
Pandi duduk dengan tegang di ruang tunggu kantor urusan sipil, menunggu giliran mereka untuk mengurus perceraian.
Walaupun situasinya menegangkan, ada keajaiban kecil dalam dirinya bahwa Liza dan dia masih bisa berbicara dengan nyaman satu sama lain. Mereka seperti teman lama yang saling mendukung di saat-saat sulit.
Liza akhirnya tiba dengan senyuman lembut di wajahnya, menghilangkan sedikit ketegangan di hati Pandi.
"Hai, Pandi. Maaf aku agak terlambat."
"Tidak apa-apa. Aku juga baru saja datang." jawab Pandi dengan mengulur kan tangan nya yang di sambut oleh Pandi.
Keduanya saling pandang sejenak, mengakui bahwa dalam perjalanan mereka menuju perceraian, ada perasaan campur aduk yang sulit diungkapkan.
"Liza, meskipun kita berada di sini untuk bercerai, aku harap kita masih bisa menjaga hubungan yang baik setelah ini. Kita bisa menjadi teman dan saling mendukung satu sama lain."
Liza mengangguk perlahan, menyadari betapa berharganya hubungan yang telah mereka bangun selama ini. saat ini Liza juga sedikit bingung dengan hubungan mereka sekarang.
Di dunia manusia mereka adalah pasangan suami istri yang sekarang ini sedang mengurus surat cerai.
Tapi jika dihitung di dalam dunia siluman Mereka berdua adalah saudara ipar.
Di dunia manusia anak yang dilahirkan oleh Liza adalah anak Pandi.
Sedangkan di dunia siluman ular putih anak yang dilahirkan Liza adalah putri dari Raja siluman ular putih itu.
Ini aneh kan.
"Aku juga berharap begitu, Pandi. Kita telah berbagi begitu banyak hal bersama, baik dan buruk. Perceraian ini tidak harus merusak semua yang sudah kita bina."
Pandi tersenyum lega mendengar kata-kata Liza. Sebuah kelegaan datang dari dalam dirinya, menyingkirkan beban berat yang sedang ia pikul.
"Sekarang kita memasuki babak baru dalam hidup kita, Liza. izinkan aku menjadi ayah dari Quinsya Aurora mulai sekarang di depan mata manusia kan?"kata Pandi dengan berharap.
"Hahaha jangan begitu formal, walau bagaimanapun dia memang darah dagingmu kan Hem?"
Ya jika itu dihitung dari sisi siluman ular putih memang Quinsya Aurora adalah keponakan yang memang memiliki jalur darah yang sama dengan Pandi.
" dari itu Pandi melupakan segalanya dan anggap saja itu adalah mimpi. belajar dari kesalahan dan cobalah menemukan kebahagiaan mu sendiri" kata Liza dengan tulus.
"Siapa tahu, mungkin kita akan menemukan pasangan baru yang bisa mengisi hidup kita dengan kebahagiaan. Aku hanya berharap kau bisa menikah dengan raja secara resmi secepatnya."
Liza terkekeh dan memberikan senyuman hangat.
"Siapa yang tahu, Pandi? Hidup bisa membawa kejutan tak terduga. Kita hanya perlu terbuka dan menerima apa yang datang."
Keduanya duduk bersama, mengobrol dengan ringan menjelang giliran mereka dipanggil. Meskipun bercerai, ada rasa persahabatan yang masih tetap terjaga di antara mereka.
Sementara itu Petugas kantor urusan sipil duduk di meja kerjanya, mengecek dan memeriksa berbagai dokumen yang diperlukan untuk proses perceraian. Dia melihat nama-nama Liza, Pandi, dan Arnold di daftar yang harus ditangani hari ini.
Petugas: "Nomor antrian 117, Liza, Pandi, dan Arnold."
Dia memanggil mereka dengan suara yang tenang dan jelas, mempersiapkan diri untuk membantu mereka dalam proses perceraian yang memerlukan kehati-hatian dan keprofesionalan.
Liza, Pandi, dan Arnold memasuki ruang sidang, duduk di kursi yang tersedia, menunggu petugas memulai proses perceraian mereka. Petugas memperhatikan ekspresi mereka, mencoba membaca perasaan yang mungkin tengah mereka alami.
"Baik, mari kita mulai dengan mengkonfirmasi data-data pribadi kalian. Liza, silakan nyatakan nama lengkap dan tanggal lahirmu." kata petugas.
Petugas mencatat dengan cermat jawaban Liza, memeriksa kebenarannya dengan data yang telah disampaikan sebelumnya. Setelah itu, petugas mengajukan pertanyaan serupa kepada Pandi dan Arnold.
"Pandi, nyatakan nama lengkap dan tanggal lahirmu, tolong."
Petugas melanjutkan dengan menanyakan beberapa pertanyaan mengenai pernikahan mereka, alasan perceraian, dan informasi penting lainnya. Dia mencatat dengan seksama setiap jawaban yang diberikan,, memastikan bahwa proses ini berjalan sesuai aturan dan ketentuan yang berlaku.
__ADS_1
"Arnold, sebagai saksi, apakah kamu siap memberikan kesaksian yang jujur dan akurat mengenai pernikahan Liza dan Pandi?"
"Ya, Pak. Saya siap memberikan kesaksian yang jujur dan akurat."
Petugas melanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang relevan kepada Arnold, mencatat kesaksiannya dengan teliti. Dia memastikan bahwa semua informasi yang diberikan berdasarkan fakta dan bukti yang sah.
Setelah semua data dan kesaksian tercatat, petugas menjelaskan langkah-langkah selanjutnya dalam proses perceraian. Dia memberikan penjelasan mengenai dokumen-dokumen yang perlu ditandatangani dan diserahkan, serta prosedur yang harus diikuti.
"Berikut adalah dokumen perceraian yang perlu kalian tanda tangani. Pastikan untuk membaca dengan teliti dan memahami isinya sebelum menandatanganinya. Jika ada pertanyaan, jangan ragu untuk bertanya kepada kami."
Petugas memberikan waktu yang cukup bagi Liza, Pandi, dan Arnold untuk membaca dokumen tersebut. Dia menjelaskan secara singkat apa yang tercantum di dalamnya, termasuk konsekuensi dan hak-hak yang mereka miliki setelah perceraian selesai.
"Setelah kalian menandatangani dokumen ini, proses perceraian akan dilanjutkan sesuai dengan prosedur yang berlaku. Jika tidak ada pertanyaan lagi, silakan lanjutkan untuk menandatangani dokumen-dokumen tersebut di sini."
Liza, Pandi, dan Arnold memeriksa dokumen-dokumen tersebut sekali lagi sebelum mereka mulai menandatangani. Petugas dengan penuh kesabaran dan pengertian menunggu mereka menyelesaikan tugas tersebut.
Setelah tanda tangan mereka selesai, petugas mengambil dokumen-dokumen tersebut dan memeriksa apakah semuanya telah lengkap. Dia memberikan salinan dokumen kepada masing-masing dari mereka sebagai bukti perceraian yang telah dilakukan.
"Terima kasih atas kerjasamanya dalam proses ini. Dokumen-dokumen ini adalah bukti resmi perceraian kalian. Jika ada pertanyaan lebih lanjut atau bantuan yang diperlukan, jangan ragu untuk menghubungi kami."
Petugas memberikan senyuman dan sedikit penegasan kepada Liza, Pandi, dan Arnold. Dia berharap mereka dapat menemukan kedamaian dan kebahagiaan di masa depan mereka setelah melalui proses perceraian ini.
"Semoga kalian berdua menemukan kebahagiaan dan kedamaian di masa depan. Jika ada yang bisa kami bantu, jangan sungkan untuk menghubungi kami. Semoga hari-hari kalian penuh berkat."
Liza, Pandi, dan Arnold meninggalkan ruang sidang dengan perasaan campuran. Meskipun proses perceraian telah selesai, mereka sadar bahwa perjalanan menuju pemulihan dan kehidupan baru masih menanti di depan.
Liza dan Pandi melihat satu sama lain dengan rasa lega dan bahagia setelah menyelesaikan proses perceraian. Mereka merasakan beban yang terangkat dari pundak mereka, merasa bahwa ini adalah keputusan terbaik untuk kedua belah pihak.
Liza dan Pandi saling berjabat tangan dengan senyuman di wajah mereka, mengucapkan kata-kata singkat yang penuh dengan makna.
"Kita berhasil melaluinya, Pandi. Ini adalah awal yang baru untuk kita."
"Ya, Liza. Kita bisa melihat masa depan dengan lebih jelas sekarang."
Dari reaksi wajah yang ditampilkan keduanya jelas tidak ada raut kesedihan seperti umum yang ditampilkan oleh orang-orang yang melalui sidang cerai.
Tapi keduanya malah menampilkan perasaan lega dan kebahagiaan yang tidak ternilai.
Arnold terdiam sejenak, matanya melihat Liza dan Pandi dengan keheranan. Dia tidak bisa mempercayai bahwa anaknya dan mantunya yang baru saja bercerai, seolah-olah mereka memiliki rasa lega dan kebahagiaan atas keputusan tersebut.
"Apa yang sedang terjadi? Bagaimana kalian bisa...?"
"papa perceraian ini adalah pilihan yang kami buat secara bersama-sama. Kami ingin menemukan kebahagiaan masing-masing dan menjalani kehidupan yang lebih baik." kata Liza yang tersenyum.
"Kami berdua merasa bahwa ini adalah keputusan yang terbaik untuk semua pihak, termasuk Liza, tapi jangan khawatir aku tidak akan menjadi seorang ayah yang bertanggung jawab untuk quinsha Aurora"kata Pandi.
Arnold masih tercengang, tetapi melihat kebahagiaan dan kepastian dalam mata anaknya serta mantunya, dia mulai memahami bahwa ini adalah keputusan yang telah mereka pikirkan matang-matang.
"Aku... Aku tidak bisa memahami sepenuhnya, tetapi jika kalian merasa ini adalah langkah yang benar, maka aku mendukung kalian."
"Terima kasih, papa"kata Liza . Menurut Lisa Ini adalah hari di mana dia lebih bahagia dibandingkan ketika hari dia menikah kemarin dengan Pandi.
Setelah ini akan ada babak baru di dalam hidupnya di mana dia dan raja memiliki kesempatan untuk bersama secara terang-terangan di dunia manusia.
Arnold, meskipun masih tercengang, mengangguk mengerti. Dia menyadari bahwa kebahagiaan anaknya dan mantunya adalah yang terpenting, dan dia akan berusaha mendukung mereka dalam perjalanan kehidupan baru yang akan datang.
Semua ini segera berakhir dengan Liza, Pandi, dan Arnold saling berpelukan, menandakan kesepakatan dan dukungan mereka dalam menghadapi masa depan yang berbeda namun masih saling terhubung.
Masalah perceraian sudah selesai jadi Pandi pulang terlebih dahulu .Pulang ini tentu saja dia kembali ke sebuah rumah yang memang dibelinya sejak lama. Hanya belum memiliki kesempatan untuk ditinggalinya saja.
Sementara itu Liza mengikuti papa nya kembali ke villa dengan mobil.
__ADS_1
Dimana Liza dan Arnold melanjutkan perjalanan pulang ke villa dengan penuh kegembiraan.
Meskipun tidak ada kata-kata yang diucapkan, kebahagiaan dan rasa lega terpancar jelas dari wajah Liza. Dia tahu bahwa setelah ini, dia akan bisa hidup terang-terangan bersama Raja, tanpa ada belenggu atau rasa takut lagi.
Wajah Liza memancarkan kebahagiaan yang tak terbendung. Ekspresi wajahnya terang benderang dengan senyuman lebar yang tak bisa dia sembunyikan. Matanya berbinar penuh harapan dan gairah. Ia memandang keluar jendela, melihat pemandangan di sepanjang jalan dengan rasa kagum yang baru. Semua tampak lebih indah dan berwarna setelah beban perceraian yang telah dia lepaskan.
Tidak lama kemudian Liza dan Arnold tiba lagi ke villa.Liza bergegas masuk ke villa dengan wajah berbinar-binar. Saat dia memasuki ruang tamu, dia melihat mama nya Dini ,sedang memeluk bayi kecil dengan penuh kasih sayang.
Liza tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya dan segera mendekati mereka dengan langkah ringan.
Liza berteriak dengan suara riang "Mama, kamu tidak akan percaya! Perceraian kami sudah selesai! Aku merasa seperti menang perang, benar-benar menang!"
Sebenarnya proses cerai itu sedikit rumit dan harus memakan waktu tapi Pandi memiliki beberapa orang yang mampu mempercepat proses perceraian ini tentu saja dalam kutip.
Jika tidak menggunakan itu bagaimana mungkin proses perceraian ini siap hanya dalam durasi beberapa jam saja.
Dini tersenyum dan mengangguk penuh kebahagiaan, tetapi di sisi lain, Arnold, suami Dini dan ayah Liza, hanya terdiam dan terkejut. Dia melihat Liza dengan rasa keheranan yang jelas terpancar dari wajahnya.
"Liza, apa yang kamu maksud? Apa yang sedang kamu bicarakan? Perceraianmu sudah selesai?" tanya Dini dengan heran.
Setahu nya akan perlu waktu beberapa minggu bahkan akan ada beberapa bulan malahan.Tapi Liza hanya pergi beberapa jam.
"Ya, mah kami sudah menyelesaikan proses perceraian. Semuanya berjalan lancar dan aku merasa begitu lega sekarang. Aku bebas!"
Dini masih tercengang, mencoba memahami situasi yang baru saja dia dengar.Dini masih merasa bingung, tetapi melihat kebahagiaan Liza, dia merasa senang untuknya.
"Baiklah, jika itu membuatmu bahagia, Liza. mama hanya ingin kau bahagia dan menemukan kedamaian dalam hidupmu"
Liza mengangguk dengan penuh keyakinan.
Dini masih merasa sedikit tercengang, tetapi akhirnya dia tersenyum dan mengangguk setuju.
"Baiklah, sayang ,Aku mendukungmu sepenuhnya. Semoga keputusanmu membawa kebahagiaan dan kesuksesan dalam hidupmu" kata dini.
Dini melihat kebahagiaan di wajah Liza dan Arnold yang akhirnya saling mendukung, dia merasa lega. Dia berharap bahwa masa depan akan membawa kebahagiaan bagi mereka semua.
"Mari kita semua merayakan momen ini dengan kebahagiaan dan harapan baru. Kita bisa melewati masa sulit ini bersama-sama " katanya lagi.
Mereka semua tersenyum satu sama lain, merasakan kehangatan dan harapan yang memenuhi ruangan. Meskipun ada keheranan dalam hati Arnold dan dini ,dia tidak bisa menahan kebahagiaan Liza. Mereka semua bersatu dalam keinginan untuk melanjutkan hidup dengan lebih baik, dan bersama-sama mereka melangkah menuju masa depan yang lebih cerah.
Setelah beberapa waktu kemudian , Liza bersendirian di kamar nya. Betapa inginnya Liza mengabari hal baik ini kepada raja.
Liza duduk di pinggir tempat tidurnya, memegang jantung nya dengan gugup. Dia menelpon Raja dengan telepati.
"Halo, ratu ku ,Ada apa?" tanya raja yang saat ini sedang berada di dalam istana nya.
" Raja. Aku punya kabar baik untukmu. Perceraianku dengan Pandi berhasil! Semuanya berjalan lancar seperti yang kita harapkan" kata Liza dengan cepat.
"Oh, begitu kah! ratu sangat senang mendengarnya! Kamu sungguh luar biasa. Terima kasih atas kerja kerasmu dan kerja sama kita. Sekarang, kita dapat melakukan rencana pernikahan kita"samudra yang juga senang dengan kabar ini.
Dia sudah menyampaikan ide untuk bersama Liza di dunia manusia dengan identitas manusia. Memang sulit untuk merealisasikan membuat identitas palsu .Tapi dengan Liza dan Pandi hal ini akan baik-baik saja di masa depan.
"Benar, Raja ku,Aku tak sabar untuk menjadi pasanganmu secara resmi di dunia manusia. Kapan kita bisa melaksanakan pernikahan kita?"
"Aku juga merindukan hari itu, Liza. Kita akan mempersiapkannya dengan seksama. Aku ingin momen tersebut menjadi istimewa dan tak terlupakan bagi kita berdua. Mari kita bicarakan jadwalnya besok dan selesaikan detailnya"
"Tentu, Raja. Aku akan menunggu kabar darimu. Aku sangat bahagia bisa berada di sampingmu dan memulai hidup baru kita bersama"
Mereka berdua mengakhiri panggilan telepati dengan hati yang penuh harap dan kebahagiaan. Liza merasa terbang di awan semangat, menantikan momen indah di masa depan ketika mereka dapat menikah secara resmi di dunia manusia.
Liza berguling guling di ranjang nya seraya berteriak dengan keras.
__ADS_1
Ahhh aku bercerai,oke... hahaha.