
Dalam mobil yang dikemudikan oleh Liza, raja berkata jika hari ini dia hanya lah seorang kekasih .
Liza juga senang dengan keputusan itu paling tidak hari ini dia akan memiliki pacar yang normal.
jadi mereka benar-benar pergi ke kota untuk menikmati satu sarapan pagi tanpa diganggu oleh masalah.
Dalam hal ini Liza juga mengatakan bagaimana dia melakukan sebuah upacara yang diyakini sebagai acara pernikahan.
Liza begitu khawatir jika perilaku ini akan mengganggu kestabilan dua dunia.
tapi raja menggelengkan kepala dan dia tersenyum.
"setelah ritual terakhir dilaksanakan tidak akan ada terjadi gelombang apapun di dalam dua dunia jadi Liza tidak perlu mengkhawatir apapun lagi setelah ini.
Sebagai seorang penguasa di dunia siluman, raja sudah semakin kuat dan tidak ada seorangpun yang bisa melawannya meski itu adalah pak itam sendiri.
hanya saja mereka tidak boleh mengganggu dunia manusia lebih daripada ini jika tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk di dunia siluman.
menikahnya Aliza dan Fandi adalah sesuatu yang lumrah di dunia manusia.Dan raja tidak boleh mengganggu nya dengan sengaja ataupun tidak sengaja.
"Tapi...
Liza tidak sanggup menghabiskan kata-katanya tapi raja segera tersenyum dan dia mengetahui apa yang dipikirkan oleh Liza.
Dengan satu jentikan di dahi Liza, raja tertawa dan berkata,"apa kau sudah melupakan cincin yang aku pakaikan untukmu?"
"Ci.. cincin?"Liza mencoba mengingat pada akhirnya dia mengaku jika dirinya lupa.
Hanya dengan beberapa kata pada akhirnya rasa khawatir yang menghampiri Liza beberapa jam ini, pada akhirnya hilang tanpa jejak sama sekali.
Liza tertawa kecil dan segera bisa bercanda lagi setelah itu. Mobil yang dikemudikan Liza benar-benar mengarah ke kota kecil di mana mereka akan menghabiskan waktu pagi ini dalam rangka kencan.
sementara itu di rumah keluarga Liza....
Pagi ini hanya dini dan arnold saja yang duduk di meja makan untuk sarapan pagi. mengingat kejadian kemarin dan ditambah lagi pak itam yang sudah mewanti-wanti pasangan ini mengetahui jika Liza tentu saja masih dalam kondisi kelelahan dan beristirahat.
jadi dia sama sekali tidak mempermasalahkan jika putrinya itu ikut sarapan atau tidak.
Tapi sebagai seorang ibu dini memiliki intuisi tersendiri jika ini sudah menyangkut dengan Putri kandungnya itu. namun perasaannya itu ditekan sedemikian rupa dan hanya senyum yang dia tampilkan ketika melayani Arnold sarapan.
Setelah menyelesaikan sarapan pagi dini mengirim Arnold untuk keluar. Di sana dengan patuh dini berdiri di depan pintu dan melambaikan tangannya.
ketika dia berbalik dia bertemu dengan bibi yang mengurusi masalah rumah.
"Liza sudah bangun belum bi?" tanya dini pada nya.
"maaf nyonya saya belum melihat non Liza bangun"jawabnya dengan hati-hati.
tapi untuk menemukan jawaban yang cocok bagi majikan itu adalah salah satu dari tugasnya. dia melirik seorang pembantu rumah tangga yang sedang membereskan meja makan.
"Sri tadi kamu lihat Nona Liza nggak?"
Kebetulan sekali gadis yang ditanya ini adalah gadis yang sama melihat liza turun tadi pagi. karena dia sudah diarahkan dan juga sudah dibayar jadi dia menjawab setelah berpikir,"anu nyonya tadi pagi non liza sudah keluar tapi dia nggak bilang ke mana-mana kok .dia hanya pesan nyonya itu jangan khawatir karena dia hanya pergi sebentar dia janji akan pulang cepat"
jawaban dari garis ini membuat dini merasa khawatir lagi. masalah tentang Lisa tidak pernah diberitahukan kepada pembantu rumah tangga jadi mereka tidak tahu masalah apa yang akan dihadapi jika gadis itu benar-benar melanggar pengaturan yang sudah mereka buat.
Hal ini membuat Dini lemas dan dia terduduk di kursinya dengan wajah yang tidak terbaca.
"jadi Liza udah keluar dan dia nggak bilang pergi ke mana-mana?" tanyanya lagi.
"iya nyonya dia nggak bilang pergi ke mana-mana hanya saja memakai pakaian jogging tentu saja dia pergi jogging bukan "jawab gadis itu dengan nada pelan jelas dia takut ketahuan. Bisa-bisa dia dipecat hanya gara-gara masalah sepele.
"Hem kapan tepatnya dia pergi apa sudah lama?"tanya dini lagi yang mulai menegakkan pinggangnya.
"hem ini kira-kira 5 menit sebelum nyonya dan tuan turun. saya pikir kalian sudah mendengar mobil keluar dari garasi jadi saya tidak memberitahukannya lagi"katanya.
Jawaban ini sudah dia pikirkan sebelumnya jadi dia menjawab sekenanya seperti itu.
"Hah lima menit sebelum kami turun berarti belum lama dong?"
Gadis itu tidak menjawab lagi karena dia pikir itu bukanlah pertanyaan untuk dirinya. lagi tuh lagi pula tugasnya untuk berbohong memang hanya sampai di sini.
Setelah itu Bibi tua segera memintanya ke belakang untuk melanjutkan pekerjaannya yang lain. Hanya setelah itu sajalah dia bisa bernafas dengan lega dan akhirnya rasa khawatir itu tidak ada lagi di dalam dadanya.
__ADS_1
sementara itu rasa khawatir dini semakin menjadi-jadi. dalam hati dia mengetahui betapa kuatnya ilmu siluman ular putih itu. Mungkin saja ilmu pak itam tidak mempan sama sekali meskipun sudah melewati ritual pernikahan.
"jangan-jangan eh dia pergi ke bangunan tua itu lagi ini bisa gawat kan ?"pikir dini yang memandang ke arah pintu.
"aduh Bibi kenapa sih dari tadi sering nggak bilang kalau tulisannya udah pergi. kira-kira udah berapa lama ya si Liza keluar. gimana nih bikin repot aja!" keluh nya lagi.
"kalau dihitung pasti nuliza itu keluarnya sekitar jam 06.00 lebih sebelum nyonya dan tuan turun. jadi mungkin jalannya tidak terlalu jauh"kata bibi tua itu dengan alasan menyesal.
seharusnya dia sudah mengabari pada semua pembantu rumah tangga tentang masalah ini. Mereka harus melaporkan setiap kali Nona lisa keluar dari rumah.
jika itu dilakukan lebih awal mungkin mereka tidak perlu menyaksikan annyeongnya jadi pusing seperti saat ini.
"aduh bibi gimana ini aku tuh tambah khawatir aja sebaiknya telepon apa-apa di kantor aja ya" kata dini yang langsung mengangkat teleponnya.
dini memperkirakan saat ini suaminya bahkan belum tiba di kantor sama sekali.
"Halo Papa!" sapa dini dengan nada yang cemas.
Tentu sebagai pasangan yang sudah lama menikah. Arnold bisa membedakan nada suara dini yang cemas atau gembira.
"iya Mama ,ini aku. kenapa kok cemas sekali kedengarannya suaramu itu. apa ada masalah dengan Putri kita?"tanya Arnold yang langsung to the point.
"Papa masih dalam perjalanan ke kantor belum sampai di kantor ya?"tanya dini yang mengalihkan perhatian.
"0 iya sayang papa itu belum sampai ke kantor emangnya kenapa sih mah" kata Arnold yang sekarang ikut cemas.
tidak biasanya dini menghubungi dirinya seperti sekarang padahal mereka baru saja berpisah beberapa menit. Dini tentu mengetahui kemana arah dan tujuannya. Jika tidak ada yang penting tidak mungkin ini menelponnya seperti saat ini.
"anu pah,itu Hem Lisa ..liza ..Lisa...
"kenapa dengan Liza mah, kok bicaranya jadi nggak jelas seperti itu?" tanya Arnold yang bertambah cemas. Dia menghentikan mobilnya di tengah jalan. Dini bisa mendengar suara decitan rem mobil.
"Liza itu udah dari pagi keluar pak dia nggak ada di kamarnya saat ini aku juga baru tahu dari pembantu di belakang?"kata dini yang langsung menjelaskan bagaimana caranya dia mengetahui kondisi Lisa yang sebenarnya sudah tidak ada di rumah bahkan sebelum mereka berdua bangun dari tidur.
"apa Mama, Liza nggak ada di rumah? jadi dia pergi ke mana?"
"itu dia pah yang bikin Mama itu bingung. dia cuma menitipkan pesan pada Sri supaya kita jangan khawatir, katanya hanya pergi sebentar tapi sampai sekarang belum pulang juga "keluh dini.
"aku tuh cuman khawatirnya dia itu pergi ke rumah tua itu loh pah. kan Papa udah tahu pak Itam melarang dia pergi ke sana, takutnya nanti apa yang kita lakukan itu sia-sia"tambah dini lagi.
"papah jangan pah nanti mama itu tambah khawatir. Liza udah pergi sekarang apa-apa juga akan menyusul ke sana gimana hati Mama nggak khawatir, coba"
"nggak apa-apa kan nanti papa bisa telepon pandi. yang penting Mama itu tunggu papa pulang ya jangan khawatir dan doakan aja papa sukses "kata Arnold lagi dia memang mengkhawatirkan Liza tapi tidak akan bodoh untuk pergi ke sana dengan tangan kosong seperti ini.
Sekarang pandi juga memiliki setengah dari beban yang saat ini dia pikul.
di sisi lain dini juga setuju jika Arnold memberitahukan masalah ini pada pandi.
"kalau gitu Mama setuju pah, tapi Papa janji ya harus hati-hati"
"oke"kata Arnold yang tidak menunggu waktu lagi. dia menutup telepon dan langsung menghubungi pandi saat itu juga.
pandi segera diberitahukan tentang masalah ini dan dia setuju dengan cepat untuk menyusul ke rumah tua itu. tapi mengingat hubungan mereka berdasarkan cincin sebenarnya dia tidak begitu yakin jika Liza ada di rumah tua.
Tapi walau bagaimanapun untuk menghormati mertua dia harus bergerak dan mendukung dalam setiap keputusan.
Sementara itu Arnold bergegas mengemudikan mobilnya ke arah rumah tua itu. Begitu juga dengan pandi yang langsung melarikan mobilnya menuju ke arah yang sama.
Selagi mengemudi Arnold menarik nafas panjang dengan penuh rasa khawatir.
"ke mana anak itu pergi pagi-pagi udah keluar seperti ini?" pikirnya sendiri sambil memandang keluar dengan perasaan yang cemas.
sebenarnya Liza dan raja sudah pun kembali dari kota setelah menghabiskan sarapan pagi mereka di sebuah restoran kecil.
Di tengah jalan liza merasakan sesuatu pada cincin yang dia kenakan saat.
Dengan cara itu nalurinya berkata jika pandi saat ini begitu mengkhawatirkannya dan mengarah ke rumah tua itu.
raja tanpa diberitahu pun mengetahui apa yang terjadi.
"ayo menyusul mereka ke rumah kita. lebih baik mereka berpikir demikian daripada berpikir kita sedang pergi berkencan hahaha"kata raja dengan nakalnya.
"Raja apa ini nggak akan jadi masalah?"
__ADS_1
"masalah sih tapi semua bisa diatasi jangan khawatir"kata raja yang memeluk pinggang liza padahal gadis itu sedang mengemudi.
Liza kembali memerah dan dia membuang muka karena ingin fokus pada jalanan.
perjalanan untuk sampai ke rumah tua itu mungkin akan memakan waktu sekitar 20 atau 30 menit.
tapi raja bukanlah manusia biasa dia entah bagaimana membuat mobil yang dikemudikan Liza ini tak sampai lebih cepat dari jadwal yang seharusnya.
Bahkan mobil yang dikemudikan oleh Liza ini tiba terlebih dahulu dibandingkan Arnold yang jelas-jelas sudah tidak jauh lagi dari lokasi
Sementara itu Arnold yang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh tiba-tiba melihat ada mobil liza di depan.
"sialan bener-bener dia ingin masuk ke rumah itu lagi" pikir Arnold yang terus saja memandang ke arah rumah tua itu dengan pandangan nanar.
Sementara itu pandi juga sudah datang di lokasi dan dia berbicara melalui telepon dengan Arnold agar mereka konsisten.
"Paman mobil Liza ada di depan, jadi beneran dong liza pengen pergi ke sana!"kata pandi melalui hubungan telepon.
"sepertinya begitu tapi cepat halangi dia pandi ,halangi dia jangan sampai ke rumah itu"
" oke baik Paman "jawab pandi yang mempercepatkan lagi laju mobilnya.
Dia bahkan membunyikan klaksonnya berkali-kali.
Liza sengaja pura-pura tidak mendengar suara klakson itu. Sampailah kedua mobil benar-benar menghampirinya dan menghalangi jalannya untuk maju.
Terdengar Liza mengeluarkan makian dan umpatan yang tidak jelas.
"siapa sih ini orang kok main klakson klakson segala, berisik tahu kuping orang bisa budek"kata lisa yang terus saja membuka jendela kaca mobil.
bersamaan dengan itu Arnold juga membuka menurunkan kaca mobilnya.
Dia melambaikan tangannya agar liza segera berhenti.
Liza melihat papanya dari kaca spion dan dia juga terkejut jadi langsung penasaran. Awalnya dia berpikir hanya pandi yang mengkhawatirkannya tapi siapa sangka, ada juga Arnold yang menyusulnya ke sini.
"ngapain juga Papa pakai menyusul aku segala "pikir liza di dalam hati.
"siapa Liza itu papamu ya?"
"sepertinya begitu jadi gimana dong aku takut nih?" kata Liza pada raja yang tidak bisa melakukan apapun pada saat ini.
"jangan khawatir sayang itu adalah papamu dan kau berhak memiliki tanggung jawab untuk menjadi anak yang patuh
"Hem ...
Dengan begitu Liza menghentikan mobilnya. Dia keluar dari mobil diikuti dengan liza dari pintu samping.
"papa ada apa sih kok kelihatannya bete kayak gitu?" tanya Liza dengan tatapan kosong seolah-olah tidak bersalah sama sekali.
"Liza kamu itu bandel banget sih bikin apa-apa pusing aja, ke mana aja kamu pagi-pagi buta seperti ini hem?" tanya Arnold yang mendekati liza dengan wajah penuh kemarahan.
Selagi berjalan Arnold juga melirik raja yang berdiri tidak jauh dari posisi di mana Liza berdiri. selama dia tinggal di desa dia sama sekali tidak melihat pemuda ini.
Apakah pemuda ini masih penduduk desa atau orang di luar desa. Arnold ingin bertanya seperti itu tapi sayang dia sedang marah dan ingin memberikan pelajaran tertentu pada Putri semata wayangnya ini.
"Papa sorry ya kalau Papa marah tapi aku tuh kan cuman pergi sebentar kok nggak bakalan lama" kata liza beralasan.
"papah tuh nggak mau tahu ya kamu itu udah salah kalau mau keluar itu bilang dulu sama mama dan papa emangnya sulit untuk. sekarang mamamu sedang khawatir dan dia sudah menangis di rumah. kamu tuh nggak belajar dari pengalaman kemaren?"bentak Arnold lagi.
Liza dengan patuh menerima omelan dari papanya.Dia tidak membalas sedikit pun hanya bisa mengakui kesalahannya sendiri.
Sebenarnya Liza sudah pun mempersiapkan mentalnya dimarahi oleh kedua orang tuanya karena dia nekat untuk keluar dari rumah tanpa izin.
Itulah sebabnya Liza tidak membantah ataupun membela diri sama sekali.
Pandi saat ini sedang berdiri di depan pintu mobilnya dan dia tidak bereaksi sama sekali .Di dalam hati dia bertanya pria mana yang saat ini berada satu mobil dengan Liza. Apakah dia orang yang dia kenal atau hanya seseorang yang lewat.
Tapi walau bagaimanapun ada rasa sesak di hatinya dan rasa itu sangat pahit seperti ada ribuan jarum yang menusuk-nusuk dari dalam.
Siapa lagi laki-laki ini dan kenapa dia mendekati Liza, padahal Liza sekarang adalah istrinya secara siri.
Tidak kah liza perlu menjaga hatinya sebagai seorang suami.
__ADS_1
Apa yang dipikirkan oleh Liza saat ini.