
Di dalam mobil yang sedang berlari pandi cukup senang karena Liza masih bersedia mengikutinya pergi.
Tapi entah kenapa dia merasa yakin jika kesediaan Liza untuk pergi itu hanya karena berdasarkan keterpaksaan semata.
"Liza apa kau terpaksa melakukan ini?" tanya pandi pada Liza yang memandangnya dari kaca spion.
"kau bodoh jika tidak tahu" kata Liza di dalam hatinya. Namun begitu di permukaan Liza menjawabnya dengan senyum ,"enggak kok kalau dipikir lagi aku memang belum pernah jalan-jalan ke kota. Kebetulan kamu udah berinisiatif untuk mengajak dan mau menunggu aku berganti pakaian ya udah hehehe "
"tapi kenapa aku pikir kau ikut hanya karena merasa kasihan aja sama aku?"tanya Pandi yang belum puas dengan jawaban liza tadi.
"lho kok kamu mikirnya seperti itu sih?"
"ya iyalah tadi jelas Kan kamu nggak mau diajak sekarang tiba-tiba mau, atau kamu takut dimarahin sama papah kamu aja?"
"enggak kok"
"Hah dari tadi jawabannya nggak melulu, sebenarnya ada apa sih sama kamu?" tanya pandi yang heran melihat kelakuan Liza yang sering berubah-ubah.
Sebentar mau sebentar tidak tapi kemudian berubah lagi menjadi mau. Ini sangat membingungkan atau memang perilaku kerja yang sudah seperti ini sejak dulunya.
Kali ini Liza diam karena memang tidak tahu harus berbicara apa
Haruskah dia mengatakan bagaimana perasaannya pada pandi saat ini.
Jika sudah begitu bukankah nantinya pandi akan merasa tersinggung.
Sekarang pandi tambah bingung melihat Liza yang malah tidak menjawab pertanyaannya. Jadi dia hanya bisa menggarukkan kepalanya yang tidak gatal.
" aneh tapi cantik sih"pikir pandi di dalam hatinya
Karena tidak ada satupun yang mengeluarkan suara , kesannya menjadi canggung. sekarang hanya ada suara deru mobil yang memecahkan keheningan di antara keduanya.
Mobil terus aja melaju tidak berhenti di manapun, jadi mau tidak mau Liza bertanya pada pandi."sebenarnya kita ini mau ke mana sih"
"ada pesta di rumah teman "jawaban di yang acuh tidak. Jelas saja Pan di sedikit marah.
"tempatnya jauh nggak?" tanya Liza.
"nggak jauh sebentar lagi sampai kok"jawab nya .
Entah kenapa karena Liza sudah berinisiatif untuk bertanya, perasaan marah dan dongkol yang tadi bersarang di dada pandi seketika menjadi hilang.
Dia kembali menjadi pandi yang ceria dan suka menggoda."malam ini kamu kelihatannya cantik banget hehehe "
"jangan bercanda kamu" kata lisa yang memelototkan matanya pada pandi
"loh orang memuji kok dimarahin seharusnya kamu itu berterima kasih dong sama aku "jawab pandi yang tersenyum lagi.
"ya terima kasih lah karena udah memuji aku" kata Liza yang mau tidak mau harus mengalah di sini.
"hahaha rupanya kamu ini adalah murid yang baik ya, satu kali guru mengajar saja udah jadi pintar" kata pandi tertawa geli.
"heh kalau kamu pengen ngajarin orang tuh di kelas,sini mobil.Lagian pintar murid dari gurunya,apa apaan itu!"
Pada akhirnya mereka berdua tertawa lagi dan bercanda seperti sebelumnya.
Di sini pandi menyadari jika Liza bukan gadis yang sombong tapi hanya memiliki emosi yang tidak stabil.Jadi dia hanya perlu bersabar menghadapi perilakunya yang sedikit aneh.
Tidak lama kemudian mereka tiba di kota kecil ,tempat di mana kedua orang tua Liza menjemput nya waktu itu.
Kemudian mobil di bawa masuk ke sebuah rumah. Rumahnya tidak besar tapi bisa dilihat ada beberapa orang yang keluar masuk.
Seperti yang disebutkan oleh pandi tadi ,sebenarnya ini adalah sebuah pesta kecil yang diadakan oleh teman nya.
Karena semua orang ini adalah orang asing bagi Liza. Jadi dia hanya bisa menurut dan tersenyum tanpa berbicara banyak pada orang lain.
Meskipun bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa daerah setempat namun Liza bisa menangkap beberapa patah kata yang familiar di telinganya.
Saat bertemu dengan beberapa orang pandi benar-benar memperkenalkan liza sebagai pacar.
Mengetahui itu Liza sangat geram karena pandi sudah mencap dirinya sebagai miliknya sendiri tanpa izin.
Seperti yang dipikirkan oleh pandi, sebenarnya Liza memiliki sikap yang berubah-ubah .itu karena tingkat emosinya yang memang tidak stabil.
Tapi terkadang semua hal dipicu dengan satu titik yang jelas. Seperti yang dilakukan oleh pandi saat ini.
Di sekolah maupun di dunia perkuliahan,liza bertemu dengan berapa teman pria yang mengatakan cinta pada dirinya.
Orang yang awalnya berteman dengan liza dengan sangat akrab tapi ketika dia mengatakan cinta , pamor nya itu akan jatuh langsung menjadi musuh.
Tingkat kesukaan Liza juga jatuh begitu ekstrem menjadi tingkat kebencian yang dalam.
Intinya jangan pernah mengatakan cinta pada Liza jika tidak ingin bermusuhan dengannya
Ketika pandi memperkenalkan dirinya sebagai seorang pacar. Tiba-tiba Liza melihat pandi dengan aura yang tidak menyenangkan sama sekali.
Namun begitu Liza harus menahannya sedikit lebih lama karena ada beberapa orang yang tidak dikenal di depannya.
__ADS_1
Beberapa waktu kemudian pandi akhirnya menemukan sebuah kursi kosong dan mengajak Liza untuk duduk.
Tapi karena emosi Liza yang tidak stabil. Tadi dia tidak ingin duduk tapi ingin berantem langsung dengan pandi yang menurutnya kurang ajar.
"pandi apa maksud kamu mengatakan pada mereka semua jika aku ini pacar kamu?" tanya Liza yang langsung memborbardir Pandi dengan nada marah nya.
"hahaha rupanya kamu ngerti juga bahasa kami" kata pandi sedikit terkejut.
"jangan banyak omong deh jelaskan kenapa kamu melakukan itu, aku ya nggak suka ya kalau kamu mengklaim aku seperti barang?"
"Lho kok kamu jadi marah gitu sih. ini kan hanya bercanda doang nggak serius?" kata pandi beralasan. Menurut insting pandi, Liza cepat atau lambat akan menjadi pacarnya. Jadi apa salahnya jika dia memperkenalkan liza dengan status itu lebih awal.
Hanya saja pandi tidak menyangka jika Liza ini masih mengerti bahasa setempat.
"serius atau tidaknya itu kamu yang tahu sendiri. Tapi satu hal yang harus kamu ingat aku nggak suka sama sekali sama candaan kamu oke, jadi please jangan lakukan lagi"
Tentu saja Liza yang marah ini memang wajar tapi tidak perlu semarah itu juga .Sampai sampai wajahnya memerah dan seperti berhenti bernafas.
Tapi ini hanya masalah penyebutan saja jadi kenapa di besar besarkan seperti ini.
Tiba-tiba saja kemarahan yang ditahan oleh pandi juga naik ke permukaan lagi.
"lho kok kamu marah seperti ini sih? ada apa sama kamu sebenarnya, sebentar marah sebentar baik lagi, kalau nggak suka ya udahlah ,ayo pulang aja" kata pandi.
Dia berdiri menarik tangan liza dengan kasar. Semakin kasar pandi maka liza juga semakin marah.
Dengan kasar Liza menyentak tangannya sehingga genggaman pandi itu lepas.
Tanpa dituntun pun dia akan segera masuk ke dalam mobil lagi. Sementara pandi yang sedang marah masih menjaga wajahnya untuk pergi pamitan pada yang punya hajatan.
tidak lama kemudian pandi masuk ke dalam mobil dan mengemudikannya di jalanan.
Kali ini dia benar-benar marah sehingga menggunakan kecepatan dalam mengemudikan mobil sehingga mereka tiba dengan cepat di rumah besar lagi.
Sepanjang perjalanan Liza bahkan tidak mengeluarkan suara apapun begitu juga dengan pandi.
Bahkan ketika turun dari mobil pun, Liza juga tidak pamitan dengan pandi seperti yang seharusnya.Dia langsung saja membunyikan bel dan menunggu pintu terbuka.
Begitu pintu terbuka Liza langsung masuk dan naik ke tingkat atas tanpa menyapa para pembantu bahkan orang tuanya sekalian.
Dia bahkan tidak peduli dengan pandi yang masih tidak percaya apa yang terjadi.
Dini juga melihat jika Liza dan sudah kembali dan naik ke tangga menuju kamarnya. Dia ingin menegur tapi melihat raut wajah lisa yang tidak bersahabat mama hanya bisa menggelengkan kepala.
"Ada apa dengan Liza pah tadi kan baik-baik saja kenapa sekarang jadi muram?"kata dini pada Arnold.
"biasalah mah anak muda kadang-kadang baik kadang-kadang bertengkar. biarin aja jangan masuk campur urusan anak-anak"
Di sini pandi bertindak seperti laki-laki normal yang mengantar pacarnya pulang ke rumah. dia sudah membawa pergi anak gadis orang dengan baik, tentu saja harus mengembalikannya dengan baik pula.
Dia masih tersenyum dan menyapa kedua orang tua Liza dengan bahasa yang baik. Meski begitu Arnold dan dini bukanlah orang tua yang bisa dibohongi.
"pandi kok cepat banget pulangnya ada apa?" tegur Mama Lisa.
"nggak tahu tuh Tante ada apa sama Liza.Saya juga heran tiba-tiba saja dia marah dan minta pulang tanpa sebab "jawab pandi terus terang
"apa kalian tadi sempat bertengkar di jalan?" tanya Arnold yang meletakkan telepon genggamnya di atas meja.
"iya sih tapi masalahnya nggak besar aku cuman memperkenalkan dia sama teman-temanku sebagai pacar ,itu doang kok"ungkapan di yang kecewa.
Bukankah pandi tidak melakukan apapun selain memperkenalkan dia sebagai pacar. Jadi apa masalahnya di sini.
Arnold dan dini saling pandang mereka juga mengerti kenapa Liza tiba-tiba marah. keduanya juga khawatir dengan sikap Liza pada lawan jenis seperti yang dia perlihatkan saat ini.
"Yah maaf ya pandi Liza itu memang begitu,dia suka marah marah tanpa sebab ,nanti Tante akan nasehatin dia oke" kata Dini yang prihatin.
"yang sabar ya pandi,paman minta maaf atas nama Liza "kata arnold.
"Nggak apa-apa paman, Tante, Hem kalau gitu,aku permisi dulu ya "kata pandi yang mengundurkan diri.
Arnold dan dini hanya bisa tersenyum pahit dan membiarkan pandi pergi.
"Pah sebenarnya ada apa dengan Putri kita kenapa dia tidak memiliki rasa ketertarikan dengan lawan jenis apa dia jangan jangan Liza memiliki penyakit?" gumam dini tidak jelas
"nggak mungkin sampai seperti itu mah Putri kita normal kamu jangan khawatir deh. dia hanya belum ketemu sama jodohnya aja" ucap arnold pelan.
Tapi di dalam hatinya anak juga merasa khawatir. Mereka berdua hanya memiliki liza sebagai keturunan, jangan sampai Lisa menjadi putri yang tidak normal.
Tapi sejauh ini selain masalah pria dia masih normal. Tidak ada indikasi untuk menjadi wanita yang bengkok.
Tapi semakin lama tingkah lakunya semakin mengkhawatirkan. Terutama bagi kedua orang tuanya yang khawatir Liza tidak menemukan jodoh.
Padahal pandi adalah calon yang cocok untuk Liza.
"pah aku akan ke kamar Liza dulu ya, mungkin dia ingin berbicara empat mata dengan mamanya"kata Dini yang bangkit dari tempat duduknya.
"jangan pergi biarkan dia sendiri, setelah dingin barulah kamu bisa bertanya. sekarang buatkan aku kopi dulu ya mulutku asam nih"kata Arnold lagi.
__ADS_1
Mau tidak mau dini tidak jadi menyusul Liza ke kamarnya dia malah pergi ke dapur untuk membuatkan kopi untuk Arnold.
Di rumah masih ada beberapa pembantu tua yang bisa bekerja di dapur .Tapi jika masalah kopi arnold sama sekali tidak pernah meminum kopi orang lain selain dari buatan istrinya sendiri.
Lagi pula dini juga tidak keberatan jika hanya untuk membuat satu gelas kopi untuk suami yang tercinta.
Beberapa menit kemudian dini datang lagi dengan segelas kopi panas di tangannya berikut dengan beberapa camilan kering untuk teman minum kopi.
"Hem makasih ya sayang "kata Arnold pada dini. Namun begitu arnold belum meminum kopinya tapi membiarkannya sesaat sebelum. Karena kopi ini cukup panas sekali.
"papa kalau aku bilang Papa marah nggak?"
"ya tergantung kamu mau bilangnya apa"
"begini pah,menurut papa pandi itu orangnya baik atau tidak?" tanya Dini .
" pandi? hehehe menurut papah dia baik kok orangnya pengertian dan sabar juga dalam menghadapi putrimu ikhlas kepala itu. juga sama orang tua pandi masih cukup sopan. tapi kenapa kamu nanya sepertinya ada sesuatu yang misterius?"
"nggak ada cuma minta pendapat Papa aja?"
"Pandi itu anak yang pintar menarik perhatian papa dan juga mencuri hati papa, sayang dia bukan putra kita kan"kata Arnold yang mengenang masa lalu.
Setelah melahirkan Liza sebenarnya mereka berdua ingin menambah momongan tapi sudah berobat kemanapun tidak memiliki hasil.
Padahal menurut beberapa pemeriksaan tidak ada yang salah dengan Arnold dan dini. Keduanya normal dan masih bisa memiliki keturunan yang lain.
Tapi sampai sekarang belum terlihat hasilnya sama sekali. Mungkin mereka berdua harus cukup puas dengan liza sebagai Putri semata wayang.
"Hahaha kalau pandi pintar mencuri hati papa artinya Papa nggak punya hati dong sekarang"kata dini yang mencoba bercanda agar mereka tidak terlalu diingatkan dengan putra laki-laki.
"Mama ini pintar bercanda aja tadi kan nanya jadi Papa jawab deh. lagian hatiku kan hanya milik kamu hehe"
"apa ini udah tua masih pintar gombal, malu tuh sama anak"kata bini yang mencubit pelan paha Arnold.
"Mah dari tadi dicubitin melulu ini udah KDRT lho mah, bercanda sih bercanda tapi jangan pakai cubit segala "kata Arnold yang tidak marah tapi malahan tertawa.
Mereka berdua sudah lama menikah tapi masih sangat marah seperti pengantin baru saja layak nya. sehingga tanpa sadar keduanya tertawa terbahak-bahak di ruang tamu.
Sementara putrinya sendiri sedang merenungkan nasibnya di kamar.
" Papa sebenarnya kita sudah lama tidak bercanda seperti sekarang kan. mungkin ada baiknya Liza pulang. gimana kalau aku minta Liza berhenti saja bekerja di Australia. sekarang kita juga tidak miskin-miskin amat kok"kata Dini pelan.
Mereka hanya memiliki satu anak saja dalam hidup ini. Semua kekayaan dan uang semuanya adalah milik Liza jadi kenapa gadis itu harus pergi jauh untuk mencari rezeki.
meskipun berpikiran demikian keduanya masih menghargai pendapat kalian tetap berkarir keduanya juga tidak akan mencegah.
Sebaliknya sebagai kedua orang tua yang sudah melahirkan dan membesarkan mereka hanya bisa berharap dan berdoa suatu hari sehingga Liza akan menemukan pasangannya dan juga berhasil dalam karirnya.
"Papa sebenarnya Mama itu suka sama pandi ,gimana kalau kita jodohkan mereka berdua pah. kalau nunggu liza yang cari pasangan sendiri .Mama pikir sampai kucing bertanduk pun dia tidak akan menemukannya" kata mama Liza dengan mode serius.
Setidaknya diantara banyak calon pandi adalah yang paling sesuai di hati dini. Tapi sayangnya Lisa sama sekali tidak memandang pandi sebagai seorang pria. entah kriteria pria yang macam apa dicari oleh anak itu.
Yang jelas dini berpikir pria yang masuk dalam kriteria Liza ini belum lahir.
"Ah mamah ini bukannya zaman Siti Nurbaya yang pakai jodoh-jodohan. lagian Mama kan lihat kalau Liza itu sering marah dan kesal sama pandi. apa Mama pikir mereka akan cocok di masa depan hen?" ujar arnold.
Sekarang kopi yang dibawa dini tadi sudah tinggal setengahnya saja. Rupanya mereka berdua sudah berbicara dengan durasi yang cukup lama.
"iya suh pah tapi papa itu harus cari cara untuk membujuk Lisa agar mau. jika tidak begitu lidah bakalan tidak nikah sampai kapanpun. sekarang enak masih ada kita tapi bagaimana kalau kita sudah meninggal. dia akan sendirian untuk seumur hidupnya pah"kata Dini dengan sedih.
Sampai sekarang ini dini juga tidak tahu apa sebabnya Liza menutup pintu hatinya untuk laki-laki. Masalah ini sudah lama dan masih berlarut-larut sampai sekarang.
Mendengar kata istrinya itu anak menarik nafas panjang dan mencoba berpikir dengan jernih.
Apa yang dikatakan oleh istrinya itu memang ada benarnya tapi bagaimana cara membujuk Liza untuk setuju membuat hubungan yang lebih dekat lagi bersama pandi.
" tapi mah memaksakan kehendak itu tidak baik. mana tahu Liza benar-benar tidak menyukai pandi untuk menjadi pasangan hidupnya"kata Arnold yang mencoba berpikir lagi tentang ide dini.
Dia juga menyukai pandi dan alangkah baiknya jika pandi bisa bersama Liza sebagai pasangan hidup. Tapi jika yang punya tubuh tidak menyukai, tidak mungkin juga dipaksakan.
"Papa dengerin deh kata Mama, bisa sama Fandi itu kan sebentar baik sebentar berantem. Menurut mama sih itu tandanya mereka suka sama suka pah,ya sebelas dua belas lah dengan kita dulu hehe "kenang dini sambil tertawa.
"Ah masak sih?"
"Papa ...
Pasangan ini segera melupakan masalah yang tadi mereka bicarakan mereka kembali bercanda dan bergurau senda.
Namun dalam pembicaraan itu keduanya sudah menetapkan hati untuk menjodohkan pandi dan Liza.
Memang dari sisi Liza jelas dia akan sulit menerima ini .Tapi dari sisi pandi jelas dia tidak akan menolaknya. Karena bisa dilihat dengan mata telanjang jika pandi memiliki hati dengan putri mereka.
Suara tawa pasangan itu memecah keheningan malam tapi tidak sampai ke kamar Liza.
Di mana Liza masih merenungkan diri sendiri. kenapa dirinya bisa marah dengan pandi tentang sesuatu yang kecil.
"Ada apa denganku?"
__ADS_1