aku akan meyuruh Fredi menjadi sekertaris sementara, sampai kamu mendapat pengganti Aiden"


"Tapi sayang, aku tidak suka dengan Frredi."


"ehmmm... Suka atau tidak aku akan tetap melakukannya, cukup pusing aku menghadapimu belakangan ini " Ucap Dewi, Zain hanya bisa pasrah keputusan istrinya tidak akan goyah begitu saja. Dia adalah wanita pertama yang Zain temui begitu keras kepala,


Fredi dibuat kewalahan dengan sifat Zain yang sudah tidak masuk akal.


Bagaimana bisa Aiden tahan dengan Tuan Zain selama ini? aku yang baru seminggu bekerja dengannya sudah hampir kehabisan napas. Ya Allah, Tuhan segala pemilik semesta ini aku akan melakukan apapun jika Aiden kembali Aamiin. Aku minta ampun segala kesalahan ku dimasa lalu jangan siksa aku Tuhan melalui tuan Zain aamiin.


"Kau baik-baik saja kan Fredi?" Ucap Aiden yang entah sejak kapan dia sudah berada diruangan Zain


"Kau masi bertanya aku baik-baik saja?" Teriak Fredi yang masih belum menyadari jika itu adalah Aiden.


"Wow santai bung."


"Aku berharap Aiden muncul dari angin kentut ku, lalu mengambil kembali pekerjaannya. Apa ini aku pusing karena garis-garis berwarna ini? AIDEN aku akan membunuhmu jika kau kembali"


Ucap Fredi. Sekali gerakan Aiden menjewer telinga Fredi tentu membuat pria berwajah datar itu meringis kesakitan


"Aaaaa... Aiden kau kah itu??" Ucap Fredi dengan wajah bahagia, bahkan telinganya yang sudah memerah tidak terasa lagi sakitnya.


"Kalau bukan aku siapa lagi.?"


"Ya Tuhan, terima kasih banyak. Baru saja aku berdoa Engkau sudah mengabulkannya." Ucap Fredi yang sudah berdiri dari sujudnya, lalu memeluk tubuh jakun bosnya itu.


"Ambil ini! Semua milikmu sekarang. Aku bebas hahahah" Ucap Fredi seraya menyerahkan tumpukan berkas didepannya.


Zain yang baru masuk di buat kaget akan kehadiran Aiden. Tanpa menunggu lagi Zain mendekat lalu memeluknya sungguh mereka seperti sepasang kekasih yang sudah bertahun-tahun menjalani LDR.


"Maaf tuan saya baru kembali, ada beberapa urusan yang harus saya selesaikan di sana."

__ADS_1


"Tidak masalah, tidak kembalipun tidak apa-apa" Ucap Zain dengan gaya coollnha. Jauh didalam lubuk hati Zain sangat bahagia hanya saja gengsinya setinggi langit


......................


__ADS_2