Kekasih Ku Bukan Manusia

Kekasih Ku Bukan Manusia
119


__ADS_3

Joko berada di dalam kamar penjara khusus untuk narapidana laki-laki dalam kasus narkoba internasional. Ruangan itu terasa gelap dan lembab, dengan udara yang penuh dengan bau asap tembakau dan campuran aroma yang tak sedap. Dinding-dindingnya terbuat dari beton kasar yang tergores dan dipenuhi dengan tanda-tanda kehidupan penjara.


Kamar sel Joko terasa lebih kecil dan sempit dibandingkan dengan kamar Dewi. Tempat tidurnya terletak di salah satu sudut, dengan kasur tipis yang sudah usang dan bantal yang tampak kempes. Lemari besi kecil yang ada di sisi dinding menjadi satu-satunya tempat untuk menyimpan barang-barangnya yang sedikit.


Suara-suara berisik dari narapidana lain terdengar memenuhi udara, menciptakan suasana yang tegang dan tidak nyaman. Percikan cahaya yang masuk melalui jendela yang terlindungi oleh jeruji besi hanya sedikit, memberikan sentuhan suram pada ruangan yang gelap.


Di dinding sel, terdapat coretan-coretan dan tulisan-tulisan yang terbuat dari benda-benda yang dapat digunakan sebagai alat tulis. Coretan-coretan itu mencerminkan kegelisahan, keputusasaan, dan juga beberapa pesan yang mengingatkan akan bahaya narkoba.


Tidak seperti kamar Dewi yang terlihat lebih teratur, kamar Joko terlihat kacau dan tidak terawat. Barang-barang yang ada di sana tampak berserakan dan tidak terorganisir dengan baik.


Semua ini menciptakan suasana yang keras, kotor, dan penuh tekanan. Di dalam kamar penjara Joko, terasa hampa dan sepi. Ini adalah tempat yang mengingatkannya akan konsekuensi dari keputusannya yang salah dan menghadapkan dirinya pada kenyataan pahit dari kehidupan di penjara yang keras ini.


Joko, terdampar di dalam kamar penjara yang suram ini, merasakan perasaan keputusasaan dan keterpurukan yang mendalam. Setiap detik yang berlalu, ia semakin terjebak dalam lingkaran neraka ini. Ruangan yang gelap dan kotor menjadi cerminan dari kondisi mental dan emosionalnya yang hancur.


Di tengah keheningan yang mencekam, Joko merasakan beban berat dari kesalahannya yang menumpuk di pundaknya. Ia terhimpit oleh kesadaran akan kehilangan kebebasan dan masa depan yang suram. Suara-suara berisik para narapidana lainnya hanya memperburuk situasinya, mengingatkannya betapa kejam dan tidak ramahnya dunia penjara ini.


Malam-malam terasa panjang dan tak berujung bagi Joko. Ia terbaring di kasur yang tidak nyaman, berusaha mengusir pikiran-pikiran kelam yang menghantuinya. Dalam kegelapan yang menyelimuti ruangan, ia merasakan kekosongan yang mencekik dan kehilangan yang melanda hatinya.


Setiap dinding penjara terasa seperti menghancurkan harapan dan impian Joko. Ia merenung tentang masa depan yang kelam dan masa lalu yang tak dapat diperbaiki. Rasa bersalah dan penyesalan yang mendalam menggerogoti hatinya, menjadikan penjara ini sebagai simbol nyata dari penderitaan yang ia hadapi.


Joko merasa terisolasi dan terasing di dalam penjara ini. Ia merindukan kebebasan dan kehidupan yang dulu ia miliki. Setiap detik di dalam kamar penjara ini, ia merasa seperti api neraka yang terus membakar jiwanya, menyiksanya dengan perasaan terjebak dan terhukum.


Dalam kehampaan dan kesendirian, Joko menangis tanpa suara, menyalahkan dirinya sendiri atas kesalahannya yang merugikan banyak orang. Ia merasakan siksaan batin yang tak terhingga, karena menyadari bahwa penjara ini bukan hanya tempat fisik, tetapi juga penjara yang mengikat dan membelenggu jiwanya.


Penjara ini, bagi Joko, adalah inkarnasi dari neraka di dunia nyata. Ia merasakan penderitaan dan kesakitan yang tidak ada habisnya, mengingatkannya bahwa ia harus menerima konsekuensi dari perbuatannya. Dalam kehancuran dan keputusasaan, ia berharap untuk menemukan harapan dan kehidupan yang baru di luar jeruji besi ini.


Dalam mimpi berulang yang melingkupi Joko, ia terjerat dalam siklus kehidupan yang mengerikan dan menakutkan. Setiap malam, mimpi tersebut menghantuinya dengan visual yang terus berulang, menjalankan alur kehidupan yang penuh dengan kegelapan dan ketakutan.


Dalam mimpi itu, Joko melihat dirinya terjebak dalam ketergantungan pada narkoba, mengulangi kesalahan yang sama berulang kali. Ia melihat dirinya menyusuri jalan yang gelap dan sunyi, menghadapi gangguan dan godaan yang menghancurkan kehidupannya.


Mimpi itu membawanya ke dunia yang penuh dengan ketidakpastian dan penderitaan. Ia melihat dirinya sendiri dalam keadaan terpuruk, merasakan kehampaan dan keputusasaan yang melanda hatinya. Setiap kali ia berusaha untuk keluar dari lingkaran itu, ia dihadapkan dengan rintangan yang lebih besar dan rasa putus asa yang semakin dalam.


Dalam mimpi tersebut, Joko juga melihat dirinya kehilangan segala sesuatu yang dicintainya. Ia menyaksikan kehancuran hubungan dengan orang-orang terdekatnya, melihat bagaimana kepercayaan dan kasih sayang terkikis oleh perilaku yang buruk dan destruktif.


Mimpi itu memunculkan perasaan tak terkendali, kecemasan yang merasuki setiap serat tubuhnya. Joko merasa terperangkap dalam jeratan kegelapan, tanpa jalan keluar yang jelas. Ia merasakan beban yang semakin berat, ketakutan akan masa depan yang suram dan tanpa harapan.


Mimpi berulang ini membawa Joko pada tingkat kepanikan yang semakin meningkat setiap kali ia terbangun. Ia merasakan ketakutan yang tak terlukiskan, perasaan terjebak dalam perangkap dirinya sendiri. Ia berusaha mencari cara untuk melarikan diri dari mimpi yang mencekiknya, tetapi mimpi itu terus berlanjut, terus menghantui pikirannya.


Malam demi malam, Joko terbangun dengan keringat dingin dan jantung yang berdebar kencang. Ia merasakan dampak psikologis yang merusak dari mimpi berulang ini, merasa terjebak dalam siklus kehidupan yang mengerikan dan tak berujung. Ketakutan dan kecemasan itu menjadi teman setianya, menghantui pikirannya bahkan ketika ia tidak lagi terlelap dalam mimpi tersebut.


",jangan tidur, jangan tidur ayolah jangan tidur "begitulah guman Joko berkali-kali ketika ruangan sudah gelap.


Joko saat ini berada di sel penjara yang ramai dengan para penghuni yang berbadan besar. Suasana di dalam penjara internasional itu tegang dan penuh dengan ketegangan. Di sekelilingnya, Joko merasakan tatapan tajam dari para penghuni penjara yang memperhatikannya dengan seksama.


Para penghuni penjara, yang berasal dari berbagai negara dengan latar belakang yang berbeda, memberikan kesan intimidasi dengan penampilan mereka yang kokoh dan keras. Mereka berjalan dengan langkah berat dan penuh otoritas di lorong-lorong sempit penjara, menunjukkan dominasi mereka dalam hierarki penjara tersebut.


Joko merasa tidak nyaman dan merinding ketika beberapa penghuni penjara mendekatinya. Mereka mencoba memancing reaksi darinya, mengintimidasi dan mengancam dengan tatapan dan gerakan mereka yang kasar. Suara-suara hening dan kata-kata ancaman bergema di antara dinding-dinding sel, menambah kecemasan Joko.

__ADS_1


Penghuni penjara yang berbadan besar itu mencoba menjauhkan Joko dari zona nyamannya. Mereka mengelilinginya, mencoba merusak ketenangan pikirannya dengan ancaman fisik dan bahasa kasar. Joko merasa tertekan, tersudutkan di tengah kekerasan dan kekasaran di penjara tersebut.


Dalam penjara internasional yang dihuni oleh Joko, terdapat beberapa penghuni yang berasal dari berbagai negara terkait kejahatan narkoba dan senjata api. Mereka adalah para pelaku kejahatan yang ditakuti oleh Joko, karena reputasi mereka yang kejam dan keberadaan mereka yang membawa ancaman serius.


Berikut ini adalah beberapa penghuni penjara yang menonjol:


Alejandro "El Diablo" Ramirez: Seorang pria Meksiko yang terkenal sebagai pemimpin kartel narkoba yang kejam dan tidak kenal ampun. Wajahnya yang dihiasi dengan bekas luka dan tatapan mata yang dingin membuatnya tampak seperti iblis. Keberadaannya di penjara ini menciptakan ketakutan di antara para tahanan lainnya.


Viktor "The Butcher" Ivanov: Seorang pria Rusia yang terlibat dalam perdagangan senjata internasional. Dia dikenal sebagai pembunuh berdarah dingin yang tak terkalahkan. Dengan tatapan tajam dan sikap yang tenang, dia menjadi ancaman nyata bagi siapa pun yang berani melawannya.


Carmento "La Serpiente" Morales: Seorang Pria Kolombia yang terlibat dalam produksi dan distribusi narkoba. Dia dikenal dengan julukan "The Serpent" karena kecerdikannya dan cara liciknya dalam menjalankan bisnisnya.


Li "The Dragon" Chen: Seorang pria Tiongkok yang terkenal sebagai penyelundup senjata dan narkoba. Dia memiliki reputasi sebagai ahli dalam merencanakan operasi rahasia dan kejam dalam melaksanakan tugasnya. Dengan kepiawaiannya dalam bela diri dan kekuatan yang luar biasa, dia menjadi ancaman yang serius di dalam penjara ini.


Penghuni-penghuni ini, bersama dengan beberapa nama lainnya, menciptakan atmosfer yang tegang dan penuh dengan kecemasan di dalam penjara. Joko merasa takut dan berada di bawah ancaman yang nyata karena keberadaan mereka yang memiliki pengaruh dan kekuatan di dunia kejahatan internasional. Ia harus berhati-hati dan berusaha bertahan di tengah lingkungan yang dipenuhi dengan para penjahat berbahaya ini.


Joko tidak akan pernah melupakan hari pertama dia bertemu dengan orang-orang ini.


Joko yang baru tiba di blok tahanan, melihat sekelompok penghuni penjara yang dikenal sebagai "The Enforcers" berdiri di tengah-tengah ruangan. Mereka memiliki reputasi kejam dan suka mengintimidasi tahanan baru. Joko merasa jantungnya berdebar saat mereka mendekat.


" Jadi, kamu adalah si Joko yang baru? Rasanya seperti ada makanan baru di meja malam ini.


Alejandro "El Diablo tersenyum sinis


" Saya tidak mencari masalah, saya hanya ingin menjalani hukuman saya dengan tenang"kata Joko yang masih memiliki nyali harimau di dalam tulangnya.


sementara itu Carmento "La Serpiente" sedangmenggertakkan jarinya di atas meja "Jadi, apa yang bisa kamu berikan kepada kami, Joko? Apa yang membuatmu berharga di sini?


Joko yang masihberusaha menjaga ketenangan nya berkata " Saya tidak ingin mencari masalah dengan siapa pun. Saya hanya ingin menjalani hukuman saya dengan baik"


Li si "The Dragon" menghampiri Joko dengan langkah perlahan tapi penuh dengan rasa yang arogan dan penuh intimidasi." Dengar baik-baik, Joko. Kamu bisa bertahan di sini dengan dua cara, tunduk pada perintah kami atau menjadi mangsa bagi siapa pun yang berpikir mereka lebih kuat darimu"


"Saya tidak akan menjadi tukang pukul bagi siapa pun. Saya akan menjaga diri saya sendiri"


Sampai detik itu Joko masih percaya diri dengan kemampuan gaib yang dia miliki .Paling tidak dia bisa menundukkan satu diantara mereka dengan kemampuan itu. Jadi Joko sedang meneliti siapa di antara empat orang ini adalah ketua dari semuanya.


Alejandro "El Diablo"btersenyum mengejek dan tertawa dengan keras." Kita lihat nanti, Joko. Waktu akan menjawabnya"


Selesai saja berbicara tiba-tiba Alejandro El Diablo ini langsung menghantamnya dengan tinju yang bersarang ke dada Joko sehingga Joko mundur beberapa langkah.


Joko dengan tekad yang kuat mencoba melawan para penghuni penjara yang mengancamnya. Dia mencoba mengeluarkan kemampuan gaibnya dengan melepaskan beberapa mantra perlindungan dan serangan. Namun, kekuatannya tidak sepenuhnya efektif. Para penghuni penjara yang kuat dan memiliki mental yang tangguh mampu melawan serangan-serangannya.


Joko yang terdesak segera mengucapkan mantra dengan keras. "Maka terangilah kekuatanku, lindungilah diriku!"


hahahaha..


bukannya takut tapi apa yang dilakukan oleh Joko di tertawakan oleh semua orang seolah-olah itu adalah badut yang sedang melompat-lompat di panggung sirkus.

__ADS_1


Apa yang kau lakukan, Joko? Kamu pikir ilmu gaibmu akan menghentikan kami"


Ilmu gaibmu tidak ada artinya di sini, Joko. Kami sudah melawan lebih banyak musuh darimu, Hem"kata Viktor "The Butcher"yang menghampiri Joko dengan langkah mantap.


"Kamu pikir kamu istimewa, huh? Di sini, kekuatan fisik dan mentallah yang menentukan"Kata Carmento "La Serpiente": menyilangkan tangan dan menatap tajam kearah Joko.


Mereka sudah malang melintang di dunia kejahatan. Ilmu gaib macam apa yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya.


ilmu gaib yang digunakan oleh Joko ini hanya seperti bulu ayam yang sedang menggelitik di kaki mereka. Ini tidak menakutkan sama sekali tapi justru membuat mereka geli.


" Tidak, aku tidak akan menyerah!"pikir Joko di dalam hati tapi dia sudah mulai merasa jika kemampuan gaibnya sudah menurun bahkan lebih dari setengahnya.


Tapi walau bagaimanapun dia tidak boleh menyerah.


Sepertinya kekuatanmu telah memudar, Joko. Terlalu banyak tekanan dan ketakutan yang kamu tanggung akhir-akhir ini, ya?" tebak Li "The Dragon" yang mengangkat alis dengan mata kasihan.


"Tidak perlu, Saya masih bisa melawan! Saya tidak akan mundur!"kata Joko yang saat itu masih keras kepala.


Alejandro "El Diablo" tidak lagi berbicara tapi dia langsung mengayunkan tinjunya dengan cepat.


Para penghuni penjara melancarkan serangan balik dengan kekuatan fisik mereka yang luar biasa. Meskipun Joko berusaha keras untuk melawan, kekuatannya yang menurun dan kondisinya yang lemah membuatnya kesulitan bertahan. Pukulan dan tendangan datang bertubi-tubi, mengenai tubuh Joko dengan keras.


Joko terkulai lemas di lantai, merasa kesadarannya semakin memudar. Dia menyadari bahwa tanpa kekuatan yang cukup dan kondisi fisik yang baik, upayanya untuk melawan para penghuni penjara ini hampir tidak mungkin. Meskipun merasa putus asa, Joko bersumpah untuk tetap berjuang dan mencari cara untuk keluar dari situasi ini.


Para penghuni penjara itu berlalu pergi, meninggalkan Joko yang merasa terancam dan tegang. Dia menyadari bahwa dia harus tetap berhati-hati dan siap menghadapi segala konsekuensi di dalam penjara ini.


Dalam hatinya, Joko mengutuk nasibnya yang terjebak dalam penjara ini. Ia merasa seperti ikan kecil di lautan yang penuh dengan hiu-hiu yang ganas. Namun, di tengah keputusasaan dan ketakutan, ia tetap berjuang untuk mempertahankan integritasnya dan menunggu waktu yang tepat untuk melawan kembali.


Kembali ke masa sekarang di mana Joko sedang duduk sendirian di sudut selnya.Dia merenungkan situasi yang ia hadapi di penjara internasional. Wajahnya penuh kecemasan dan ekspresi ketakutan yang mendalam. Ia merasa terjebak dan kehilangan harapan untuk melawan.


Melihat penghuni penjara yang kuat dan intimidatif di sekitarnya, Joko merasa inferior dan tidak mampu melawan mereka. Ia merasa dirinya hanyalah seorang manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan untuk melawan musuh-musuhnya di penjara. Rasa tak percaya diri mulai merasuki pikirannya, menghancurkan semangatnya dan membuatnya merasa tak berdaya.


Joko memandangi tangannya yang terbungkus jeruji besi. Ia merasakan dinginnya logam yang mengingatkannya pada kenyataan bahwa ia adalah tahanan dalam penjara yang tidak bisa dihindari. Ketakutan akan masa depannya dan kekhawatiran akan kehilangan kemerdekaan semakin menghantui pikirannya.


Dalam kegelapan selnya, Joko membiarkan keputusasaan merasuki hatinya. Ia tidak lagi mencoba mencari jalan untuk melawan atau membebaskan dirinya.


Perasaan takut dan ketidakpercayaan diri membebani Joko. Ia merasa seperti dipenuhi oleh gelombang keputusasaan yang menghancurkan semangatnya. Ia tidak lagi memiliki tekad untuk melawan atau mencari jalan keluar.


Joko duduk di pojokan selnya, tubuhnya yang lelah tertatih-tatih. Matanya penuh dengan air mata yang mengalir, mencerminkan keputusasaan dan kehancuran yang mendalam. Dia meraih kepala dengan kedua tangan, mencoba menenangkan diri, namun tangisnya semakin pecah.


"Huhuhuhu..huhu..hiks..hiks..


Dalam kegelapan ruangan, Joko merasakan kesepian yang menyayat hati. Dia merasa terjebak dalam penjara ini, tanpa harapan dan masa depan yang cerah. Tangisnya semakin keras, suara sedih yang mengisi ruangan itu.


Sambil menangis, Joko menaruh harapannya pada Dewi. Dia berharap Dewi bisa menyelamatkannya dari neraka ini, mengembalikan kehidupan bebas yang hilang. Joko merasa dia akan kehilangan akal sehat jika terus terkurung di dalam penjara ini. Dia berdoa dalam hati agar Dewi mendengar seruannya dan datang menyelamatkannya.


Saat Joko menangis dan mengharapkan bantuan Dewi, ekspresi keputusasaan yang tak terhingga terpancar dari wajahnya. Air mata terus mengalir, menjadi simbol penderitaan dan kehancuran yang mendalam dalam hati Joko.

__ADS_1


"Dewi...huhu. bantu aku hiks.. hiks..!"


__ADS_2