
Liza memandang ke berbagai arah untuk memastikan keberadaan si ular putih. Tapi setelah melakukannya beberapa waktu dia sama sekali tidak melihat ular putih itu di manapun.
Baru setelah itu Liza bisa menarik nafas panjang dan berpikir semuanya akan baik-baik saja.
Tapi ini tidak membuat Liza menjadi takut malah menambah rasa penasarannya tentang misteri rumah tua.
Liza ingin mengetahui apakah si ular putih itu benar-benar penunggu rumah ini atau hanya sekedar ular putih biasa yang memang memiliki sarang di dalamnya.
Sebuah rumah yang terbengkalai seperti ini wajar jika ada ular atau hewan lainnya seperti tikus ataupun kalajengking misalnya.
Berpikir seperti itu Liza malah memberanikan dirinya untuk terus masuk ke dalam rumah. Rasa penasarannya kian meningkat sehingga dia tidak mampu menolak daya tarik rumah tua ini.
Liza masih sadar akan situasinya tapi dia tidak menghiraukan perasaan aneh yang menyelinap di dalam hatinya tanpa dia sendiri sadari.
Perasaan itulah yang sekarang berubah seperti sebuah kekuatan gaib yang mengajaknya untuk masuk lebih dalam lagi.
Perlahan namun pasti Liza terus saja melangkah ke depan dan dia membuka pintu rumah tersebut.
Pintu yang sama ,di mana pada saat membuka pertama kali ,dia melihat si ular putih.
Tapi saat ini ular putih itu tidak ada di sana. Hanya ada dinding yang tidak memiliki warna sama sekali. Mungkin juga pernah di cat karena memang ada jejak cat dinding di masa lalu.
Namun begitu jejak keindahan dan kemewahan rumah ini masih cukup kental .
"rumah ini sangat bagus tapi kenapa orang-orang di desa ini tidak mau merawatnya hanya berdasarkan kata angker saja. kalau dirawat pasti akan menjadi terkenal dan menjadi destinasi wisata"gumam Liza pelan.
Bisa dilihat dari sisi desain rumah yang terlihat sudah berusia lama. Tidak tahu pada tahun berapa rumah ini dibangun. Yang jelas mungkin usianya hampir ratusan tahun.
Atau satu abad.
Sesuatu yang berusia lama sekarang bisa disebutkan sebagai barang antik. Jadi apakah rumah ini bisa dikatakan sebagai rumah antik atau tidak, Liza sendiri tidak tau.
Tapi pemikiran ini tidak membuat liza tertarik sama sekali.
tiba-tiba saja matanya tertumpu pada sebuah lukisan yang saat ini tertutup dengan debu yang tebal.
"benar-benar ada lukisan apakah lukisan ini juga lukisan antik pikir Liza.
dia Liza berpikir jika dirinya sedang mendapatkan durian runtuh. jika benar-benar lukisan ini antik maka dia akan menghasilkan banyak uang.
tapi kenapa tidak ada yang tertarik dengan lukisan ini lihat saja dengan debunya yang hampir setebal satu inci.
karena perasaan itulah Liza mendekati lukisan yang ditempel pada dinding. tapi lukisan itu diletakkan pada sudut yang lebih tinggi.
Liza buru-buru berkeliling lagi dan mencari apakah ada sesuatu yang bisa dia naiki.
Tidak lama kemudian Liza datang lagi dengan sebuah kotak kayu. Kotak kayu ini seperti kotak yang biasa anda lihat pada penjual buah-buahan di toko buah.
Liza memiliki berat sekitar 40 kilo jadi dia tidak terlalu berat namun juga tidak terlalu kurus. Kotak buah ini masih bisa menampung berat badannya jika hanya untuk beberapa menit saja.
Setelah dapat mencapai lukisan segera dia menurunkan lukisan itu ke bawah.
Baru setelah sampai di bawah Liza membersihkannya dengan daun kering yang diambilnya dari luar.
setelah beberapa kali sapuan barulah samar-samar lukisan itu bisa dilihat.
"indah sekali siapakah pelukisnya? pasti dia orang yang profesional sekali "pikir Liza di dalam hati.
Sebuah lukisan pemandangan yang cantik tapi terlihat realistis. lukisannya benar-benar cantik sayang jika ditinggal begitu saja di rumah ini.
Kira-kira siapa yang ingin membuang lukisan sebagus ini.
Kemudian Liza meletakkan lukisan itu di sudut pintu, dipikirnya akan datang lagi untuk mengambilnya nanti ketika pergi.
Liza masih berjalan ke sekeliling area siapa tahu bisa menemukan lukisan lain atau sesuatu yang berharga dari zaman dahulu.
Tapi...
"eh ada tulisan di dalam hati dia benar-benar melihat ada sebuah tulisan di sudut dinding. sepertinya tulisan ini masih tulisan dengan bahasa Indonesia.
Bukan bahasa Jawa atau bahasa Bali sekalipun.
menurut pendapat Liza tulisan ini juga bukan tulisan yang Indonesia baku
Contohnya beberapa tahun di awal Indonesia menulis kata sempurna dengan tulisan Sampoerna.
Tapi tulisan di sini benar-benar menulis "sempurna" yang artinya ini ditulis masih jarak puluhan tahun berselang.
Liza tidak mengingat pada tahun berapa penulisan seperti itu berubah di jika dia mengingatnya tentu Liza bisa memastikan tulisan ini ditulis oleh seseorang pada tahun berapa.
tapi sebenarnya Lisa salah besar. tulisan ini memang ditulis dengan bentuk tata bahasa yang cukup aneh dan tidak mungkin bisa dibaca oleh setiap orang.
Tapi Liza entah bagaimana melihatnya dan menafsirkannya dengan tulisan bahasa Indonesia.
Tulisan itu benar-benar berubah ketika jatuh di mata Liza. Liza sampai saat ini tidak tahu bahkan tidak menyadari fenomena itu.
Jika dia sadar mungkin juga dia akan merinding dan akan kabur secepatnya.
__ADS_1
sebuah tulisan yang mampu menyelaraskan diri dengan pemikiran orang yang membacanya.
bukankah ini sebuah hal yang cukup menakutkan.
Liza menatap dinding yang penuh dengan tulisan itu. entah kenapa tulisan itu seperti berkedip dan ada beberapa kata yang tidak jelas.
"pada tahun 1884, 20 Oktober seorang gadis telah....
baru seperti itu tiba-tiba Liza tidak dapat menghabiskan nya ini dikarenakan dinding itu sama seperti lukisan yang benar-benar tertutup dengan debu tebal.
segera saja Liza keluar mengambil daun kering yang lebih banyak dia ingin membaca tulisan di dinding tersebut.
Begitu kembali Liza langsung membersihkan dinding dengan ranting besar. Dia segera menyapu dinding untuk membuang beberapa debu lagi.
merasa sudah cukup Liza mendekati dinding yang anehnya tulisan itu masih belum terbaca. Dia segera menyapu debunya lagi dan melakukannya beberapa kali sebelum yakin.
Tapi...
"kenapa tidak bisa kenapa aku belum bisa melihat tulisan yang lain sih"kata Liza dengan sedih.
dia sudah melakukannya beberapa kali dan yang dia dapat hanyalah rasa capek tapi tulisan itu masih tidak terbaca.
Mungkin karena putus asa Liza bergegas menyapu tulisan itu dengan ujung bajunya.
"sebenarnya apa yang terjadi kenapa aku tidak bisa membaca tulisan ini.ada apa ini?"pikir Liza yang sudah mulai kesal.
lebih baik aku duduk saja ini sepertinya pekerjaan sia-sia pikir Liza lagi dan memilih duduk di atas kotak kayu.
Liza mencoba memandang ke berbagai arah siapa tahu dia bisa menemukan sesuatu lagi seperti lukisan tadi contohnya.
tapi semakin lama Liza memandang dia merasa rumah ini jadi semakin akrab saja.
Seolah-olah dirinya pernah datang ke sini di masa yang lalu.
"kenapa aku merasa pernah datang ke sini. Tapi itu tidak mungkin juga kan hehehe"kata Liza pada dirinya sendiri.
Liza lahir dan dibesarkan di Jakarta hanya pernah datang ke desa ini sewaktu dia kecil. jadi rasa familiar itu sepertinya tidak mungkin.
Dengan cepat Liza menghalau pemikirannya itu.
sementara itu pandi yang baru saja melarikan mobilnya sudah tiba di rumah besar Liza.
tentu saja kedua orang tua Liza masih ada di rumah secara mereka pergi hanya berkisar setengah jam.
Tanpa bertanya atau berbicara sopan dengan para pembantu. Pandi langsung merengsek masuk dan menyapa Arnold dengan nafas yang ngos-ngosan.
Bukankah pandi baru saja pergi bersama Liza, jadi kemanakah Liza sekarang.
"Pandi.. Ada apa denganmu di mana Liza ?"tanya dini buru-buru dengan wajah yang khawatir.
Arnold juga merasa khawatir dengan keselamatan Putri satu-satunya itu. Dilihat dari wajah pandi tentu ada sesuatu yang terjadi.
Arnold mengambil segelas air putih dan langsung memberikannya kepada pandi.
"ayo minum dulu "kata Arnold menyerahkan gelas itu pada pandi. segera saja satu gelas diteguk oleh pandi hanya dalam satu nafas.
"pandu cepat katakan di mana liza saat ini. Kenapa kau pulang sendirian tanpa dia?" desak dini yang sudah tidak sabar.
wajah pandi masih saja pucat walaupun dia sudah minum segelas air.
Dengan rasa bersalahnya pandi berkata,"Paman tante ada sesuatu yang salah dengan Liza dia memaksa ingin pergi ke rumah tua itu. aku sudah mencegahnya tapi dia sama sekali tidak mendengarkan aku"
tentu saja pergi ke rumah besar itu sudah dilarang oleh tetua desa. hal ini juga diketahui oleh Arnold jadi dia sudah mengatakan pada Liza agar tidak pergi ke sana.
Tapi nyatanya gadis itu masih keras kepala.
"apa ?kau Liza pergi ke rumah tua itu dan kau meninggalkannya di sana?"tanya dini yang tidak puas.
dia sudah mengizinkan pandi untuk membawa putrinya seharusnya pandri mengembalikan Liza sama baiknya seperti saat dia membawanya tadi.
hanya karena desakan Liza pandi tiba-tiba pulang karena takut tentang keangkeran rumah tua itu. rupanya pandi memang belum cukup pantas menjadi menantu.
"bukan begitu tante, ada sesuatu yang tidak wajar pada Liza. Wajahnya... wajahnya jadi menyeramkan dan dia tertawa menyeramkan sekali sepertinya dia sudah kemasukan" kata pandi yang berusaha menjelaskan kenapa dia memutuskan untuk kembali dan liza masih tetap tinggal.
Tapi tidak mudah untuk membuat kedua orang tua Liza percaya dengan perkataannya.
Arnold sampai bangkit dan menarik kerah pandi dengan emosi.
"katakan padaku itu semua tidak benar katakan padaku kau sengaja meninggalkannya di jalan?"
"tidak Paman percaya padaku aku tidak sengaja meninggalkannya kau tahu aku sudah berusaha keras menariknya pulang tapi dia seperti memiliki kekuatan yang aneh.dan...dan.
"Dan apa Pandi? apalagi alasanmu hah? aku tidak percaya kau begitu angkuh dan pengecut. Teganya kau meninggalkan putriku di rumah tua yang berhantu itu?"pekik dini yang langsung saja mengambil kunci untuk pergi menyusul Liza di rumah tua.
"Ada ular putih di sana Tante aku yakin itu adalah penunggu rumah tua itu. tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya tapi percayalah padaku Liza tidak dalam kondisi normal sekarang"kata pandi yang berusaha menjelaskan lagi.
Dini yang baru saja bangkit ingin mengambil kunci tiba-tiba duduk lagi dengan wajah yang pucat.
__ADS_1
dia sudah 1 tahun di desa ini bagaimana dia tidak pernah mendengar rumor tentang keberadaan siluman ular putih.
Meski tidak mengetahui apa yang terjadi di balik rumor itu .Tapi jika Pandi benar-benar berkata melihat ular putih di sana, mungkin Liza memang sedang dalam keadaan berbahaya.
"pandi kau tidak berbohong kan melihat siluman itu?"
"tidak Paman untuk apa aku berbohong padamu. Aku melihatnya dengan mata kepala sendiri dan liza berubah menjadi menyeramkan"kata pandi lagi yang sudah bisa menetralkan detak jantungnya.
Dia sudah menyampaikan duduk permasalahannya sekarang jika keduanya tidak percaya itu sudah bukan urusannya lagi.
pandi segera menjelaskan awal mula cerita, tidak tahu apa yang terjadi tiba-tiba Liza menjadi marah tanpa sebab dan meminta diantar ke rumah tua tersebut.
mereka bertengkar di dalam mobil tidak menyadari jika mobil sebenarnya sudah ada di lokasi.
Entah ini kebetulan atau sebuah kesengajaan yang jelas pandi sama sekali tidak berjalan ke arah itu.
pada saat itulah pandi mulai merasakan kejanggalan demi kejanggalan. kemarahan Liza dan emosinya yang meningkat tajam semenjak dia melewati rumah tua bersama Liza pertama kali.
Sejak itulah dia mulai menyadari Liza memiliki perilaku aneh dan mulai bertindak kasar padanya tanpa sebab.
"Paman Habibie awalnya aku sama sekali tidak berpikir begitu tapi ketika kami bertemu di bandara Liza baik-baik saja dan dia memiliki pribadi yang ceria juga mudah bergaul. tapi begitu kami masuk ke desa dan melewati rumah tua itu di situ aku melihat perubahan pada wajah Liza. Dia lebih suka diam dan sepertinya mengabaikan pembicaraan orang lain.Apakah tante berpikiran sama denganku?"tanya pandi dengan beberapa argumennya.
Dini mengenang lagi saat pertama mereka bertemu di kota kecil. pada waktu itu Liza baik-baik saja dan masih memeluknya dengan mesra.
tapi ketika di tengah jalan tepatnya ketika mereka melewati rumah tua itu tiba-tiba saja mobil yang dikemudikan oleh pandi berhenti.
Saat ditanya rupanya liza yang ingin berhenti dan berbicara tidak jelas. Ditanya lagi Liza malah berkata tidak ada yang terjadi pada dirimu.
"papah sebenarnya aku tidak tega tapi Papa ingat nggak waktu tiba lewat di rumah tua itu sepertinya wajah Liza pucat sehingga aku pikir dia kelelahan bukan?"kata dini dengan lirih.
mereka adalah ibu dan anak yang tidak bertemu selama 1 tahun. bertemu setelah perpisahan itu tentu memiliki efek ingin berlama-lama dan melepaskan kerinduan satu sama lain.
tapi hari itu begitu tiba di rumah besar sebenarnya Liza langsung menuju ke kamarnya sendiri. ketika ditanya Liza malah mengatakan jika dirinya sedang capek.
"ya kau benar, tapi mama sadar nggak sebenarnya kita tuh nggak pernah bilang sama dia di mana posisi kamarnya bukan? tapi Liza bisa langsung menuju ke sana. Lalu dari mana dia tahu jika itu adalah kamarnya"kata Arnold yang juga terkejut.
Kenapa dia tidak pernah menyadari fenomena ini sebelumnya. sebagai seorang ayah anak juga merasa kecewa pada dirinya sendiri karena tidak melihat keanehan yang ditunjukkan oleh Putri semata wayangnya.
dini juga demikian dan dia tidak bisa menghentikan air matanya untuk tidak mengalir.
"papa bukankah ini artinya memang ada sesuatu yang salah pada Putri kita?"tanya dini yang terisak-isak.
"mamah aku juga bersalah seharusnya kita lebih perhatian sama dia dan melihat perubahannya lebih awal"kata Arnold yang sekarang jadi pusing memikirkan masalah Liza.
Jika ini adalah masalah tentang kejahatan kriminal mereka bisa memanggil polisi tapi bagaimana menyebutkannya jika ini adalah masalah spiritual.
Di sisi lain yang pandi jadi lega karena kedua orang tua Liza percaya dengan apa yang dia sebutkan. Bukankah dengan begitu dia tidak akan menjadi orang yang disalahkan di sini.
"Paman sebenarnya ini adalah masalah serius. bagaimana jika aku tanya dengan papa apakah dia memiliki mengenal seseorang yang bisa menyelesaikan masalah ini?"tanya pandi dengan Arnold.
Walau bagaimanapun dia juga memiliki andil atas perubahan liza ini.Jika ada sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi pada Liza bukankah pandi tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri sampai tahun monyet sekalipun.
"ya ayah telepon papa mau tanyakan apakah dia memiliki seseorang?"kata dini yang memaksa pandi agar cepat-cepat menghubungi orang tuanya.
Pandi menganggukkan kepalanya dan langsung menelpon papanya.
tentu saja Papa pandi di seberang sana juga khawatir dengan kondisi ini. Semua orang desa sudah mengetahui ada larangan untuk pergi ke sana tapi liza benar-benar melanggar larangan tersebut.
Dengan begitu kondisi Liza sangat mengkhawatirkan sekali.
"aku akan menghubungi seseorang tapi sebelum itu pergilah ke sana untuk berjaga-jaga terlebih dulu"kata Papa Liza yang juga nekat ingin membantu.
Meskipun demikian dia tidak memiliki tenaga batin yang bisa melampaui siluman ular putih.
"bagaimana pandi apa kata papamu?" tanya dini buru-buru.
"kata papa dia akan menemui seseorang dan akan langsung membawanya ke sana. jadi tante apakah kita menyusul ke rumah tua itu atau menunggu di sini?"tanya pandi.
Arnold mengelengkan kepalanya dengan keras tidak mungkin mereka bisa berpangku tangan dan hanya bisa mendengar kabar dari orang-orang yang tidak relevan.
Jadi dia berkata akan pergi ke rumah tua itu dengan mobil sendiri.
Pandi segera menganggukkan kepala dan meminum segelas air lagi. Beban di pundaknya sudah berkurang banyak. Tapi sekarang mereka harus menyelamatkan Liza lebih cepat jika tidak mau hal buruk terjadi padanya.
Dengan tergesa-gesa mereka keluar dari rumah dan mengambil mobil di garasi. Sementara itu pandi menunggu Papa dan Mama Liza bergerak duluan di depan.
Di dalam mobil Mama liza terus menangis lagi dan merasa khawatir tentang Liza. Mereka hanya memiliki satu anak saja dalam hidup ini jika sesuatu terjadi dengan putrinya itu.
Bagaimana caranya mereka bisa melanjutkan hidup.
"apa ini salah mamah kenapa tidak sensitif dengan perubahannya, huhuhu sebenarnya aku bukan ibu yang baik"keluh dini.
Sejak awal Liza sudah memperlihatkan tanda-tanda ke arah itu .Tapi sebagai Mama dia bahkan tidak bisa membedakan perubahan tersebut pada putrinya. jadi dini menyalahkan dirinya sendiri atas tragedi ini.
Walaupun ingin membujuk dini, Arnold tidak kuasa melakukannya karena hatinya juga sedang kacau. sama seperti dini dia juga merasa khawatir tapi ini adalah masalah gaib.
Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menolong mereka sekarang.
__ADS_1
Mari berharap orang yang akan dikirim oleh Papa pandi itu adalah orang yang bagus dan mumpuni.