Kekasih Ku Bukan Manusia

Kekasih Ku Bukan Manusia
9


__ADS_3

Saat Arnold mendengar kabar putrinya akan datang ke desa. Dia juga sangat senang dan langsung pergi menemui seseorang untuk menjemput putrinya itu di bandara.


Perlu satu hari beberapa jam untuk mobil tiba di bandara. Tapi sebagai seseorang Papa yang sudah lama tidak bertemu dengan Putri yang ini tidak masalah.


lagi pula orang yang diminta menjemputnya juga bukan orang lain melainkan tetangga sendiri.


Tapi sayang sekali pria yang biasa bolak-balik dari desa dan ke Denpasar ini sebenarnya sedang sakit dan tidak bisa bepergian jauh.


"tapi tidak apa-apa,ada pandi di Denpasar kebetulan sekali dia akan pulang juga besok "kata nya.


Tentu saja Arnold merasa senang mendengar pandi ada di Denpasar dan akan pulang. Jadi liza tidak perlu menunggu beberapa waktu di bandara.


"oke aku akan mengandalkan pandi untuk menjemput putriku."


Tetangga Arnold langsung menggangguk setuju dan membiarkan Arnold menyerahkan masalah Liza pada pandi.


Begitu Arnold pulang tetangganya ini langsung menelpon seorang pria muda yang di akrab dipanggil dengan sebutan pandi.


"Liza? Liza anak pakde Arnoldkah?"tanya pandi di seberang sana.


Dia tidak kenal dengan liza bahkan belum pernah bertemu Liza . Jika pun pernah bertemu mungkin ini di waktu mereka kecil dulu.


Tapi sejak Arnold pindah ke desa ,dia sering berbicara tentang Liza. Katanya putrinya ini cantik dan bla bla bla bla bla bla.


Sekarang pandi diberikan tugas untuk menjemput Liza kembali ke desa.Tentu saja pandi akan setuju lagi pula dia memang akan berangkat ke pedesaan.


Apa salahnya membawa satu penumpang lagi.


"oke jangan khawatir si cantik akan selamat tiba di desa hahaha"kata pandi sebelum menutup telepon nya. Di dalam hati pandi tidak sabar untuk bertemu seorang gadis yang katanya cantik itu.


***


Keesokan harinya liza benar-benar berangkat dari Australia langsung menuju Bali seperti yang sudah dia katakan.


Perasaan senang dan rasa tidak sabar segera menyelimuti Liza dari sejak keberangkatannya.Untuk sampai ke Bali perlu perjalanan beberapa jam di dalam pesawat.


Tapi entah kenapa perjalanan beberapa jam ini terasa seperti beberapa tahun bagi Liza yang sudah lama tidak bertemu dengan kedua orang tuanya.


Ketika dia tiba di Bali Liza masih perlu menunggu beberapa waktu lagi sebelum mobil yang disebutkan itu tiba.


Sejak awal Papa sudah mengatakan perlu satu hari dan beberapa jam tambahan dari dari dan ke Denpasar.

__ADS_1


Karena itulah Liza tidak berharap mobil yang akan menjemputnya akan tiba begitu pesawatnya mendarat.


tapi Siapa yang sangka jika begitu pesawat mendarat dia ditelepon oleh seseorang dengan nomor yang tidak dikenal.


"halo Nona Liza.?"


"yah Ini siapa ya?"


"nama saya pandi ,saya diminta untuk menjemput nona lisa yang cantik oleh pakde Arnold."


"Ohh iya, maaf ya soalnya nomor baru saya ada di sini pakai sweater warna kuning"


"Ohh sweater kuning dengan rok warna biru langit ya?"


"Ya Hem ,pandi kamu di mana?" tanya Liza.


Mereka sekarang berada di Bali tapi entah bagaimana penduduk di desa yang ditempati oleh kedua orang tuanya ini tidak pernah memakai panggilan yang umum di gunakan oleh penduduk Bali pada umumnya.


Mungkin ini bisa dikarenakan lokasi desa tersebut tertutup dari luar.


Tit..tit...


Sebuah mobil segera membunyikan klaksonnya dan seorang pria muda melambaikan tangan ke arah Liza.


Segera Lisa melambaikan tangan dan pergi ke arah mobil tersebut.


Untuk memastikan lagi keaslian orang yang menjemputnya Liza bertanya"pandi.?"


"yah Nona Lisa yang cantik ayo masuk panas di luar" kata pandi yang mencoba melucu.Pandi segera membuka pintu mobil untuk mempersilahkan Liza masuk ke dalam.


"cantik memang benar-benar cantik persis seperti yang di bicarakan oleh pak de." pikir pandi dalam hatinya.


Liza menggangguk setuju dan dia langsung masuk ke dalam mobil. Udara panas yang menyerbunya ketika keluar dari bandara benar-benar hilang ketika masuk ke dalam mobil dengan AC yang dingin.


"Panas?"


"Hem benar,gerah juga dikit"jawab Liza asal.


"gimana kalau kita mampir dulu ke restoran ayo makan nanti di jalan lama lagi ketemu nasi"kata pandi mengingatkan.


Liza tertawa kecil dan mengangguk setuju.Liza juga tahu perjalanan akan lama dan sulit menemukan makanan lagi di tempat.

__ADS_1


Setelah mendapatkan persetujuan dari Lisa ,pandi langsung mengemudi beberapa menit di sekitaran Denpasar. Sampai dia bertemu dengan sebuah restoran yang menurutnya cocok.


Liza memang pernah ke Bali tapi tidak menyangka jika papanya akan menetap di sini. Tapi dengan menu Bali itu sudah akrab di lidahnya.


Mungkin karena Papa berasal dari Bali ,Mama juga belajar beberapa menu Bali secara acak.Jadi kalau Papa lagi kepengen mama bisa memasaknya.


Ketika pandi menawarkan beberapa menu khas Bali, Liza sama sekali tidak menolak.


Mereka menghabiskan beberapa menit di restoran sebelum berangkat lagi menuju desa.


Di sepanjang perjalanan Affandi begitu aktif berbicara seolah-olah dia memang ingin tahu siapa sosok Liza ini dan bagaimana dengan karakternya.


Liza tidak tahu apa yang dipikirkan oleh pandi tentang dirinya, hanya saja ketika orang bertanya tentu saja dia akan menjawab dengan sesuatu yang dia tahu.


lagi pula pertanyaan pandi hanya sekitar masalah pribadi.


"Liza umur nya berapa sih.?"


"berapa lama kerja di Australia.?"


"Bagaimana tentang cuaca di Australia.?"


"nyaman mana tinggal di Australia atau tinggal di Indonesia.?"


"Apakah ada rencana untuk menetap di sini.?"


"udah punya pacar atau belum.?"


Karena pertanyaan demi pertanyaan itu tidak menjurus ke area pribadi. Tentu saja Liza akan menjawabnya dengan senang.Dia juga senang berbagi pengalamannya dengan orang lain.Setelah berbicara ternyata pandi orangnya asik juga.


Tidak kurang Liza juga tertawa ketika pandi berusaha melucu.Terkadang Liza terpaksa memeluk perutnya sangking lucunya hal-hal yang disebutkan oleh pandi.


Tapi perjalanan ini masih lama dan mulut juga kering karena berbicara tanpa jeda.Jadi entah kapan Liza pun tertidur pulas.


Saat liza tertidur itulah pandi langsung menyentuh kulit wajah Liza yang putih.Jarinya yang menyentuh kelembutan kulit itu terasa nyaman membuat hati pandi meleleh seperti sebuah lilin yang terbakar dengan api.


"udah cantik lembut pula lagi"pikir pandi di dalam hatinya.


Betapa senangnya Bandi memikirkan perjalanan ini tidak sia-sia sama sekali. Biasanya pandi pulang ke desa sendirian dan hanya berbicara dengan angin lalu.


Tapi sekarang pandi pulang ke desa tapi bersama seorang bidadari yang turun dari pesawat.

__ADS_1


Tapi bidadari ini sama sekali tidak memiliki selendang yang bisa dicuri untuk dibawa pulang.


Sayang sekali


__ADS_2