Kekasih Ku Bukan Manusia

Kekasih Ku Bukan Manusia
131


__ADS_3

Pandi tiba di sebuah villa mewah yang terletak di Denpasar, tempat tinggal Arnold dan Dini, mertuanya. Villa ini adalah sebuah tempat hunian yang sangat mewah dan megah. Terletak di tepi pantai, villa ini menawarkan pemandangan laut yang menakjubkan dengan pasir putih yang halus.


Bangunan villa terdiri dari beberapa paviliun yang terhubung melalui teras dan area terbuka. Setiap paviliun didesain dengan arsitektur modern tropis, menggabungkan elemen kayu dan batu alami. Atap yang tinggi memberikan kesan yang luas dan elegan.


Halaman depan villa dipenuhi dengan taman yang rindang, pepohonan tropis, dan berbagai tanaman eksotis. Kolam renang berukuran besar berada di tengah halaman, dengan airnya yang jernih mengundang untuk berendam dan bersantai. Terdapat juga gazebo yang dikelilingi oleh pohon-pohon rindang, menciptakan suasana yang nyaman dan sejuk.


Ketika Pandi masuk ke dalam villa, dia disambut dengan interior yang sangat mewah dan elegan. Ruang tamu luas dengan perabotan yang mewah dan mahogany menghiasi setiap sudut. Lukisan-lukisan seni yang indah menghiasi dinding, menciptakan nuansa artistik dan berkelas.


Pandi merasa kagum dengan keindahan dan kemewahan villa ini. Dia menyadari bahwa Arnold dan Dini hidup dalam kemewahan yang luar biasa. Namun, saat ini Pandi tidak datang hanya untuk menikmati kemewahan villa, melainkan untuk bertemu dan meminta maaf kepada mertuanya.


Adegan:


Pandi berdiri di depan pintu villa dengan perasaan tegang. Dia menatap tombol bel di depan pintu dan dengan ragu, mencetkannya. Setelah itu, dia menunggu dengan harap-harap cemas, tidak tahu siapa yang akan membuka pintu.


Tak lama kemudian, pintu terbuka perlahan dan ternyata yang muncul adalah Dini, ibu mertuanya sendiri. Wajahnya terlihat kaku dan dingin, menunjukkan ketidaksetujuan dan kebencian yang terpendam. Pandi merasakan tekanan dan kengerian dalam hatinya saat melihat reaksi Dini.


" Maaf, mama ,Saya datang untuk meminta maaf atas semua kesalahan dan dosa yang telah saya lakukan"


Masih segar di dalam ingatan Dini bagaimana menderitanya putrinya ketika melahirkan tanpa dibawa ke rumah sakit. Belum lagi seperti itu baru kemudian dia mendapati jika Pandi ada hubungannya dengan ilmu gaib dan cucu mereka hampir saja terbunuh karena Pandi.


Bagaimana mungkin dengan dosa sebanyak itu dia bisa memaafkan pandi hanya dengan kata-kata maaf saja, cis tidak mungkin


"Apa yang kamu harapkan dengan meminta maaf? Apakah kamu pikir maafmu akan menghapus semua kesalahan dan luka yang telah kamu berikan kepada keluarga ini?"


"Saya tahu bahwa saya telah membuat banyak kesalahan di masa lalu. Saya ingin memperbaiki semuanya dan mendapatkan maaf dari mama dan papa "


Pandi tersenyum pahit,dia berkata "Saya memahami perasaanmu, Bu Dini. Saya hanya berharap bahwa suatu hari nanti, Anda dapat melihat perubahan yang sebenarnya dalam diri saya. Saya akan meninggalkan Anda dengan harapan bahwa waktu akan menyembuhkan luka dan membawa kebaikan di masa depan.


" Waktu akan menunjukkan segalanya. Sekarang pergilah, Pandi, dan jangan pernah mengganggu kami lagi.


"Ma dengar lah dulu penjelasan aku mah"kata Pandi dengan nada memohon. Sebelum datang putus saja Pandi mengetahui menyadari jika tidak mudah untuk meminta maaf pada kedua mertuanya ini tapi dia tetap keras kepala ingin datang dan dengan jujur meminta maafan dari mereka berdua.


Pandi berdiri di depan pintu villa, masih merasakan kekecewaan dari pertemuannya dengan Dini. Tiba-tiba, Arnold muncul dari belakang, terlihat kaget dan marah saat melihat Pandi.


" Pandi! Apa yang kamu lakukan di sini? Apa tujuanmu datang ke sini setelah semua yang telah kamu perbuat?"


"Papa , saya datang untuk meminta maaf atas semua kesalahan yang telah saya lakukan"kata Pandi yang susah payah mengumpulkan semua keberanian nya.


" Kamu pikir hanya dengan permintaan maafmu, semuanya akan kembali normal? Kamu telah menghancurkan kepercayaan kami dan merusak keluarga ini. Aku tidak ingin melihatmu lagi!"


"Papa, tolong dengarkan dulu apa yang ingin saya sampaikan. Saya benar-benar menyesal atas apa yang telah terjadi dan ingin menebus semua nya pah"


Arnold menghela nafas panjang, kemudian memalingkan pandangannya ke arah Dini yang masih berdiri di pintu villa dengan wajah kesal.


"Dini, izinkan Pandi masuk dan berbicara dengan kita. Kita harus memberinya kesempatan untuk menjelaskan semua nya"kata arnold.


"Pah ,kamu tidak bisa hanya memaafkannya begitu saja setelah semua yang terjadi!"


"mama, aku tahu betapa beratnya hatimu, tapi kita juga harus mempertimbangkan kepentingan Liza kan"kata arnold lagi.

__ADS_1


Dini ragu sejenak, namun akhirnya mengangguk setuju. Dia membuka pintu villa dan mempersilakan Pandi masuk.


" Baiklah, masuklah dan bicaralah. Tapi jangan berharap segalanya akan menjadi seperti dulu.


Pandi melangkah masuk ke dalam villa dengan perasaan harap dan tegang. Meskipun masih ada rintangan yang harus dia hadapi, setidaknya dia diberikan kesempatan untuk menjelaskan.


Pandi dibawa masuk ke ruang tamu villa oleh Dini, di mana Papa Liza sudah menunggu dengan pandangan tajam. Ruangan itu dipenuhi dengan aura tegang dan suasana yang serius.


Ruang tamu itu dirancang dengan elegansi dan kemewahan. Dinding-dindingnya dihiasi dengan lukisan-lukisan berharga yang menggambarkan keindahan alam dan budaya. Perabotan yang terpilih dengan teliti ditempatkan di sekitar ruangan, menciptakan suasana yang nyaman dan mewah. Di tengah ruangan, meja kopi marmer yang megah menjadi pusat perhatian, dikelilingi oleh sofa-safa empuk yang mengundang untuk duduk.


"Pandi, saya ingin tahu apa niatmu datang ke sini. Apakah kamu berniat untuk menceraikan Liza atau tidak?"


"Papa, saya telah mempertimbangkan keputusan ini dengan sungguh-sungguh. Setelah berpikir panjang dan menimbang semua faktor, saya setuju untuk menceraikan Liza"


Papa Liza menatap Pandi dengan tajam, mencoba memahami keputusan yang diambil olehnya.


"Kamu tahu bahwa Raja akan menikahi Liza setelah kita bercerai?"


"Ya, saya tahu. Saya juga mengenal Raja dan saya tahu bahwa dia akan menjaga dan melindungi Liza dengan baik,pa itulah sebabnya saya setuju untuk menceraikan Liza "


Papa Liza menghela napas dalam, terlihat sedikit lega karena Pandi memahami situasi yang rumit ini.


"Jika kamu benar-benar yakin dan mengetahui konsekuensinya, maka aku akan mendukung keputusanmu"


Keindahan ruang tamu yang mewah mencerminkan kerumitan situasi ini, namun juga memberikan harapan akan kemungkinan perdamaian dan kesempatan bagi mereka untuk menemukan kebahagiaan di masa depan.


Dini, yang merasa lega dengan keputusan Pandi untuk menceraikan Liza, tetap merasa terbebani dengan perasaan campur aduk. Dia duduk di sofa, sedikit cemas dengan tatapan yang penuh keraguan.


" Tapi aku tetap penasaran, Pandi. Kenapa kamu tega-teganya belajar ilmu gaib yang hampir mengorbankan nyawa putri mu sendiri? Apakah itu semua hanya demi kekuasaan dan kekayaan semata mata?" tanya dini.


Di sini dini juga mempertanyakan keikutsertaan keluarga Pandi dalam hal ilmu gaib ini. Dini dan Arnold tidak pernah menyangka jika keluarga Pandi sendiri ikut andil dalam hal ini dan terkesan mendukung Pandi.


" Tidak, mah,saat itu, keputusan untuk mempelajari ilmu gaib adalah karena ketidakmampuanku sendiri.Ini salah ku mah,pah" jawab Pandi.


"Tapi bagaimana mungkin kamu bisa begitu ceroboh dengan mengambil risiko seperti itu? Apa yang akan terjadi jika kamu kehilangan nyawa cucu ku hah?"


"mama, aku minta maaf karena telah membuatmu khawatir. Aku sadar bahwa apa yang kulakukan adalah tindakan yang berbahaya, dan aku sudah belajar dari kesalahanku mah, percaya lah"


Dini menatap Pandi dengan campuran perasaan lega dan sedih. Meskipun masih merasa kecewa, dia juga melihat upaya Pandi untuk bertanggung jawab atas kesalahannya.


"Aku harap kamu benar-benar belajar dari kesalahanmu, Pandi. Aurora perlu seorang ayah yang tangguh dan bertanggung jawab. Jangan pernah mengulangi kekhilafanmu yang berbahaya itu"


" Aku berjanji, mah,Aku akan menjadi ayah yang baik dan melindungi dia dengan segala cara yang mungkin"kata Pandi yang berasal dari perasaannya yang paling dalam.


Meskipun Quinsya Aurora bukanlah Putri kandungnya tapi dia masih bisa dihitung sebagai keponakannya sendiri. Lagi pula dalam pandangan semua manusia, Quinsya Aurora adalah Putri kandungnya.


Dini memandang Pandi dengan hati-hati, mencoba memahami niat dan tekadnya. Meskipun ada kekecewaan dalam hatinya, dia juga ingin memberikan kesempatan kepada Pandi untuk membuktikan dirinya sebagai seorang ayah yang bertanggung jawab.


Setelah berbicara panjang lebar pada akhirnya ketegangan segera berlalu di mana Pandi sudah bisa melihat wajah tersenyum dari mantan ibu dan ayah mertuanya itu.

__ADS_1


Meskipun senyum ini adalah senyum ketika permintaan perceraian mereka diterima tapi ini masih membuat hati pandai menjadi lega.


Lia jiwa dari Liza bukanlah jodohnya pada 100 tahun yang lalu. Tapi sekarang Liza juga bukanlah jodohnya. Meskipun mereka sempat menikah di dunia manusia.


Meskipun pahit api kenyataan ini memang harus diterima, tidak dulu maupun sekarang Liza memang berjodoh dengan raja.


Bahkan jodoh mereka akan berpanjangan walaupun terjadi kelahiran terus-menerus. di manapun berada di waktu manapun mereka tinggal semuanya akan kembali ke dalam takdir, di mana mereka berdua adalah pasangan yang dibuat dari surga.


Dengan alasan waktu sudah terlalu larut pada akhirnya Pandi mengundurkan diri dari villa. Tapi dia sudah membuat jadwal akan pergi membuat izin cerai dari pihak pengadilan yang tentu saja dipercepat dengan beberapa kondisi.


Untuk itu dia Liza dan juga Arnold harus pergi ke Denpasar kota ke dinas sipil besok.


Pandi juga berkata tidak perlu memberitahu di Liza tentang masalah ini karena Liza juga sudah diberitahu melalui telepon kemarin.


Ketika Pandi pergi Arnold dan Dini saling pandang. Mereka juga tidak tahu harus berkata apa tentang menantu idaman yang benar-benar menjadi menantu sialan.


Dini dan Arnold berdiri di depan pintu, melihat Pandi pergi dan menutup pintu dengan lembut setelahnya. Mereka saling pandang, masih merasakan campuran emosi dari percakapan sebelumnya.


"Akhirnya dia pergi. Semoga keputusannya untuk menceraikan Liza adalah yang terbaik bagi mereka"


Arnold mengangguk setuju "Kita hanya bisa berharap yang terbaik untuk mereka. Tapi, mah kamu tahu apa yang membuatku marah? Orang tua Pandi yang seolah-olah membiarkan dan bahkan mendorongnya untuk belajar ilmu gaib.


"Mama sepenuhnya setuju, pah. Bagaimana mereka bisa bertindak seperti itu? Mereka tahu betapa berbahayanya ilmu gaib itu, tapi mereka malah membiarkannya demi kekayaan yang dijanjikan oleh Pak Itam ckckck "


Arnold menggelengkan kepala dengan kesal."Mereka adalah orang tua yang tidak bertanggung jawab. Seharusnya mereka melindungi dan membimbing Pandi, bukan malah membiarkan dirinya terjerumus dalam ilmu yang berbahaya seperti itu".


"Aku merasa sedih untuk Pandi. Dia seharusnya tumbuh dalam lingkungan yang aman dan penuh kasih sayang. Tapi sayangnya, keinginan akan harta dan kekayaan telah mengubah orang tua Pandi menjadi orang yang tidak peduli" Kata dini.


Arnold berjalan dengan menggenggam tangan Dini dengan lembut "Kita tidak bisa mengubah masa lalu atau perilaku orang lain, mah,Yang bisa kita lakukan sekarang adalah menjadi contoh orang tua yang bertanggung jawab untuk Quinsya Aurora "


Dini memeluk suaminya dengan intens dia menganggukkan kepala dan berkata ," ya pah Kita harus tetap menjadi orang tua yang baik dan memberikan kasih sayang yang mereka butuhkan. Semoga Putri dan cucu kita terhindar dari bahaya dan kesalahan yang telah dialami oleh Pandi"


Mereka berdua menghela nafas lega, merasakan kebersamaan dan tekad mereka untuk mengatasi permasalahan ini. Kemudian, mereka berjalan menuju kamar tidur sambil melanjutkan pembicaraan tentang pergi mengurus surat cerai Liza besok pagi.


Sementara itu di tempat yang jauh, orang yang sedang dibicarakan oleh Arnold dan Dini sebenarnya sedang di landa kebingungan.


Di sebuah ruangan kecil di Malaysia, orang tua Pandi dan dua adiknya duduk bersama di sofa. Mereka memegang tas belanja yang berisi barang-barang yang baru saja mereka beli dari supermarket besar. Wajah mereka terlihat bingung dan khawatir.


wajah mereka sekarang berbanding terbalik ketika mereka berada di supermarket berbelanja secara membabi buta.


Ambil sana ambil sini, tarik sana tarik sini, tapi begitu giliran membayar mereka tercengang.


Orang tua Pandi mengeluarkan dompet mereka dan mulai menghitung uang yang tersisa. Mereka saling pandang dan berbicara dengan ekspresi cemas. Sementara itu, di sebelah mereka, terlihat beberapa lembar uang Malaysia yang tersisa di meja.


Mereka membandingkan harga-harga barang yang baru saja mereka beli dengan uang yang mereka miliki. Dengan sedikit kalkulasi di pikiran, mereka menyadari bahwa dana yang mereka miliki tidak cukup untuk memenuhi semua kebutuhan mereka.


Mata uang Indonesia dan mata uang Malaysia ditampilkan dalam bentuk perbandingan di samping mereka. Mata uang Indonesia, Rupiah, terlihat lebih rendah dalam nilai dibandingkan dengan mata uang Malaysia, Ringgit. Perbandingan tersebut menggambarkan perbedaan daya beli antara kedua negara tersebut.


Orang tua Pandi dan adik-adiknya saling berpandangan, menunjukkan kekhawatiran yang mendalam. Mereka menyadari bahwa Pandi tidak lagi mentransfer uang ke rekening mereka, dan biaya hidup di Malaysia ternyata tidak murah. Harga pakaian saja sudah beberapa ringgit, yang terasa mahal bagi mereka.

__ADS_1


Dalam keheningan, mereka menyadari bahwa mereka harus mencari solusi untuk mengatasi keterbatasan dana mereka. Kehabisan dana menjadi tantangan yang harus mereka hadapi di tanah asing ini.


__ADS_2