
Zain mendudukkan istrinya ditepi ranjang, dia keluar sebentar mengambil kompres. Handphone gadis itu berbunyi dia tidak ingat jika kakinya sakit, satu gerakan membuatnya meringis.
Halo !" terdengar suara diseberang sana.
"Awwww..." Pekik Dewi,
"Sudah kubilang jangan Bergerak !" Bentak Zain dia berlari kearah istrinya.
Alea yang masih dalam sambungan telpon diam mematung membekab mulutnya.
"Kamu kenapa Alea?" Tanya Prima, Alea meletakkan jari telunjuknya di bibirnya melarang mami nya berbicara.
*
"Zain ini pasti sakit"
"Perlahan sakitnya juga akan hilang !"
"Apa kau pernah melakukannya? Ini pertama kali aku begini "
"Percaya padaku! Aku ahli dibidang ini. Makanya kamu tenang dan jangan bergerak" Dewi mengangguk.
Diseberang telepone sana Prima dan Alea saling melirik ditambah Roger dan Daniel ikut menegang.
"Kau yakin akan melakukannya sekarang?"
"Tentu bahkan aku sudah tidak sabar melakukannya"
"Tekuk kaki mu" Dewi menurut. Baru, zain ingin memegang kakinya dewi sudah berteriak
"Aaaaaaaaa......"
"Heiii... Bahkan aku belum menyentuhnya. kau sudah berteriak. Kau bisa diam tidak, ini tidak akan berhasil jika kau selalu bergerak"
"Ini sakit Zain, lakukan dengan pelan hem"
"Bagaimana bisa berhasil kalau aku melakukannya pelan ! "
Tanpa fikir panjang lagi Zain memegang ujung jari kaki dan tumit istrinya
__ADS_1
"Aaaaaaaa...."
"Kau ini sudah kubilan diam ! Ini tidak akan lama"
"Tapi sakit."
Zain sudah tidak perduli dengan teriakan dan rengekan istrinya hanya satu kali hentakan
krekkkk.
"Selesai..."
"SUDAH?" teriak Dewi "Hanya segitu?" Dewi menggoyang-goyangkan kakinya sudah tidak sesakit tadi "Benar katamu ini tidak sakit "
Tanpa menjawab Zain keluar kamar dengan baju yang sudah acak-acakan dua kancing kemejanya sudah hilang. Tika melihat tuannya heran
Sepertiny tuan dan Nona Dewi habis perang dingin, lihat saja penampilan tuan sudah kacau. Sepertinya nona sedikit liar. Tika berusaha menahan senyumnya.
"Wanita memang menakutkan" ucapnya menuruni setiap anak tangga
Dikediaman D Abraham
Prima, Alea, Roger, Dimas, dan bibi Merri merasa lemas mendengar sepasang suami istri itu bergulat, Alea dengan cepat mematikan handphonenya dia tidak ingin mendenagarkan apa-apa lagi
"Ternyata Zain tidak sekuat aku ya sayang ! " Timpal Roger.
"Kalian bisa diam tidak, disini ada Alea"
Alea masih mematung dia tidak percaya apa yang dia dengar akhirnya, kakanya melakukann itu
"Ini tidak bisa dibiarkan, aku tidak akan dapat cucu kalau begini. Bisa-bisa Zain ditinggal istrinya, tidak ini tidak boleh terjadi. Aku sendiri yang akan turun tangan" Prima melangkah menuju kamarnya.
"Sayang kau mau kemana?" Teriak Roger yang tidak dihiraukan oleh Prima.
*
*
*
__ADS_1
Tidak seperti biasanya langit malam ini dipenuhi ribuan bintang dilangit beberapa anak remaja lalu lalang didepan restoran bergaya tradisional modern tampak yang tampak sepi. Beberapa bodyguard berjas hitam dengan setiannya menjaga diluar sesekala menahan pelanggang yang ingin mampir. dua tuan muda saling berhadapan ya, dia adalah Zain D abrham Dan Maximum Efaldro. aiden yang menyewa tempat ini agar tidak ada masalah dikemudian hari
"Bagaimana kabarmu Max? kau terlihat agak gemukan " Zain, melatekkan secangkir teh hijau khas jepang.
"Aku baik, aku lihat kau telah menikah hampir seluruh dunia menyiarkan pernikahanmu "
"Hemm.. Langsung ke intinya Max!"
Ucap Zain dengan wajah datar seakan langit menjadi hitam pekat, suasana menjadi sedingin es tatapan mata kedua tuan muda menyebar aura peperangan.
Kejadian lima tahun yang lalu seakan masih terasa sangat hangat dinalar mereka. Ketika Elisa meninggalkan Max dihari pernikahannya. hari yang harus menjadi moment paling bahagia menjadi hari paling kelam dalam hidup seoarang maximum. Dan lebih menyakitkan pria yang membawanya pergi adalah Sahabatnya Zain.
"Apa kau sudah melupakan Elisa ?"
Zain manarik nafasnya sangat dalam lalu menghebuskannya kasar.
"Kenapa tidak menjawab Zain? kau menikah dengan wanita lain dan bahagia sedangkan dia..."
"Cukup Max... Itu sudah berlalu lupakan dia ! " Bentak Zain
"Kau fikir melupakan perihal mudah Zain kau tau aku sangat mencintanya kan tapi kau membawanya pergi ! "
" MAX.. Sudah ku katakan kau diam. Kau masih pria bodoh sama seperti lima tahun yang lalu. Aku hanya menahan diriku saat ini, urus dirimu jangan menemuiku lagi ! " Zain meninggalkan Max seorang diri
Kau bodoh Max, Elisa sangat mencintaimu... Bahkan sampai dia menghembuskan nafas terakhirnya masih menghawatirkan mu masih menyebut namamu.
Zain melajukan mobilnya sangat kencang memecah heningnya malam.
Dewi sedang barbaring di kasur, matanya fokus kebenda kotak ditangnnya. Semenjak menikah dia sangat menyukai drama Korea dan India
Tanpa Dewi sdarai Zain sudah berada di dekatnya dan memeluk erat tubuh mungil itu, awalahnya dewi kaget tapi ada sesuatu yang aneh tidak biasanya suaminya seperti ini. Seakan mengerti keadaan Zain, Dewi mengelus lembut kepalanya sebagai penghiburnya.
Butuh waktu dua puluh menit Zain baru mengangkat kepalanya hingga wajah mereka sejajar, Dewi tersenyum hingga membuat hati dan perasaannya kembali tenang semuanya begitu luruh seketika.
"kau sudah baikan?" Zain hanya mengangguk. sejujurnya gadis itu ingin bertanya tapi dia urungkan.
"Apa sesuatu yang buruk trlah terjadi?" Zain, kembali menggeleng. Seiring dengan itu Zain mengecup lembut bibir mungil Dewi.
Bersambung....
__ADS_1
**Jangan lupa kasi saran kalian karena itu sangat penting buat Aku🥰
etsss.... jangan lupa tinggalin jejak hati kalian juga ya ❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤**