
Selagi Dewi dan Joko khawatir dengan kondisi Pandi, mereka berdua sama sekali tidak sadar. Jika saat ini mantra yang digunakan oleh pangeran tua sudah pun meresap ke dalam kulit dan sekarang sudah sampai ke aliran darah.
Saat ini keduanya masih memandang ke arah di mana Pandi sedang dirawat oleh beberapa dokter secara intensif.
Para dokter juga tidak kalah khawatirnya.Jika pasien kehilangan nyawa Artinya mereka juga akan kehilangan nyawa di waktu yang sama.
Untung saja 1 jam setelah itu kondisinya sudah stabil lagi. Pandi juga sudah dipasangi jarum infus untuk menambahkan beberapa tenaga tambahan.
Ketika dokter sudah keluar lagi dari ruangan itu, Dewi dan Joko segera bertanya tentang kondisi Pandi.
"pasien hanya mengalami syok ringan dan sekarang kondisinya sudah stabil. tapi sepertinya tidak boleh melakukan aktivitas berlebihan untuk beberapa jam. jika tidak khawatir dia akan mengalami syok lagi yang kemungkinan besar makin parah daripada ini"
Dokter sengaja mengingatkan hal itu dengan Joko dan Dewi. Dia juga tahu apa yang dilakukan oleh pasangan ini pada pasien tadi.
Kata kata ini juga menjadi alasan untuk dirinya mencuci tangan .Seandainya pasien akan jatuh syok dan meninggal dunia.
Joko membiarkan para dokter itu pergi.
Dia dan Dewi sudah senang jika Pandi diselamatkan. Walaupun kenyataannya terapi cuci otak tidak bisa dilakukan dalam beberapa jam kedepan.
"Biarkan dia istirahat dulu mari kita lanjutkan nanti setelah pagi"kata Dewi mengingatkan Joko.
"aku tahu ,kalau begitu mari kita juga beristirahat.Hari ini entah kenapa aku merasa kelelahan" kata Joko yang memijat tengkuk nya sendiri.
Tidak tahu kenapa,dia merasa sangat mengantuk sekali.Ini tidak biasa terjadi, anehnya saja kan.
"hehehe bagaimana tidak lelah karena kau baru saja makan dua mangsa bukan. aku hanya makan satu itu pun juga merasa lelah apalagi kau yang makan sekali dua sekaligus hehehe" Kata Dewi terkikik kikik.
Biasanya jika mereka sudah menarik energi dari para korban. Mereka akan bertambah kuat dan energi seperti tidak ada habis-habisnya.
Tapi hari ini entah kenapa mereka berdua merasa begitu lelah sekali. Seperti orang yang baru saja bekerja berat sehingga mengalami kelelahan yang berkepanjangan
"Oke"
Joko dan Dewi naik ke atas dan masuk ke dalam kamar yang masing-masing dengan niat ingin tidur.Besok pagi mereka akan mulai mencuci otak lagi pada pandi.
Penantian ini sudah terjadi lebih dari 10 tahun .Mereka tidak mungkin menyerah begitu saja hanya karena Pandi dalam kondisi yang mengkhawatirkan.
Dia itu memiliki jiwa siluman walaupun mati masih akan hidup lagi entah bagaimana.
Tapi berbeda dengan mereka yang memang hanya manusia biasa. Jadi siapa peduli dengan jiwa ular dari Pandi.
Begitu kepala bertemu dengan bantal, keduanya segera jatuh ke alam mimpi
Di sini Dewi sedang mencuci otak Pandi , meskipun sulit pada akhirnya dia berhasil mendapatkan rahasia dari dunia siluman ular putih.
Dengan sedikit usaha dia dan Joko masuk ke istana dan bertarung dengan raja Siluman secara langsung.
Raja siluman bertahun bertarung dengan ilmu gaibnya tapi Dewi dan Joko malah bertarung dengan kemampuan teknologi dan beberapa ramuan khusus.
ada kacamata khusus yang bisa menampilkan tingkat dingin dan panas suatu barang. hanya begitu walaupun Raja siluman berubah diri ataupun bergerak ke manapun mereka masih bisa melihatnya.
Ramuan pula dipakai untuk menipu kemampuan indera pendengar, penciuman dan juga penglihatan dari Raja siluman.
Para siluman tidak menggunakan telinga untuk mendengar dan hidung untuk mencium .Tapi sebenarnya memiliki sensor khusus pada sisik nya.
Mereka telah memperbaiki dan memodifikasi segala sesuatunya sehingga cukup ampuh untuk menghadapi Raja siluman sekalipun.
Benar saja begitu ramuan ini dilemparkan ke udara, tidak saja Raja siluman .Tapi beberapa menteri dan para penjaga elit juga kehilangan jejak musuh.
Artinya mereka berdua sedang melawan Raja dan siluman ular putih yang buta tuli dan juga budeg.
Seberapa mudahnya melawan orang-orang yang seperti itu .Dalam hitungan menit saja Dewi berhasil memotong kepala Raja siluman dan mengambil inti kristal di dalam tubuhnya.
Hasilnya istana Siluman dengan segala isinya menjadi milik Dewi dan juga Joko. Mereka berdua berbagi rampasan dengan sama banyaknya dan juga mendapatkan kemampuan untuk hidup abadi yang sudah diinginkan oleh Dewi sebelumnya.
Seperti yang diperkirakan sebelumnya, hidup abadi yang dikatakan oleh Dewi itu bukanlah hidup selama-lamanya dengan wujud yang sama.Tapi memiliki jiwa abadi yang terus-menerus lahir mati dan lahir lalu mati lagi.
Di sini Dewi memang hidup 100 tahun lebih dalam usia tapi tubuhnya masih muda belia seperti 40 tahun.
Ketika itu Dewi mengalami kecelakaan mobil sehingga tubuh nya rusak parah.Dewi berpikir dirinya akan lahir lagi dalam dunia yang berbeda jadi dia tidak khawatir.
Namun begitu tidak bisa dipungkiri rasa sakit dari kecelakaan mobil itu benar-benar membuat dia trauma.
tapi memikirkan dia akan lahir lagi menjadi itu dengan tubuh yang berbeda Dewi segera menghilangkan pemikiran tidak nyaman itu.
Belum hilang dari rasa sakit kecelakaan mobil, Dewi dihadapkan dengan kelahirannya kembali. tapi dia dihadapkan dengan kondisi yang gelap gulita.
__ADS_1
Merasa tidak nyaman dengan keadaan gelap pada akhirnya Dewi berusaha mendorong sesuatu yang menghalangi.
Tempat gelap ini tidak begitu besar mungkin hanya sebesar tubuhnya saja. Dengan begitu dia terus saja mendorong dinding itu.
Dalam beberapa kali usaha pada akhirnya dia berhasil menatap cahaya yang datang ketika dinding itu retak. Betapa senangnya Dewi menghadapi dia sudah berhasil keluar dari tempat gelap.
Dengan penuh semangat dia terus saja mendorong, mendorong dan mendorong lagi.
"Ahh berhasil"pekik Dewi.
Dia melompat-lompat kegirangan ketika berhasil keluar dari tempat keluar. Tapi kegembiraan ini datang terlalu awal.
Ketika dia berteriak bukan suara yang merdu kedengaran, melainkan hanya suara kecil dengan bunyi yang samar-samar.
Ciap..ciap..ciap.
Karena penasaran Dewi akhirnya berusaha mengangkat tangan dan mengangkat kakinya sedikit. Siapa tahu pemandangan dari dua hal ini membuat dirinya terkejut dan matanya membulat tidak percaya.
Dia tidak lahir sebagai manusia tapi hanya sebagai anak ayam.
Dewi memandang ke arah yang tidak jauh, baru kemudian dia mengerti jika tempat dia terkurung tadi adalah sebuah cangkang.
Cangkang dari sebutir telur ayam.
"Ehh kirain bakalan jadi siluman ular tapi sekarang aku jadi siluman ayam? ahh tidak apa-apa yang penting abadi hehehe"pikir nya.
dengan begitu Dewi menjalani hidupnya seperti anak ayam pada umumnya. walaupun tidak begitu nyaman karena dia aslinya adalah manusia tapi karena dorongan hati hewan, Dewi hanya bisa menanggungnya saja.
Contohnya ketika dia harus makan pangan ayam ataupun cacing di tanah. Itu sangat menjijikkan sekali dan dia ingin muntah setiap kali makan. Mau bagaimana lagi ini adalah resiko jadi ayam.
Dalam hitungan bulan tubuh Dewi besar dengan cepat karena makan pangan ayam dengan beberapa suntikan hormon.
Awalnya Dewi berpikir ini adalah ayam siluman yang satu hari agar menjadi seekor siluman hebat. sukur-sukur bisa bertarung dengan siluman ular putih. siapa sangka jika tubuhnya sekarang adalah seekor ayam petelur. bukan jenis ayam petelur yang memang dimaksudkan untuk itu.
Tapi ayam kampung biasa yang memang dipelihara untuk mendapatkan telurnya.
Hal aneh,dia kawin dengan ayam pejantan. Setiap hari akan ada ayam jantan yang mendekatinya dan memaksakan pelecehan secara sepihak.
Tapi sebagai ayam betina dia tidak bisa menolak dan cenderung pasrah.
Dewi yang awalnya bersemangat ini tiba-tiba lesu ketika menyadari tidak ada yang bagus dalam menjadi ayam. sampailah suatu hari dia merasakan ada sesuatu yang tidak nyaman di bagian bawah perut.
Belum sempat dia melihat kejanggalan ini pada akhirnya Dewi sadar dia melakukan hal yang biasa dilakukan oleh para ayam.
Yaitu bertelur.
Baru kemudian Dewi menyadari jika ketika ayam bertelur mereka juga akan mengalami rasa sakit yang tidak tertahankan. Hanya saja ayam tidak memiliki mulut untuk menjelaskan bagaimana rasa sakitnya itu.
"Sakit banget,ahh hidup macam apa ini. lebih baik menjadi manusia saja daripada menjadi ayam.ohh bisakah aku mati dan memulainya lagi?"jeritnya yang tiba-tiba sampai ke seluruh pelosok.
Hanya saja suara yang keluar hanyalah suara induk ayam yang baru saja selesai bertelur.
jika ada yang berpikir ini adalah satu-satunya penyiksaan tapi sebenarnya Dewi salah ayam tidak bertelur sekali tapi akan terus-menerus melakukannya beberapa hari. jadi Dewi harus bertelur satu kali satu hari dan itu dilakukan sebanyak 15 kali.
dari sini saja Dewi sudah merasakan penderitaan yang amat sangat.
Dia bukanlah ayam induk ayam yang cinta pada anaknya. Ketika tuan rumah mengambil telur itu entah untuk dikonsumsi atau untuk dijual lagi dia sama sekali tidak peduli.
Sama tidak pedulinya dengan ayam jantan yang datang untuk memaksanya kawin.
Akibatnya beberapa musim kemudian dia bertelur lagi dan membuat tuan rumahnya bahagia.
Dewi pada akhirnya menjadi favorit tuan rumah.Karena dia lebih sering bertelur daripada ayam-ayam yang lain.
Dewi mendapatkan makanan khusus seperti cacing atau jangkrik, terkadang ada juga lipan yang katanya bisa menyuburkan ayam agar tidak berhenti bertelur.
Tuan rumah senang tapi bagaimana dengan Dewi.
Sudah makanannya tidak wajar dia juga harus kawin dengan ayam jantan lagi dan lagi.
Pada akhirnya Dewi harus mengalami bertelur lagi di musim selanjutnya. terkadang dia juga heran apakah pantat kecil ini bisa tahan.
Ayam jantan juga tidak pernah berpikir apakah bokong ini longgar atau sempit,main kawin dan kabur aja gitu.
Udah itu main to the point aja nggak ada fair play nya dulu,sial nggak tuh.
Dasar bapak ayam.
__ADS_1
Dewi yang awalnya bersemangat menjadi ayam siluman. sekarang tidak lagi memiliki harapan untuk terus-menerus menjadi ayam.
Jadi dia pikir mati itu lebih baik hanya saja bunuh diri akan memutuskan siklus keabadian. Karenanya dia harus menunggu waktu untuk mati secara alami.
setelah 2 tahun mengalami kawin dan bertelur, ayam Dewi juga sudah keras dan tidak lagi bertelur banyak seperti biasanya.
ditambah lagi hari itu tuan rumah memiliki sesuatu hingga mereka membuat hajatan. tentu saja Dewi yang sudah memiliki tubuh keras dan juga tidak lagi menghasilkan adalah pilihan yang terbaik.
Dewi memang sedang menunggu-nunggu saat seperti ini jadi dia bahagia tapi kebahagiaan itu bukanlah kebahagiaan ketika dia melihat ada pisau yang begitu tajam.
Bodoh jika dia tidak mengetahui apa maksud dari pisau ini.
Dalam sekejap saja Dewi berubah pikiran, dia ingin mati tapi tidak ingin mati dalam cara seperti ini.
Lebih baik mati misalnya jatuh ke dalam selokan ataupun tertabrak mobil sekalian.
Bisakah ayam meminta sendiri cara bagaimana untuk mati. Mungkin saja bisa tapi bagaimana tuan rumah akan setuju kan.
Walau bagaimanapun ayam masihlah daging.
Dia sayap ayam di kepit dan beberapa bulu di leher segera di bersihkan.
"Tidak.. tidak jangan..tolong.. akhhh...
Dewi menjerit dan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat dia memang tidak ingin mati di bawah pisau tajam seperti itu.
Tapi manusia yang menarik pisau bukan saja tidak peduli malah berpikir, lebih cepat kau mati maka lebih baik.
Dalam hitungan detik saja pisau dan leher sudah bertemu. Hasilnya cairan kental berwarna merah tiba-tiba membasahi tanah.
Dewi tentu saja merasa kesakitan ketika urat di lehernya putus apalagi dengan darah yang begitu banyak. matanya membulat karena sakit yang tidak tertahankan. tanpa sadar tubuhnya berkelenjotan beberapa kali.
Dewi berpikir penderitaannya akan habis dan dia akan lahir lagi sebagai makhluk yang lain dan sukur-sukur ini adalah manusia.
Tapi dia berjanji jika dia menjadi manusia maka dia tidak akan pernah lagi memakan ayam.
Entah itu ayam goreng kek, ayam rebus atau telur ayam sekalian.
Dewi tidak akan pernah menyentuhnya lagi. Tapi belum sempat dia berbahagia dengan kematian dini. tubuhnya langsung dilemparkan pada mesin pencabutan bulu.
Masih dalam kondisi hidup dia sudah bekerja dilempar lagi ke dalam mesin yang membuat dirinya tidak kuasa menahan rasa sakit.
Ini seperti kulitnya yang ditarik dan diperbaiki lagi. Sungguh manusia yang tidak berhati nurani.
Betapa menderitanya hidup sebagai ayam.
Beberapa detik kemudian Dewi sang ayam benar-benar menghembuskan nafas yang terakhir kalinya. Jiwanya lepas dari tubuh ayam dan berteriak gembira. Berharap rasa sakit ini akan segera dilupakan dan berharap dia tidak akan pernah mengalaminya lagi.
Tapi apakah neraka ini sudah berakhir?
jawabannya adalah tidak.
Dewi sangat senang lepas dari tubuh ayam itu. kemudian dia menutupkan mata dan merasakan kehidupan baru akan dimulai lagi. dengan semangat Dewi berharap dan berdoa agar dia diberikan kemudahan untuk kehidupan yang ketiga ini.
Tapi siapa sangka ketika matanya terbuka lebar yang dia temukan hanyalah tempat sempit yang gelap tapi juga familiar.
Dalam 2 tahun kehidupannya sebagai ayam, dewi.tidak akan pernah melupakan bagaimana caranya dia memulai kehidupan itu.
diselingi dengan rasa frustasi pada akhirnya Dewi menabrak dinding itu dan menabrak lagi beberapa kali sehingga dia berhasil keluar.
Pada akhirnya Dewi harus menyerah karena dia memang terlahir lagi masih Sebagai seekor ayam.
kali ini bukan lagi ayam kampung tapi benar-benar menjadi ayam yang dikhususkan untuk bertelur.
Siklus kehidupan dari ayam petelur ini tidak lama. Tapi setelah dia tidak lagi bisa menghasilkan telur maka dia masih akan berakhir di bawah tajamnya pisau.
Dan mesin pencabut bulu.
Baru kemudian Dewi menyadari hidup abadi itu sebenarnya tidak nyaman. Lebih baik hidup sebagai manusia biasa. Dengan umur yang pendek tapi berkualitas.
Siapa yang ingin hidup menjadi ayam jika dirimu bisa menjadi hidup sebagai manusia orang yang notabene adalah penikmat dari ayam itu sendiri.
Dalam sebuah kamar yang indah, Dewi yang tertidur di bawah mantra berkeringat dengan deras tapi matanya masih saja menutup tidak bisa membuka sama sekali.
Dewi sama sekali tidak tahu apa yang dialaminya sebenarnya adalah sebuah mimpi akibat dari mantra yang dikirimkan oleh pangeran tua.
Walaupun ini hanya lah sebuah mimpi, tapi Dewi di takdir kan tidak akan pernah lupa dengan mimpi itu .Bahkan rasa sakit dan traumanya masih tetap dia ingat selama dia masih hidup.
__ADS_1
Selamat jadi ayam, Dewi