
Putri Wulan Adisti melangkah dengan lembut melewati lorong-lorong istana yang megah. Saat pintu taman istana terbuka, pemandangan yang memukau menyambutnya. Taman istana yang luas dipenuhi dengan ribuan bunga yang berwarna-warni. Keindahan bunga-bunga itu sungguh mempesona, mampu menyegarkan mata dan jiwa yang memandang.
Namun, yang membuat taman istana ini istimewa adalah fakta bahwa semua bunga yang tumbuh di sana tidak memiliki duri. Setiap kelopak dan mahkota bunga terjaga dengan kelembutan, seolah merasakan kehadiran Putri Wulan Adisti yang lembut dan penuh cinta.
Bunga-bunga mawar menghiasi bagian depan taman dengan warna-warna yang cerah dan memancarkan aroma yang memikat. Melati putih dengan kelopaknya yang lembut melambai-lambai di angin sepoi-sepoi. Bunga teratai membentangkan daunnya yang hijau dan mewah di atas kolam air yang jernih. Seluruh taman dihiasi oleh berbagai macam bunga langka yang begitu indah.
Putri Wulan Adisti berjalan perlahan menuju bangku taman di tengah-tengah kebun bunga yang subur. Di sana, Pandi duduk dengan pakaian yang elegan, menikmati keindahan taman dan melambangkan kebijaksanaan yang dimiliki oleh keluarga siluman ular putih.
Putri Wulan Adisti mendekati Pandi dengan langkah lembut, senyuman lembut terukir di wajahnya yang cantik. Pandi menoleh dan menyambut kedatangan Putri dengan senyum hangat.
"Paman Pandi, betapa indahnya taman ini," kata Putri Wulan Adisti, matanya terpesona oleh keelokan bunga-bunga di sekitarnya.
Pandi mengangguk setuju, "Ya, Putri. Taman ini adalah lambang dari kelembutan dan kedamaian. Bunga-bunga ini tidak memiliki duri karena siluman ular takut akan kekuatan duri yang bisa melukai mereka."
Putri Wulan Adisti merenung sejenak, mencerna kata-kata Pandi.
Pandi yang duduk di bangku taman, tatapannya terhenti sejenak saat ia memandangi keindahan bunga-bunga di sekitarnya. Wajahnya terlihat berubah menjadi serius, terbawa dalam kenangan masa lalu yang mendalam. Putri Wulan Adisti menyadari perubahan ini dan mendekatinya dengan lembut.
"Paman , apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" tanya Putri Wulan Adisti dengan lembut.
Pandi menghela nafas dalam-dalam sebelum menjawab, matanya yang penuh kerinduan terpaku pada keindahan taman. "Putri, taman ini memang dibuat oleh Ratu saat ini, ketika beliau masih bergelar tunangan dari putra mahkota yang kini menjadi raja siluman ular putih."
Putri Wulan Adisti merasa penasaran dengan cerita yang dibagikan oleh Pandi. Ia duduk di samping Pandi, memperhatikannya dengan penuh perhatian.
"Pada saat taman ini dibangun, kebahagiaan dan harapan penuh melingkupi istana. Namun, di sinilah asal muasal bencana terjadi," lanjut Pandi dengan suara yang sedikit bergetar.
Pandi melanjutkan, menggambarkan masa lalu yang menyedihkan. "Ratu dan Putra Mahkota, mereka berdua adalah pasangan yang dicintai dan dihormati oleh seluruh kerajaan. Namun, takdir berkata lain. Pada suatu hari, saat mereka sedang menikmati keindahan taman ini, sebuah serangan yang mengerikan terjadi. Sebuah pengkhianatan yang tak terduga membuat dia terluka parah dan meninggal dalam upaya untuk melindungi Raja siluman saat ini yaitu ayahanda mu"
Pandi menutup matanya, kenangan masa lalu yang menyakitkan terasa begitu nyata. "Karena peristiwa itu, taman ini pun menjadi lambang kesedihan dan kehilangan. Meskipun bunga-bunga di sini tak memiliki duri, tapi di balik kelembutannya, tersembunyi luka dan kenangan pahit."
Putri Wulan Adisti merasakan keberatan dalam hatinya saat mendengar cerita ini. Ia merasa haru dan berempati pada Pandi yang harus mengingat masa lalu yang tragis.
"Paman Pandi, sungguh tak terbayangkan betapa berat beban yang Paman pikul selama ini," ucap Putri Wulan Adisti dengan suara lembut, mencoba menguatkan Pandi.
Pandi tersenyum kepadanya dengan penuh penghargaan. "Terima kasih, Putri. Saat ini, misi kita adalah melanjutkan perjuangan dan membangun masa depan yang lebih baik. Kehadiranmu sebagai Putri Mahkota memberikan harapan baru bagi keluarga siluman ular putih."
Putri Wulan Adisti mengangguk, bertekad untuk menjalankan tanggung jawabnya dengan sebaik-baiknya.
"Pandanglah sekelilingmu, Putri. Taman ini adalah simbol dari kelembutan dan keindahan yang terpancar dari hati siluman ular putih," kata Pandi dengan penuh keyakinan.
Putri Wulan Adisti mengamati bunga-bunga yang tumbuh subur di sekitarnya, menyerap keindahannya. Ia lalu menoleh pada Pandi dengan perhatian.
"Paman,apa yang ingin Paman sampaikan?" tanya Putri Wulan Adisti dengan wajah penuh keingintahuan.
Pandi tersenyum dan mengambil nafas dalam sejenak sebelum berbicara dengan lembut. "Putri, sebagai Putri Mahkota siluman ular putih, terkadang kita harus melihat lebih dalam dan tidak terburu-buru menyalahkan manusia dalam segala hal."
Putri Wulan Adisti memperhatikan setiap kata yang diucapkan oleh Pandi. Ia mencoba memahami makna yang ingin disampaikan oleh pamannya.
"Pandangan kita terhadap manusia tidak boleh sepenuhnya negatif. Meskipun ada kejahatan di dunia mereka, ada juga kebaikan yang terselip di sana, baik dari segi hati nurani maupun teknologi yang mereka kembangkan," lanjut Pandi dengan penuh pengetahuan.
Putri Wulan Adisti merenung sejenak, mencerna kata-kata Pandi dengan bijaksana. Ia mulai memahami bahwa tidak semua manusia harus dihukum dengan keras dan dicap sebagai musuh.
"Paman Pandi, Anda benar. Saya akan mengingat pesan ini dengan baik. Sebagai pemimpin masa depan, saya berjanji akan mempertimbangkan segala aspek dan memberikan kesempatan bagi manusia untuk menunjukkan sisi kebaikan mereka," ucap Putri Wulan Adisti dengan tekad yang kuat.
Pandi tersenyum bangga mendengar ucapan Putri Wulan Adisti. "Putri, itu adalah sikap yang mulia. Dengan kemurahan hatimu dan pemahamanmu yang mendalam, kita dapat membangun kedamaian dan kerjasama antara siluman ular putih dan manusia."
Putri Wulan Adisti duduk di tengah taman yang dipenuhi dengan bunga-bunga indah yang tak memiliki duri, menciptakan suasana yang damai dan menenangkan. Pandi duduk di sampingnya, sementara aroma harum bunga-bunga mewah mengisi udara.
__ADS_1
Putri Wulan Adisti memandang ke kejauhan, wajahnya terlihat penuh kegelisahan. "Paman, aku masih tidak bisa memahami mengapa mereka menolakku. Apakah kemampuanku benar-benar menakutkan bagi mereka?"
Pandi menatap Putri Wulan Adisti dengan penuh kasih. "Putriku, dunia ini seringkali takut akan apa yang tidak mereka pahami. Kemampuanmu yang luar biasa mungkin menakutkan bagi mereka, karena mereka tak bisa memprediksi dampaknya. Namun, itu bukan kesalahanmu."
Putri Wulan Adisti menundukkan kepala, merasa sedikit terhina. "Tapi paman, aku hanya ingin belajar dan mengembangkan kemampuanku untuk kebaikan. Apa yang salah dengan itu?"
Pandi mengulurkan tangannya dan mengusap lembut punggung Putri Wulan Adisti. "Tidak ada yang salah dengan itu, Nak. Tetapi tidak semua orang mampu melihat jauh ke depan dan memahami potensimu. Mereka melihatmu sebagai ancaman, bukan sebagai seseorang yang ingin belajar dan berkembang."
Putri Wulan Adisti menggenggam tangan Pandi dengan erat, mencari dukungan. "Bagaimana jika aku tidak pernah menemukan guru yang mau menerimaku? Apa yang akan terjadi pada kemampuanku?"
Pandi tersenyum bijaksana. "Putriku, jangan biarkan penolakan mereka menghentikanmu. Kamu adalah Putri Mahkota Siluman Ular Putih, dan dengan itu datang tanggung jawab besar. Teruslah berusaha, dan suatu hari, kamu akan menemukan seseorang yang menerima dan membimbingmu dengan senang hati."
Putri Wulan Adisti mengangguk, matahari yang menerangi wajahnya. "Terima kasih, paman. Aku tidak akan menyerah. Aku akan tetap mencari guru yang tepat, meskipun jalan ini terasa sulit."
Putri Wulan Adisti berdiri di taman yang indah, di hadapan Pandi yang duduk dengan tenang. Hatinya dipenuhi keinginan untuk belajar dan berkembang lebih jauh dalam kemampuannya.
"Dalam perjalanan hidupku, Paman, aku telah mempertimbangkan keputusan ini dengan serius," ucap Putri Wulan Adisti dengan penuh keberanian. "Saya ingin memohon padamu, Paman, agar mau menjadi guruku dan membimbingku dalam mengembangkan kemampuanku."
Pandi menatapnya dengan penuh kehangatan, tetapi ada keraguan dalam matanya. Dia merasakan beban dosa yang terlalu berat di pundaknya, dan dia tidak yakin apakah dia pantas menjadi guru bagi Putri Wulan Adisti.
"Putriku," ucap Pandi dengan suara lembut. "Aku paham bahwa kamu menginginkan seseorang yang dapat membimbingmu, namun aku tidak yakin apakah aku adalah orang yang tepat untuk itu. Aku adalah manusia dengan segala dosa yang ada di dunia siluman ular putih. Mungkin ada orang lain yang lebih pantas dan lebih mampu membantumu dalam perjalanan ini."
Putri Wulan Adisti mendengarkan kata-kata Pandi dengan penuh perhatian, tetapi tidak tergoyahkan oleh penolakan tersebut. Dia mengulurkan tangannya dan menempatkannya di atas tangan Pandi dengan lembut.
"Paman, aku mengerti bahwa kamu merasa memiliki dosa-dosa dalam masa lalumu," ucapnya dengan penuh empati. "Tapi, aku percaya bahwa kamu memiliki kebijaksanaan dan pengetahuan yang langka. justru karena Paman memiliki dosa di masa lalu dan Paman juga adalah seorang manusia maka aku pikir Paman adalah calon guru yang tepat"
Pandi terdiam sejenak, terpana oleh keteguhan dan keyakinan Putri Wulan Adisti. Dia merasa terharu dan tersentuh oleh kepercayaan yang ditunjukkan kepadanya.
"Dalam kasus ini, Putri mahkota," ucap Pandi dengan penuh kelembutan, "aku tidak bisa menerima permohonanmu. maafkan karena aku tidak pantas sama sekali"
Tidak layak sama sekali.
tidak ingin Putri mahkota memburunya lagi dengan pertanyaan yang sama Pandi buru-buru mengundurkan diri dari taman itu dengan cepat.
Sementara itu Putri Wulan adistya melihat kepergian pandi malah semakin yakin saja dengan pilihannya jika pandi adalah guru yang paling cocok untuk dirinya saat ini.
Setelah membuat beberapa keputusan di dalam hatinya Putri Wulan Adisti tergerak . Dia lantas berjalan cepat untuk bertemu dengan ayahandanya.
Tidak lama kemudian Putri Wulan Adisty memasuki ruang takhta dengan sikap yang tegap dan penuh penghormatan. Di hadapannya, Raja Siluman Ular Putih duduk dengan anggun di singgasana, memancarkan kekuatan dan kebijaksanaan yang tak terbantahkan.
"Dengan izinmu, Ayahanda Raja," ucap Putri Wulan dengan suara yang lembut namun penuh keberanian. "Aku datang dengan maksud yang sangat penting."
Raja Siluman Ular Putih menatap Putri Wulan dengan tatapan yang memancarkan kebijaksanaan dan kehangatan.
"Katakanlah, Putriku," ujar Raja dengan suara yang tenang namun penuh otoritas.
Putri Wulan mengangkat kepalanya dengan penuh keyakinan, dan menjelaskan niatnya dengan bijaksana. Dia mengungkapkan keinginannya untuk mempelajari teknologi dan memahami kehidupan manusia dalam segala aspeknya.
Raja Siluman Ular Putih mendengarkan dengan seksama, mengenali tekad dan semangat belajar Putri Wulan.
"Putriku, aku menghargai semangatmu dalam mengejar pengetahuan dan pemahaman," ucap Raja dengan suara hangat. "Namun, dalam hal ini perintahku tidak diperlukan, bujuk lah dia nak."
Putri Wulan Adisty terkejut mendengar kata-kata Raja. Dia sudah mencoba meminta Pandi untuk menjadi gurunya, tetapi ditolak dengan alasan yang belum dia ketahui.
"Dia memang sudah aku minta, Ayahanda," kata Putri Wulan dengan sedikit kebingungan. "Tapi dia menolak dan tidak memberikan alasannya."
Putri Wulan Adisty menggigit bibirnya dengan rasa kekecewaan. Dia mengerti bahwa keputusan ini bukan sembarang keputusan.
__ADS_1
"Aku akan meminta Pandi untuk menjadi gurumu, dan dia akan mengabulkan permintaan ku" Kata raja siluman ular putih.
Putri Wulan terkejut mendengar keputusan Raja. Hatinya berbunga-bunga dengan kegembiraan dan harapan.
"Terima kasih, Ayahanda Raja," ucap Putri Wulan dengan suara yang penuh rasa syukur. "Aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk mempelajari dan memanfaatkan ilmu yang akan diberikan oleh Paman nanti nya"
Sepeninggalan dari Putri Wulan Adisty raja yang masih duduk di atas singgasananya ini berpikir keras. Bagaimana caranya bisa membujuk mantan pangeran tua agar mau menjadi guru untuk Putri mahkota.
Di sebuah villa yang terletak di Denpasar, Liza, seorang manusia biasa namun juga Ratu dunia siluman ular putih, duduk di ruangan yang tenang. Tiba-tiba, suara telepati yang halus dan penuh kelembutan merasuki pikiran Liza, Raja Siluman Ular Putih memanggilnya.
Ini suara telepati Raja melingkupi pikiran Liza dengan kehangatan. " Ratu ku Putri Wulan Adisti telah meminta kesediaan kita untuk menjadikan Pandi sebagai gurunya. Aku ingin mendengar pendapatmu tentang permintaan ini."
Liza, dengan kelembutan dan cinta yang mendalam, merespons panggilan Raja dalam telepati. Dia menyadari bahwa tanggung jawabnya sebagai ibu dan Ratu sangatlah besar.
Liza menjawab dengan penuh rasa hormat melalui telepati. ",raja,aku melihat banyak nilai positif dalam permintaan Putri Wulan Adisti. Pertama, Pandi memiliki pengetahuan yang luas tentang kehidupan manusia, yang akan memberikan wawasan berharga bagi Putri Wulan dalam memahami dunia luar. Kedua, Pandi telah menunjukkan kasih sayang dan perhatian yang tulus kepada Putri Wulan sejak awal. Aku yakin dia akan menjadi guru yang peduli dan penuh dedikasi bagi Putri Wulan dalam perjalanan belajarnya."
setelah mendapatkan persetujuan dari sang ratu baru kemudian Raja siluman ular putih ini pergi ke tempat di mana Pandi berada.
Pandi sekarang sedang duduk dengan tenang bersemedi di tempat tersembunyi di tengah pepohonan yang rimbun. Dia tenggelam dalam meditasi, memperkuat ikatan batinnya dengan alam dan dirinya sendiri. Namun, kedamaian tersebut terganggu oleh kehadiran Raja Siluman Ular Putih yang muncul dengan lembut di hadapannya.
Raja, dengan pakaian yang megah dan mahkota di kepalanya, memancarkan aura kekuasaan dan kebijaksanaan. Pandi mengangkat pandangannya, menyambut kedatangan Raja dengan penghormatan yang dalam.
"Oh Raja Siluman Ular Putih, kemuliaanmu menyinari tempat ini," kata Pandi dengan penuh penghormatan.
Pandi tidak lagi menganggap Raja ini adalah saudaranya melainkan seorang raja yang memang layak mendapatkan penghormatan darinya.
Raja mengangguk dengan lembut. "Pandi, Aku datang kepadamu dengan permohonan istimewa. Putri Wulan Adisty Putri Mahkota, membutuhkan seorang guru yang mampu memahami kondisi manusia lebih dari siapapun, dan aku melihat dalam dirimu kearifan yang memadai."
Pandi terkejut mendengar permintaan Raja. barusan Putri Wulan Agusti sendiri yang memintanya untuk tampil menjadi guru. mungkin karena ditolak maka Gadis itu menemui ayahnya untuk meminta bantuan.
Tidak disangka licik juga dia.
Tapi sekarang ketika Raja siluman ular putih sendirian datang memintanya tiba-tiba Pandi jadi tergerak. Namun, dia merasa ragu karena peran itu bukanlah tugas yang mudah.
"Pemerintahan manusia adalah dunia yang kompleks, Raja. Aku hanya manusia biasa, apakah aku benar-benar mampu mengajarinya?" tanya Pandi dengan kerendahan hati.
Raja Siluman Ular Putih tersenyum lembut, menyelami hati Pandi. "Pandi, hubunganmu dengan Putri Wulan Adisty bukan hanya sekadar guru dan murid. Kalian memiliki ikatan batin yang kuat, sebuah persaudaraan dari masa lalu. Kau adalah manusia yang telah merasakan dan memahami penderitaan, sukacita, dan perjuangan mereka. Kau lebih tahu daripada siapapun tentang kehidupan manusia."
Pandi terdiam, merenungkan kata-kata Raja. Dia melihat kembali hubungan mereka yang erat di masa lalu, saat mereka berbagi pengalaman dan pelajaran hidup bersama.
Dengan pengalaman yang penuh dosa, dia juga bisa mengajari Putri mahkota tentang apa itu benar dan salah ,dosa dan pahala.
Para siluman ular putih di dunia siluman ini rata-rata memiliki hati murni yang tidak mengetahui tentang betapa liciknya manusia itu.
Jadi sebenarnya tentang dia yang menjadi guru dari Putri mahkota adalah hal yang bagus.
Jika dia juga diajar oleh para siluman Bukankah itu artinya dia tidak akan bisa membedakan hal ini dan besar kemungkinan masih akan terjerat seperti dirinya yang dulu.
Setelah beres pikir beberapa waktu pada akhirnya Pandi juga mengganggu tanda setuju
" baiklah demi kebaikan Putri Wulan Adisty, aku menerima permohonanmu, Raja," ucap Pandi dengan tekad yang mantap. "Aku akan menjadi gurunya dan akan berusaha memberikan yang terbaik bagi putri mahkota kita."
Raja Siluman Ular Putih tersenyum puas dan memberikan Pandi sebuah kalung berlian berkilauan. "Ini adalah tanda penghormatan atas peranmu sebagai guru Putri Wulan Adisty. Terimalah dengan tulus."
Pandi menerima kalung tersebut dengan penuh rasa syukur. Dia menyadari bahwa tugas ini bukan hanya tanggung jawabnya, tetapi juga sebuah kesempatan untuk memimpin Putri Mahkota menuju kebijaksanaan dan pemahaman yang lebih dalam tentang kehidupan manusia.
Dengan penuh semangat dan rasa hormat, Pandi bersiap untuk menjalankan peran barunya sebagai guru Putri Wulan Adisty, si Putri Mahkota yang hebat.
__ADS_1